
Robert dan Kevin sudah tahu kejadian yang sebenarnya, siapa Lukya dan siapa orang tua nya. Saat memikirkan itu, mereka pun bertanya-tanya kenapa bisa seorang Lukya melintasi kehidupan mereka.
Mungkin jika Lukya anak yang baik, dia akan menjadi gadis paling beruntung karena di kelilingi oleh tiga pria yang menyayangi nya, namun apalah daya rahasia itu telah terbongkar oleh sendirinya. Bukan karena orang lain, tapi karena kecerobohan dan kebodohan sendiri.
"Kak Asnee" Seseorang memanggil, kacamata bulat itu masih bertengger di hidung nya.
Asnee yang tengah berjalan hendak masuk ke ruang Prof Nero seketika di urungkan dan menoleh ke asal suara.
Olivia, dia berjalan cepat sesekali membenarkan kacamata nya. "Kak tadi prof Airin meminta untuk menyerahkan makalah ini pada mu!" Olivia menyerahkan makalah tebal, sepertinya hasil konsensus beberapa minggu lalu karena Asnee sangat membutuhkan materi itu.
"Ok. Makasih!" Tanpa basa basi Asnee mengambil alih tumpukan kertas itu dan langsung masuk ke dalam.
"Hufhh" Olivia menghela nafas, dia merasa beruntung menemui Asnee. "Lirik aku sedikit engga akan rugi padahal! Tapi aku suka!" Jingkrak nya, kedua pipi pun merah dan terasa panas.
Setelah Lukya di keluarkan, Olivia terlihat selalu sendiri seperti pertama masuk. Dia nampak gadis yang baik dan polos dengan kacamata bulat nya.
"As makalah mu sudah selesai, semua nya sudah di setujui! Dan pendataan yang kau lakukan sudah di acc!" Ucap Prof Nero.
"Benarkah?" Seru Asnee sangat senang. "Terimakasih Prof" Asnee meraih tangan Prof Nero dan menjabat nya. Penelitian mengenai Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial yang dia teliti di negaranya membuahkan nilai yang memuaskan.
"Sukses!"
Hanya itu yang di jawab oleh Prof Nero seraya menepuk pundak Asnee bangga.
...**...
Satu bulan Lukya di balik jeruji besi, keadaan nya sangat mengkhawatirkan. Ketua sipir dan antek-antek nya membiarkan Lukya di keroyok tiap hari, sampai-sampai harus memanggil dokter kepolisian.
Selama dua minggu dari paska itu, Asnee pum semakin fokus pada tujuan nya. Tujuan yang mengharuskan dia meneruskan tahta sang raja.
Hari kelulusan tiba, ternyata tidak hanya Aaron saja yang datang. Semua keluarga kerajaan datang serta raja-raja dari negara lain pun datang untuk menghadiri hari kelulusan anak-anak mereka.
"Asnee" Teriak Rayya melambaikan tangan nya. Tidak sedikit orang yang langsung menoleh.
Dress selutut dengan setiap lekukan tubuh terbentuk, membuat dirinya menjadi tatapan orang-orang di dekat nya.
"nenek?" Asnee pun memeluk satu persatu keluarga nya.
Acara perpisahan pun di mulai, semua siswa dan siswi serta orang tua mereka duduk di kursi yang telah di siapkan. Gedung luas dengan penataan yang rapih terkesan elegan. Podium yang telah di rancang khusus berdiri satu mimbar untuk pidato.
Tahun lulusan terbaik dari setiap jurusan mewakili untuk menyampaikan sepatah dua patah kata.
__ADS_1
"Perwakilan dari Jurusan Ekonomi dengan nilai tertinggi, kami persilahkan kepada Asnee Yodrak!" Ucap salah satu moderator.
Prok
prok
prok
Tepukan meriah menggema, siapa yang tidak tahu dengan nama itu. "Kak Asnee" Teriakan itu pasti lah dari para hawa yang sangat mengidolakan Asnee.
Telinga para keluarga kerajaan tentu saja menjadi daya tarik tersendiri. "Hahaha lihat dulu dong paman nya!" Ujar Aat yang merasa bangga, dia menepuk dada nya sendiri di hadapan Aaron.
"Husss" Tepis Aaron. Aat kadang tidak mempedulikan citra nya sebagai Pangeran Yodrak.
Namun Asnee dia nampak murung, kedua netra nya tidak mendapati Papa Leyka dan Mama Nara di ruangan.
Saat hendak berbicara, perlahan matanya berbinar, kedua sudut bibir pun melebar.
Satu persatu, Keluarga Mafia berdatangan. Pertama Leyka dan Nara, di susul oleh keluarga dari Ruby dan terakhir dari keluarga Jeffrey dan juga Smith. Mereka berdatangan dan duduk paling akhir.
Jika di lihat-lihat, keluarga Asnee yang paling banyak datang. Baju kebangsaan kelulusan dan anak didik bangsawan memang beda, Asnee sendiri sangat gagah dengan jubah itu.
"Oh Halo Mr.Daren"
Mereka berdua saling berjabat tangan, saling sapa satu sama lain.
Pidato Asnee sangat mengagumkan, dari cara bicara pun sangat tersusun rapi dan mudah di mengerti.
Tepuk tangan meriah kembali menggema, selanjutnya acara kelulusan pun tiba. Dari sekian ratus siswa Asnee menjadi lulusan baik kedua setelah putra dari Raja Daren.
"Asnee" Suara Shabila tidak henti-henti nya memanggil. Sekarang Reagan pun ikut serta di acara kelulusan Asnee.
"Sayang" Rangkul Reagan pada pinggang ramping Shabila, sesekali mencubit kecil.
Setelah acara yang hidmat itu usai, semua orang ke luar, merayakan dan mengambil photo terbaik.
"Kak" Asnee meluk Shabila, Sean dan Shane bergantian.
"Akhirnya lulus juga hahaha" Harus nya yang girang seperti itu Asnee, tapi ini malah Shane yang senang.
"Hahahaha kebalik!" Shabila menepuk kepala belakang Shane.
__ADS_1
"Selamat ya, tuan kecil!" Bisik Sean menepuk-nepuk bangga pada pundak Asnee.
"Makasih kak! Kau memang terbaik!" Senang bukan main, Asnee mendapat ucapan selamat dari Sean yang dari pertama bertemu sampai kemarin dia tidak pernah mendengar sedikit pun pujian dari mulut kakak dingin nya itu.
"As"
Asnee pun mendapat pelukan hangat dari yang lain nya. Tawa dan senyum dari keluarga itu tidak pernah pudar. Keluarga kerajaan pun tidak pernah merasa diasingkan oleh Asnee.
"Sudah dong, kita mau ambil photo sama Asnee!" Bukan Finola namanya kalau tidak bertingkah menyebalkan. Asnee yang tengah di peluk hangat oleh Mama Agatha sampai terlepas kasar.
"Astaga Fifi" Kesal Nancy hendak menarik tangan Asnee kembali namun tenaga Fifi lebih jauh kuat, sampai-sampai Asnee hampir saja tersandung.
Rayya pun begitu senang, dia seperti biasa menjadi layan Finola di mana pun.
"Kev, tolong ambil photo kami" Pinta Rayya. Robert dan Kevin pun sangat antusias, mereka bergabung dengan keasyikan Rayya juga Finola.
Tawa mereka sangat lebar dan tidak luput terdengar cekikikan yang renyah dari mereka.
keluarga mafia pun mengambil photo bersama dan setelah itu bagian keluarga kerajaan yang mengambil photo bersama.
"Cari apa?" Tanya Rayya menatap lekat kedua mata Asnee.
"Uh ? Oh tidak, aku tidak lagi cari siapa-siapa!" Sangkal Asnee, tapi sayang Rayya bukanlah orang yang mudah di bodohi.
"Benarkah? Kalau mencari Daniza sampai kedua bola mata mu keluar pum tidak akan ketemu!" Ucap Rayya yang asal bicara tapi pikiran nya memang menebak kalau Asnee mencari Daniza.
"Kenapa?" Reflek Asnee bertanya. Rayya pun menutup mulut nya, namun kedua sorot mata menggoda nakal.
"Ciee hahahaha—"
Rayya pun tertawa meledek, dia memang tidak salah tebak. Asnee membuang tatapan nya dari Rayya merasa malu tapi menutupinya dengan wajah dingin agar tidak terlalu terlihat.
"Ma, Pa—"
Teriakan Rayya terpotong, karena Asnee langsung membekap mulut Rayya.
"Apa apa, Ya? Ada info apa?" Finola dengan cepat bertanya, dia antusias sekali.
Rayya hanya menggelengkan kepala nya, namun masih dalam keadaan di bekap.
"Engga jelas, deh!" Gerutu Finola.
__ADS_1