
Saat Asnee begitu putus asa mencari Daniza, sang pemilik nama merangkak dari tebing landai di sebelah kiri.
Heup
Heup
Huffhh
Ahh
Asnee membalikkan badan nya, dia melihat jari jemari menahan di ujung tebing. Asnee pun tanpa aba langsung menuju ke sana.
Percaya tidak percaya, dia mendapat Daniza tengah menggigit sebatang bunga yang bertangkai kecil dengan empat daun di setiap tangkai nya.
Kedua tangan nya memanjat begitupun kedua kaki nya, seperti ahli dalam memanjat tebing.
"Astaga Daniza!" Pekik Asnee langsung menarik kedua tangan Daniza Perlahan.
Sekuat tenaga Asnee menarik tangan Daniza sehingga kini tubuh Daniza jatuh ke tubuh Asnee dalam posisi duduk, terlihat seperti tengah berpelukan.
Asnee merasakan nafas Daniza yang tercekat-cekat dan juga hangat, sepertinya tubuh nya lelah.
"Akhirnya aku menemukan tanaman obat ini" Dalam pelukan Asnee, Daniza terus bersyukur, dia menatap lekat bunga itu dari setiap sudut.
Asnee diam sejenak. "Yaak apa yang kau lakukan? Kau tahu kalau area ini sangat berbahaya!" Asnee langsung berdiri, namun reflek membantu Daniza pula berdiri.
"Apa maksud mu memanjat seperti tadi? Kami khawatir padamu, tapi ini apa? Kau malah seperti menikmati nya!" Asnee seketika tidak habis pikir.
Wajah Daniza yang sudah tercoreng tanah basah lekat menatap Asnee. "Tanya saja pada Jane kesayangan kalian itu!" Ketus Daniza, dia kembali berjongkok karena lutut nya yang lemas.
Asnee memperhatikan.
__ADS_1
"Kau sengaja menakuti kami dengan bekerjasama dengan kuda itu?! Jangan bermain-main dengan saya. Daniza!" Jika ekspresi Asnee sekarang di lihat oleh Nara maka sepertinya akan langsung tahu jika Asnee memang tengah mengkhawatir kan nya.
"Saya bermain-main? Hah senggang sekali! Tanya saja pada Jane kesayangan kalian itu, jangan tanya pada saya. Tapi buat apa juga?! Toh kalian akan selalu percaya padanya".
"Kau berani berbicara seperti itu pada saya?"
"Maaf. Pangeran!" Daniza merapatkan kedua telapak tangan nya meminta maaf namun sudah malas.
"Ayo kembali!" Asnee menarik tangan Daniza.
"Saya bisa sendiri. Pangeran!" Tolak Daniza.
"Kau bisa menunggang kuda?" Selidik Asnee, tapi dirinya pun sadar dengan pertanyaan tidak berbobot nya. Daniza baik-baik saja itu berarti dia sudah memiliki kemampuan untuk berkuda.
"Saya tidak pernah mengatakan tidak bisa!" Pungkas Daniza.
Asnee mengingat perkataan Robert tadi saat berpapasan, karena dia ingat kalau Robert mengatakan jika kuda yang di tunggangi Niza mengamuk begitu mengerikan, itu berarti Daniza tidak bisa menunggang kuda di lihat dari cara dia naik tadi.
Robert, Kevin dan juga Jane masih menunggu di kursi area taman yang mereka pakai untuk bermain.
Dua kuda perlahan terlihat jelas. Jane mengepalkan tangan saat melihat Daniza baik-baik saja, tidak ada kecelakaan yang dia hayalkan tadi.
"Nona, anda baik-baik saja?" Lebih dulu Kevin bertanya, namun Daniza menghindar dan memilih mendekati Jane.
"Permainan mu sangat murahan sekali!" Bisik Daniza dengan menyeringai seraya menepuk pundak Jane.
Jane hendak menghindar, namun cekalan jemari Daniza kuat. Untuk seukuran pelayan, Daniza berani sekali, dia tidak mempedulikan siapa mereka yang dia pedulikan nyawa dan harga diri nya.
"Anda pun tidak mungkin buta bukan, tuan?!" Lirik Daniza pada Robert. Robert meneguk ludah nya kasar karena seketika menjadi bahan tatap dari Kevin dan juga Asnee.
"Saya bisa mengajukan ini sebagai percobaan pembunuhan, tapi untuk apa? Toh untuk orang-orang seperti kalian nyawa saja bisa di beli, apalagi hukum. Bukan begitu?!"
__ADS_1
Karl yang tidak jauh berdiri di sana merasa dirinya yang bangga, seakan menaikkan harta dan martabat sebagai orang yang bekerja pada orang lain.
"Nona, kita bisa bicarakan baik-baik!" Pungkas Robert.
"Bagaimana? Apa yang harus di bicarakan? Apakah membicarakan rencana pembunuhan saya, tuan?!" Sarkas Daniza.
"Yaakk" Jane teriak, mendorong dada kanan Daniza. "Ingat, kau hanya seorang pelayan dan tidak pantas berkata seenak nya!" Tekan Jane.
"Hentikan!" Asnee mendahului saat Jane masih hendak melontarkan kata-kata kasar nya.
"Hari ini kau sudah sangat berlebihan Jane!"
"Kau sudah lupa apa yang aku katakan tadi? Sepertinya kau memang sengaja!" Seru Asnee menahan amarah nya. Jane hanya menunduk namun tidak merasa bersalah, dia kesal kenapa Asnee seolah terus membela gadis lain. Tidak seperti dulu.
"Jangan kau uji kesabaran saya. Jane Kannika!" Suara berat Asnee mulai terdengar, deru nafas pun sudah tidak beraturan. Dirinya tidak pernah sekalipun merendahkan bawahan nya sampai detik ini, tapi siapa dia begitu sarkas melolong merendahkan bawahan nya di depan wajah.
"Ini peringatan untuk mu. Jane! Dengar. Jika sekali lagi kau merendahkan orangku, maka hukuman nya bukan lagi jeruji besi tapi darah dalam tubuh mu. Aku tidak main-main dengan ucapan ku ini. Jane Kannika! Sekalipun kau adalah sepupu dari sahabat ku dan putri dari teman ayah ku, aku tidak akan pernah pandang bulu"
Semua orang diam termasuk Kevin dan juga Robert, terutama Karl, dia diam karena heran, heran kenapa tuan nya marah dan mengancam sampai sejauh itu, bukan kah sangat tidak masuk akal?
Kevin juga Robert pun berpikir sampai demikian.
"Kak, aku tidak bermaksud seperti itu! Aku sungguh tidak tahu. aku pikir Niza bisa menunggang kuda" Ucapan Jane semakin tidak bisa melihat kejadian tadi.
"Anda pikir demikian? Perasaan saya tidak ada bicara bahwa saya bisa dan tidak menunggangi kuda! Kau terlalu memuji dirimu sendiri akan medali yang kau dapat dari lomba pacuan kuda sampai kau lupa melihat lawan mu sendiri. Nona!"
"Saya pikir keahlian mu tidak seberapa, masih harus di asah!" Lanjut nya
Dengan terang-terangan, Daniza malah meragukan keahlian Jane dan menyepelekan kemampuan nya.
"Diam!" Jane semakin kesal.
__ADS_1
"Kev, Bert, hari ini sampai di sini saja! Aku duluan!" Asnee sudah gerah, dia sudah muak dengan wajah Jane yang terus membuat nya merasa emosi. Dia pun tidak mengerti kenapa tapi bawaan nya marah saat menyaksikan perlakuan Jane pada Daniza.
"Kak" Tahan Jane pada lengan Asnee. Asnee berhenti sejenak namun perlahan melepas tangan Jane.