
Collen, Vio dan juga tangan kanan Nara yang misterius masih menatap lurus ke hadapan tuan muda nya. Padahal orang itu tidak pernah muncul selama ini, tapi sekarang Asnee pun bisa melihat pria itu.
"Tuan kecil" Sapa mereka bertiga dengan sopan saat Asnee menghampiri, begitupun dengan pria yang tanpa membuka kacamata hitam yang tembus pandang.
"Mama dan Papa sudah datang? Di mana mereka?" Tanya Asnee basa basi seraya kedua bola matanya mencari-cari mereka.
"Aresha dan Tuan besar belum sampai, mereka akan datang lima jam lagi. Sekar—"
Asnee menghentikan Collen berbicara dengan kode tangan nya. Ucapan Collen pun benar-benar terhenti.
"Zevan akan di sini bersama saya, tidak ada yang boleh menyentuh nya apalagi membawa nya pergi!"
Intonasi Asnee biasa saja, namun makna daei ucapan nya sangat ambigu.
"Tap—"
Saat Vio hendak menyela, Asnee kembali menghentikan nya.
"Ada lagi yang ingin kalian sampaikan?" Tatapan Asnee pada mereka bertiga. Semua nya terdiam.
"Jika tidak ada, silahkan untuk kembali! Jangan khawatir, nyonya kalian tidak akan marah hanya karena cegahan dari saya!" Senyum Asnee benar-benar penuh arti. Pria misterius itu tidak ada bicara, dia terlihat hanya memperhatikan Tuan Kecil nya.
Zevan menoleh sekilas dan memasang smirk tengil nya pada tangan kanan sang Mama.
Keputusan nya benar, hanya kakak nya yang mampu mematahkan semua perintah dari sang mama dan lihatlah, bahkan ketiga tangan kanan itu tidak berani untuk kembali berbicara.
"Ada apa dengan mereka?" Bisik Robert pada Kevin. Kevin hanya mengangkat kedua pundak nya dan menahan beberapa detik. Pesta pun kembali berjalan atas arahan Kevin dan mengabaikan orang tang datang.
Asnee kembali duduk di samping Zevan saat ketiga orang itu pergi..
"Apa yang sedang kau kerjakan sampai mereka dan pria aneh itu datang? Mereka terlihat gatal ingin sekali menyeret mu pulang!" Cecar Asnee.
Zevan terlihat berpikir sejenak. "Tidak tahu! Banyak sekali yang harus Zevan lakukan, jadi akan terlalu lama untuk menyebutkan nya!"
Tidak nampak mengeluh, tapi Asnee tahu kalau Zevan sedikit lelah dengan tugas yang di berikan di tambah mungkin saja tugas dari sekolah yang pastinya menumpuk.
"Istirahatlah di sini. Biar kakak yang bilang pada mereka!" Tepuk Asnee pada pucuk kepala Zevan.
"Serius kah? Aku boleh tinggal di sini untuk beberapa hari?" Binar mata nya mulai terpancar seperti penambang yang mendapatkan segumpal berlian dari bawah tanah.
Asnee hanya tersenyum dengan kegembiraan kecil dari adik nya itu. Entah kenapa, Zevan sangat spesial di hati nya walaupun banyak saudara angkat yang lain, namun Zevan berbeda.
...**...
Satu hari sebelum pernikahan, semua keluarga sudah berdatangan. Istana pun nampak penuh dan kamar-kamar di sana sudah terisi.
Daniza dan juga Iswara masih berbincang di area Gazebo, hanya mereka berdua. Eiji dan juga Rayya bergabung dengan keluarga yang lain.
"Hai cantik"
Obrolan Daniza juga Iswara terhenti, mereka berdua serempak menoleh pada asal suara.
"Simon"
"Ahan"
Teriak kedua gadis itu terkejut tapi dengan senang seraya berlari ke arah kedatangan Simon juga Ahan.
"Kau kemana saja?"
Sekarang mereka benar-benar memeluk dengan erat tanpa batas.
__ADS_1
"Kau menangis?" Ledek Simon.
"Yak!"
Daniza memberi jarak dan.
Dughh
Tulang kaki kering Simon menjadi sasaran.
"Arghhhh" Jerit Simon, tendangan Niza benar-benar keras.
"Rasain" Bukan Niza yang meledek, tapi Iswara.
Bukan marah tapi Simon malah tertawa begitupun dengan tawa kecil dari Ahan.
"Ahan, Wara sudah sembuh sekarang" Ucap Iswara manja pada Ahan.
"Benarkah? Coba saya ingin melihat nya?" Ahan memutar-memutar tubuh Iswara layaknya anak kecil.
Simon juga Niza hanya memperhatikan interaksi si manja dan si kulkas saat ini.
"Tapi masih harus ada pemeriksaan selama satu minggu untuk mengecek kondisinya sudah benar-benar sembuh atau hanya gertakan saja!"
Ahan mendengarkan. "Baiklah. Itu memang sudah menjadi prosedur mereka! Jadi ikuti saja" Tutur Ahan.
"Tapi benar kan nanti aku tinggal bersama kalian? Kalian sudah berjanji pada ku. Iya kan?!"
Mulai, Iswara mulai menagih janji yang padahal hari itu mereka melakukan itu agar Iswara mendapat pengobatan yang intensif dari dokter-dokter ahli.
"Wara" Ucap Niza.
"Kalian sudah berjanji!" Tekan Iswara.
Ahan hendak meraih tangan Iswara, tapi pemilik tangan menjauh. Simon menatap adik kecil dari Nona nya itu.
"Saya berjanji" Ahan mematahkan keributan yang belum terjadi. Iswara kembali menoleh.
"Ahan" Tegur Daniza.
"Saya sudah bersumpah untuk melindungi keturunan Pangeran Endra dan itu sudah saya tanam" Perkataan yang terdengar angkuh namun menyenangkan di telinga Wara.
"Saya tidak ingin kau mengingkari sumpah itu, tapi dia tidak akan dewasa jika terus bersembunyi di balik bayangan mu!"
Tekan Daniza dan kembali menoleh pada Iswara. "Tidak ada bantahan. Wara! Kau harus patuh dan tidak ada merengek."
"Niza" Cebik Iswara.
Daniza bukan jahat, tapi dia ingin melihat perkembangan daei Iswara tanpa ada Ahan di sisinya. Ahan juga memiliki tujuan hidup nya, dia tidak bisa terus menerus mengikat Ahan maupun Simon untuk terus di sisi mereka.
"Ahan juga tidak keberatan. Iya kan?!" Iswara mendekat menatap Ahan nanar.
Ahan tersenyum hangat.
Deug
Jantung Niza dan Iswara berdegup saat Ahan memberikan senyum itu. Sangat hangat dan manis. Simon mengerti dengan keputusan Ahan.
"Yang"
Iswara hendak mengucapkan sesuatu tapi suara yang tidak asing itu masuk di pendengaran.
__ADS_1
Rayya memanggil Ahan dengan panggilan Sayang. Tidak ada yang tidak menoleh saat ini.
"Kau sudah pulang tapi tidak langsung mencari aku?" Dengan langkah cepat, Rayya menghampiri.
Kedua tangan mulus dan mungil itu menekan pinggang Ahan seraya sedikit menengadah, menggapai kedua mata.
Kembali, Ahan mengulas senyum yang sama seperti tadi.
"Aku pulang" Ucap Ahan membawa Rayya ke dalam pelukan nya.
"Eum" Angguk Rayya dalam pelukan.
Iswara terdiam, kini dia merasa jarak antara dirinya dan Ahan sudah terasa jauh.
"Niza sama Asnee sudah mau nikah—"
Mereka menoleh pada Iswara karena perkataan nya.
"Ahan sama kak Rayya pasti mau merencanakan pernikahan. Lalu Simon pasti pergi juga, kan?!"
"Lalu Wara sama siapa? Wara tidak mau menjadi beban kalian sebenarnya, tapi Wara bingung harus ngapain! Apa Wara ke Panti saja ya?"
Benar, Wara memang tidak di perbolehkan berbicara. Karena apa, setiap dia berkata pasti akan mengejutkan.
"Panti apa maksud mu, Wara? Jangan ngada-ngada!" Tegur Daniza.
"Ya Wara bingung aja, Niza!" Rengut nya. Memainkan kaki seakan tengah menyapu tanah.
"Kan ada Paman Eiji!" Celetuk Rayya. Kembali pasang mata menatap Rayya.
"Paman?" Seru Iswara.
"Ssshh benar juga ya. Wara lupa dia sudah berjanji untuk tetap bersama Wara!" Gumam Iswara namun terdengar di telinga mereka.
"Apa yang kau maksud?" Selidik Ahan, Niza pun sama.
Wara tidak menanggapi.
"Sudah ah, Wara mau cari Paman dulu. Bye bye!"
Tingkah nya benar-benar seperti anak kecil. Dia polos seakan tidak mengetahui apapun, dunia nya seperti taman kanak-kanak.
"Apa?" Tanya Rayya karena dirinya di tatap oleh tiga orang di depan nya. "Itu, aku hanya menebak saja! Soalnya tidak biasanya Kak Eiji dekat sama perempuan luar. Jangankan yang tua, dewasa, remaja, anak kecil pun jika bukan keluarga dia tidak pernah dekat!" Tutur Rayya menduga akan kecurigaan nya.
Pembicaraan itu selesai dengan Rayya membawa Daniza masuk, karena tidak baik untuk pengantin lama di luar, namum sebelum itu Rayya menyuruh Ahan dan Simon datang ke rumah jahit nya khusu istana.
Tidak lama Rayya kembali bertemu dengan mereka tanpa Daniza di samping nya.
"Waw, ini semua yang akan di kenakan di pernikahan besok kah?" Simon nampak takjub dengan pasang gaun dan tuxedo serat baju kebangsawanan dari kerajaan.
Rayya mengkode pelayan di sana untuk membawakan beberapa stel tuxedo untuk Simon juga Ahan.
"Silahkan"
Rayya pun memilih beberapa tuxedo terpisah untuk mereka berdua.
"Kalian coba pakai ini" Satu tangan kanan memberikan tuxedo untuk Ahan dan yang kiri untuk Simon.
Beberapa kali mengganti pakaian dan Rayya menjadi penilai nya, akhirnya tuxedo terakhir yang cocok untuk mereka. Rayya harus teliti karena Simon dan Ahan yang akan menjadi wali dari Daniza besok, untuk itu dia harus bisa membuat acara tersusun rapih termasuk pakaian yang akan di gunakan besok.
...**...
__ADS_1