
...**...
"Ada apa?" Penasaran dengan kedua teman nya yang berdiri mengelilingi meja di dalam kamar asrama. Kevin dan Robert pun menoleh dengan masih berdecak pinggang.
"Perasaan tadi meja kosong deh, As! Tapi sekarang ada berkas. Lihatlah!" Tunjuk Kevin pada meja namun tubuh nya masih menghadap pada Asnee.
Map tebal berwarna Navy dengan dua sudut ujung di lapisi dengan bahan besi tipis berwarna rose gold, mirip-mirip dengan sampul ijazah.
"Ini punyamu?" Tanya Robert.
"Kau tidak ingat kalau kita tadi berangkat bersama?" Asnee pun duduk dan langsung meraih map itu. "Kalian sudah memeriksa nya?"
Robert dan Kevin hanya menggelengkan kepala mereka.
"Astaga" Kaget Asnee.
"Kenapa kenapa?" Tanya mereka bersamaan.
Asnee pun langsung mengingat ucapan Clare tadi, dia pun mengerti apa yang di maksud dari ucapan nya. "Memang benar, Lukyanova sudah tidak bisa lagi tertolong, dia sudah bermain terlalu dalam!" Dari intonasi pun, Asnee benar-benar kecewa, rasa cinta dan kagum nya masih ada namun besarnya kecewa tidak bisa menyeimbangi kedua nya.
"Tidak di sangka Yaya yang kita kenal, bisa bermain sejauh ini! Apa dia tidak sadar sudah merugikan dirinya sendiri?" Kevin pun bingung.
"Kalau saja dia ingin mencari siapa yang membunuh kedua orang tua nya akan aku bantu, tapi dia sudah bermain terlalu gila sampai-sampai bisa jatuh ke pangkuan penafsu birahi" Seru Asnee.
"Aku setuju. As! Tapi sekarang bukan lagi. Akan menjadi kebiasaan jika sudah seperti ini! Tidak, bukan kebiasaan tapi juga sudah menjadi penyakit, toh dia kalian tahu sendiri ikut menikmati permainan nya!" Kevin pusing, dia benar-benar sangat terkejut.
Berkas itu berisi orang-orang yang pernah berhubungan dengan Yaya, beberapa data di dalam nya juga berisi orang-orang yang menjadi pegangan kuat Yaya. Tidak bisa di pungkiri, orang-orang tersebut adalah orang-orang dengan berstatus tinggi di dalam masyarakat.
Untuk menenangkan diri terutama Asnee, mereka pergi ke luar dari sekitar asrama untuk mencari udara segar. Mungkin tidak menyangka kalau orang sebaik Yaya bisa seperti itu, dia baik tapi moral nya sudah rusak.
"As, jangan-jangan dia juga sudah mengenal siapa kamu!" Ucap Robert.
"Bisa jadi! Dan dia ingin menjadikan mu pegangan kalau saja nanti impian nya tidak tercapai dan lagi dia orang Thailand Asli. Kau mengerti kan maksud ku?!" Pungkas Kevin dengan segala kecurigaan nya.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan kalau memang dia berniat untuk bermain-main!" Sunggingan tipis daru salah satu bibir Asnee pun terbit.
"Sebentar sebentar!" Tahan Robert sembari mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Mobil yang mereka tumpangi sepertinya hanya berputar di jalan itu-itu saja, membuat Robert keanehan. Asnee juga Kevin pun kaget, mereka baru sadar.
__ADS_1
"Pak, sepertinya anda membawa kami ke jalan yang salah! Minimarket bukan ke arah sini." Tepuk Kevin pada pundak pak sopir.
Cahaya dari mobil lain tembus ke kaca mobil taksi yang mereka tumpangi, di sana pun hanya ada pertigaan dengan kondisi lalu lintas di malam hari yang sudah lumayan sepi.
Sopir itu tidak menjawab, dia mendadak menginjak rem begitu saja sampai di tengah-tengah persimpangan. Dari arah kanan, mobil kontainer melaju dengan kecepatan tinggi
Ckittt!!!
Tubuh mereka tersungkur bersamaan, tidak hanya itu, kening Asnee terbentur ke ujung besi kursi.
"Pak pak maju, kenapa berhenti?!" Teriak Robert ribut namun sang sopir hanya diam.
"Sial! Buka pintu nya. Brengsek!" Asnee berusaha membuka-buka pintu mobil, namun tidak di dengar. Mau di guncang bagaimana pun sopir itu malah tersenyum jahat.
"Buka brengsek!" Teriak Asnee sekali lagi. Kontainer semakin mendekat, sorot lampu nya semakin menembus mata. Suara klakson pun saling bersahutan.
"Arrghhhhh" Jeritan mereka memekikkan telinga. Mungkin saat ini mereka berpikir dosa apa yang mereka lakukan sehingga hidup nya harus berakhir di usia muda. Mobil kontainer sangat besar, jika menabrak lawan, mungkin pemilik nya tidak akan selamat.
Tin
tin
tin
tin
Suara klakson, suara tembakan senjata api silih bersahutan.
Brakk!!
Brakk!!
Ban kontainer pecah, keseimbangan pun terganggu sehingga menyenggol ke sana ke mari. Mobil yang di tumpangi Asnee pun terdorong lumayan jauh, tapi hanya ujung mobil nya saja yang kena. Sedangkan mobil kontainer itu sudah jungkir balik.
Beberapa mobil berwarna hitam, silver dan juga merah berhenti mengelilingi mobil yang di tumpangi Asnee, mereka ke luar dengan rusuh.
"Cepat buka pintu nya!"
__ADS_1
"Urus supir kontainer itu, bawa hidup-hidup!"
Perintah dari pria itu langsung di turuti. Ya, dia Kenzi dan Lucky, anggota tinggi di dalam organisasi mafia red Phoenix. Benar tidak bercanda, sampai-sampai Kenzie dan Lucky yang ternyata di tugaskan oleh Ruby di Swedia.
Tidak main-main, polisi pun kalah cepat oleh mereka.
"Kapten" Teriak anggota nya. Kenzie juga Lucky menghampiri.
"Tuan kecil? Astaga !" Dengan resah, Kenzie juga Lucky mengamankan Asnee ke mobil mereka.
darah ke luar dari kening, pecahan kaca pun menancap di tangan nya, leher pun berdarah. "Tuan kecil?" Kenzie mencoba menyadarkan Asnee.
"Ken, bagaimana ini?" Lucky pun mengecek keadaan Asnee.
"Medis mana?" Teriak Lucky benar-benar kalang kabut.
Anggota divisi kesehatan pun menghampiri, mereka segera memeriksa keadaan Asnee. "Aman! Masih bisa di selamatkan!" Hasil pemeriksaan nya langsung menenangkan jantung Kenzie juga Lucky.
"Kapten, kita harus segera melarikan tuan kecil ke rumah sakit!" Lapor mereka.
Suara sirine mobil polisi terdengar tidak hanya satu, laporan kepada mereka adalah kecelakaan lalu lintas sepertinya, untuk itu langsung menuju ke TKP.
"Dengar, aku ingin kalian membawa sopir taksi itu dan sopir kontainer ke rumah! Kita akan menanganinya di sana! Jika di berikan kepada polisi aku tidak yakin mereka akan di hukum berat" Titah Kenzie, dengan cepat mereka pun melaksanakan tugas masing-masing.
Hitungan detik, Kenzie, Lucky sudah pergi dengan membawa Asnee, tapi untuk sang sopir dan Kedua teman nya tidak sempat di bawa karena polisi sudah mendekat, di tambah beberapa pasang mata melihat di lokasi, membuat mereka tidak leluasa , namun bukti identitas, darah dan helaian rambut telah mereka ambil.
"Mereka mati?"Tanya Kenzie.
"Tidak, Ken! Kita akan menangkap mereka setelah mengurus tuan kecil!" Sahut Lucky.
"Keadaan kedua teman tuan kecil, aman?" Tanya Kenzie kembali.
"Aman, kapten" Sahut salah satu anggota divisi kesehatan yang berada satu atap kabin mobil dengan Kenzie juga Lucky.
Berita kecelakaan KM.3 itu langsung masuk berita, identitas Robert juga Kevin langsung di ketahui karena identitas diri yang mereka bawa.
"Jika sudah tidak berguna, untuk apa hidup?!" Gumam Yaya dengan kebengisan nya. Ya, dia tahu siapa Asnee dan dia memiliki tujuan khusus mendekati Asnee.
__ADS_1
"Tampan, tapi terlalu jual mahal!" Ujar Yaya terdengar menyayangkan. Dia tidak tahu sedang bermain dengan siapa saat ini.