
Membiarkan semuanya berjalan sesuai rencana, tentu keluarga Mafia itu mengerti kapan harus ikut campur dan kapan harus diam. Laporan begitu cepat sampai ke tangan seluruh keluarga termasuk yang ada di Jerman, China, Irlandia dan juga Makau.
Lexi berada di pos masuk istana dengan sebatang rokok yang tengah di hisap nya.
"Paman ayo temani kami makan!"
Sudah mengganti baju nya, kaos polos hitam dengan celana panjang berwarna coklat tua semakin membuat bentuk tubuh Asnee mencolok, begitupun dengan potongan rambut nya yang rapih.
Kerutan di kening Lexi selalu terlihat jelas, mungkin karena sudah berumur juga membuat kulit nya sedikit kendor.
"Telpon dahulu Mommy dan Mama mu, mereka sedikit terdengar khawatir. As!" Ujar Lexi membuang rokok nya dan menginjak agar cepat padam.
"Perut ku lapar, nanti saja telpon nya! Ayo, kak Rayya sudah menunggu di dalam. Apa Paman mau melihat dia marah?! Aku sih engga ya, makasih!" Gurau Asnee dengan mimik wajah yang benar-benar menggemaskan menurut Lexi.
"Menakutkan!" Tukas Lexi dengan bergidik ngeri seraya mencekal tengkuk leher Asnee.
"Hahaha menyeramkan!!" Timpal Asnee beranjak berjalan begitupun dengan Lexi.
Dentingan sendok tidak terlalu terdengar, di meja makan sangat senyap, bahkan tidak ada yang berbicara sama sekali, apalagi Aat yang terlihat hanya mengaduk-aduk nasi dan juga lauk nya di atas piring.
Pim pun ikut makan di temani oleh baby siter nya, matanya bulat penuh sesekali melirik sang Papa.
"Paman" Rayya memanggil namun Aat masih belum menoleh. Semua mata pun menatap termasuk Pim yang pasti dia pun menoleh karena papanya hanya diam.
"Papa" Giliran Pim yang memanggil dan ternyata suara panggilan Pim membuat nya menoleh.
"Iya sayang?" Sahut nya.
"Kenapa makan nya belum habis? Mau Papa suapi, heum?" Lanjutnya berdiri dan mendekati Pim.
Pasang mata saling lempar pandang dengan sikap Aat.
Bukan lagi dengan keadaan di ruang interogasi, Mali sama sekali tidak ada yang menemani di sana. Semua bukti yang ada menampar wajah nya berkalilipat, termasuk bukti tambahan yang ternyata dia adalah seorang arsitek yang membangun ruang bawah tanah di Gallery.
Proses interogasi sangat panjang dan detail, wajah Mali yang tidak muda lagi nampak lusuh dan lelah, namun sayang di usia yang seharusnya menjadi waktu tenang menjadi waktu yang sangat menakutkan. Apa yang di tanam tentu akan di tuai sendiri.
__ADS_1
Sesudah kejadian yang menimpa Rayya di asrama, ibu suri dan juga nenek suri tidak mengizinkan untuk Rayya kembali sampai benar-benar aman. Mereka hanya menangis sampai nenek suri kembali terbaring lemah di atas tempat tidur nya.
"Kak bagaimana keadaan nenek?" Asnee bertanya dengan deru nafas tersendat kala mendengar nenek suri jatuh pingsan.
"Dia sedang istirahat! Tidak apa, ada yang menangani nenek di dalam" Ucap Rayya mengelus lengan sang adik yang nampak gelisah tidak biasa nya.
"Tenang lah!" Tepuk nya kembali.
Keadaan kerajaan masih di selimuti dengan aura mencekam, suasana nya masih belum terang seperti biasa nya.
Terlihat beberapa kolega datang menjenguk di hari esok nya dan keluarga istana menjamu mereka. Keberadaan Asnee tentu menjadi buah pandang ibu-ibu yang memiliki anak perawan.
"Kau mau kemana?" Tanya Rayya bingung seraya menahan tangan Asnee.
"Lihatlah kak, tatapan mereka sangat menakutkan!" Bisik Asnee, Rayya pun reflek menoleh pada nyonya-nyonya yang berada di ruangan dengan mata binar nya.
"Ada-ada saja" Ujar Rayya menepuk pelan lengan berotot Asnee
Saat hendak menuju istana timur, Asnee melihat Lexi tengah berjalan terburu-buru dengan jaket kulit nya.
"Paman harus pergi, nanti ada seseorang yang menggantikan Paman di sini! Tolong sampaikan pada kakakmu, Paman harus pergi sekarang!" Ucap Lexi.
Tentu saja sikap Lexi membuat nya penasaran, tapi dia tidak bisa bertanya karena mungkin tidak akan mendapat informasi dari mulut Paman Lexi.
"Baik lah! Nanti Asnee sampaikan pada kakak"
"Ok, Paman pergi sekarang"
Asnee pun mengantar Lexi ke depan gerbang dan ternyata sudah ada mobil yang menjemput nya di sana.
"Paman kabari kami jika sudah sampai" Ucap Asnee dari kaca jendela mobil.
"Eum" Sahut Lexi.
Mobil hitam itu pun melaju pergi dan Karl sudah berada di gerbang istana.
__ADS_1
"Pangeran, ada telpon dari Swedia" Lapor Karl seraya memberikan handphone yang selalu di pegang oleh Karl.
...**...
Malam itu juga, setelah ada telpon dari sana Asnee pun berangkat dengan maskapai yang biasa dia gunakan menuju Swedia.
Jika di hitung-hitung hari kelulusan nya akan tiba dan sekarang dia tengah menyusun makalah untuk membantu prof Nero dalam penelitian nya. Gelar sarjana Ekonomi akan tersemat setelah dia lulus nanti.
Setelah kepergian Asnee, ternyata orang yang tidak di kenal tengah berdiri di depan gerbang istana dan di tahan oleh penjaga yang lengkap dengan senjata di badan nya.
Pedal rem terdengar berderit, dua mobil berhenti di depan gerbang dan tentu saja mereka adalah keluarga kerjaan yang baru sampai dari mengantar Asnee ke Bandara.
Para penjaga hormat tegap dengan postur tubuh tak goyah.
"Siapa dia?" Tanya Karl ke luar dari mobil. Seseorang masih berdiri menyender di samping mobil.
"Kami sudah bertanya tapi dia tidak membuka mulut nya dan hanya berdiri di sana!" Tutur nya.
"Mengapa tidak di usir?" Timpal Karl kembali dengan suara pelan nya. Bukan tidak sopan tapi keamanan kerajaan sedang renggang sekarang, membuat orang asing tidak di perbolehkan untuk masuk.
Penjaga itu hanya diam, membuat Karl memilih menghampiri pria itu dengan berani. Rayya serta Aaron juga Ananada-ayah Aaron masih berada di dalam mobil tanpa mempedulikan apa yang terjadi dan fokus pada layar handphone mereka.
"Tuan maaf, ada yang bisa kami bantu?" Sapa Karl sopan.
"Salam" Sapa nya kembali membenarkan cara berdiri nya.
Pria itu pun mengetuk jendela pintu belakang dua kali membuat Karl ikut melihat.
"Tuan, nona Rayya sudah sampai" Lapor nya. Karl pun perlahan melebarkan kelopak mata nya. Kaca mobil perlahan terbuka dan ternyata wajah itu sama sekali tidak Karl kenali, wajah asing tapi bentuk nya seperti pribumi.
Sepertinya dia yang di maksud oleh Lexi. Pria itupun ke luar dan saat itu pun pintu mobil dari depan ikut terbuka, ternyata Rayya pun ikut membuka setelah mematikan handphone nya.
"Karl biarkan mereka masuk" Ucap Rayya. Pria itu pun menyapa dengan merendahkan pandangan nya dengan sopan.
"Siapa?" Tanya Aaron dari dalam mobil.
__ADS_1
"Sepertinya orang yang di maksud Paman Lexi, Pah!" Sahut Rayya kembali naik ke dalam mobil.