The Future King

The Future King
Eps 117


__ADS_3

...***...


Lain lagi dengan Daniza yang tengah menyusuri lorong dari pintu masuk yang usang. Sampai dia di ruangan yang entah dia pun tidak mengerti, karena ada dua lantai dan dirinya berada di lantai dua saat ini.


Suara orang-orang mulai terdengar riuh dan tepuk tangan pun tidak luput terdengar menggema.


"Baik, untuk selanjutnya barang antik yang tidak akan ditemukan di belahan dunia manapun" Ucap MC itu dengan mikrofon di depan mulut nya.


Di atas meja tinggi kecil terdapat sebuah kotak kaca yang di tutupi kain.


Sraakk


Pelayan wanita itu membuka kain dengan sangat gemulai.


Riuh penonton dan calon pembeli akan sebuah pasang mata di mana tengah nya berwarna merah bening. Barang yang di lelang itu benar-benar langka.


"Harga di buka di 20.000 dolar" Ucap Pelelang.


20.000


30.000


31.000


35.000


Banyak sekali yang terus menaikkan harga sampai di mana berhenti di angka 35.000. Sepasang mata itu hanya pajangan, untuk yang asli nya ada di sebuah rumah sakit yang menjaga ketat beberapa pasang mata dengan warna yang berbeda.


Mata bisa di donorkan pada pasien yang membutuhkan, namun untuk pasang mata itu di jual-belikan dan pihak rumah sakit yang menampung nya ada kerjasama dengan pihak terkait.


Daniza menyingkap tirai panjang yang menggantung sampai ke bawah perlahan. Kedua bola mata hampir melompat dari wadah nya, dia pun seketika membungkam mulut nya saat melihat sepasang bola mata yang sangat dia kenali begitu saat melihatnya.


"Paman?" Lirih Daniza, dia sangat mengenali bola mata milik Paman Endra-ayah dari Iswara itu. Air mata pun sontak mengalir tanpa menggenang terlebih dahulu, air mata yang tidak bisa lagi di bendung.


Jantung Daniza berdegup kencang, lutut nya bergetar hebat. Keteguhan nya luruh saat menyaksikan kedua bola mata milik sang paman diperjual-belikan.


Dari ruangan samping yang hanya terhalang oleh dinding tipis, Daniza mendengar sesuatu, dia yakin akan mendapat informasi dari tempat gelap yang kini dia pijak.


"Anda tidak rugi menjual bola mata unik-antik seharga itu. Tuan? Ataukah karena anda masih memiliki beberapa pasang mata itu?"


Terdengar suara pria berbincang di dalam sana. "Rumah sakit itu perlu ditingkatkan keamanan nya, jika tidak bisnis anda akan hancur!" Lanjut nya.


Ketukan sari ujung jari telunjuk pada meja terdengar beraturan.


"Tidak perlu khawatir, saya tidak melibatkan banyak orang dalam bisnis ini, tapi tentu orang-orang ini adalah orang yang mengagumkan dan akan membuat bisnis ini lancar"


Jawab nya penuh percaya diri, suara berat dan dalam itu menyayat hati Daniza.


"Di tambah darah mereka sangat unik dan sangat bermanfaat!"


Dari perkataan itu sudah saja tertangkap sebuah tujuan dan sesuatu yang sangat untuk menjadikan hal itu peluang dengan market di tujukan untuk orang-orang tertentu saja dan tentu saja pihak rumah sakit masih berkaitan dengan ini.


"Rumah sakit?" Gumam Daniza, dia semakin mendekatkan telinga nya pada dinding tipis itu, menunggu rumah sakit mana yang melakukan bisnis menyeramkan seperti itu.


"Hospital Lovina memang penuh misteri" Ucap seseorang dengan tawa kecilnya. Sedangkan di samping ruangan, Daniza mencoba memperjelas nama rumah sakit yang di ucapkan.


Perbincangan masih terdengar, belum ada yang menyadari keberadaan Daniza di samping ruangan.

__ADS_1


"Tuan, Vans!" Sapa seseorang. Daniza semakin penasaran siapa orang-orang itu sebenarnya.


"Tuan Nan" Sapa nya kembali.


...**...


Daniza masih berada tepat di samping ruangan itu walau hanya bisa di masuki oleh satu orang saja tapi tubuh Daniza muat di sana.


"Siapa di sana?"


Daniza yang berdiri menyudut di dinding terkaget sehingga menginjak sebuah papan tipis.


Pletek


Di dalam ruangan itu terdengar kursi terdorong dan pastinya penghuni ruangan berdiri dengan cepat.


Penjaga pintu di depan tidak Daniza sadari telah berada lurus dengan tubuh nya saat ini. Bayangan Daniza terlihat sangat jelas.


Kedua kaki nya berlari walau salah satunya pincang karena masih memar, Daniza menuju pintu yang dia gunakan untuk masuk. Aksi kejar-kejaran terjadi di ruangan, namum tidak membuat acara pelelangan di tunda.


"Siapa dia?" Tanya pria tadi yang seperti nya bernama Vans.


Tuan Nan pun tidak tahu dan membiarkan mereka menyelesaikan tugas mereka. Tuan Nan pun kembali mengajak Vans masuk dan berbincang.


Langkah Daniza mulai gusar, kaki nya sangat sakit dan ternyata darah pun sudah mengalir dari telapak kaki.


"Kejar wanita itu" Teriak pria itu pada teman nya.


Sorot mata Daniza sudah tak dapat mengungkapkan apapun lagi, hanya sakit, lelah dan juga resah yang kini dia rasakan.


Penampilan nya sedikit acak-acakan, wajah pun sudah kena noda namun tidak menutupi cantik nya wajah itu.


Terus berlari sampai dia bersembunyi di salah satu gubuk yang ada di pasar itu.


Penjaga itu bertambah, terlihat empat orang sekarang yang mengejar Daniza.


"Ma, Pa" Gumam Daniza berjongkok di sudut gubuk itu sembari menyeka air mata yang hangat itu.


Deugh


Pintu gubuk terdorong keras, Daniza kaget dan sebisa mungkin untuk tidak ketahuan.


Dor


Dor


Suara tembakan menggema di gubuk itu, beberapa tumpukan baju dan kayu di tembak. Daniza terus berdoa, dia tidak bisa lagi menelan ludah nya sendiri saking kaget nya.


...**...


Di Pasar yang pertama Daniza kunjungi, terlihat Asnee juga Karl serta dua bawahan yang di bawa berpencar mencari. Semua orang pun memperhatikan akan Asnee yang terus bolak-balik dan bertanya keberadaan wanita di layar handphone nya.


"Karl cari dia ke setiap arah, saya akan mencari nya ke sana!" Tunjuk Asnee, di mana arah itu Daniza pergi.


Brughh


"Maaf tuan, maaf!" Seseorang menabrak pundak Asnee san dia terjatuh.

__ADS_1


Asnee membantu pria muda itu berdiri.


"Hentikan dia" Teriak seseorang dari arah berlawanan dan nampak pria muda itu tidak mampu lagi untuk berlari.


Asnee menatap mereka bergantian. "Ada apa ini?" Tanya Asnee.


"Jangan ikut campur. Pembantu ini harus di hukum!" Teriak pria tua gendut itu menunjuk-nunjuk pria muda yang berdiri di belakang Asnee saat ini.


"Apa yang dia perbuat sampai harus di hukum?" Tanya Asnee, "Anda seorang penjual kah?" Tebak Asnee.


"Apa peduli mu, bocah!" Sarkas Pria tua itu.


Asnee ingin sekali membantu pria muda itu namun di lain sisi calon istri nya menghilang dan dia belum menemukan nya. Posisi dilema untuk Asnee, di lain sisi ada rakyat nya yang ketakutan dan di sisi lainnya dia diberatkan dengan wanita nya.


"Jelaskan apa yang dia lakukan sampai harus di hukum?" Tanya Asnee sekali lagi.


"Dia menggelapkan uang dagang di kedai" Tuduh nya sangat kesal.


"Tidak pak, saya benar-benar tidak tahu apapun soal itu!" Sangkal pria muda itu membela diri.


"Jangan mengelak kamu!" Seru nya, Pria Tua itu tetap menuduh.


Asnee belum bisa memutuskan siapa yang bersalah, karena hal ini sudah menyangkut banyak pasal.


"Pangeran" Karl memanggil, sepertinya pencarian nya pun nihil sampai dia bisa dengan cepat menemui Asnee.


"Tangani mereka" Ucap Asnee. Tidak banyak bicara lagi dia pun pergi dan saat Pria Tua itu hendak menarik Pria Muda itu, Karl langsung pasang badan.


"Mari kita bicarakan dahulu. Jika memang benar pria ini bersalah maka kami akan membantu untuk menghukumnya. Bagaimana?" Ucap Karl, dia tidak perlu untuk meminta penjelasan, dari gerak-gerik mereka pun Karl langsung tahu apa masalah nya karena sejatinya hal ini bukan hal asing di matanya.


...***...


Ahan, dia sendiri sudah mencari ke setiap sudut daerah itu sampai di mana dia berada di pasar yang sangat luas dan ramai, namun ada sebuah gerbang yang tertutup.


Dia duduk sejenak di kursi tukang dagang makanan menghilangkan dahaga di tenggorokan setelah mencari Daniza ke sana ke mari tanpa henti.


"Ini kah tempat itu?" Gumam Ahan, dia teringat sesuatu saat orang-orang di sana saling berbincang.


"Maaf tuan, apakah kalian pernah melihat gadis ini?" Ahan bertanya dengan menunjukkan potret Daniza dari layar handphone nya.


"Kalian pernah melihat dia?" Mereka pun memperlihatkan potret gadis itu ke teman-teman nya yang lain.


"Tadi gadis ini yang terinjak pria gendut itu kan?" Seru salah satu pria muda di sana.


"Terinjak? Maksud anda terinjak itu bagaimana? Apakah dia baik-baik saja?" Ahan sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan pria itu.


Pria itu pun menceritakan seadanya karena dia pun melihat hanya sekilas saja dan wajah Daniza pun tidak terlihat sepenuh nya.


"Tapi dia ikut masuk ke dalam sana! Sepertinya ada yang dia cari di dalam" Ucap nya.


Ahan masih tidak menjawab.


"Pasar bagian dalam sudah memasuki pasar gelap dan hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk"


"Untuk hari ini berbeda, gerbang akan di buka di tanggal ganjil di pertengahan bulan dan orang-orang biasa bisa masuk, namun tidak ke dalam gedung tua yang ada di sana. Ada aturan-aturan yang di terapkan dan harus di patuhi semua anggota!"


Penjelasan dari orang itu semakin membuat Ahan yakin jika dia telah menemukan tempat yang selama ini dia cari.

__ADS_1


Ahan pun pamit, dia mengakali bagaimana bisa masuk ke sana.


__ADS_2