The Future King

The Future King
Eps 85


__ADS_3

pritt


pritt


trang


trang


Penjaga sel meniup peluit dan memukul tongkat keamanan mereka ke tralis ruangan sel berulang kali, meredakan keributan di dalam.


"Ini ini lihat, bocah ini sangat kasar sekali pada ketua! Syukur kau masih aman, nak. Ketua masih baik padamu, kalau tidak habis lah kau. tch tch tch!"


Dua polisi wanita masuk. Kebenaran nya para tahanan itu yang memulai perkelahian tapi licik nya malah menyalahkan Yaya.


"Diam!" Tekan salah satu dari penjaga itu, seakan sudah tidak aneh dengan keributan akibat anak baru.


Mata memelas, tubuh bergetar dan basah namun sama sekali dari dua polisi itu membela nya. "Tolong saya... " Ucap Yaya.


"Ganti baju mu!" Tunjuk nya pada Yaya tanpa menggubris permintaan Yaya.


"Siap-siap, jam dua sore akan ada pembagian pekerjaan! Untuk kau tidak ada toleransi, semua sama di sini!"


Kedua polisi itu pun kembali ke menutup pintu sel dan menguncinya, sedangkan Yaya bergegas masuk ke dalam kamar mandi takut kena siksa penghuni lain lagi.


"Hahaha gitu aja nangis, payah!" Ledekan dari mereka terus menggema seakan hal-hal seperti tadi menyenangkan bagi mereka.


...**...


Benar saja, untung semuanya sudah di persiapkan. Anak-anak yang bersekolah di Swedia itu bukan lah sembarang orang, mereka orang-orang penting di negara mereka sendiri.


Amukan terjadi kala apa yang mereka miliki hancur hanya dalam hitungan jari, di cari penyebab nya pun masih belum terpecahkan. Semua tangan kanan dan semua kaki pejabat yang ada turun, namun mereka kebingungan siapa yang berulah.


"Aman terkendali" Seru Shabila menaikkan dua alis nya.


"Ok!" Sahut Shane, Sean hanya menatap mereka berdua saja seperti biasa.


"Oh dan satu lagi. Gadis itu akan jadi tahanan penjara Swedia selama waktu yang di putuskan nanti, tidak akan di pindahkan ke negara nya. Aku sudah mengurus nya! Begitupun dengan Luke juga teman-teman nya" Lanjut Shabila.


"Sempurna!" Puji Shane dengan mengacungkan ibu jari.


"Tapi gadis itu bagian Mommy sama Rayya. Apa mereka tidak akan marah kalau kita sedikit ikut campur?" Pikir Shane.


"Berdoa saja!" Tepuk Sean pada pundak kanan Shane yang tengah duduk di kursi.

__ADS_1


...**...


Sidang pertama pun tiba, Yaya di tuntun oleh asisten sipir ke tempat pengadilan dengan dua tangan masih di borgol. Wajah yang biasanya cerah ceria kini pucat dingin ditambah kantung mata merah


Pintu ruang sidang di buka, di dalam terlihat beberapa orang di sana. Dia menjadi pusat perhatian karena bagaimana pun sidang ini terbuka untuk umum. Kedua orang tua angkat nya pun duduk di baris ke dua.


"Yaya" Gumam Ibu Lukya. Yaya hanya membuang muka.


Penasihat Hukum untuk Yaya pun sudah siap mendampingi dan itu di tunjuk langsung oleh Hakim. Di sela pembacaan surat dakwaan, pintu kembali terbuka dan semua mata tertuju ke arah sana.


Ruby, Rayya dan yang lain nya masuk, mereka duduk di kursi yang masih kosong. Saat Yaya menoleh, matanya menangkap keberadaan laki-laki yang sangat dia kenali


"Asnee" Gumam Yaya. Batin nya bergejolak, rasa cinta nya memang masih ada tapi rasa benci nya pun tidak kalah bergejolak. "Lihat saja, nanti!" Bisik nya kembali dalam hati.


Sidang pun berakhir dan ternyata saat itu juga hukuman penjara pun di putuskan hari itu juga. Bukti dan saksi menyudutkan dan memberatkan terdakwa dan itu bukan rekayasa, sampai semua pihak dalam persidangan pun tidak percaya, baru kali ini mereka menerima bukti yang jelas dan juga lengkap.


"Tunggu" Tahan Rayya saat keamanan kembali membawa Yaya.


"Selamat menikmati dunia baru mu, sayang!" Bisik Rayya di telinga Lukya. Ucapan Rayya tentu mengundang amarah sang pemilik telinga.


"Cuihh... ! Lihat saja nanti!" Tekan Yaya.


"Nanti? Ohooo sorry, tidak ada kata nanti untuk gadis nakal seperti mu!" Smirk jahat terpatri jelas, Yaya pun melihat nya.


"Kami tidak akan membiarkan ada lain kali untuk mu, gadis cantik!" Timpal Ruby melebarkan senyum nya yang benar-benar manis namun di balik senyum itu ada sebuah bahaya yang akan berkunjung.


Pelajaran dari Keluarga Asnee memang belum seberapa, tapi hukuman sebenarnya ada di dalam penjara dan itu sudah di atur.


"Mari..."


Yaya pun kembali di bawa, namun tatapan dari orang-orang Asnee masih belum lepas.


"Asnee—" Rayya menarik tangan adik nya itu lumayan kencang.


"Astaga kak!" Gerutu Asnee namun Rayya hanya nyengir saja tanpa dosa.


"Kelak, jika ingin memacari seorang gadis kau harus tanya-tanya dulu lah pada kita! Coba lihat. Spek dingin maskulin dan cuek kaya gini mana sempat mendekati wanita"


"Noh, sekalinya dekat sama dakjal!" Sarkas Rayya namun dengan binar mata yang menurut Asnee sangat mencurigakan.


"Yaaak itu mulut—"


"Eumppphhhh.... "

__ADS_1


Asnee mencubit bibir Rayya tanpa melepasnya sehingga nafas Rayya tak dapat ke luar dengan mudah.


"Makanya jangan asal ceplos!"


"Heheheh"


Beingsut, beralih posisi ke belakang mama Nara yang baru saja kembali dari kamar mandi.


"Ayo" Ajak Nara. Mereka pun pulang, namun mobil yang di tumpangi Asnee melaju ke arah berbeda dan sepertinya itu adalah arah rumah sakit.


...**...


"Bagaimana cara nya mencari tahu siapa dalang di balik pembunuhan ayah dan ibu? Aku harus mulai dari mana?" Kepala Daniza masih saja berisik, dia termenung di depan pagar besi rumah singgah.


Lamunan nya buyar kala suara klakson masuk ke pekarangan rumah.


"Mereka sudah kembali?" Gumam nya kembali saat rombongan keluarga sang majikan terlihat masuk. Daniza pun datang menghampiri Rayya.


"Niza"


"Eh?" Daniza tentu kaget, Rayya begitu saja memeluk nya tanpa permisi dan terlihat senang.


"Akhirnya kita bisa pulang!" Rayya berjingkrak layak nya anak kecil dengan mengguncang kedua tangan Daniza. Keluarga yang ada hanya geleng kepala dan hanya bergegas masuk ke dalam rumah.


"Dia mendapat hukuman yang setimpal, kan?" Tanya Daniza.


"Tentu saja! Dia tidak akan lepas dari hukum selama kita masih hidup hahaha"


Tawa Rayya melengking, namun Daniza hanya membalas dengan senyum tipis di kedua sudut bibir nya. "Syukurlah!" Ucap Daniza.


"Di mana pria batu itu? Aku tidak melihat nya!" Rayya tidak menyembunyikan ketertarikan nya, dia mengedarkan kedua tatapan nya ke semua arah.


"Kalau tidak salah tadi di belakang bersama paman yang baru datang!" Sahut Daniza menunjuk area taman belakang dimana tadi di sana dia melihat nya.


Ahan Erickson dan juga Lexi nampak tengah berbincang serius. Ahan berdiri, menyandar di pohon mati sedangkan Lexi duduk di kursi kayu panjang dengan besi di setiap sisi nya.


"Paman" Panggil Rayya. Sang pemilik nama pun menoleh begitupun dengan Ahan.


Perhatian Lexi bukan tertuju pada Rayya, melainkan pada wajah yang samar dia kenali.


"Paman kan tidak boleh bermain mata seperti itu, sudah tua!" Pukul Rayya.


"Hahaha mana bisa paman seperti itu... " Lexi tergelak dengan ocehan Rayya, seperti biasa namun tidak dapat di pungkiri jika wajah Daniza tidak asing di mata nya.

__ADS_1


"Salam" Sapa Daniza. Lexi pun ikut menyapa.


__ADS_2