The Future King

The Future King
Eps 23


__ADS_3

...***...


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Robert seperti biasa tidak bisa mingkem mulut nya, sampai-sampai di dalam mobil serasa di dalam pasar.


Mereka terus bercanda bahkan Zevan ikut bercanda dengan kakak nya, sedangkan Aarav sibuk dengan i-Pad nya serta headset bluetooth di telinga nya.


"Kak bagaimana yang pengiriman dokter ke Afrika itu ? Kau dan kak Nara jadi ke sana kah ?." Sean mulai membicarakan pekerjaan.


Leyka yang duduk di samping kemudi tentu sangat jelas mendengar nya.


"Jadi boy. Haaah dokter yang lain tidak dapat berangkat karena pihak di sana tak menyetujui jadi kita yang harus pergi!"


"Divisi kedokteran di organisasi sudah mulai masuk ke sana sebagai perisai untuk kalian dan lagi dari pihak Jerman juga sudah ikut ! Wilayah Afrika berbahaya, untuk itu harus sangat hati-hati" Tutur Sean.


"Rencana nya kami akan mengajak Zevan karena lumayan lama juga di sana ! Kalau misal nya tinggal bersama paman Leo ataupun daddy Lio tidak mungkin karena mereka sedang ada misi dan kami tidak ingin menanggung jawab kan Zevan pada mereka untuk itu."


"Tidak tidak, aku tidak mengizinkan dia ikut ! Sudah lah ada kami ini. Irlandia-Jerman dekat jadi tidak masalah"


"Nanti kita bicarakan dengan Nara, biar jelas. Soalnya awal tahun kami akan berangkat dan pulang tepat hari ulang tahun Asnee !"


"Baiklah !" Seru Sean.


Anak-anak tak mendengar karena mereka sibuk bercanda, sedangkan Aarav sedari tadi menoleh ke belakang merasa ada yang mengikuti. Padahal tidak hanya dirinya tapi Asnee pun merasa demikian apalagi Sean yang mata nya masih tajam, tapi mereka berusaha untuk tidak terkecoh.


...**...


Di Thailand, masih ramai acara sosial di sepanjang jalan dan lapangan yang menyediakan bazar dengan penjualan harga murah.

__ADS_1


"Salam"


Sapa perdana mentri. Raja Aaron tengah dalam acara amal dan acara sosial karena tadi Aat mendadak memberitahu agar Raja datang sebagai bentuk terimakasih pada masyarakat, karena himbauan dan juga ultimatum yang ke luar dari mulut raja dan di sahkan oleh undang-undang dan di taati oleh masyarakat.


Mereka saling bertegur sapa, berbincang dengan akrab. Penjagaan di sana ketat bahkan sniper berjaga dari kejauhan meminimalisir kekacauan.


Aat pun berbincang dengan pejabat lain serta Mali-istri nya pun ikut bergabung dengan acara itu.


Keadaan tentu baik-baik saja karena incaran mereka bukan lah Aaron ataupun Aat, melainkan Asnee.


...**...


Sean dan Aarav turun di persimpangan jalan menuju perusahaan, tapi nyatanya mereka tidak pergi ke sana melainkan pergi ke tempat warnet terbesar di kota.


Ayah dan anak itu masuk ke sana beriringan, pakaian santai mereka tidak terlihat jika mereka adalah putra dan cucu dari seorang Lucifer.


Aarav melambai, saat dirinya sudah berdiri di depan pintu ruangan yang ada di warnet lantai dua, Sean pun menghampiri.


Klek..


Pintu di buka, Aarav masuk lebih dulu.


"Rav ini ?."


Sean terpaku, dia menatap sekeliling ruangan di dalam dengan alis menaut. Terdapat tiga komputer saling berdekatan di atas meja panjang dan satu layar bening di atas nya.


Infokus dan board putih berdiri di depan nya. Televisi dan juga PS berbagai tipe ada di sana.

__ADS_1


Aarav menanggalkan tas nya lalu naik ke atas kursi yang di mana dia biasa nya duduk di sana untuk bekerja.


"Dad ini tempat kerja ku untuk sementara" Cicit Aarav dari mulut kecil nya itu. Tidak tahu harus bangga atau tertawa, Sean masih kecak pinggang memperhatikan putra sulung dan juga ruangan di dalam.


"Jadi ini?" Tunjuk Sean ke sekeliling. Tempat nya lebih sempit dari kamar nya, bahkan kamar mandi Aarav lebih besar dari ruangan ini.


"Iya Dad,"


"Jangan bicara lagi ! Aku beli ruangan ini dengan uang ku dan pemilik warnet sudah mendapatkan uang nya" Tegas nya membanggakan diri. Ekspresi yang harus nya tegas malah jadi lucu di mata Sean.


"Uaah benarkah ? Memang nya kau punya uang dari mana membeli ruangan ini heum ? Perasaan daddy dan mommy tidak sebanyak itu memberi uang jajan untuk mu"


Goda Sean dengan sunggingan bibir nya, kakinya melangkah menghampiri Aarav yang tengah merajuk.


Gambaran seorang ayah yang dingin dan putra yang dingin seketika lebur sekarang, mereka malah sling goda dan saling merajuk.


"Uang ku, 'lah ! Uang jajan dari kalian aku tabung buat beli yang lain dan buat beli es krim nya Ezra sama Anne"


Sean menaikkan satu alis nya, memeluk perut dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri memangku dagu nya sesekali di mainkan. Tatapan nya masih lurus ke bawah karena mata Aarav terjangkau jika menunduk.


"Jadi kau bekerja seperti ini bukan buat daddy sama mommy ?." Sean memastikan, dia ingin sekali menggigit putra nya saking gemas nya dia saat ini.


"Buat kalian ? Untuk apa ? Toh daddy sama mommy sudah dewasa dan banyak harta nya" Cerocos Aarav langsung memalingkan tatapan tajam nya dari Sean, kemudian menyalakan semua perangkat yang ada di ruangan melalui gadget nya.


"Ciih, anak durhaka"


Sean mengacak-acak rambut Aarav dengan kasar namun Aarav tidak protes, dia malah menikmati nya. Kenyataan nya, mereka akan seperti itu saat berdua saja, Aarav lebih ke gengsi kalau harus manja di depan semua orang.

__ADS_1


__ADS_2