
Pendemo semakin meresahkan, Asnee tidak dapat ke luar saat ini karena pengunjuk rasa semakin bertambah.
Area kerajaan sudah di jaga dengan ketat dengan banyak prajurit.
"Dokter Nara ini lihatlah!" Seru rekan nya seprofesi nya.
Seorang kaki tangan yaitu Collen berada di luar barak, berdiri dengan kedua tangan saling berkait di depan.
Dokter Nara pun ke luar.
"Collen, kau di sini? Informasi apa yang kau bawa sampai sejauh ini datang? Bukankah sudah saya katakan jangan ke mana-mana. Ini tempat berbahaya!" Nara selalu begitu, menegur Collen yang tidak bisa di kasih tahu, bukan nya apa tapi istri nya tengah mengandung dan pasti membutuhkan sosok suami di samping nya.
Tentu Collen selalu merasa hangat dengan teguran khawatir dari tuan nya itu. "Maaf atas kelancangan saya, tapi berita itu sangat genting. Tuan kecil sedang dalam masalah! Ini berita terbaru yang saya dapatkan!"
Collen kembali mengambil alih i-Phad dari Nara dan menunjukkan berita-berita terbaru dan semua nya tidak sedap.
"Bukankah orang-orang nya sudah di amankan? Ada informasi yang tidak kau sampaikan sebelum nya?" Nara seraya menyaksikan berita itu, dia mencehcar Collen akan informasi yang tidak lengkap.
"Pendemo ini saya lihat bukan pendemo asli, mereka ada backing an. Lihatlah! Kau tandai orang-orang ini dan cari tahu informasi mengenai mereka. Saya ingin informasi secepatnya!"
Collen pun menandai orang-orang pendemo yang di maksud Nara.
"Sambungkan informasi ini ke markas pusat yang ada di Jerman! Jangan sampai terlewat."
"Semuanya harus selesai sebelum pertunangan Asnee di lakukan! Tiga hari dari sekarang lakukan dengan baik. Sampaikan informasi dengan akurat, saya tidak ingin ada yang terlewat apalagi gagal!"
"Baik Aresha, kami akan secepatnya mendapatkan informasi ini."
Namun Collen tidak beranjak pergi, dia sepertinya masih ada informasi yang ingin di sampaikan namun kurang percaya diri.
Tatapan Nara menyelidik. "Wajah mu nampak masih ada informasi yang ingin di sampaikan. Ada apa? Apakah masih ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanya Nara.
"Aresha maaf, apakah saya boleh mencari tahu mengenai Pangeran Aat? Dari awal saya melihat beliau sepertinya ada yang aneh, tapi saya bukan curiga tapi hanya saja mungkin jika menyelidiki tentang beliau agar kecurigaan saya ini tidak terlalu menjadi-jadi!"
Nara belum merespon, Collen salah tingkah dan merasa bersalah telah mengatakan itu.
"Tapi ini hanya masalah feeling saja, jika anda keberatan saya tidak akan melakukan hal itu!" Lanjut Collen sebelum di amuk oleh Nara.
"Begitu mencurigakan kah sampai kau begitu penasaran dengan Paman kesayangan putra saya?" Seru Nara menyelidik.
"Maaf Aresha, saya lancang. Saya tidak akan mengulangi lagi!" Dengan seketika, Collen bertekuk lutut di depan Nara.
"Kenapa harus bertekuk lutut. Berdirilah! Lakukan apa yang merasa harus kamu lakukan, selama itu tidak merugikan dan juga membuang waktu!"
"Berhati-hatilah karena yang kau hadapi adalah seorang Pangeran yang memiliki pertahanan kuat! Paman Andrew akan membantu penyelidikan nya. Dia ada di Jerman kan sekarang? Atau masih ada tugas di luar?"
Collen girang, tapi dia tidak bisa berjingkrak di depan tuan nya dan hanya bisa senang dengan wajah berseri.
"Baik Aresha, saya akan melakukan yang terbaik!"
Collen pun pergi dengan semangat membara. Dari jauh, Leyka pun menghampiri. "Masalah nya begitu serius, kau tidak akan turun tangan?"
Leyka merangkul pinggang Nara seraya menatap punggung Collen yang masih terlihat.
"Kenapa harus berdiam diri? Mereka sekarang tengah mengusik putra ku dan aku tidak terima!" Tutur Nara dengan smirk devil nya.
Kesabaran Nara setipis tisu, tidak ada yang bisa melumpuhkan nya termasuk oleh suami nya sendiri.
__ADS_1
"Sshh aku rasa Aat memang mencurigakan!"
...**...
"Maaf putri, tidak ada yang boleh ke luar dari istana!" Tahan seorang prajurit kerajaan di depan gerbang.
Rayya terkejut, kenapa tidak boleh ke luar padahal ada pekerjaan yang harus di selesaikan.
Keadaan di luar memang sedang genting, para unjuk rasa pun semakin menjadi-jadi.
Rayya pun kembali masuk dan berpapasan dengan Daniza.
"Putri" Sapa Daniza.
"Kau mau ke luar?" Tanya Rayya.
"Benar putri, ada yang harus saya kerjakan! Kemarin pekerjaan dari Pangeran Asnee belum selesai, untuk itu saya akan menyelesaikan nya hari ini" Ucap Daniza.
"Pekerjaan apa? Sejak kapan Asnee memberikan pekerjaan di luar istana!" Seru Rayya menyelidik. "Asnee sendiri kan yang bilang? Di luar sedang ramai pendemo, apa benar Asnee yang menyuruh mu?" Rayya bertanya beruntun karena dia ingin memastikan jika memang Asnee yang menyuruh nya.
"Iya benar, Putri! Tadi dia menghubungi lewat telpon lengkap dengan jadwal pekerjaan nya" Daniza memperlihatkan chat pribadi dari Asnee.
Tapi Rayya masih merasa aneh. "Oke kalau begitu. Tapi prajurit di depan menjaga ketat gerbang masuk,.coba kau bilang saja kalau ini perintah dari Pangeran!" Tutur Rayya.
"Coba saya lihat lagi—" Rayya kembali melihat pesan dari Asnee dan memang itu kontak dari Asnee.
"Oke, hati-hati!"
Rayya pun kembali melanjutkan langkah nya, Daniza pun demikian. Dirinya pun aneh, karena tidak biasanya Asnee melakukan pekerjaan di luar istana..
Daniza tidak menemui Asnee terlebih dahulu, setelah menerima pesan, dirinya langsung bergegas karena masih tidak enak kemarin pulang malam dan untuk menebusnya, dia harus giat lagi.
"Dia sudah ke luar dari istana, Pangeran" Lapor tangan kanan dari Aat. Aat pun menyunggingkan salah satu bibir nya.
"Tangkap dia dan jangan ketahuan siapapun! Matikan handphone nya di tepi pantai. Buat seolah-olah dia tenggelam di sana"
Aat picik sekali, ternyata dia pun bisa licik seperti sekarang. Entah dorongan dari mana sampai dia yang begitu baik melakukan hal tidak manusiawi.
"Baik, Pangeran!" Sahut nya seraya pergi.
Sedangkan di istana barat, Asnee tengah duduk mendengar informasi terbaru dari Karl yang baru saja pulang.
"Tidak ada yang Pangeran Aat simpan, semua nya bersih dan tidak ada hal mencurigakan lain nya. Saya rasa tujuan Pangeran hanya satu yang tidak lain ingin menduduki tahta setelah Raja." Karl mengeluarkan pikiran nya dan beberapa asumsi tentang rencana Pangeran Aat.
"Tidak mungkin. Nyatanya beberapa pihak yang berada di samping kita satu persatu berkhianat!" Seru Asnee beranjak berdiri dari duduk nya.
"Maaf Pangeran, tapi sepertinya beliau belum bisa meyakinkan mereka! Dari pihak penyokong hanya sebagian saja yang melepas"
Karl tidak begitu terlalu jauh mencari sampai ke dalam nya karena dirinya bukan lah seorang informan.
"Panggil Daniza ke sini" Ucap Ahan.
"Nona Daniza? Tapi tadi saya melihat dia ke luar istana setelah berbincang dengan Putri Rayya!" Sahut Karl sebelum dirinya sampai di Istana Barat.
"Apa? Sejak kapan? Dia tidak memberitahu saya jika dia akan ke luar!" Asnee pun kaget dengan apa yang Karl katakan.
Karl pun ikut terperanjat kaget, dia pikir Asnee Tuan nya itu sudah tahu.
__ADS_1
"Kenapa kau baru bilang sekarang?"
Asnee pun ke luar dari istana nya dan pergi ke tempat kakak nya.
"Kak"
Dengan keras, Asnee menggedor pintu kamar Rayya. Pelayan di sana hanya bisa menunduk tidak berani menatap Asnee. Kode tangan Karl yang baru saja sampai di area Istana Timur akhirnya membuat pelayan itu undur diri.
"Astaga ada apa? Kenapa kau berteriak seperti di hutan? Bisa ket—" Belum juga Rayya mengoceh, Asnee menarik tangan Rayya sehingga tubuh ramping nya terbawa oleh tarikan tangan Asnee.
"Kak, kau tadi melihat Niza sebelum ke luar? Apakah dia memberitahu mau kemana?"
Rayya mengerutkan kening, alis pun tertaut karena Asnee bertanya seakan tidak tahu apapun.
"Dia ke luar karena ada pekerjaan yang kau berikan bukan? Kau mengirimkan jadwal kerjaan dan juga beberapa file berkas yang harus di terjemahkan lewat chat." Ucap Rayya.
"Tidak kak, aku samasekali tidak melakukan itu."
Respon dari Asnee, Rayya pun mengerti. "Handphone mu mana!" Pinta Rayya mengulurkan tangan nya
"Handphone Asnee di kamar kak,"
Mereka semakin tidak mengerti satu sama lain
"Kau yakin? Kau yakin tidak mengirimkan apapun pada Daniza?" Tanya Rayya memastikan.
"Benar kak, aku sama sekali tidak melakukan nya!" Seru Asnee.
"Karl, tolong ambil kan handphone saya di ruangan! Saya tunggu di sini."
Karl yang ada di sana pun segera pergi dengan langkah cepat.
"Kak coba hubungi Kontak Daniza" Asnee semakin tidak tenang, dia memang tidak melakukan titah apapun saat ini.
Rayya pun mondar-mandir sembari menghubungi Daniza, namum tidak tersambung.
Tut
Tut
Tut
"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar Jangkauan"
Berkali-kali Rayya menghubungi Daniza, tapi sama sekali tidak tersambung.
"Pangeran,,,"
Tidak lama, Karl pun datang namun tidak membawa handphone Asnee.
"Mana?" Ucap Asnee.
"Maaf Pangeran, Handphone anda tidak ada di ruangan" Ucap Karl.
"Ini tidak beres!" Seru Asnee. Rayya semakin gencar menghubungi Daniza tapi maas tidak tersambung.
......................
__ADS_1