
Di Markas militer, Anggota yang terkena kasus pidana di tempatkan di suatu instalasi ataupun tempat yang di gunakan untuk penampungan para tahanan militer.
Satra memandu mereka yang terlibat untuk menghadap pada atasan.
"Silahkan ikut kami." Ucap Satra Mendahului dan mereka di jaga ketat.
Sedangkan di ruangan lain, Pelaku bisnis yang menyeret berbagai kalangan tengah di tindak. Mereka di beri kelonggaran, berhak di dampingi pengacara dan surat penangkapan terbuka yang langsung turun dari pihak berwajib.
Tim kesatuan yang di ketuai oleh Satra Adulyadej adalah unit paling berbahaya. Unit 3127A telah menorehkan prestasi gemilang baik penumpasan pemberontakan di dalam negeri, operasi pembebasan sandera di mancanegara, Penumpasan penjualan obat terlarang serta bisnis ilegal yang berkembang di dalam negeri.
Ahan, Simon dan Satra adalah tiga sekawan di Universitas dulu dan menjadi ketua dari kesatuan di negara mereka masing-masing, namun Simon dan Ahan berhenti dari Unit itu karena tuduhan pemberontakan dan itu dilakukan oleh Mentri Pertahanan negara mereka sendiri, yang ternyata kasus nya sama, yaitu penyelundupan senjata api.
"Anda tahu kenapa saya tidak menawar barang yang anda lelang?" Ternyata Leo memang berada di sana sekarang, duduk di samping Kapten Moza yang sekarang telah menjadi Panglima. Namun dia kembali ke luar dan menghampiri Tuan Esan.
Tuan Esan berbincang dengan Moza, membahas persoalan yang terjadi di negara nya. Moza masih menetap di Irlandia sampai sekarang.
Tuan Nan menyipitkan mata nya. "Maksud anda ini apakah begitu mencurigai kami?" Ucap Tuan Nan.
Di dalam ruang interogasi, seharus nya pihak keamanan yang bertugas menyelesaikan proses nya, tapi sekarang malah ada Leo dan juga Ahan yang berada di dalam.
Pasukan elite memang beda aura nya, tidak banyak ceta tapi menorehkan banyak prestasi.
"Anda seharus nya paham dan tahu makna dari bisnis. Tuan Vans! Sayang nya kalian dengan tidak beruntung harus berhadapan dengan saya." Ucap Leo.
Siapa yang tidak tahu tetua dari Mafia besar yang terkenal dari Jerman dan organisasi itu masih menjadi yang terkuat.
"Saya masih tidak mengerti!" Seru Tuan Vans tenang namun penuh dengan tekanan.
Masalah nya, dia tertangkap di negeri orang dengan peraturan yang sangat ketat, di tambah ada ikut campur kerajaan dan sekarang seorang Mafia kelas kakap menyerang nya.
"Barang yang kalian lelang adalah milik dari menantu keluarga kami dan masalah dia sudah tentu pasti menjadi masalah kami sekarang!" Seru Leo.
Ahan masih mendengarkan. Dia mencerna apa yang tengah di bincangkan.
"Shiit" Hardik Tuan Nan, dia benar-benar tidak beruntung untuk kali ini. Padahal mata Daniza tadi membuat semangat nya membara untuk di jadikan barang lelang baru terutama tuan Vans yang sangat tertarik dan akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan nya.
"Beri saya bukti jika organ itu memang hasil curian dan buktikan jika kami melakukan pembunuhan demi mendapatkan mata itu!"
__ADS_1
Tidak mau membahas panjang lebar, Tuan Vans di angguki oleh Tuan Nan meminta bukti autentik nya.
"Akan segera datang" Timpal Ahan akhir nya bersuara.
"Di bersihkan sampai licin pun yang namanya kejahatan pasti akan meninggalkan jejak walaupun kecil kemungkinan untuk di temukan, tapi kami akan tetap berusaha!." Lanjut Ahan kembali bersuara.
"Dan saya akan memberikan daftar transaksi dengan pihak yang bersangkutan dan akan di serahkan salinan nya pada pihak yang berhak untuk mengetahui betapa bejad nya orang-orang itu!" Seru Leo.
Leo beranjak berdiri dan seketika ke luar dari ruang interogasi.
"Saya bersumpah akan menghukum anda dengan tangan saya sendiri. Brengsek!" Aura menekan, hanya sambil duduk saja Ahan mengeluarkan aura yang tidak biasa.
"Simon Schaller! Dia akan kembali untuk membunuh mu perlahan, menatap dengan senyum puas menyaksikan orang bejad seperti anda hancur berkeping-keping" Ahan menunjuk tepat di wajah Vans.
"Simon?" Bahkan suara Vans masih meremehkan. "Dia sudah mati, apa yang kau harapkan dari pria tidak berguna seperti nya?" Tawa mengejek itu melukai hati Ahan, kekehan menyepelekan menusuk hati.
"Kau yakin? Tapi dia bukan orang yang mudah menyerah! Tunggu dan lihat. Kebenaran akan selalu menyertai"
Di luar pun kembali ramai, terutama Leo dan Moza yang masih berada di sana.
"Ada apa ini?" Tanya Tuan Esan langsung ke luar. Ramai-ramai petugas keamanan berlalu lalang akan berita penyusup.
Leo menoleh seketika kala batu krikil kecil terlempar ke arah nya. "Kau, kau sedang apa di sini?" Leo kaget, dia langsung menghampiri Rayya yang tengah mengumpat di balik bangunan pos jaga.
"Astaga Rayya" Moza pun kehabisan kata dengan tingkah Tuan Putri Yodrak itu. Rayya nyengir kuda, Leo pun menghampiri kesayangan nya.
"Sudah lewat jam dua belas malam, kau bersama siapa ke sini?" Tanya Leo seraya mengecek jam di pergelangan tangan nya.
"Baby?" Dari arah belakang Leo, Ahan berdiri tegap, mengerutkan kening nya menatap lekat keberadaan Rayya.
"Eh ada sayang nya aku?."
Rayya langsung melingkarkan tangan nya manja di tangan Ahan. "Itu, aku hanya penasaran dengan keberadaan Paman. Salahkan saja Paman Leo!" Manjanya, mimik wajah yang takut kena marah.
Suasana tegang jadi menggelikan. Leo, Moza dan tuan Esan saling lempar pandang.
"Kenapa jadi Paman, dih?!" Seru Leo.
__ADS_1
"Paman tadi Rayya tanya malah di matiin telpon nya. Jadi aku ke sini!" Kilah Rayya.
"Lalu kamu tahu dari mana kalau Paman ada di sini?" Seru Leo kembali.
Sambil bergelayut manja di lengan Ahan, Rayya malah nyengir kuda. "Cuman nebak aja. Eh ternyata benar!" Ujarnya dengan wajah tanpa dosa.
Para petugas keamanan pun berhenti karena yang mereka kira mata-mata ternyata Putri Rayya yang menyelinap masuk.
"Haih" Keluh mereka namun terdengar menggelikan.
Karl yang sedari berada di area gedung pun mengetahui keberadaan Putri Rayya dan melaporkan nya pada Asnee.
...**...
"Istirahatlah!"
Asnee membawa Daniza pulang, tidak mengizinkan untuk pergi kemanapun. Ibu Suri Rataporn juga ada di sana atas permintaan Asnee.
"Nenek, tolong jaga Niza sampai dia pulih, Ya! Asnee akan kembali lagi besok ke istana!" Ucap Asnee.
"Mau kemana di jam segini?" Ibu Suri Rataporn khawatir karena ini sudah tengah malam dan itu berbahaya.
"Tidak nek, ini sangat penting!" Asnee mengelus punggung telapak tangan sang nenek.
Daniza yang sudah lemas akan tangisan dan aksi tadi, membuat dia terlihat berbeda. "Saya akan memakamkan mereka" Ucap Daniza.
Asnee paham sampai di sana, mengerti maksud dari Daniza saat ini.
"Tentu saja" Ucap Asnee. Ibu Suri Rataporn pun ikut mengelus lembut pucuk kepala Daniza.
"Istirahatlah karena besok kita akan sangat sibuk" Ucap Asnee sebegitunya menjaga Daniza walau dia masih bertanya-tanya siapa Simon itu.
"Ini sudah larut, kau yakin mau ke luar?" Tanya Ibu Suri Rataporn kembali.
"Asnee pamit dulu, Nek" Ucap Asnee dan berlalu pergi dari kamar Daniza.
'Hufh'
__ADS_1
"Kau juga istirahatlah" Ucap Ibu Suri. Daniza pun membalikkan tubuh nya, menangis dalam diam agar Ibu suri tidak melihat nya.