The Future King

The Future King
Eps 48


__ADS_3

Satu demi satu orang-orang dari pengadilan istana masuk di ikuti badan sensor yang telah menjadi satu kesatuan dalam tatanan hukum.


Bisa di katakan, mereka sebagai badan Yudikatif dalam istana, hanya saja bukan untuk menjatuhkan hukuman tetapi sebagai penegak hukum, penguji dan penyelesaian masalah, namun tidak sedikit yang saling memberatkan alih-alih mengamankan posisi.


Mereka telah duduk rapih setelah memberi hormat pada raja. Walau mereka memiliki kewenangan sendiri tapi hukum Raja memang lah yang paling tinggi.


"Tugas kalian menilai mana yang benar dan mana yang salah! Tidak ada perdebatan dan tidak ada berpihak!"


"Di sini tidak ada hubungan nya dengan lembaga namun kebakaran itu hanya bisa merepotkan kalian. Jadi mohon bantuan nya!"


Aaron berdiri, mengkode agar mereka menegakkan tubuh mereka dari salam nya.


Kepala kehakiman meluruskan tatapan nya. "Tentu Raja ! Dan kami tidak ada yang keberatan untuk berada di sini" Ucap nya hormat. Mereka menundukkan kembali dagu mereka.


Pasang mata orang-orang di dalam aula bukan tatapan orang biasa, namun lugas nya mereka malah menunjukkan itu di depan Asnee.


"Baik, dengan tanpa mengurangi rasa hormat kami. Bolehkah kami melihat bukti kebakaran dari Gallery Ibu Suri?!" Ucap kepala pengadilan.


Betta dan Jeno tentu saja mereka lebih dulu memberikan nya, bahkan dengan langkah yang begitu semangat.


"Silahkan, tuan!" Ujar nya sembari menyerahkan bukti-bukti itu.


Asnee mengkode Karl dengan jemari nya, mengisyaratkan agar dia memberikan bukti yang dia punya.


"Ini bukti yang kami dapatkan kan dari Gallery beberapa hari yang lalu." Ucap Jeno


Satu alis Asnee sudah terangkat saja satu karena ucapan 'beberapa hari' dari mulut Jeno. Dirinya tentu curiga, setiap kata yang ke luar dari mulut musuh bukan kah tentunya harus di pahami?


"Bukti lain nya sudah di amankan, mereka di amankan di penjara istana dan dua bukti ini tentu bisa anda pertimbangkan!."


Lanjut Jeno kembali.


"Masalah tentang asal muasal cairan hitam itu sudah kami selidiki lebih lanjut," Timpal Betta-Ayah Jeno maju mendekat.


"Adik saya yang memiliki hak legal cairan itu dan ternyata mereka yang kami tahan membeli nya dalam jumlah besar. Setelah itu tidak lama dalam jangka waktu pembelian, Gallery milik ibu suri terlalap api."


Tidak dapat di abaikan, mungkin bisa saja ada keterkaitan dengan kejadian itu. "Mereka pun sudah kami interogasi dan mengakui sesuatu yang membuat saya, bahkan semua pihak yang ada di sini tidak akan percaya"


"Lihatlah!" Lanjutnya.


Dengan berani nya, Jeno juga ayah nya berbicara tanpa melihat siapa mereka sendiri. Asnee tenang, dia hanya berdiri dan mendengarkan walau rada was-was karena dia belum mengenal lebih dalam siapa saja orang-orang yang berada di dalam pengadilan istana dan badan sensor itu.

__ADS_1


Apakah mereka benar-benar mengingat sumpah mereka ?, atau malah mengabaikan demi mencapai kasta yang lebih tinggi di dalam posisi struktur kerajaan?. Ah entahlah !!


Dengan bangga, Ayah dan anak itu menunjukkan apa yang mereka rekam, seakan-akan kemenangan tinggal setengah langkah lagi. Seakan orang-orang di dalam aula berada di pihak nya.


Oh tentu tidak, bukan ?.


"Rekaman ini kami ambil tidak lama dari kebakaran karena rasa curiga, untuk itu cctv kami pasang di sekitar gallery" Ucap nya.


Bisik-bisik mulai terdengar karena mereka tentu saja menangkap siapa yang berada di dalam rekaman itu. Jam, hari, tanggal dan tahun memang menunjukkan waktu yang telah di beritahukan.


"Sebentar"


Tukas kepala pengadilan dengan telapak tangan berada di depan dada.


Mereka semua pun menoleh termasuk Aaron dan Aat yang sedari tadi hanya mendengarkan penuh.


"Kami akui kedua bukti ini sangat asli dan itu bisa menjadi bukti kuat ! Tapi tadi anda mengatakan jika ada tiga tahanan yang menjadi bukti lain. Bukan?!" Ucap Kepala peradilan.


Jeno mengangguk penuh. Aat sebagai teman dari Jeno merasa aneh, dia melihat yang berada di depan nya bukan Jeno yang dia kenal. Kenapa sangat berani? Berani pula menatap mata para petinggi di aula? Bahkan dirinya sendiri paling mencuri pandang saja.


"Benar—"


"Perintahkan petugas membawa mereka bertiga ke aula!"


"Saya ingin tahu, dari mana bukti itu muncul sedangkan tidak ada riwayat jika mereka terlibat?!" Tanya ketua peradilan dengan kritis.


"Tidak mungkin pula adik anda itu begitu hafal dengan pembeli minyak di tengah banyak sekali pembeli dan satu lagi, bukankah aneh jika bos besar menemui pembeli seperti mereka secara langsung, yang bisa di katakan hanya melakukan satu kali transaksi ?!"


Bisik-bisik kembali terdengar bersahutan. Tentu saja Jeno dan Betta reflek saling lempar pandang. Benar juga, seharusnya hanya pembeli Vip yang yang mendapatkan hak istimewa itu.


Detak jantung Jeno serta Ayah nya tiba-tiba berdetak cepat seakan darah yang mengalir ke jantung tidak dapat lagi menampung nya.


"Benar apa yang anda katakan, tuan!"


"Dan tadi, saya kalau tidak salah mendengar jika bukti ini di dapatkan beberapa hari yang lalu. Bukan begitu ?! Tapi nyatanya dalam rekaman itu menunjukkan jika waktu yang terekam satu minggu setelah kejadian kebakaran !


"Bukan kah aneh?!"


"Sebaiknya kalian perhatikan ucapan kalian dengan benar ! Jangan asal bunyi"


Betta dan Jeno mulai terpancing, tapi mereka terlihat bersabar sekarang.

__ADS_1


"Dan pertanyaan Tetua peradilan adalah yang juga ingin saya tanyakan ! Bagaimana ketiga lelaki itu bisa menjadi bukti dalam kasus kebakaran Gallery ? Bukankah harus ada asal usul nya? Kalian mendapatkan mereka dari mana dan kenapa mereka juga bisa mengenal saya begitu saja? Bukan kah hal kecil seperti itu juga patut menjadi bahan interogasi ?"


"Sshh semua nya pun tahu bukan, jika saya baru pulang setelah kejadian kebakaran dan tentu saja kepulangan saya adalah perintah!"


Giliran Asnee yang bersuara, cara dia menyampaikan argumen nya sangat tertata rapih dan mudah di pahami, mudah juga mendoktrin isi otak orang-orang di aula.


Otak mereka kembali terkecoh dan sesaat memikirkan apa yang di katakan sang pangeran.


Pintu aula pun terbuka, ketiga pria itu sudah berada di aula dengan di biarkan berlutut.


"Baik lah jika tidak yakin dengan perkataan juga bukti yang kami sampaikan, maka biarkan ke tiga pria ini meyakinkan semua nya" Ucap Jeno. Betta mengangguk penuh.


Bukan, bukan tetua peradilan tapi Aaron yang turun tangan.


Tetua peradilan, Jeno juga Betta melangkah mudur memberi jalan untuk Aaron-sang Raja, namun Asnee tidak, sehingga mereka berdua berdiri berdampingan.


"Satu kesempatan. Jika kalian mengatakan yang jujur maka hukuman akan di peringan, namun jika tidak, maka hukuman untuk kalian bukan lagi milik kami !!" Tegas Aaron sekilas menoleh pada Aat yang pasti paham apa yang dirinya katakan.


Ambigu tapi jika mereka telah mengenal keluarga yang berada di belakang Asnee, pasti akan paham.


"Ampun Raja, kami hanya di perintah oleh Pangeran Asnee ! Maafkan kami, kami mengaku salah tapi mohon bebaskan kami. Kami hanya di suruh tidak lebih!!"


Suara mereka saling bergantian meminta ampun, seakan berlomba agar terdengar benar dan nyata.


"Ampun ! Ampuni kami Raja, kami mengaku salah"


"Pangeran tolong kami! Kenapa anda hanya diam saja? Apakah kami di sini hanya akan menjadi tumbal anda?!"


Mereka terus saja mengoceh ke sana ke sini, melantur tanpa takut leher mereka di penggal.


Asnee dengan senang hati ikut menyetarakan tinggi nya dengan mereka. Melipat satu kaki nya menyentuh lantai


"Kalian yakin ingin bermain dengan saya?" TekanAsnee dengan gemulai namun penuh aura intimidasi. Suara Asnee tentu saja hanya terdengar oleh mereka bertiga.


"Jangan bersikap seolah di sini kami yang salah memberikan bukti ! Seharusnya bantuan kami menjadi satu tanda setia kami terhadap kerajaan!"


"Tapi sepertinya sikap pangeran ini tidak seperti yang seharusnya, terhadap kami!"


Jeno sebagai guru kerajaan semakin berani, entah dia memegang kendali, entah bagaimana, yang pasti menurut nya saat ini sebagai guru kerajaan pastilah setiap penghuni kerajaan akan mendengar dan menghormati nya.


"Atas dasar apa yang anda dapatkan itu menjadi bantuan besar untuk kami?!"

__ADS_1


Suara lembut namun tajam juga sedikit serak basah terdengar masuk ke dalam aula. Pintu pun terbuka lebar perlahan dan semua orang pun menoleh ke arah asal suara terutama Asnee yang sangat tahu suara milik siapa itu.


__ADS_2