
Kenop pintu kamar mandi terbuka, Handuk berwarna coklat tua itu melilit pinggang, menutupi area bawah nya sedangkan perut sampai kepala terekspos jelas. Seksi dan menggoda.
Ahan mengeringkan rambut basah nya dengan handuk kecil, terus di sugar agar tidak ada air yang menetes.
"Waw" Seru Rayya menepuk tangan. Kedua bola mata bersinar dan begitu terpancar.
Ahan mengentikan aktifitas nya dan perlahan meluruskan wajah ke asal suara.
"Astaga" Suara ahan pelan, dia kaget dan mematung tidak habis pikir dengan Rayya yang ternyata malah duduk selonjoran di atas kasur.
"Kau masih di sini?" Ucap Ahan semakin aneh, menggerakkan kedua tangan nya dengan mimik wajah tidak habis pikir.
"Tutup mata mu" Ahan mendekat. Rayya malah semakin melebarkan senyum nya dan binar mata semakin terlihat.
"Tidak baik kau seperti ini, Baby! Ingat dengan reputasi dan etika istana yang kau pelajari. Kau ini gadis, anak perempuan milik Yodrak. Jaga pandangan mu!"
Ahan menutup mata Rayya sehingga dia kembali menyender di dinding tempat tidur, seraya Ahan pun ikut naik ke sana.
"Iya iya tahu!" Seru Rayya memegang tangan Ahan yang menutupi kedua mata nya.
Ahan menatap.
"Sekali saja, boleh pegang ya—" Cengiran nakal terpancar, mata Rayya benar-benar di butakan.
Hampir jemari Rayya menempel di perut Ahan, Ahan mencegah nya lebih dulu. Bukan nya apa, dia tidak bisa menahan keinginan nya meminta lebih. Sentuhan Rayya membuat nya akan terbuai.
"Sekali" Rayya meminta dengan kekeh.
"Tidak" Ahan menjauh.
"Iiih sekali saja" Entah kenapa Rayya seperti tengah ngidam ingin menyentuh perut Ahan.
"Rayya patuh! Jika tidak kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti" Ahan menahan pundak Rayya.
"Tidak mau, aku mau itu"
__ADS_1
Mendadak air mata menggenang, Rayya benar-benar ingin menyentuh perut nya.
"Sebentar" Ahan kembali menyentuh kening Rayya. "Panas?" Gumam Ahan, tadi dia tidak merasakan suhu tubuh Rayya.
Kembali Ahan meletakan telapak tangan nya di leher Rayya.
"Panas" Gumam nya kembali. Semakin lekat di lihat, wajah Rayya merah.
Kelopak mata membulat sempurna, Ahan menoleh ke arah meja dan dia tidak menemuka air di dalam botol yang tadi dia bawa.
"Rayya kau meminum nya?" Ahan menggoncang wajah Rayya. Rayya hanya tersenyum centil.
"Panas" Parau suara Rayya.
Ahan yang berada di atas ranjang pun menahan tubuh Rayya. Saat tangan nya manahan ke belakang tubuh Rayya ternyata botol yang dia bawa ada di sana.
"Astaga" Ahan kaget seraya menatap keberadaan botol itu.
"Rayya kau meminum semuanya?"
Cup
Rayya kembali mengecup bibir Ahan, Melingkarkan kedua tangan nya di leher Ahan.
"Rayya" Ahan merasa bersalah, dia bingung harus menyembuhkan nya dengan cara apa.
"Rayya Ayo" Ahan hendak membawa Rayya ke kamar mandi untuk di siram, rapi efek nya tidak akan begitu saja hilang.
"Panas" Suara Rayya kembali Parau, dia dengan cepat menempelkan wajah nya di dada bidang Ahan.
"Rayya maaf" Tidak ada pilihan lain, Ahan pun kembali menautkan bibir nya di bibir ranum milik Rayya.
Ahan dengan sempurna naik ke atas ranjang. "Kemarilah" Ucap Ahan, dia berbaring dengan telanjang dada membiarkan Rayya menindih nya dan sekarang Rayya menguasai tubuh Ahan.
"Simon sialan!" Hardik Ahan seraya menatap wajah merah milik Rayya yang berada di atas nya.
__ADS_1
Rayya terus bergerilya namun kembali mencium Ahan dengan rakus. Ahan diam, dia menahan ingin membalas ciuman itu.
"Ashhh" Pelan ahan merasakan adik nya mengeras karena Rayya tepat duduk di sana.
"Jangan Rayya" Suara Ahan pun parau. Dia tetap seorang laki-laki yang memiliki hasrat, dia pun harus menahan keinginan nya yang lebih itu.
"Jangan menyentuh nya" Ahan secepat kilap bangun, dia manahan Rayya yang semakin liar. "Rayya" Ahan memeluk nya namun suhu tubuh Rayya semakin panas.
Efek dari minuman kuat bisa saja merenggut nyawa, Ahan terus memperhatikan wajah Rayya.
"Maaf maaf" Ahan terus merasa bersalah. Dengan terpaksa Ahan kini membawa Rayya ke kamar mandi, dia tidak ingin merusak gadis orang terlebih gadis itu adalah seorang putri dari kerajaan.
"Ahan" Rayya menahan tangan Ahan yang hendak berdiri saat dirinya kini telah berada di dalam bathtub.
Air dingin pun mengalir, memenuhi seisi bathtub. "Rayya" Ahan menepuk-nepuk pipi Rayya agar dia tersadar.
"Eum" Rayya menjawab nya, memeluk pinggang Ahan yang duduk di tepi bathtub masih dengan handuk melilit di pinggang.
"Masih panas?" Perlahan, Ahan bertanya memastikan.
"Tidak terlalu" Jawab Rayya dengan kedua mata menutup.
Setengah jam berlalu, posisi mereka masih sama. "Rayya" Ucap Ahan.
"Aku kedinginan" Sahut Rayya pelan. Ahan pun menarik handuk besar berwarna putih di samping nya.
"Kemarilah" Ahan membantu Rayya berdiri dan langsung melilit tubuh itu dengan handuk.
"Ayo" Ahan membantu Rayya ke luar dari bathtub dengan memeluk nya.
"Masih dingin?"
Ahan benar-benar merasa bersalah, dia pun bingung harus melakukan apa. "Maaf" Ucap nya kembali. Rayya mengangguk. Bibir nya pucat begitupun dengan wajah nya, sorot mata pun layu.
"Terimakasih" Giliran Rayya yang berucap karena dia merasakan jika Ahan tidak mengambil kesempatan dalam situasi ini.
__ADS_1