The Future King

The Future King
Eps 66


__ADS_3

Menjauh dari rumah sakit, tatapan yang teramat dalam itu seakan-akan ikut terhanyut ke dalam nya. "Bagaimana bisa aku kecolongan?"


Tidak dapat di pungkiri juga, kecantikan Yaya menghipnotis mata nya di tambah dia memang di kenal gadis baik di satu angkatan itu.


Sehari kemudian, kondisi Yaya semakin membaik namun tidak dengan situasi nya. "Jika bukan karena malam itu, aku tidak akan berhubungan dengan Luke. Sial sial!" Sembari menggigit-gigit kukunya di taman sekolah, Yaya terus bergumam dan tidak lama, Asnee dan kedua teman nya pun terlihat masuk dari gerbang sekolah.


"As tunggu. As! Dengerin dulu penjelasan aku" Tubuh Yaya menghadang langkah Asnee, namun dia di abaikan namun Yaya berusaha untuk bisa berbicara dengan Asnee.


Kevin dan Robert yang sebelum nya sangat care dan pasang badan buat Yaya tapi sekarang malah sebalik nya. Mereka berdua nampak jijik melihat Yaya.


Tidak bisa terelakan, friend benefit antara Yaya dan Luke sudah terjadi, Yaya pun sangat semangat jika tengah melakukan nya seakan-akan sudah menjadi candu untuk tubuh nya, mungkin juga di tambah identitas Luke yang dia ketahui.


"As dengarkan aku dulu" Yaya terus bermanja, dengan suara nya yang seperti anak kecil. "Aku salah, As! Asnee maafkan aku" Tidak berhenti dan terus menguntit Asnee, Yaya menarik-narik baju Asnee.


Dughh


Tubuh Yaya terpental karena Asnee berhenti tiba-tiba.


"Sejengkal saja kau menyentuhku di masa depan, jangan salahkan aku jika alam mu tidak lagi sama dengan ku! Camkan itu, Lukyanova!" Ancaman Asnee tidak begitu terdengar keras namun rendah nya suara itu membuat Yaya membeku di tempat, dia mengerti akan perkataan Asnee.


"As"


Sayangnya, Asnee menepis keras tangan Yaya dan berlalu pergi. Hubungan mereka memang bisa di hitung jari tapi Asnee tidak akan pernah main-main dengan hubungan nya, jika sekali jatuh cinta maka memang dia adalah wanita yang di inginkan nya.


Di dalam aula tempat biasanya di adakan seminar kini kembali penuh, tempat mengejar ilmu yang sekarang di tempati Asnee bukan lah universitas, bukan pula sekolah-sekolah biasa pada umum nya. Sekolah tinggi yang sangat mumpuni dan hanya ada tiga di belahan dunia, Swedia termasuk salah satu nya.


"As, Prof Nero tadi menanyakan makalah yang kau amati! Kalau misal nya sudah selesai, temui dia di ruangan nya" Ucap salah satu teman lab nya.


"Ok"


Terlihat Robert juga Kevin masuk ke aula, tidak lama Glory dan juga kedua teman nya. Kursi yang tersusun rapi seperti tangga, penuh mengelilingi mimbar yang hanya ada satu di depan mereka.


Luke, Lukyanova juga Olive pun masuk bergantian dengan teman sekelasnya. Yaya mendapati keberadaan Asnee namun Asnee mengabaikan.


Mikrofon terdengar berbunyi, pengisi seminar hari ini adalah seorang profesor muda yang sukses di kancah internasional di bidang penelitian sumber daya dan juga perekonomian.


"Mohon perhatian nya teman-teman"


"Seminar kali ini akan menjadi petunjuk kalian di masa depan, perhatikan dan dengarkan! Akan ada sesi tanya jawab setelah penyampaian beliau" Ucap moderator setelah pembukaan selesai.


Di dalam aula hening, lampu sorot dari setiap sudut pun menyala, belum lagi dari atas membuat ruangan terang, seakan-akan benda kecil pun akan terlihat walau tersembunyi.


"Aku hanya mendengar tentang dia, sekarang akhirnya bisa melihat wajah nya!!" Glory sangat semangat begitupun kedua teman nya.


"Kau benar, Glo!" Timpal Kelly dengan semangat, antusias nya patut di acungi.

__ADS_1


Di satu sisi, Asnee yang tidak tahu apa-apa menampilkan mimik bertanya-tanya. "Pengisi seminar hari ini kalian sudah tahu siapa?" Tanya Asnee.


"Ngga tahu! Ada seminar juga kita baru tahu tadi pas masuk ke kelas!" Ujar Kevin merendahkan suaranya.


Aula seketika hening, pengisi seminar pun masuk dengan menyapa beberapa guru besar di atas podium yang di mana ada tempat duduk juga di sana.


"Selamat siang semua" Sapa seorang wanita yang begitu mempesona, dia cantik dari setiap sudut, jas putih nya membalut tubuhnya dengan lebar bahu yang sangat sangat terbentuk dan ramping.


Rambut di urai namun sedikit bergelombang, bersamaan dengan sapaan, senyum lebar pun sedikit demi sedikit terurai mengesankan.


Di sana pun banyak perempuan-perempuan cantik, tapi Nancy berbeda. Wajah Jerman-Thailand nya sangat terlihat, membuat beda dari yang lain.


Ya, dia adalah Nancy Jeffrey putri dari Agatha Smith, Pengusaha masyhur dari Jerman, di sana pun ada Clare Smith Esten, putri dari Ronald Esten sebagai pendamping nya. Anak-anak angkat dari keluarga SMITH tengah berada di podium.


Di sudut kanan pun terlihat dua orang laki-laki asing yang sepertinya Asnee pun tidak akan mengenal mereka.


"Nama saya Nancy Jeffrey dan yang di samping saya Clare Smith, kakak sepupu saya sendiri!" Ucap Nancy mengedarkan pandangan nya, memperkenalkan diri. Clare menyatukan kedua telapak tangan nya dengan sopan, menandakan sapaan untuk orang-orang di sekitar.


"Kami sangat senang dan bangga bisa menjadi pemateri di sekolah tinggi ini! Tidak akan saya lupakan dan pengalaman ini akan menjadi sejarah dalam hidup kami"


Terlihat juga dari mimik dan binar mata Nancy juga Clare.


Dua jam tidak lebih, materi yang di sampaikan oleh Nancy juga Clare sangat jelas dan mudah di pahami, apalagi mengenai penanaman modal-modal asing yang justru pendengar sangat antusias, membuat mereka tidak sabar untuk memulai dan yang sudah melakukan hal itu tidak sabar untuk merevisi taktik mereka.


Clare yang membahas mengenai sumberdaya manusia, di mana sebagian siswa-siswi di sana ada yang tidak suka dan tidak suka, tapi saat Clare yang menjelaskan materi, membuat mereka yang tadinya tidak menyukai bahasan seperti itu pun langsung antusias.


"Iya As, jangan bilang kau tidak kenal wajah mereka!" Timpal Kevin, karena wajah dan sorot mata Asnee seakan-akan tidak mengenal mereka.


"Wajah mereka emang tidak asing, sih! Tapi mana bisa mereka ada di sini? Jauh Jerman-Swedia itu, Kev!"


Asnee pun sedikit demi sedikit menatap selidik, dari wajah mereka pun serasa tidak asing. Bagaimanapun Nancy dan Clare memang jarang sekali bertemu dengan Asnee.


"Tapi siap juga yang tidak kenal pada mereka? Tuh lihat-lihat, bahkan mereka yang ada di sini kenal mereka semua" Ucap Robert dengan segala tingkah nya.


"Ya terus kalian tahu? Kalau tahu kenapa masih bertanya-tanya dari tadi" Timpal Asnee ketus. "Jangan bilang hanya tahu namanya mereka saja!" Curiga Asnee. Robert dan Kevin nyengir-nyengir saja sekarang.


Ekhemm


Deheman dari mic terdengar memekik. "Maaf kalian yang ada di sana!" Semua mata tertuju pada tunjukkan telunjuk Nancy.


Asnee dan kedua teman nya pun sadar sehingga reflek mereka menunjuk diri mereka sendiri, kecuali Asnee.


"Iya, kalian!" Seru Nancy. "Berdiri dan kasih pertanyaan untuk materi siang ini!" Ucap Nancy dengan tatapan tidak suka, Clare menepuk kilas bahu Nancy.


Gelengan kepala Clare tidak saja membuat Nancy mengerti, dia pun paham apa maksud dari gelengan kepala Clare.

__ADS_1


"Sebaiknya jika ada yang tidak ada di mengerti bisa kalian tanyakan, bukan berbisik-bisik di belakang seperti itu! Sekarang, apakah ada pertanyaan atas materi siang ini?"


"Kalian boleh kembali duduk" Lanjut Clare mengambil alih percakapan Nancy.


Nancy memang tidak suka jika ada yang membuat acara di dalam acaranya sendiri, membuat dirinya merasa tidak dihargai.


"Cantik tapi galak" Masih saja Robert membuka mulut saat situasi menegangkan.


"Nancy, Clare? Sepertinya itu memang mereka" Gumam Asnee.


Setelah seminar selesai, Asnee memilih menunggu di luar aula. "Terimakasih sudah bersedia datang, ini akan menjadi kehormatan untuk sekolah kami! Usia muda sudah menjadi pengusaha sukses, semoga menjadi motivasi untuk anak-anak" Ucap Tetua, yang juga pemimpin tinggi di sekolah itu.


"Anda terlalu menyanjung, pak!" Pungkas Clare melepas jabat tangan di seligi oleh Nancy.


"Nona, tuan besar menelpon" Ucap pria tegap dengan jas hitam rapi membalut tubuh. Clare dan Nancy pun berpamitan setelah berbincang singkat dengan pihak sekolah.


"Halo,Papa!" Sahut Clare.


". . . . . . . . . . . "


"Oh ada, dia ada Pah! Nanti Cla sampaikan pada nya, ya!" Ucap lembut Clare. Nancy hanya mendengarkan saja.


"Nona" Asnee menyapa, tidak bisa di elakkan ternyata ada ya wanita yang tubuh nya lebih tinggi dari dirinya.


Seketika Nancy dan Clare pun menoleh."Iya tampan, ada yang bisa kami bantu?" Serobot Nancy mendekat dengan gerakan tubuh yang menggoda namun tercampur dengan candaan.


"Kak Nancy?" Ucap Asnee hati-hati, tertangkap basah oleh Clare juga Nancy sikap dari Asnee.


"Anak nakal! Kau baru sadar kalau kita kakak mu, hem?" Tidak segan, Nancy menarik telinga Asnee.


"Bagaimana kabar mu?" Tanya Clare.


"Baik kak"


Walaupun singkat, Asnee merasa senang kalau keluarga nya berkunjung walau secara tidak sengaja. Ingin berbincang lama, tapi sepertinya jadwal mereka sangat padat, terlihat dari bodyguard nya yang berkali-kali memberitahu jika masih ada janji dengan klien terakhir sebelum mereka kembali ke Jerman.


"Sebentar lagi ulang tahun nih!" Goda Nancy. " Boleh lah bagi hadiah yang nanti akan kau dapatkan!" Lanjutnya.


"Dih, kurang apa lagi kau ini.Nan! Tidak bersyukur sama sekali! Diceramahi si kembar baru tahu rasa!" Clare menonyor kepala Nancy tidak habis pikir.


"Dih ! Kan cuman becanda aja ini!" Cebik Nancy tidak terima.


"Kalian akan hadir kan, nanti?!" Tanya Asnee.


"Pasti dong! Baiklah, kakak-kakak cantik mu ini pamit pulang! Kau baik-baiklah di sini, urus urusan yang memang penting! Jangan mempedulikan seorang sampah yang nantinya hanya akan memberikan aroma bau pada tubuh mu.As!" Tutur Clare ambigu, seakan ada pesan yang tersirat di dalam nya.

__ADS_1


"Tentu" Ucap Asnee.


__ADS_2