
"Ini" Daniza mendorong secarik kertas di atas ranjang saat Asnee terduduk di sebelah nya.
"Apa ini?" Sambil mengambil kertas itu, Asnee bertanya dengan sorot mata yang penuh dengan pertanyaan.
"Saya menemukan itu di buku tempat anda bekerja! Bukan nya saya bermaksud lancang, tapi salah satu alamat itu saya mengenali nya!" Tutur Daniza menelisik wajah Asnee.
Nampak tidak tahu apa-apa, Asnee pun membalas tatapan Daniza.
"Sebentar. Kau pergi ke sana karena alamat ini? Yang kau pun tidak tahu sebenarnya siapa pemilik kertas ini!"
Asnee bercakap, bicara Daniza kembali formal pada nya dan kini dirinya tidak suka. "Kau tidak bertanya dahulu pada, saya. Kenapa? Kau bahkan tahu jika buku itu milik saya dan kau dengan lancang mengambil nya?!" Suara Asnee menekan, meremas kertas dengan kasar.
Daniza diam memalingkan tatapan nya.
"Kau sebenarnya mencari apa, Niza?" Asnee melembut, dia meraih tangan Niza dan menggenggam nya serta sesekali mengelus nya.
"Niza" Ucap Asnee kembali dan sekarang menarik dagu Daniza agar menatap nya.
Air mata Daniza menggenang. "Jadi kertas itu punya siapa? Tidak mungkin kalau milik orang lain, sedangkan buku nya saja kau yang punya!" Daniza masih ingin tahu mengenai kertas itu.
"Kau mencurigai saya, Niza?" Tatapan Asnee semakin dalam.
"Bukan seperti itu. Bagaimana aku bisa mencurigai mu sembarangan? Entah ini kebetulan atau apa, tapi apakah aku tidak boleh mengetahui kenapa ada alamat bibi Yu di sana?" Daniza mulai berbicara tidak dengan bahasa formal membuat Asnee semakin lembut menatap nya.
"Aku hanya ingin tahu salah satu orang terdekat mu yang tersisa, tapi nampak nya mereka sudah tidak tinggal di sana. Bukan?!" Seru Asnee.
"Hanya itu saja, tidak ada yang lain. Untuk urusan ada nya pasar gelap itu dan kau masuk ke sana, sudah tidak dalam jangkauan. Kami, aku dan kak Rayya pun baru tahu mengenai pasar itu" Asnee mengusap pipi Daniza dengan ibu nya, senyum tersemat namun tipis, ada perasaan yang aneh menjalar ke seluruh tubuh terutama jantung, namun Asnee belum terlalu menyadari jika dirinya telah jatuh cinta pada gadis yang sebenarnya dia ada tujuan tertentu mendekati.
Tidak ada pembicaraan sejenak. Daniza kembali menatap Asnee.
"Aku masuk ke dalam gedung tua itu, di sana mereka mengadakan lelang. Dan kau tahu apa yang mengerikan di sana?!" Daniza menatap lurus ke depan, pipi nya kembali memerah begitupun hidung. Cengkraman pada selimut semakin mengerat.
"Ada apa?" Asnee kembali menangkup pundak Daniza dan menghadapkan pada nya. Perlahan Daniza menggapai manik mata Asnee, bibir pun bergetar kala mengatakan sesuatu.
"Kau bisa mengatakan nya perlahan!" Seru Asnee mengelus kepala Daniza.
"Kedua bola Paman Endra menjadi salah satu barang lelang di sana."
'Hiks
__ADS_1
'Hiks'
'Hiks'
Daniza kembali memeluk Asnee. Asnee, dia mematung dalam duduk nya, belum membalas pelukan Daniza.
"Bo—bola mata? Niza jangan bercanda, bagaimana bisa bola menjadi barang lelang? Sangat tidak ada manfaatnya. Kau tidak salah lihat bukan?!" Asnee mendorong Daniza dan sedikit menjauhkan wajah nya agar terlihat jelas oleh mata Asnee.
"Aku sangat mengenal warna mata keluarga kerajaan terutama milik Paman, Mama, Papa dan Iswara. Aku sangat mengenal nya!" Ujar Daniza.
"Lalu apa saja yang kau dengar di sana?" Asnee semakin penasaran dan dia sadar kenapa Ahan mengatak hal itu, Plakat itu juga malah di tawarkan untuk Daniza, ternyata ini alasan kuat nya. Lalu siapa sebenarnya Ahan itu? Kenapa dia sama sekali tidak tahu, tidak ada informasi lengkap mengenai dia.
Daniza semakin terbuka, menceritakan dari awal dia masuk sampai akhirnya di selamatkan oleh Ahan saat bahaya.
"Rumah Sakit Lovina?" Asnee mengingat-ingat nama rumah sakit itu. Daniza mengangguk, dia tentu dengar jelas nama rumah sakit yang di bicarakan orang-orang asing itu.
"Kau yakin dengan nama rumah sakit yang kau dengar?" Asnee kembali bertanya agar tidak ada kesalahan.
"Mata yang asli disimpan di rumah sakit itu karena. Tentu jika mereka mengatakan seperti itu berarti ada kerja sama dengan pihak rumah sakit! Seru Daniza.
"Masalah nya rumah sakit itu rumah sakit militer namun terbuka juga untuk umum!" Tahan Asnee agar Daniza tidak berbicara dahulu.
"Pasti. Mereka aman karena ada pihak militer yang menjaga. Polisi Militer biasa nya yang bergerak, untuk mengamankan individu, ada polisi yang ikut terjun. Kerjasama itu nampak lancar karena belum ada mengusik nya!"
...**...
Kursi roda, ya, Daniza tengah duduk di atas kursi roda dengan Daniza mendorong nya. Mereka hendak menemui Ahan di Istana Timur kediamannya.
"Tidak boleh bersentuhan selain dengan, saya. Mengerti!" Tekan Asnee sembari mendorong kursi roda. Bicara nya kembali formal.
Daniza menengadah, menggapai pandangan Asnee. "Iya, paham!" Daniza mengulas senyum dan kembali menatap lurus.
"Memeluknya sedikit saja, ini terakhir. Aku ngga akan begitu lagi!"
Asnee seketika menghentikan dorongan nya. "Paham? Belum juga bibir mu kering kau sudah tidak paham lagi. Niza?!" Nada nya bersahabat, tapi sorot mata lain lagi. Asnee menarik telinga Daniza dari belakang.
"Aaaaa iya iya, becanda aja sih ini ah!" Daniza menepis tangan Asnee, mengaduh kesakitan menggosok telinga nya berulang.
"Kau ini!" Seru Asnee kembali mendorong kursi roda sampai di mana mereka sampai di istana timur dan kini menuju kediaman Ahan.
__ADS_1
"Pangeran" Sapa pelayan-pelayan yang bekerja di sana.
Daniza juga Ahan membalas salam mereka dengan anggukan dagu nya.
Tok
Tok
Asnee mengetuk pintu berulang.
Kreeaatt
Pintu terbuka perlahan, nampak semakin lebar dan Ahan pun terlihat.
"Niza?" Ujar Ahan menatap ke bawah di mana kedua manik mata Niza yang rendah.
Namun Asnee tidak Ahan sapa dan malah sekarang pegangan roda ahan yang ambil.
"Kenapa ke luar? Kau sudah baikan?!"
Sampai di dalam kamar, Asnee pun ikut masuk membuntuti Ahan yang mendorong kursi roda.
"Sudah, hanya saja kalau jalan sedikit ngilu. Ada patahan ranting masuk dan itu jadi bengkak!" Adu Niza seperti tengah mengadu pada seorang kakak.
Asnee tidak menyela obrolan mereka, dia memperhatikan saja selama tidak ada sentuhan.
Daniza menggerayangi setiap sudut wajah Ahan. "Terimakasih" Ucap Niza mengulas senyum.
"Tidak apa. Niza!" Sahut Ahan dengan lembut.
"Tapi kenapa? Kenapa kamu juga ke sana? Apa ada yang kamu cari juga?" Tanya Niza beruntun.
Ahan terdiam dalam jongkok nya, dia tidak peduli luka di pinggang nya yang sekarang terasa perih.
"Selama kau baik-baik saja aku sudah lega, Niza!" Ahan pun menggenggam tangan Niza.
Ekhemm
Asnee berdeham namun Niza tak menanggapi begitupun dengan Ahan.
__ADS_1