The Future King

The Future King
Eps 26


__ADS_3

"Ma"


Zevan berlari masuk menaiki anak tangga dari tempat parkir dan pastinya teriakan itu tidak akan terdengar karena di dalam sangat berisik oleh suara keluarga yang tengah bercanda.


Sedangkan Asnee menahan papa nya sejenak, matanya seakan memohon serta memperingati.


"Pa" Ujar Asnee


"Iya papa tahu ! Tenang saja" Tepuk Leyka pada bahu putra nya dan sedikit mencengkram. Asnee mengulas senyum karena papa nya selama ini bisa di ajak kompromi tanpa bertanya alasan kenapa dirinya seperti itu.


"Kau terbaik" Bisik Asnee.


Dua kali tepukan mendarat kembali, Leyka pun mengikuti Zevan masuk ke dalam namun sebelum itu sudut mata nya mengkode Asnee agar menenangkan kedua teman nya yang kenyataan nya mereka masih mematung di dalam mobil.


Kekehan kecil Asnee layangkan sambil menggaruk tengkuk nya yang sama sekali tidak gatal.


"Papa duluan" Pamit Leyka.


Pintu mobil Asnee buka, seketika kedua mata Asnee melotot tajam saking tak percaya nya.


Robert dan Kevin perlahan menoleh bersamaan dalam duduk tegap mereka dengan wajah pucat pasi.


"Kalian menangis?" Kaget Asnee.


"Hahahaha kalian menangis ?."


Seketika tawa Asnee pecah, kedua teman nya mengeluarkan air mata bersamaan.


"Heukss—heuks sana ah menjauh!" Ucap Robert sesenggukan dan Asnee malah kembali tertawa.


Hahahaha


hahahaha


"Dasar cengeng, baru gitu aja kaya udah mau mati aja ! Ayolah masa putra mentri pertahanan kita takut darah ? Sshhh sakit hati papamu kalau tahu, Bert!!"


Ledek Asnee sedikit mencondongkan kepala nya masuk di ambang pintu mobil.


"Kejam kali kau ini, As! Kita itu kaget. Masa kau memberi kado natal buat kita yang kaya gitu, kan amazing jadi nya"


Timpal Kevin yang juga nada bicara nya terputus-putus saking masih kaget nya. Yang mereka kaget itu sepertinya bukan hanya karena darah, tapi sepertinya kaget karena pangeran mereka ternyata seorang psikopat gila.


Asnee masih berbincang, dengan kedua teman nya pun enggan untuk ke luar membuat Rayya yang kebetulan berada di balkon sebelah utara kamar nya melihat mereka.


Bergegas Rayya menghampiri, lumayan dekat dan cepat karena dari balkon terdapat tangga luar menuju halaman.


"As masih belum masuk. Ada apa ?!."


Tanya Rayya dengan langkah nya. Penjaga mansion tidak berani menatap atau sekedar menguping, mereka berdiri di tempat dengan gagah seperti patung.


Penjaga bayangan, hanya ada satu dua karena sebagian libur natal.


"Huaaa kakak" Robert langsung ke luar, menerjang tubuh Asnee sampai hampir terjatuh.


"Heuks—heuks kakak" Robert memeluk Rayya begitu saja tanpa pamit. Rayaa kaget dan mematung, seketika bola mata nya menatap Asnee bertanya-tanya ada apa dengan Robert.


Asnee hanya mendelikkan kedua bahu nya.


Kevin pun ke luar, lutut nya sedikit bergetar, lebih tenang dari beberapa menit lalu dan Rayya menangkap pucat pasi nya wajah kevin.


"Ini kenapa ? Wajah kalian pucat. Kalian sakit, eum?."

__ADS_1


Rayya melepas pelukan dan meletakan punggung telapak tangan nya pada kening serta leher Robert dan Kevin.


"Tidak kak bukan sakit, tapi mereka melihat aku menghabisi seseorang tadi!"


Celetuk Asnee tanpa rem dan filter, padahal tadi kedua bahu nya mendelik tidak tahu.


"Aishh"


Rayya memukul lengan Asnee, untung Asnee cepat menghindar.


"Terus kamu terluka ?."


Dengan santai nya Rayya bertanya menggapai wajah adik nya lalu memeriksa dari atas sampai bawah.


"Kak" Rengek Robert yang sama sekali tidak paham.


Kenapa juga Rayya begitu, dia sama sekali tidak terkejut atau semacam nya membuat Robert dan Kevin seakan di jatuhkan oleh keindahan wajah pangeran dan putri kerajaan Yodrak.


Rayya mengulas senyum manis dengan pancaran kedua mata yang sangat menyejukkan. Bahkan seperti nya bulu mata pun cemburu akan binaran mata itu.


"Laki harus jago, jangan lembek ! Malu tau!." Seru nya menepuk pelan pipi Robert dan Kevin bergantian dan hal itu semakin membuat rahang mereka terjatuh.


'Apa-apaan ini'


Batin mereka pasti bergemuruh seperti itu.


"Ayo masuk, di luar semakin dingin"


"Oh iya, kalian beli kado apa ? Mana buat kakak ?."


Ujar Raya malah ribut minta kado natal pada Robert dan juga Kevin. Asnee memperhatikan wajah kedua teman nya, penuh kegelian dan juga sikap malas nya.


"Kak nanti di dalam saja, ayo!!" Tarik Asne pada lengan Rayya dan beralih pada punggung kecil nya.


Semua mata tertuju pada Asnee dan Rayya yang baru masuk, keluarga besar itu masih berada di ruang tengah dengan pohon natal masih di nyalakan. Beberapa kertas kado yang berserakan dan sebagian masih utuh terbungkus.


Asnee melirik papanya, tentu saja Leyka merespon dengan kode mata dan juga kedua bahu seolah mengatakan 'Papa tidak ada bicara apa-apa'.


"Ini hari suci. Kau juga tahu bukan tuan kecil ?!"


Ruby beranjak seakan-akan hendak menerjang tubuh Asnee. Atensi semua nya melihat pada satu titik sekarang.


"Mommy" Cicit Asnee namun sedikit ulasan senyum bersalah di kedua sudut bibir nya.


Rayya tak melepas genggaman tangan nya. Robert dan Kevin berdiri di belakang mereka tidak jauh, hanya bisa kembali menegang.


Nara menghampiri Robert dan Kevin dan mengajak nya duduk.


"Tidak apa" Ucap Nara lembut


Ruby masih berjalan menghampiri Asnee dan seketika terhenti kala tubuh Asnee kini tertutupi oleh badan Shabila dan juga Shane.


"Mommy tidak akan memarahi tuan kecil kami. Kan?!." Seru Shabila yang kini menjadi perisai untuk Asnee juga Rayya.


Kedua lengan Ruby melipat di perut. Aura di dalan ruang menegang dan berat, sesak dan hampa oksigen.


"Eum ?"


"Hahahaha kalian kenapa ? Mana bisa mommy marah pada kesayangan kita ini, eum?! Ada-ada saja"


Tawa Ruby menggelegar, dia tidak menyangka otak semua keluarga nya sampai di sana. Apakah ekspresi wajah nya tadi begitu serius dan menyeramkan sampai-sampai mereka berpikiran seperti itu.

__ADS_1


"Huffhhh"


Nafas mereka bersamaan terbuang lega, sangat-sangat menggelikan.


"Awas, kalian ngapain berdiri kaya patung di situ ? Mommy mau peluk Asnee"


Ruby mengusir Shabila dan Shane tapi tanpa di usir mereka pun beranjak menghindar.


"Mom" Tukas Asnee.


"Tidak apa, nanti juga akan terbiasa, tapi kamu harus ingat jangan sesekali musuh di biarkan bernafas saat kamu pergi ! Tuntas kan sampai bersih jangan di sisa-sisa kan. Kau paham sampai di sana ?!."


Tutur Ruby lembut namun tiap kata nya mengandung aura psikopat sampai Robert dan Kevin yang asing nampak kembali menegang di tempat.


'Keluarga macam apa sebenarnya ini'


Mungkin itu yang menjadi batin dari Robert dan Kevin.


"Mom" Timpal Raya.


"No sayang, kau itu cantik, jadi bersikaplah seperti putri biasa nya ! Cantik tapi berbahaya, mommy lebih menyarankan itu. Kau mengerti ?!."


Ruby pun membelai lembut pipi Raya.


"Caahhh sudah ah tegang-tegang nya. Sekarang kita lihat kado apa yang akan di berikat Asnee untuk kita."


Revin bersuara, mencairkan suasana yang masih bernuansa natal. Merah dan gold kebanyakan hiasan di dalam membuat cahaya lebih terang dari biasa nya.


"Ini untuk mommy"


Asnee mengeluarkan kotak berwarna zamrud pada Ruby. Semua memandang pada benda itu.


"Ini apa ?," Ruby mengambil nya dan langsung membuka.


"Kalung ?." Lanjut nya menatap kagum kalung itu.


"Aku menyukai nya, Mom! Pastinya seleraku tidak konyol kan ?!." Ujar nya bangga.


Nara, Shane, Shabila dam juga Edward mendekat.


"Bagus"


"Iya, ini sangat bagus. As!" Seru Shabila menimpali.


"Tapi cuman ada satu, aku berikan pada mommy saja." Tukas Asnee.


Ruby menatap Asnee sejenak lalu berkata. "Tidak As, ini untuk mu dan pakai saja ! Mommy bisa mendapatkan hadiah lain dari mu nanti. Iya bukan ?!." Seru Ruby melirik suami dan anak-anak nya.


Mereka pantang bodoh, mata mommy nya berbicara saat ini dan tentu saja mereka mengerti.


"Iya, kau pakai saja ! Lagi pula kami hanya bercanda ingin hadiah dari mu. Bukan kah seharusnya kita yang membelikan hadiah ? Jadi ini untuk mu saja, kami sudah mendapatkan banyak kado sekarang"


Ucap Shabila dengan senang nya serta meyakinkan Asnee agar memakai kalung nya.


Persoalan hadiah selesai dan Asnee serta kedua teman nya di biarkan bernafas lega dahulu, sedangkan Ruby dan yang lain nya kembali berbincang.


"Mom, kau ngeh kan dengan kalung itu ?! Sangat-sangat asli dan hanya ada satu keluarga yang memiliki kalung itu".


Shabila mengawali pembicaraan. Mereka membuang nafas seraya kembali duduk menyandarkan punggung di bahu sofa.


"Belum pasti, Sha! Tidak ada yang tidak mungkin jika kalung itu di duplikat. Kita lihat saja dan tunggu kabar apa yang akan kita dapat di tahun besok"

__ADS_1


Ujar Ruby dengan perkataan yang sangat ambigu, selain dari Lucifer sepertinya mereka tidak akan tahu.


__ADS_2