
Hening, di dalam ruang rawat kembali hening, alat medis masih terdengar di telinga. Aaron masih duduk memandangi putra satu-satu nya tertidur pulas.
Ukhuu
Ukhuu
Ukhuu
Asnee terbatuk, Aaron pun berdiri dan membantu duduk.
"Ini, minum dulu" Gelas bening berisi air pun di minum oleh Asnee.
Bersamaan dengan itu pintu terbuka, Daniza masuk dengan memeluk parsel berisi buah-buahan segar.
"Maaf Raja, tuan putri menyuruh saya meletakan ini di nakas!" Ucap Daniza sopan.
"Silahkan!" Sahut Aaron seraya kembali membaringkan tubuh Asnee perlahan. "Sekalian tolong kupas buah apel untuk nya!" Lanjut Aaron. Handphone nya berdering dan dia pamit ke luar sebentar.
"Baik" Angguk Daniza mengambil pisau yang sudah tersedia dan duduk mengupas apel sesekali mencuri pandang mata Asnee yang tegap lurus ke arah atap.
"Kakak saya di mana?" Tanya Asnee. Daniza berdiri dan meletakan potongan buah apel itu di atas nakas samping brangkar.
"Tadi tuan putri pergi bersama tuan Ahan. Pangeran?" Sahut Daniza.
Kepala Asnee menoleh ke samping. "Pergi ke mana?" Tanya Asnee kembali.
"Saya kurang tahu, Pangeran! Tapi saya tadi mendengar dari tuan Ahan, itu siapa ya—"
Daniza mengingat nama yang di sebutkan oleh Ahan tadi.
"Oh iya! Itu Nara kalau tidak salah. Dia mengamuk katanya! Saya kurang jelas mendengar nya, tapi tuan putri langsung pergi mengejar orang-orang asing tadi"
Informasi dari Daniza membuat nya reflek duduk. Asnee melepas paksa jarum infusan di tangan nya.
"Pangeran anda mau ke mana?" Daniza bingung, dia langsung menghentikan Asnee tapi sayang, tubuh pria itu ternyata lebih kuat dari tenaganya.
__ADS_1
"Pangeran!" Daniza semakin bingung, dia entah harus berbuat apa. Asnee dengan sempoyongan berjalan ke luar.
"Ada apa?" Aaron masuk, saat Daniza hendak mengikuti Asnee.
"Itu—" Telunjuk Daniza mengarah pada punggung Asnee.
"Astaga Asnee kau mau ke mana?" Aaron menghentikan langkah Asnee.
"Pa, di mana mama dan kak Rayya?!" Asnee mencoba kembali bertanya dengan pasti.
"Mereka ada, nanti juga kembali ke sini!" Seru Aaron.
"Kau berbohong, Papa!" Nada Asnee kecewa, dia berharap papa nya tidak menjawab itu.
"Berbohong apa? Tidak ada yang berbohong pada mu, Asnee! Ayo kembali, kau belum sembuh total. Nak!" Cengkraman pada lengan Asnee begitu saja dia tepis.
"Tidak papa! Dia pasti melakukan sesuatu. Kan?!" Ujar Asnee. Dia kembali melangkah, Aaron tidak dapat menghentikan nya saat ini.
Daniza tidak ikut campur, dia hanya berdiri di ambang pintu lobi rumah sakit saat mereka menaiki mobil dan berlalu pergi.
Sampai di rumah singgah, entah siapa yang memberitahu tempat itu pada Asnee, tapi dia mengetahui nya.
"Lady, ada tuan kecil datang" Lapor Lucky yang dia pun kaget di sela nafas nya.
Semua orang berdiri kaget, terutama Nara. "Maksud paman apa?"
Belum juga Lucky menjawab. "Mama" Suara lemas terdengar masuk di telinga mereka. Sosok Asnee dengan baju pasien berdiri lunglai diikuti oleh Aaron dengan mimik wajah entah harus bagaimana lagi.
"Asnee?" Nara pun berlari menghampiri. "Kenapa kau ke sini?" Dengan takut, Nara memeluk Asnee dengan erat, namun Asnee tidak merespon pelukan Nara.
"Ada apa?" Tanya Nara menggapai tatapan Asnee. Dia tidak biasa nya bersikap seperti itu pada mama nya.
"Apa yang mama lakukan? Mama mengamuk pada siapa, Ma?!" Pertanyaan Asnee beruntun seakan-akan tidak terima dengan korban yang di amuk oleh Nara.
"Kau ini kenapa? Kenapa sekarang menanyakan siapa yang mama Amuk. Heum?!" Mood Nara sedang tidak baik, di tambah pertanyaan Asnee yang seakan-akan menyinggung hati nya.
__ADS_1
"Bukan seperti itu. Ma! Aku mengkhawatirkan mama, untuk itu aku bertanya!" Jantung Asnee berdetak tidak karuan, dia pun merasa aneh dengan dirinya sendiri.
"Kak, gadis it—" Shane datang dari ruangan lain. Sean reflek membekap mulut adik kembar nya itu.
"Gadis? Gadis siapa?" Asnee bertanya-tanya. Shabila diam begitupun dengan Shane. Mereka tidak ada yang menjawab karena pertanyaan Asnee yang seakan tidak terima sekarang.
"Lukyanova, gadis yang sangat-sangat kau cintai!" Tekan Nara menatap tajam mata Asnee, dia menunggu respon Asnee sekarang.
"Mama!" Teriak Asnee.
Nara kaget sampai kelopak mata nya membulat penuh, urat di mata pun seketika tegang. Semua orang pun kaget dengan sentakan Asnee yang baru pertama kalinya terdengar.
Rayya segera menghampiri. "Asnee!" Nada suara Rayya tidak kalah keras. "Kau ini kenapa?" Rayya mengguncang lengan Asnee. Nara berbalik, dia menyeka air mata nya, entah apa yang dia pikir kan saat ini.
"Nara" Aaron pun tidak kalah cepat. Dia hendak menenangkan Nara namun penolakan yang dia dapat.
"Jangan ganggu aku!"
Nara melenggang pergi ke luar pintu. Tidak ada yang mencegah atas tatapan dari Edward juga Ruby.
"Asnee kau berani meninggikan suara mu di depan mama?" Rayya tidak habis pikir.
Ahan yang dari awal berdiri di sudut ruangan hanya fokus pada satu orang. Dia adalah Nara yang kini tidak lagi berada di dalam.
"Mama?" Asnee tersadar, kening nya mengkerut. "Kak" Asnee malah memeluk Rayya, tubuh nya bergetar dan Rayya merasakan itu.
Semua orang terdiam, mereka tengah mencerna apa yang tengah terjadi saat ini. Apakah kasus ini akan membesar tidak ada yang tahu.
"Lihat lah! Dia baik-baik saja" Ucap Rayya malas, dia meninggalkan Asnee di dalam kamar bersama dengan Yaya yang masih dalam penanganan dokter mafia.
"Cinta mu pada Lukya menyakiti hati Mama, Asnee! Kakak kecewa padamu!" Gumam Rayya, menutup pintu kamar dengan rasa campur aduk.
"Bagaimana?" Tanya Ruby saat Rayya kembali ke ruang keluarga di rumah singgah itu.
"Entah, tidak ada yang ingin aku bicarakan saat ini! Aku tidak mengenal anak laki-laki itu!"
__ADS_1
Dampak nya, Rayya pun ketus, dia malas dan memilih langsung terduduk di samping Edward. Sepertinya tubuh Edward sangat nyaman untuk sandaran.