
Begitu banyak yang menerobos masuk, hampir semua sudut istana di terobos oleh musuh seakan tahu celah dan pintu yang mudah di masuki.
Pengunjuk rasa yang tersisa di luar begitu penasaran namun tidak bisa masuk karena sekelompok orang mencegah mereka.
"Biarkan kami masuk" Teriak pengunjuk rasa berulang kali, memaksa untuk masuk dan melihat, padahal kini nyawa mereka sedang di lindungi tapi malah mengantarkan nyawa dan berusaha untuk masuk ke dalam.
Reporter, wartawan, yang entah tahu dari siapa sampai banyak sekali yang berdatangan.
"Amankan mereka, jangan sampai masuk dan mengambil secuil pun photo! Tch tch tch stasiun berita memang paling cepat mendengar berita" Titah Ruby pada Rayzen yang berada dalam satu mobil.
Rayzen pun turun dan mendekat ke mobil satu nya lagi.
"Iya Paman?" Tanya Julian membuka kaca mobil nya. Ava dan Aya pun ternyata ada di dalam kabin mobil bersamaan.
"Amankan orang-orang dari stasiun berita itu, jangan biarkan mereka memotret terutama pada Keluarga kerajaan. Untuk penyerangan dan keadaan di luar tidak bisa kita cegah, yang penting keluarga kerajaan yang tidak boleh terlalu kentara masuk ke dalam berita. Kalian paham?!" Tutur Rayzen dengan berurutan, menyusun rencana agar lebih matang dan menata nya begitu rapih.
"Siap" Sahut mereka mengangguk.
Rayzen melirik Aya-putri nya. "Pakai jaket. Apa-apaan pakai baju croptop kaya gitu!" Sindir Rayzen pada putri nya sendiri. Julian dan Ava reflek menoleh pada Aya yang memang benar adanya. Julian pun langsung memberikan jaket nya pada Aya.
"Nakal" Cibir Rayzen menggerakkan tangan nya dan melayangkan tangan nya seperti orang yang hendak menyentil telinga.
"Ava juga sama" Gerutu Aya.
"Iya sama, tapi aku sedari tadi pakai jaket!" Ava melebarkan kedua sudut bibir nya seraya memainkan kedua alis nya berulang kali. Julian pun menoleh begitupun Rayzen.
"Tidak ada kerjaan beli baju kurang bahan kaya gitu. Dasar gadis sekarang aneh-aneh!" Rayzen kembali mencibir dan berlalu pergi.
Kalau saja Aya dan Ava tahu bagaimana pakaian Ruby dan Nara dulu serta gadis-gadis yang ada dalam keluarga nya pasti akan membanggakan diri, karena pakaian yang mereka beli tidak begitu sexy dari mereka.
Ruby dan Edward masuk dengan santai seakan tidak sedang terjadi apa-apa tuai cegahan dari orang-orang banyak yang ada di sana.
Baru juga hendak melangkah kembali, Edward sedikit tersungkur karena tabrakan badan seseorang dari belakang yang dengan tidak berdosa nya terus berjalan cepat melewati Edward juga Ruby, tanpa menoleh sedikit pun.
"Nara?"
Ruby dan Edward saling lempar tatap. "Gawat, anak itu kenapa ada di sini?" Seru Ruby.
Edward pun menoleh ke sana ke mari tapi tidak melihat adanya Leyka, yang ada Collen tengah berlari mengikuti tuan nya sesaat setelah memberi salam pada nya.
"Haisshh" Edward malah memijit kening nya. "Kita pantau saja dari luar, tidak perlu lagi ikut campur!" Edward menarik pinggang Ruby penuh posesif.
Tidak dengan bantuan dirinya pun urusan sebenarnya akan selesai, hanya saja dari dulu Edward dan Ruby tidak bisa tinggal diam jika anak-anak nya turun tangan, takut sesuatu terjadi tanpa sepengetahuan nya. Untuk itu kerap kali ada masalah, sepasang suami istri itu pasti selalu ada.
Peristiwa penyerangan itu ternyata sampai di telinga-telinga para pejabat yang lain, mereka pun mengirim keamanan untuk menjaga kerajaan.
Jendral tinggi pun turun tangan malam ini. Ternyata penyerangan terhadap kerajaan tidak hanya melibatkan oknum-oknum aparat tapi juga gangster dan mafia-mafia yang sepertinya baru di kawasan itu.
Brak
Pintu aula rapat pun di dobrak paksa. Musuh-musuh dan para pengawal juga prajurit tergeletak di setiap sekat ruangan.
"Hoshh...Hoshh..Hosshh"
Asnee dan Rayya bertarung bersama, melawan orang-orang itu. Nafas mereka pun memburu, darah kental dari mulut pun ke luar seperti air liur. Ekspresi siaga dan tatapan yang tajam dari Asnee juga Rayya membuat kepalan tangan Nara menguat.
"Yaaaakk"
Dari depan pintu yang di dobrak paksa, Nara berteriak layaknya singa betina yang tengah kehilangan anaknya
Asnee, Rayya dan Aat yang tengah bertarung satu sama lain mengentikan pukulan dan menoleh pada Nara.
__ADS_1
Rambut Rayya sudah tidak beraturan, lebam di leher dan wajah nya sudah nampak semakin membiru pekat, keringat di kening pun bercucuran.
Siapapun yang melihat itu pasti akan tahu jika ekspresi itu sudah lelah, namun di balut dengan jiwa pemberani, begitupun dengan Asnee.
Buagh
Buagh
Duagh
Kreak
Brukk
Dengan sekali serang musuh tepar. Gerakan Nara masih saja cepat dan semakin bertambah umur malah semakin berotot.
Kreuk
Kreukk
Leher Nara berbunyi saat di tekan ke kiri dan ke kanan seraya melangkah garang ke arah Aat.
"Kenapa? Apa kau tidak mengenal saya?" Seru Nara karena ekspresi dari Aat yang begitu selidik.
"Tentu kau tidak akan tahu. Bukan?!" Cibir Nara tidak melepas tatapan nya pada Aat.
Brukk
Rayya terkulai lemas, Asnee menaham nya agar tidak terbentur ke lantai.
Rahang Nara semakin menegas, kepala tangan nya semakin mengerat.
"Keparat" Teriak garang Nara secepat kilat menyerang Aat membabi buta.
Para pejabat yang terkurung di sana bersembunyi di sudut ruangan yang ada penyekat nya. Mereka tidak berani melihat apalagi ikut andil.
Mereka hanya orang-orang lemah dan picik yang hanya bisa membual saja, saat dihadapkan dengan penyerangan seperti ini mereka orang pertama yang menjauh.
Duaghhh
Aat jungkir balik, tubuh nya tersusut ke lantai.
Brakk
Kreakk
Tulang punggungnya sepertinya langsung retak saat tendangan Nara mengenai dada nya.
"Keluar kalian!" Teriak Nara kesetanan. Dia tahu masih ada orang di dalam ruangan itu.
Dor..Slep
Dor.. Slep
Dor..slep
Baru saja musuh hendak bangun, namun peluru dari senjata api milik Nara lebih dulu mendarat di kepala mereka.
Darah segar muncrat pada dinding putih itu.
Para pejabat semakin gemetar kala suara tembakan berulang kali terdengar.
__ADS_1
"Ke luar atau saya menembak kalian satu persatu seperti mereka!" Teriak Nara kembali, suara nya benar-benar seperti auman singa.
Aat palsu pun ikut ketakutan. Asnee melindungi Rayya yang perlahan menutup mata dan kesadaran nya hilang.
"Kak?" Asnee mengguncang tubuh Rayya dalam dekapan nya. Nara menoleh, kelopak mata nya membulat sempurna.
"Rayya?" Nara pun mengguncang rahang Rayya dan langsung memeriksa nadi nya.
"Dia pingsan, jaga kakak mu dulu biar mama yang menyelesaikan sisa nya!" Ucap Nara. Asnee pun mengangguk. Dia bukan tidak ingin membantu, tapi keadaan nya tidak memungkinkan.
"Ke luar kalian semua"
Dor
Dor
Nara menembakkan peluru ke atap dan seketika atap pun berlubang.
"Cuiihhh"
Aat meludah dan ludah nya sudah berwarna merah segar. Nara berbalik, alis nya terangkat dan sunggingan bibir pun tersemat sekarang. Ternyata Aat palsu menodongkan senjata api laras panjang ke arah Nara dengan kondisi sudah sangat tidak memungkinkan untuk berkelahi.
"Katakan selamat tinggal pada Pangeran mu. Kalian terlalu cengeng dan basa-basi!" Seru nya berdiri namun dengan menyandar pada tiang kokoh di belakang nya.
Dor
Dor
"Arrghhhh"
Kelopak mata membulat sempurna, bola mata hampir ke luar dari wadah nya, urat di mata pun sedikit menonjol dan memerah kala tanpa aba, peluru panas dari senjata api Nara menancap begitu dalam pada Paha juga lengan nya.
Prakk
Senjata laras panjang yang di pegang Aat jatuh dengan keras sampai suara nya seperti orang tengah membanting barang.
"Tidak ada kata basa basi dal kamus kami!" Seru Nara.
Dorongan silih dorongan dari pejabat itu, seolah tidak mau menghadapi wanita yang dengan lantang nya mengobarkan api di perapian.
"Kalian masih ingin pria itu menjadi Raja? Bodoh bodoh. Kalian semua bodoh!" Cibir Nara.
"Nyonya ampuni nyawa kami" Sembilan pejabat itu berlutut, sedangkan yang satu nya sudah terkapar tak sadarkan diri. Ryu tidak lagi berada di dalam aula dan membantu yang berada di luar istana.
"Mana bisa!" Seru Nara memainkan senjata api nya di depan mereka.
"Nona kecil" Ryu terlihat kembali masuk, mengabaikan semua orang dan langsung mendekati Rayya.
"Biar saya yang menangani nona kecil" Ryu mengambil alih tubuh Rayya. Asnee pun mengikuti langkah Ryu meninggalkan Nara yang tengah mengintimidasi.
"Nyonya kami benar-benar—_"
Belum juga orang itu selesai bicara, Nara menutup mulut nya dengan perkataan yang begitu membuat jantung berdegup kencang.
"Mati atau mati"
Dua pilihan yang tidak masuk di akal, mending tidak memilih dua-dua nya karena memang tidak ada pilihan.
"Nyonya—"
Mereka berlutut dengan ketakutan yang amat hebat, sampai mereka kini berpikir apakah orang di depan nya ini seorang pemburu? Sampai musuh sekali tumbang.
__ADS_1
"Ciiih menjijikan"