
Si kembar saja sudah memilik anak, tapi dia dan Julian, Eiji dan Aya belum sama sekali memiliki kekasih, padahal usia mereka sudah matang.
Ava duduk di depan meja dan memegang dagunya.
"Ih serius mommy"
"Iya ini mommy juga serius loh, Ava" Seru Ruby.
"Tapi da emang kaya gitu, aku tidak tahu kenapa susah sekali mendekati pria! Belum apa-apa sudah mundur duluan. Hufffhh memangnya kita ini setan ya mom?!"
Dari dulu cerocosan Ava tidak pernah berubah, mulutnya sama pedang dengan Reina-mama nya.
"Hahahahaha kau ini ada-ada saja" Ruby tertawa sampai tidak bisa menahan air mata nya.
"Ya sudah, mau mommy jodohkan ngga?" Celetuk Ruby.
Ava menegakkan duduk nya, antusias dengan tawaran Mommy Ruby.
"Mau mau, dengan siapa mom?" Respon Ava malah senang, sejenak Ruby pun heran karena baru kali ini melihat seorang perempuan yang setuju dengan perjodohan.
"Nanti mommy katakan tapi setelah mamamu menyetujui nya, apalagi Papa manja mu itu!" Seru Ruby.
"Siap mom hahahah sini peluk dulu" Ava beringsut turun dari kursi dan begitu saja memeluk Ruby yang hendak memasukkan kue itu ke dalam oven.
"Astaga pelan-pelan. Ava" Pinta Ruby
"Hahah iya iya pokok nya mommy terbaik. Bye!" Ava pun pergi dengan perasaan senang.
"Ada apa dengan anak itu mom?" Eiji yang baru masuk ke dapur di lewati oleh Ava yang masih berjalan jingkrak seraya tangan nya di sulam di belakang.
Ruby sekilas melirik Eiji dan kembali mencitak kue di atas meja.
"Mommy juga tidak tahu tapi pas mommy menawari perjodohan pada nya, dia langsung sesenang itu"
Eiji pun ikut duduk setelah menuangkan air sesekali menoleh ke arah kepergian Eva.
Ruby memperhatikan. "Apa itu ulah kalian?" Tuduh Ruby.
"Ulah apa?" Eiji pun bertanya karena dia memang tidak mengerti.
__ADS_1
"Ulah apa? Kalian pikir mommy tidak tahu kalau kalian selalu mengintrogasi laki-laki yang mendekati Ava dan Aya?" Pembicaraan santai tapi Eiji serasa terintimidasi saat ini.
"Bukan interogasi mom, kami hanya bertanya saja pada mereka. Lah urusan mundur nya mereka tidak ada hubungan nya dengan kami! Lagian Ava dan Aya itu saudara kami jadi tidak mungkin kami membiarkan pria asal-asalan itu bersama dengan mereka"
Eiji mencoba membela diri agar tidak kena amukan sang mommy.
"Terus dari sekian banyak pria itu, apa tidak ada yang mendingan? Tidak mungkin juga mereka semua sama dan pastinya juga di antara mereka ada yang Ava dan Aya suka"
"Oh ayolah, kalian itu sudah mapan dan matang untuk menikah"
"Rumah, harta sudah punya. Terus kalau masalah etika juga pantas di acungi jempol, apa kalian akan terus melajang?" Seru Ruby.
"Ya tidak juga, mom!" Ucap Eiji sembari mengunyah kue yang baru saja di angkat dan di tata ke dalam toples.
"Padahal kau dan Ava bisa menikah loh. Ji!" Celetuk Ruby.
Eiji terdiam.
"Julian dengan Aya. "Sah sah aja, orang kalian bukan dari keturunan yang sama juga."
"Dih engga ya mom. Eiji tidak mau! Awas saja!" Tolak beranjak pergi dengan mengambil satu toples isi kue. Ruby hanya menggeleng heran dengan kelakuan mereka.
...**...
Eumppp
Eumpp
Asnee membungkam bibir Daniza dengan bibir nya, rakus dan tidak tertahan. Nafas Asnee sangat kasar terhembus, tangannya mencengkram dagu Daniza sedangkan tangan kiri mengikat pinggang nya agar tidak lepas.
Emphh
Eumpph
Daniza meronta ingin lepas tapi pangutan dan tangan Asnee lebih kuat di banding otot nya.
Plakk
Suara tamparan keras, tangan Daniza mendarat kasar pada pipi Asnee. Asnee terdiam saat tamparan itu menyentuh pipinya.
__ADS_1
"Hiks Hiks" Daniza menangis, tubuh nya bergetar dan seketika berjongkok dan menyembunyikan wajah nya di antara dua lutut.
Netra mata menyorot tajam, rahang menegas dan pipi memerah.
"Hiks.. Hiksss"
Daniza menangis takut, Asnee menatap lirih. "Niza" Ucap nya seraya hendak memegang kepala Daniza.
"Jangan sentuh aku" Daniza menepis tangan Asnee dan sedikit mundur di sela jongkok nya.
Tidak ada pelayan istana di area ruangan Asnee, semua orang di larang berjaga di sekitar sana atas perintah. Karl pun hanya bisa berdiri dengan jarak yang lumayan jauh.
"Apa nona tidak akan kenapa-kenapa? Kasihan dia!" Ucap pelayan di sana. Karl pun menyahuti.
"Kita lihat saja nanti" Ucap Karl.
Di dalam ruangan Asnee yang di mana bersebelahan dengan ruang kamar itu sepi, Niza masih berjongkok namun isak tangis tidak lagi terdengar.
Grepp
Asnee memeluk Niza, merengkuh tubuh gadis nya yang masih enggan untuk berdiri. Daniza tidak membalas pelukan Asnee dan tidak pula menolak nya.
"Maaf, maafkan saya" Ucap Asnee mengelus pucuk kepala Daniza.
"Hanya tangan saya saja yang di sentuh, lalu bagaimana dengan anda? Apa yang di lakukan Jane pada anda dan tentu saja gadis sebelum saya pun pasti sama, kekasih anda yang dulu pasti bukan hanya tangan anda saja yang mereka sentuh. Bukan?!"
"Lalu apa yang harus saya lakukan? Apa hanya saya yang berhak menerima amarah anda? Bukan kah saya juga berhak marah jika anda di sentuh oleh wanita lain? Rasanya tidak adil"
Dalam pelukan Asnee, Daniza kembali mengingat betapa Jane menginginkan Asnee dan dia pun mendengar kabar kekasih Asnee yang dulu.
"Maaf" Asnee semakin memeluk erat tubuh Daniza, dirinya merasa bersalah sudah memperlakukan dia seperti tadi, padahal sebelum nya dia tidak bersikap berlebihan, tapi mengapa dengan Daniza dia merasa berbeda.
Daniza mulai melepas rengkuhan nya pada lutut dan melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Asnee. Asnee pun terduduk, semakin menarik tubuh Daniza ke dalam pelukan nya alhasil mereka berpelukan dalam posisi duduk dan wajah Daniza pada dada bidang Asnee.
"Saya hanya memastikan saja. Nanti jika kekasih mu kembali, apakah anda akan kembali lagi pada nya? Saya hanya memastikan jika pemilik sebelum nya sudah tidak memilik kunci duplikat"
Asnee terdiam, dia tidak menjawab pertanyaan Daniza. Daniza menunggu namun Asnee tidak menjawab nya.
"Baiklah, saya mengerti!"
__ADS_1
Daniza melepas pelukan dan berdiri mendahului Asnee. Asnee hanya terdiam, dia terpaku dengan pertanyaan Daniza yang sebenarnya sangat mudah untuk di jawab, itupun jika Asnee memang benar-benar menginginkannya.
Daniza pun ke luar, meninggalkan Asnee yang masih terduduk di tambah sekarang dia menunduk dengan perasaan yang kembali berkecamuk.