
"Kau memang sangat pintar kak" Seru Asnee pada Rayaa dari balik telpon.
Belum juga Asnee berbincang lama dengan Rayya, Karl datang menghadap.
"Pangeran, ada seseorang masuk ke ruang bawah tanah Gallery" Lapor Karl. Asnee menjauhkan handphone nya dari daun telinga.
"Halo, As!" Ucap Rayya
"Kak, nanti aku hubungi lagi"
Asnee langsung memutuskan panggilan nya dan segera berjalan ke luar kamar dengan Karl.
"Aman, pangeran" Seru Karl mengerti jika atasan nya itu tengah mengintai sekitar, apakah ada orang yang mengikuti mereka atau tidak.
Sampai di Gallery, Asnee dan Karl masuk tanpa ada bawahan yang mengikuti. Asnee ingin senyap dalam pemeriksaan nya.
"Sstt" Asnee bersembunyi di balik tiang begitupun dengan Karl.
Tiba-tiba dinding itu terbuka perlahan dan suara terdengar perlahan.
"Tidak ada, di sana sudah kami periksa" Ucap seseorang ke luar dengan berdecak pinggang.
"Baik bos" Ucap laki-laki itu kembali.
Kemudian dua orang laki-laki ke luar.
"Sudah kami sembunyikan di ruang khusus, semua nya aman dan terkendali! Tidak ada CCTV seperti yang di minta dan aku yakin barang-barang di sana akan aman" Lapor salah satu dari dua laki-laki yang baru ke luar.
"Kerja bagus" Ujar laki-laki yang tengah berdecak pinggang sembari masih melapor pada bos nya melalui handphone.
Keberadaan Asnee sangat gelap sehingga tidak akan ada yang bisa melihat nya. Ketiga Laki-laki itu pun ke luar bersamaan, Asnee juga Karl masih dalam persembunyian memastikan jika ketiga laki-laki itu pergi jauh.
"Karl ikut" Ucap Asnee.
Karl mendorong perlahan dinding itu setelah ketiga laki-laki itu pergi jauh. Asnee pun masuk perlahan diikuti Karl di belakang nya sembari memegang cahaya flash dari handphone.
"Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan di sini?" Asnee benar-benar ingin tahu. Karl pun ikut membantu.
Sudah hampir tiga puluh menit berlalu, namun Asnee juga Karl masih mencari barang apa yang sebenarnya di sembunyikan di ruang bawah tanah. Kenyataan nya ruangan itu masih melompong, sama sekali tidak ada sudut ataupun tempat barang tersimpan.
__ADS_1
Tuk
tuk
tuk
"Pangeran" Seru Karl. Asnee menoleh, dia tidak langsung menghampiri, hanya menatap dengan tatapan menyipit.
Karl kembali mengetuk dinding itu sedikit keras. Asnee pun menghampiri.
"Cari cara membuka dinding ini"
Asnee pun mencoba untuk membuka tapi masih tidak bisa, Karl pun tidak kalah dari tuan nya tapi tetap saja usaha nya nihil.
Pintu ini tidak di dorong atau pun di geser, sepertinya ada alat untuk membuka nya.
Cahaya dari handphone itu terus membidik satu persatu tembok yang berbeda tapi mereka tidak menemukan apapun.
Asnee berjalan ke kanan dan ke kiri dan
Drrrtdddd
"Pintar sekali" Smirk dari salah satu bibir Asnee kembali timbul.
Karl, dia sudah berdiri di ambang pintu yang sudah terbuka, matanya melotot tidak percaya dan tubuh nya pun diam terpaku.
Asnee mengerutkan dahinya.
"Apa-apaan ini?" Mulut Asnee menganga tidak percaya.
"Tch tch tch, apakah sekarang barang-barang berharga di istana pindah ke sini? Kenapa semua nya sangat aku kenali.Karl!"
Gelengan kepala. Ya, sekarang Asnee hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Karl masuk ke dalam, ruangan itu lumayan luas namun tidak seluas ruangan yang ada di luar.
"Karl amankan semua barang bukti ini, buat juga dengan video! Panggil anak buah mu kemari, kerjakan dengan senyap" Titah Asnee, di sela memotret polesan guci dan lukisan juga beberapa artefak juga beberapa barang-barang kuno yang seharusnya berada di tempat yang seharusnya.
Asnee kembali terlebih dahulu. Dia kembali ke dalam istana nya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ada yang melihat, musuh pasti pasih mengamati gerak-gerik nya.
__ADS_1
"Halo kak"
"Asnee bagaimana? Apa yang kau dapatkan?" Tanya Rayya tidak sabar.
"Kak pulang lah! Kau harus ada di sini untuk bermain-main dengan tikus menjijikan seperti mereka. Sepertinya akan seru" Suara Asnee manis namun tajam.
Rayya menaikkan satu alis nya. " Sudah mau di mulai kah?!" Setu nya ambigu.
"Tentu saja kak! Bukti nyata sudah semua nya aku kantongi, kita tidak akan kalah jika harus melaporkan nya pada polisi. Tentu saja hakim-hakim istana juga harus tahu !"
Asnee benar-benar semangat saat ini.
"Pengadilan istana akan berada di bawah kaki kita, As! Aku ingin melihat wajah-wajah menderita mereka. Berani sekali mempermainkan keluarga kita" Ucapan Rayya tidak kalah sadis.
"Baiklah besok kakak pulang, tunggu saja okey!" Lanjut Rayya dengan wajah berseri.
"Perlu aku jemput?" Tawar Asnee.
"Tidak perlu sayang! Kakak mu sudah sangat berani berpergian sendiri" Bangga nya, namun sangat terdengar menggelikan di telinga Asnee.
"Ow sangat mengerikan hahaha" Ledek Asnee.
"Baiklah tunggu kakak pulang. Ok!"
Sambungan telpon pun berakhir. "Ma, Mom aku merindukan kalian" Ucap Asnee menatap potret wanita cantik di layar handphone nya dengan tatapan hangat dan senyum indah melengkung di kedua sudut bibir nya.
Di lain ruangan.
Mali masih menatap kesal dirinya di depan cermin kamar mandi dengan balutan baju tidur berwarna apricot.
"Sial! Aku harus berhati-hati dengan anak itu"
"Kemana juga anting itu hilang?! Aissh merepotkan sekali" Ujar nya pelan. Dia atas wastafel pun kedua tangan nya sudah mengepal karena kesal.
"Dia juga bodoh, kenapa tidak menghabisi anak sialan itu sekalian saja!." Mali benar-benar kesal pada Jeno. "Kalau begini cepat atau lambat semuanya akan terbongkar" Lanjutnya stres.
Dia pikir tujuan nya akan tercapai beberapa langkah lagi, Dia tidak menduga semuanya rencana nya akan berantakan.
"Apa harus aku habisi saja Aat, alih-alih mengamankan rencana? Bagaimana ini? aisshhh semuanya gara-gara Jeno dan Asnee sialan!!"
__ADS_1
Mali terus mengumpat dengan nada rendah nya sehingga Aat yang tengah bersantai di atas kasur tidak akan bisa mendengar nya, di tambah ruangan itu sedikit kedap suara.