The Future King

The Future King
Eps 178


__ADS_3

Benar saja, segenap tradisi di lakukan oleh menantu baru dari kerajaan langsung dari ibu suri. Nenek suri pun sesekali mengajarkan hal-hal yang menyangkut keterampilan pada Daniza.


Sedangkan Asnee, dia mengunjungi keluarga angkat nya yang masih stay di Istana.


"Paman"


"Wih ponakan Paman" Suara Aat pun tidak kalah kenceng dari Asnee.


"Mana istrimu?" Lanjut Aat bertanya.


"Di istana Ibu Suri" Ucap Asnee.


Keadaan Aat semakin membaik di bawah pengawasan dokter.


"As, temui dulu mommy sebelum berangkat! Mama akan mengantar Paman mu dulu untuk mengecek kondisi nya!"


Nara dengan langkah panjang nya bicara begitu cepat seraya menarik kursi roda yang diduduki oleh Aat.


"Jangan kencang-kencang dorong nya!" Ketus Aat masih saja ingat cara bertengkar.


"Tua tua bawel" Tepuk Nara pada pundak Aat.


Asnee yang melihat hal itu hanya mengulas senyum dan langsung menemui keluarga nya yang lain. Sedangkan Daniza masih terlihat sibuk dengan Ibu suri di istana utama.


"Kak"


Zevan berteriak akan kedatangan Asnee. Ternyata keluarga yang lain tengah berkumpul di sana termasuk Rayya, Ahan, Simon dan juga Iswara.


"Pengantin baru sibuk sekali yah!" Goda mereka. Tidak ada wajah tersipu malu sama sekali dari wajah Asnee, dia kemudian malah duduk seperti anak kecil di antara Ruby dan juga Edward dan di samping lain ada Leyka dan juga Rayya.


"Mau bulan madu kapan? Luangkan dahulu waktumu untuk istri mu sebelum sibuk dengan tugas istana!"


"Bukankah pengangkatan Raja sebentar lagi? Nah untuk itu bawa istri mu liburan dengan nyaman, dia pasti senang di ajak ke sana" Tutur Ruby mengusap berulang punggung Asnee.


Lama mereka berbincang tidak terasa waktu pun sudah siang.


"Lelah"


Daniza duduk di ruang makan istana Barat dengan menempelkan kening nya di atas meja. Di sana Karl dan pelayan lain pun menjaga Daniza.


"Pangeran" Sapa Karl dan pelayan lain.


Asnee menghampiri Daniza. "Kenapa?" Tangan Asnee mengusap pucuk kepala Daniza.


Niza mengangkat kepala nya, menatap Asnee ke arah samping dan melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Asnee.


"Huffhhhh"


Niza malah membuang nafas di perut Asnee.


"Karl, siapkan makan untuk kami!" Pinta Asnee. Karl pun bergegas seraya mengkode pelayan lain untuk ke luar.


Grrtt..

__ADS_1


Asnee menarik kursi menghadap ke Daniza begitu dekat dengan tidak melepas tangan sang Istri.


"Kita berangkat besok" Ucap Asnee.


"Kemana?"


"Kita liburan. Kau akan tahu nanti!"


Daniza menatap penuh mata Asnee dan mengangguk.


Istana Timur, Rayya pun terlihat duduk sendiri setelah mengantar keluarga nya pulang.


"Sayang" Bisik Ahan di belakang telinga Rayya.


Reflek Rayya beranjak sampai tubuhnya menabrak dada Ahan.


Pelayan yang ada di sana pun ke luar setelah kode di tangan Rayya terangkat.


Grepphhh


Rayya memeluk Ahan begitu erat.


Cup


Dengan tidak sabar dan lupa akan pangkat dirinya, begitu saja mencium bibir Ahan.


"Jangan menggoda" Seru Ahan.


'Cup'


'Cup'


Berkali-kali Rayya mengecup bibir Ahan.


'Cupp'


Kali ini Ahan menahan pinggang Rayya sehingga bibir Rayya sulit untuk menjauh.


Ahan membuka perlahan bibir nya, lidah pun membuka paksa bibir Rayya dan akhirnya mereka bermain dengan irama yang seperti sudah terbiasa dengan ciuman.


"Sayang" Gumam Ahan di sela tautan nya.


Rayya terus memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan bibir Sexy milik Ahan. Semakin dalam dan semakin bergairah.


Tengkuk leher tertahan sehingga ciuman mereka semakin dalam. Suara kecupan terdengar menggoda, Rayya semakin liar dari sebelum nya.


Ahan pun menggendong Rayya ke dalam pangkuan nya dan membawa masuk ke dalam kamar dengan pintu yang sudah terbuka.


"Aaahh_" Lenguh Rayya saat lehernya di kecup dalam sehingga kini berbekas merah, seakan Ahan sengaja menandai cinta nya di sana.


Brughh.


Rayya membalikkan badan nya sehingga Ahan berada di bawah nya. Rayya duduk di atas adik milik Ahan yang Rayya pun merasakan jika itu sudah mengeras.

__ADS_1


"Sayang, kau sudah keras?" Dengan gerakan pelan, Rayya menggoda dengan sedikit menggoyang panggung nya.


"Ssshh jangan menggoda atau kau tahu akibatnya!"


Suara Ahan sudah prau seakan menahan keinginan nya untuk meminta lebih.


"Jangan main di situ" Ahan menarik tangan Rayya lumayan keras sehingga tubuh Rayya kini tengkurap di atas tubuh nya.


"Jangan coba-coba menggoda saya, putri!" Ahan pun membawa Rayya ke dalam pelukan nya.


"Begitu saja tergoda! Ssshh apa dengan wanita lain kau juga seperti itu? Tidak tahan godaan!" Cebik Rayya.


"Mana ada seperti itu. Jangan berpikir berlebihan!" Ucap Ahan mengecup singkat kening Rayya.


"Tidak kah? Masa?" Rayya masih terus mengorek-ngorek.


"Bisa di buktikan!" Ahan semakin erat memeluk Rayya.


"Bagaimana dengan gadis itu? Kalian membawa dia ke sini kan? Apa tidak akan bahaya untuk hubungan Asnee dengan Daniza?"


Rayya bangun, langsung duduk rapih di samping Ahan. Ahan pun duduk dengan punggung menyandar ke bahu ranjang.


"Simon yang akan mengurus nya. Jadi tidak perlu khawatir! Kalai misalnya mereka bertemu berarti itu sudah takdir, masalah menggangu hubungan kembali lagi pada laki-laki nya"


Rayya belum menukas perkataan Ahan.


"Karena sebuah hubungan kunci nya ada pada laki-laki! Jika laki-laki itu kembali tergoda maka dia bukanlah laki-laki yang baik untuk Niza. Lagi pula jika memang itu terjadi Aku dan Simon tidak akan tinggal diam!" Tutur Ahan.


"Heuuum kalian ini!"


...**...


"Aku belum sempat meminta maaf pada Asnee, bisakah kau mempertemukan kami. Simon?!"


Di sebuah Apartemen dan ternyata Apartemen itu milik Simon yang kini di dalam nya ada Lukyanova.


Simon tidak menanggapi permintaan Lukya.


"Simon" Tahan Lukya pada lengan Simon.


"Sudahlah, jangan ganggu dia! Kau hanya akan menambah masalah jika bertemu dengan nya. Seharusnya kau malu kembali bertemu dengan nya, tapi ini malah minta di pertemukan! Ingat Lukya, Dia kini sudah menjadi suami dari tuan mu. Kau harus ingat itu!"


"Aki hanya ingin minta maaf secara tulus, kau akan di samping ku saat itu! Lagipula mana berani aku mengkhianati tuan dari orang tua ku!"


Seharus nya dia merengek, namun kini wajah dingin nya tidak mendukung itu.


"Besok jam tujuh, sebelum mereka berangkat!"


"Ok!"


Sedikit senyum tipis terulas dari kedua bibir Lukya. Simon pun masuk ke dalam kamar.


...**...

__ADS_1


__ADS_2