The Future King

The Future King
Eps 137


__ADS_3

Mereka pun akhirnya kembali, namun Iswara berada satu mobil dengan Eiji sedangkan Daniza bersama dengan Simon.


Istana Timur, di mana tempat tinggal Rayya berada. Mereka di jamu di gazebo luas tempat beristirahat.


"Silahkan" Ucap Rayya.


Ahan, Simon, Satra, Iswara yang tidak lepas dari Daniza duduk membundar di depan meja yang luas dan besar. Di sana pun Eiji dan Asnee bergabung.


Walaupun Eiji memasuki kepala tiga, tapi tidak bisa di pungkiri jika dia terlihat awet muda, untuk itu tidak terlalu mencolok saat bergabung.


"Dia calon istri saya"


'Ukhu'


'Ukhu'


Baru saja air teh hangat itu masuk tenggorokan, Ahan, Satra serta Simon tersedak bersamaan.


Semuanya menoleh pada Asnee yang tengah menatap Simon dan Daniza bergantian dengan penuh penekanan.


Rayya pun kembali duduk di samping Eiji pun dengan tatapan tidak biasa pada Iswara.


"Maksud anda kepada saya?" Seru Simon kembali meletakan gelas pendek itu dan sesekali melirik Daniza.


"Benar. Saya hanya memberitahu anda jika gadis di depan anda itu adalah calon istri saya!" Seru Asnee kembali tanpa melepas tatapan nya pada Simon.


Daniza tidak ikut berbicara, dia hanya diam menatap bergantian Simon dan juga Ahan. Daniza malah berpikir kenapa Asnee berbicara begitu? Bukankah semua orang juga tahu kalau dirinya calon istri dia? Untuk itu Daniza diam karena tidak paham maksud Asnee.


"Wara pelan-pelan!" Tegur Ahan menarik makanan di piring kecil di hadapan Iswara.


Wara melotot dengan mata sembab nya, mengatakan dia tidak terima jika Ahan merebut makanan nya.


"Patuh—!" Ucap Ahan. Iswara pun membersihkan sisa makanan nya sesaat setelah minum dan Rayya melihat itu.


Asnee masih saja menatap nyalang pada Simon. Simon tersenyum smirk di sudut bibir nya.


"Benarkah? Kenapa saya tidak tahu?" Ujar Simon. Tidak ada yang menegur saat Simon sudah bicara. Ahan bahkan Satra, mereka bertiga tahu jika Simon tengah bermain-main dengan Asnee.


"Eve tidak mengatakan nya saat perjalanan tadi. Itu berarti dia masih tidak ada status apapun dengan anda!" Lanjut Simon.


Baru saja dengan beberapa kalimat, Asnee naik pitam. Dia menatap dalam wajah Daniza meminta jawaban dan jawaban Daniza adalah diam. Bukan ingin balas dendam, tapi Niza masih ingat pertanyaan nya di malam itu dan Asnee hanya diam, itu berarti di hati Asnee masih ada gadis yang bernama Lukyanova.


"As—" Eiji menahan tangan Asnee.


"Kenapa marah? Apa ada yang salah dari ucapan saya, Pangeran?!" Ucap Simon kembali, dia hanya duduk dengan wajah datar.


"Jaga bicara anda, Tuan! Jangan bersikap tidak sopan di sini. Memang nya anda ini siapa berani sekali menyentuh calon istri saya tepat di hadapan saya?"

__ADS_1


Simon mulai mengerti dan melirik Daniza. Daniza menjawab dengan senyum tipis di kedua sudut bibir nya dan Simon pun mengangguk-angguk.


"Itu hanya pelukan, kami biasanya lebih dari itu. Tuan!" Simon semakin menjadi, padahal apa yang di ucapkan Simon tidak lah benar.


Ahan mendengarkan, dia pun ingin tertawa begitupun Satra. Rayya pun sudah tidak nyaman dalam duduk nya.


"Simon, jangan berlebihan" Ucap Daniza memukul punggung telapak tangan Simon yang terjulur di atas meja dan itu semua tidak luput dari penglihatan Asnee.


"Saya sudah katakan jaga sikap anda!" Kursi sampai tersungkur, Eiji pun lengah sampai Asnee sekarang menarik jas Simon.


"Ow" Seru Simon angkat tangan.


Duaghh


Brakk


Asnee benar-benar memukul Simon sampai tersungkur. Ahan dan Satra tidak menolong, mereka hanya menonton saja begitupun Daniza.


"Aaaaaa Simon" Malah Iswara yang teriak. Asnee pun di dorong oleh Iswara.


"Kau ini siapa berani sekali memukul nya?" Teriak Iswara tidak terima


Asnee kecak pinggang, membuang nafas nya kasar karena amarah nya semakin memuncak.


"Ayo bangun" Iswara membantu Simon berdiri. Simon menyeka darah dari sudut bibir nya sendiri.


"Tapi Niza—"


"Sudah biarkan saja" Ucap Niza memotong ucapan Iswara.


"Eeehh sebentar sebentar!" Mata Iswara menyelidik, dia sangat kenal dengan tali kalung yang di pakai oleh Asnee.


"Apa?" Tekan Asnee saat tangan Iswara menggapai leher nya.


"Iih diam." Seperti robot, Asnee pun malah diam.


Orang yang tahu tingkah laku Iswara akan tertawa dengan diam nya Asnee saat di perintah dan kini mereka menahan tawa dengan kelakuan Iswara yang ternyata di depan mereka begitu memalukan.


Iswara berjinjit, dia mengeluarkan kalung dari dalam baju Asnee. Asnee diam, benar-benar diam.


"Niza ini kalung mu. Kan?!" Toleh Iswara pada Daniza. Daniza mengangguk sebagai jawaban.


"Kenapa ada di leher mu?" Iswara semakin menyelidik. Seingatnya kalung Daniza sudah di jual dan uang nya dia pakai saat pelarian waktu dulu.


Pertanyaan nya, kemana amarah Asnee yang berkobar tadi? Dia malah diam saat Iswara bilang diam.


"Wara jaga sikap mu!" Seru Daniza menarik tangan Iswara.

__ADS_1


"Maaf maaf" Iswara langsung minta maaf walau dia sangat penasaran.


Deugh


"Arrghh" Teriak Asnee


Iswara memang nakal, orang yang belum melihat pun sekarang melihat.


"Wara" Daniza kembali menarik Wara. Dengan sekilat petir, kaki Asnee di injak begitu saja oleh Iswara.


"Hahahahhaah"


Simon, Ahan dan Satra tertawa, yang lain nya malah menatap heran apalagi Rayya, Asnee pun demikian.


"Jangan galak-galak, anda tidak tahu bagaimana bringas nya gadis ini. Jika dia jinak, itu berarti anda yang di pilih!" Dengan tawa nya, Simon menepuk pundak Asnee. Asnee kembali duduk tapi kini di samping Daniza dan memegang tangan nya erat.


Mereka tidak keberatan termasuk Simon, namun sepertinya ada beberapa hal yang akan di tanyakan nanti.


"Oh jadi ini teman terbaik mu itu, Simon? Tidak setampan yang aku kira!" Ujar Daniza menatap sinis Ahan.


"Ow nona ku sayang. Perasaan pria tampan ini tidak pernah mengatakan jika bocah es ini, tampan!" Seru Simon.


"Hey hey hey siapa bilang tidak tampan. Ahan pria paling tampan di hatiku. Bukan begitu?!" Iswara suka sekali ikut campur.


Suasana haru menjadi tawa dan itu sengaja Simon membuat nya agar Daniza dan Iswara tidak terlalu meratapi kepergian orang tua mereka.


"Bagaimana dengan saya?" Timpal Satra. Daniza juga Iswara bersamaan menatap nya. Eiji, Asnee dan Rayya malah menatap aneh pada orang-orang asing di depan mereka.


"Ssssshh tidak sama sekali" Ujar Iswara membuat Simon tertawa terbahak, Ahan pun sama namun tidak terlalu karena tidak terbiasa.


"Dia sangat cantik" Gumam Eiji menatap lekat wajah Iswara yang berseri.


"Simon kau tidak akan pergi lagi kan?" Sorot mata Daniza meminta, mengabaikan Asnee yang berada di sampingnya sejenak.


"Tidak akan! Hanya saja untuk beberapa hari ke depan aku akan jarang menemui dirimu karena urusan dengan orang-orang itu."


"Ahan dan Satra sudah membicarakan nya tadi, jadi bukan kah aku ini sekarang kejutan untuk penjahat seperti mereka?" Tutur Simon.


"Kalau mati itu info lah kita, jangan diam-diam seperti kemarin! Kau tahu, aku ini jadi stres!."


Pletakk


Ahan menjitak kepala Satra keras sampai sang pemilik kepala meringis kesakitan.


Tidak hanya mendapat tatapan nyalang dari Iswara, tapi Daniza lebih mengeluarkan aura membunuh nya.


"Simon, kau beri izin aku untuk membunuh dia sekarang. Aneh, Asal aja kalau bicara!"

__ADS_1


Daniza ternyata lebih terbuka dengan Simon, Asnee mengeratkan genggaman nya pada Daniza dan itu terasa ke urat-urat tangan Niza.


__ADS_2