
Mentari perlahan terbit namun nampak malu-malu untuk pagi ini. Media yang akan meliput pun nampak berdatangan ke istana, mereka bersiap untuk acara pernikahan Pangeran Asnee yang pastinya akan mengguncang isi negara.
Semua tim Wedding sudah siap untuk acara, para tamu tengah di atur yang nampak berdatangan satu persatu. Tamu yang datang tentu bukan tamu biasa banyak sekali dari kalangan pejabat tinggi negara bahkan pebisnis hebat pun ada di sana. Semua kalangan berdatangan langsung di arahkan terlebih dahulu.
Lain halnya di ruang ganti pengantin pria.
"Pa, Paman belum datang. Apakah benar dia sudah sembuh? Bahkan Kak Sean dan kak Shabila belum terlihat batang hidung nya. Paman baik-baik saja bukan?!"
Asnee yang awal nya tidak resah perlahan berubah karena Aat belum juga pulang.
"Dia pulang hari ini, tapi ada beberapa kendala di perjalanan! Jangan khawatirkan itu.!"
"Raja, acara akan segera di mulai" Ajudan Bian datang melapor.
Nara terutama, dia masuk ke dalam ruang ganti Asnee.
"Ma" Terburu-buru, Asnee mendekat dan memeluk Nara.
"Rileks, tarik nafas" Elus Nara pada dada sang putra sulung. Asnee pun melakukan apa yang di katakan sang Mama.
Aaron mengangguk pada Nara dan mereka pun segera ke tempat acara.
Acara di lakukan di aula dengan konsep elegant bernuansa putih dan sedikit warna grey muda.
Semua para tamu undangan sudah berada di dalam sula dengan dua baris setiap sisinya dan menyisakan jalan di bagian tengah. Saking luas nya aula, para peliput media pun bisa masuk hampir semua.
Sati baris penuh lucu nya di isi oleh semua anggota keluarga angkat dari Asnee. Jika di lihat ternyata keluarga angkat Asnee lebih banyak dari anggota keluarga kandung.
"Tuan kecil kita sangat tampan"
Pujian itu bukan lagi bisik-bisik tapi teriakan, siapa lagi pelakunya jika bukan Finola. Suara tepuk tangan san tawa silih bersahutan.
"Ma, Paman Aat belum datang juga?" Sebelum naik ke pelaminan yang di mana pendeta pun sudah siap, Asnee mengedarkan tatapan nya terutama ke arah anggota keluarga kerajaan nya, namun dia masih tidak melihat Paman Aat di sana.
"Mungkin sebentar lagi"
Asnee pun berdiri di depan pendeta seraya menunggu pengantin wanita masuk ke dalam aula.
Menunggu beberapa menit, pintu aula perlahan kembali terbuka sesaat setelah terdengar teriakan kecil di depan pintu. Segenap para undangan yang hadir di sana memfokuskan tatapan mereka ke arah pintu begitupun dengan media
Perlahan pintu terbuka, gaun merah khas kerajaan membalut tubuh Daniza. Dari bawah sampai atas begitu anggun dan elegan.
__ADS_1
Asnee terpaku. Di jajaran para tamu undangan, Robert dan juga Kevin lebih terpaku, termasuk Jane.
Dengan balutan gaun khas kerajaan, Daniza begitu cantik dan mempesona. Rambut di gelung unik dengan aksesoris di kepala.
Simon di samping Niza layak nya seorang wali yang tengah mengantar sang putri ke pelaminan.
Decak kagum terdengar, begitupun keluarga mafia yang ada di dalam. Ahan dan Iswara berjalan di belakang berdampingan dengan memamerkan senyum tipis mereka.
"Rileks" Bisik Simon. Dirinya merasakan jika Daniza begitu gugup dan perlahan Niza pun mengatur nafas nya agar tenang.
Tangan Asnee terulur, menjemput sang calon istri ke pelaminan.
"Saya serahkan saudara saya pada anda, tolong jaga dia!"
Ucapan Simon singkat namun begitu berarti sampai Daniza menoleh dengan sorot mata teduh.
"Baik, kak!" Sahut Asnee begitu yakin dan percaya diri.
Tidak ada yang tidak tegang, pegangan Daniza begitu erat pada Asnee sekarang.
Pendeta pun seperti menjadi penghulu di sana. Ruangan pun hening dan hidmat, para awak media pun ikut hening, hanya mengambil video untuk detik-detik pengambilan janji suci seorang Pangeran Yodrak.
"Tunggu" Ucap nya.
Tidak ada yang tidak menoleh, semuanya menoleh ke arah pintu.
Sean masuk di samping Shane yang tengah mendorong kursi roda.
'Paman'
'Aat'
'Pangeran'
Banyak yang terkejut dengan kedatangan Aat. Rayya berlari ke arah Aat dengan gaun yang membalut nya.
Asnee tidak meninggalkan pelaminan dan hanya menatap lurus Aat yang akhirnya datang.
Tidak sedikit yang bisik-bisik dan sebagian bungkam karena menduga-duga ketidakhadiran Pangeran Aat saat ini.
"Akhirnya kau pulang"
__ADS_1
Rayya sangat senang dengan kedatangan Aat.
"Keponakan Paman masih sangat cantik!" Seru Aat dengan gaya dan intonasi bicara yang tidak pernah berubah.
"Rayya merindukan paman" Rayya memeluk Aat yang duduk di kursi roda
"Nanti saja lepas rindu nya, kesian Asnee!" Tepuk Aat pada pucuk kepala Rayya.
Formasi keluarga sudah lengkap, baik keluarga kandung maupun keluarga angkat semuanya sudah lengkap.
Pendeta kembali mengulang dan akhirnya Asnee mengucapkan janji setia
"Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum dan inilah janji setiaku yang tulus."
Giliran Daniza yang mengucapkan janji setia.
Siaran langsung pun di gelar, televisi kota pun menyiarkan pernikahan sang Pangeran.
"Kau pun akhirnya menikah dengan gadis yang sangat baik. As!"
Lukyanova duduk di depan televisi dengan senyum getir dan penuh penyesalan.
Di aula istana, Asnee dan juga Daniza saling tukar cincin dan tepuk tangan pun silih bersahutan dari para tamu undangan.
Setelah selesai, kini sesi photo. Bukan keluarga Mafia namanya kalau tidak riweh, mereka ribut silih berebut ingin berphoto dengan Pengantin.
Ucapan selamat Asnee juga Daniza terima.
"Mommy, kado nya mana?"
Sudah punya istri tapi masih saja inget menagih kado pada Ruby.
"Pulau pribadi dan fasilitas yang lain. Apa itu cukup?" Ucap Ruby.
"Luar biasa," Reflek Daniza terkagum
Pernikahan yang sederhana namun nampak elegan dan mewah itu banyak sekali komentar positif.
Semua tamu di jamu dengan teratur di bawah perintah Rayya tentu nya.
...**...
__ADS_1