The Future King

The Future King
Eps 150


__ADS_3

Malari Yu, Lukya Ma adalah sepasang suami istri yang bekerja sebagai intelijen negara yang berbentuk kerajaan yang di Rajai oleh Keira, mereka berasal dari Thailand. Mereka berdua dua orang kepercayaan yang juga mejadi perhatian dunia. Untuk itu tidak sedikit negara-negara menginginkan mereka sebagai rekan, tapi kesetiaan sepasang suami istri itu tidak bisa di goyahkan.


Di saat tidak ada tugas, Malari Yu yang biasa Daniza panggil bibi Yu seringkali menemani nya, banyak sekali pelajaran yang di berikan termasuk beberapa bahasa yang di ajarkan.


Nama mereka seringkali di samarkan untuk kebutuhan pekerjaan sehingga banyak sekali catatan di kedutaan tercantum dengan nama-nama yang berbeda, termasuk saat tragedi di Swiss.


Malari Yu dan Lukya Ma memiliki satu putri yang di tinggalkan di Thailand bersama dengan keluarga yang lain. Identitas nya sebagai intelijen menjadikan privasi mereka di lindungi.


"Jadi Simon, aku masih penasaran kenapa kau membebaskan perempuan itu di saat sidang nya belum usai? Aneh nya lagi, pasal yang di dapat anak itu bukan lah pasal main-main dan kau apa tidak tahu jika para mafia itu yang menjebloskan nya ke penjara? Pasti ada yang membantu mu bukan? Aku tahu batas kemampuan mu dan juga relasi di setiap negara yang kau miliki, tapi tidak akan bisa mampu membebaskan pelaku pembunuhan ke luar dari hukuman yang sudah di putuskan!"


"Simon aku mengerti alasan mu, tapi kenapa harus sampai seperti ini?" Lanjut Ahan masih tidak habis pikir.


"Aku pun perlu penjelasan mu, Simon!" Tekan Daniza.


"Oke oke" Seru Simon, dia menghela nafas sejenak sebelum kembali berucap. Daniza dan Ahan siap mendengarkan.


"Perlu di tekankan, aku sama sekali tidak tahu hubungan anak itu dengan calon suami mu, karena aku tidak terlalu mencari tahu hal itu"


"Sebelum di kirim ke Canada, aku sempat berbincang dan bertanya pada nya, tapi dia tidak banyak bicara"


"Informasi yang aku dapat hanya sebatas dasar nya saja dan informasi itu aku dapat dari pihak sekolah di sana, untuk itu aku langsung menuju ke pengadilan di mana di sama sedang ada sidang dirinya"


"Saat selesai, aku menjenguk nya dan dia sangat prihatin sampai di mana hendak pulang dan bertemu dengan seseorang"


"Ini orang nya"


Simon pun meletakan selembar kertas foto lagi di hadapan mereka.

__ADS_1


Mata Ahan dan Daniza seakan-akan mau copot saat melihat orang yang ada di foto itu.


"Pangeran Aat?" Seru Daniza juga Ahan bersamaan.


"Kalian mengenal nya?" Tanya Simon karena reaksi mereka yang begitu sangat terkejut.


"Jangan bilang kau sama sekali tidak tahu dengan dia. Simon astaga—! Timpal Ahan tepuk jidat.


Simon pun hanya mengembuskan nafas kasar. Untuk informasi Daniza dia tidak kekurangan sedikit pun tapi untuk masalah lain dia sama sekali tidak tahu dan masalah itu yang sebenarnya sangat penting dan dirinya kecolongan lagi.


"Aku mengerti sekarang kenapa dia begitu bertekad membebaskan anak itu dan membantu perawatan di Canada. Apakah tujuan nya ada hubungan nya dengan Asnee? Jika iya maka otomatis kau juga akan terseret bukan?"


Baru kali ini Simon merasa salah langkah, mungkin saat bertemu dengan anak itu yang ada di pikiran nya adalah membebaskan dari balik jeruji besi karena teringat permintaan Malari Yu, seolah-olah permintaan itu menjadi beban tersendiri.


"Aku benar-benar tidak habis pikir" Daniza sudah tidak dapat lagi berkata apapun.


Prok


"Tapi ini seandainya, masih seandainya dan kita perlu juga mengantisipasi jika sesuatu masalah besar menimpa. Pasti akan ada di mana anak itu kembali ke tanah air dan tentu pula Pangeran Aat akan memanfaatkannya untuk menggoyahkan Asnee. Aku pikir itu akan terjadi karena apa yang dia lakukan pada anak itu sekarang, bukankah dia tidak akan repot-repot hanya untuk membebaskan anak itu kalau tidak punya tujuan? Oh tentu tidak, bukan?!"


"Niza, terutama kau. Untuk sekarang berpura-pura lah tidak tahu apapun. Kami pun akan seperti itu, usahakan jangan terlibat apapun dengan urusan kerajaan dan plus nya jika anak itu datang otomatis akan bertemu dengan Asnee secara sengaja, kau perlu melihat bagaimana reaksi dari Asnee juga, apakah dia masih memiliki perasaan terhadap mya atau tidak. Untuk saat ini biarkan hal itu menjadi ujian untuk prihal cinta nya"


"Niza, apa kau mengerti dengan ucapan ku?" Tutur Simon.


Ahan menatap Simon dengan meletakan jari telunjuknya di bawah bibir. "Kau terlalu ambil risiko jika seperti ini, Simon!" Seru Ahan.


"Dia bisa saja terlibat walaupun dia ingin! Lalu bagaimana jika Asnee malah memilih anak itu? Bagaimana dengan Niza? Dia akan sakit dan kecewa, jangan coba-coba jadikan Niza tikus percobaan. Simon!"

__ADS_1


Ahan mang orang yang kritis, dia bisa mengkritik sedalam apapun yang menurut nya itu perlu.


"Lebih baik sakit sekarang dari pada nanti menerima kenyataan jika hanya Niza yang sepertinya memperjuangkan hubungan itu sendiri dan tidak dengan Asnee"


"Perlu di ingatkan, pria dengan bekas luka seperti itu belum layak di cintai apalagi di miliki jika belum sembuh total!"


Simon menatap Daniza. "Kau kesayangan ku dan bahkan aku titipkan nyawaku di jantung mu. Apapun yang terjadi, apapun yang aku katakan tidak pernah sekalipun ada niat menyakiti. Pelajaran yang akan datang pasti sebelumnya harus di pelajari dan pelajaran yang sudah di pelajari akan menuntun ke dalam kemudahan. Hanya itu saja!"


"Sekali lagi aku tekankan, bukan tidak layak tapi belum layak. Kau mengerti?"


Daniza hanya menyanggah dagu nya dengan kedua tangan.


Simon pasti saja akan berkata panjang lebar jika dia yakin kalau rencana nya akan berhasil.


"Baiklah. Akan aku coba"


"Tapi pasti akan sulit karena ini tidak akan mudah. Berpura-pura tidak tahu pun pasti akan menyakiti Asnee, masalah nya Pangeran Aat adalah kesayangan mereka" Lanjut Daniza. Masih saja dia memikirkan calon suami nya yang padahal sekarang posisi nya sedang tidak aman.


"Inti nya jangan terlibat dengan masalah kerajaan, apapun yang terjadi mau diam jangan sekalipun angkat suara!" Simon teguh dengan keyakinan dan pendirian nya dan dia melakukan itu bukan semerta-merta karena egois tapi untuk keselamatan bersama.


Obrolan panjang yang begitu mengejutkan dan menegangkan akhirnya usai saat handphone Daniza kembali berdering dan tentu saja Asnee yang menelpon.


"Aku pulang dulu. Bisa mampus aku kalau lebih lama di sini!" Seru Daniza bersiap menarik tas tote bag nya.


"Kita akan mengikuti dari belakang" Simon pun berdiri begitupun dengan Ahan.


Mereka pun pergi, mengantar Daniza karena langit sudah menggelap.

__ADS_1


__ADS_2