The Future King

The Future King
Eps 91


__ADS_3

Kelulusan Asnee di abadikan dengan penuh kegembiraan, semua bangsawan pun akhirnya tahu siapa pria muda yang berprestasi itu.


Seperti kebanyakan raja, mereka memperkenalkan penerus mereka kepada orang luar dan saat kelulusan tidak sedikit keturunan raja dan keluarga bangsawan menuntut ilmu di sana.


Asnee menyapa mereka dengan sopan, di dampingi oleh Raja Aaron.


"Asnee Yodrak! Nama yang bagus dan terkesan Agung!" Ucap Salah satu dari keluarga bangsawan itu. Asnee hanya mengulas senyum tipis nya.


"Pujian anda terlalu berlebihan! Senang bisa berkenalan dengan anda. Saya harap dapat kembali dan berbincang dengan anda! Pasti menyenangkan!" Tutur Asnee.


"Tentu harus! Saya akan menambahkan jadwal berkunjung ke kerajaan anda!" Sahut Pangeran dari Slovakia. Senyum khas nya akan selalu di ingat oleh setiap orang bertemu.


"Baik akan kami tunggu kedatangan anda di istana kami!" Ucap Asnee kembali. Aaron pun mengangguk setuju.


Di Thailand, siang hari yang begitu panas, langit pun berwarna biru indah, tidak sedikit pencinta alam mengabadikan keindahan itu.


Berita kepulangan sang penerus Raja pun masuk berita, setiap orang yang berjalan di ibu kota pun menyaksikan. Tidak sedikit pula para penggemar Asnee ikut senang, wajah tampan manis milik penerus raja itu pun terpampang nyata di layar televisi kota.


"Apa kita harus ke bandara? wah sepertinya memang harus hahaha!" Ujar mereka begitu antusias, mimik wajah penuh dengan rasa gembira menyelimuti semua nya.


...**...


Setelah perpisahan asrama, Asnee pun pulang dengan perasaan senang, namun tidak sepenuh nya karena hidup nya terasa baru di mulai jika menginjakkan kaki di tanah kelahiran.


"Ma, Pa ikut aku Istana dulu kan?! Masa langsung pulang lagi?" Asnee masih merengek saat mengetahui jadwal penerbangan mereka yang berbeda.


Nara yang tengah membenarkan jaket Asnee pun menguyel gemas kedua pipi putra sulung nya itu.


"Udah gede kan?! Masa terus Mama temenin!" Ketus Nara namun dengan gemes terus mencubit hidung Asnee.


"Pa, Mama nakal!" Aaron dan Leyka yang berada di sekitar langsung menoleh bersamaan. Namun sayang, mereka tidak berani mendekat karena tatapan Nara yang seketika menajam.


"Hehehe" Cengir Leyka, Aaron pun seperti anak itik di hadapan Nara.


"Ish!" Cebik Asnee


"Apa?"

__ADS_1


"Engga!" Sahut nya manyun.


Drama anak dan ibu itu pun usai kala jam menunjukkan waktu penerbangan. Mereka pun berpisah bandara internasional Swedia.


Perjalanan Swedia ke rumah mereka masing-masing tidak lah dekat, biasanya mereka menghabiskan paling lama tiga hari perjalanan.


"Kak, Zevan ngamuk!" Lapor Shane namun dengan cengiran khas nya.


Zevan tidak di ajak karena dia ada ujian di sekolah nya, untuk itu Nara melarang nya ikut. Eiji dan Julian serta Ava yang menjaga rumah di Irlandia hampir kewalahan.


"Astaga anak itu..." Keluh Nara tepuk jidat.


Segera mereka pun pulang dengan tujuan berbeda. Ketiga putra si kembar pun tidak di perbolehkan ikut oleh mama mereka jadi sekarang mereka tengah menyaksikan semua barang di mansion Ruby berserakan.


"Ez, kak Zevan apa engga tau ya barang-barang itu mahal! Ish kalau aku mending cari orang aja—"


Belum juga Annelis kecil itu selesai bicara, Ezra yang antusias dengan amukan dari Zevan menukas ucapannya.


"Buat apa? Heh jelek, aku tahu isi kepala kau ya. Jangan macam-macam! Noh lihat Aarav, bola matanya mau ke luar!" Ujar Ezra mencubit pipi chubby Annelis dari samping namun tatapan nya masih fokus pada Zevan dan sekilas dagunya menunjuk Aarav yang ikut duduk di samping nya.


Kaki mungil mereka menggantung di sela pagar tangga lantai dua, masih menonton amukan Zevan.


Suara bantingan barang saling sahut, pengurus rumah dan beberapa mafioso yang berjaga tidak berani menghentikan tuan mereka.


"Sial, padahal ujian nya sebentar saja! Aku bisa menyelesaikan nya beberapa menit! Dasar peliiit..." Ocehan dari mulut Zevan terus terlontar. Para pelayan takut tapi kadang ingin tertawa dengan tingkah Zevan.


"Ssstttt" Eiji mengkode Annelis dari bawah agar tidak tertawa, dia ingin cepat amarah Zevan usai.


"Li sana kau tenangkan Zevan!" Eiji mendorong Julian sedari tadi, biasa nya dia paling bisa menghentikan amarah sepupu-sepupunya.


"Apaan ? Engga, ya!" Tolak Julian terus menguatkan berdirinya. Mereka masih saling dorong, amukan Zevan memang paling dahsyat.


"Apa? Aku juga tidak mau!" Tolak Ava saat tatapan Eiji pindah padanya.


"Dasar penakut!" Sarkas Eiji tanpa menatap dirinya sendiri.


"Terus anda ini apa, tuan?!" Tekan Ava menginjak keras kaki Eiji.

__ADS_1


"Assshh sakit, sialan!" Umpat Eiji meringis sembari mengangkat kaki nya yang sakit.


Suara barang pecah masih terdengar berkelentring, tidak ada yang menghentikan.


"Rasakan in—"


Semua orang hampir menjerit, saat Zevan mengangkat kursi dan hendak membanting kan nya pada lemari kaca di sudut ruangan.


"Belum kenyang?" Suara kecil namun terdengar dalam itu menghentikan ayunan tangan Zevan.


"Eh?" Aneh mereka. Telinga dan mata yang hendak di tutup seketika mereka lepas dan melihat kenapa tidak ada terdengar.


"Aku punya peledak baru dan benda itu bisa menghancurkan mansion ini sekaligus. Kakak mau?!" Aarav berdiri tepat di belakang Zevan dan malah menawarkan alat peledak pada kakak nya. Tidak tanggung dan tidak muluk-muluk.


Mereka yang mendengar menganga kaget, putra dari Singa Mafia itu malah menawarkan hal yang seharusnya tidak untuk di tawarkan. Bukankah, amarah Zevan malah akan semakin meledak?


"Buat apa?" Tanya Zevan masih mengangkat kursi itu, bingung dengan tawaran Adik sepupunya itu.


"Ya dari pada begini? Hanya menghabiskan waktu saja!" Tutur katanya lurus tapi ngena di hati. Bukankah makna dari ucapan Aarav itu malah terdengar tengah meledek nya.


"Yak yak yak! Kau mau meredakan amarah kakak mu ini atau apa? Mana ada menenangkan kaya begitu?!" Ketus Zevan perlahan meletakan kembali kursi itu dan merendahkan suara nya. Tatapan nya pun melembut namun bibir nya masih ketus.


"Ya terus?" Aarav terus menjawab dengan nada acuh seperti biasa nya. Dia tidak bisa basa-basi karena ayah dan ibunya pun tidak pernah mengajarkan dia untuk berkata basa-basi.


"Haiihh..." Nafas panjang berhembus, Zevan yang masih anak-anak tapi amukan nya seperti orang dewasa.


"Mau?" Aarav masih bertanya, dia nampak serius dengan perangai kecil nya itu.


Orang-orang di sekitar ingin tertawa tapi mereka tahan, takutnya Zevan akan mengamuk kembali.


"Mau apaan?" Cebik Zevan menjatuhkan tubuh nya di sofa, kaos hitam nya sudah ringsek dan keringat pun masih terlihat nampak di permukaan kulit.


Aarav melangkah kecil dengan kaki kecil nya sembari membenarkan nakas kecil penyangga pot bunga.


"Alat peledak nya!" Seru Aarav.


Hembusan nafas kasar terdengar dalam. "Engga!" Tolak Zevan membuat Annelis dan Ezra tertawa.

__ADS_1


__ADS_2