
Pacuan kuda begitu luas, seakan tak berujung. Beberapa gazebo pun tidak jauh berdiri di sana.
"As"
Kevin dan Robert melambaikan tangan saat Asnee sampai di area pacuan. Langkah Asnee semakin lebar namun lambaian tangan mereka terhenti kala seorang perempuan bergeser dari belakang Asnee.
"Siapa dia?" Robert menyikut lengan Kevin.
"Mana aku tahu!" Seru Kevin.
Salam pertemanan pun terjadi, tapi Kevin juga Robert penasaran dengan keberadaan Daniza.
"Saya Kevin"
Tidak biasanya Kevin begitu antusias, membuat Robert tidak ingin kalah. Mereka berebut mengulurkan tangan pada Daniza.
"Say—"
"Yaakk"
Belum apa-apa, Asnee menarik Daniza sampai menubruk tubuh nya sendiri. "Kau diam saja, jangan bersuara!"
"Wih galak amat, bang!" Goda Robert. Kevin, dia hanya memperhatikan Daniza, sepertinya dia tertarik dengan nya.
Kedua bola mata memutar malas, dia tidak biasa mengikuti aktifitas seperti sekarang. Biasa nya akan duduk di kursi dan mengerjakan pekerjaan yang di berikan Putri Rayya, tapi ini malah keluyuran ke luar.
"Sudah lama kita bertiga tidak menunggang kuda! Seperti biasa, siapa yang cepat dia traktir sepuas nya" Robert kembali bersuara.
Beberapa pelayan wanita dengan stelan putih hitam rok pendek berdiri tidak jauh dari mereka sedangkan Daniza, dia tidak memakai pakaian seperti itu. Dia mengenakan kaos pendek putih di padukan dengan jeans panjang berwana light navy menjadikan tubuh nya terlihat tinggi semampai.
Fokus Daniza tidak pada tiga bujang itu melainkan pada pacuan kuda dan beberapa ekor kuda yang tengah di tunggangi.
Kevin sesekali melirik nya dan tentu Asnee sadar. "Ok siapa takut! Ayo kita bersenang-senang untuk hari ini!" Seru Asnee berdiri membuka jaket dan langsung memberikan nya pada Daniza.
"Pakai itu" Tatap nya mengintimidasi.
"Uh?" Sahut Daniza bingung, namun tatapan Asnee masih sama menjadikan dirinya langsung mengenakan jaket hitam itu.
Kevin dan Robert tentu saling lempar pandang, terutama Kevin yang bukan kemungkinan lagi, tapi benar dia sepertinya tertarik kepada Daniza.
"As, kau menakutinya!" Bela Kevin menggenggam pergelangan tangan Asnee.
"Ow!" Ekspresi Robert seakan antusias dengan drama di depan nya.
"Kamu boleh ikut ke dalam area pacuan jika ingin ikut bermain! Kamu bisa menunggang kuda? Jika tidak bisa akan aku ajarkan!" Ucap Kevin lembut, lesung di pipinya sangat manis dan Asnee baru kedua kalinya dia melihat Kevin tersenyum ramah setelah dulu bertemu dengan kakak nya saat di Swedia.
"Tidak tuan, saya di sini saja!" Tolak Daniza, sesekali melirik Asnee.
"Pintar" Reflek, Asnee mengacak kasar pucuk kepala Daniza sehingga sang pemilik mematung kaget.
"Ayo" Asnee lebih dulu turun dari gazebo di ikuti oleh Robert yang setengah menyeret tangan Kevin.
"Cobaan mu akan sangat berat. Kev!" Ledek Robert.
"Kita coba hahah__" Ujar Kevin malah ikut antusias.
Ketiga remaja itu terlihat sangat bahagia, tawa pun tak lepas ke luar dari mulut mereka. Pelayan yang bertugas di sana ikut antusias, menyaksikan tuan mereka yang begitu mempesona mengeluarkan keringat.
Daniza, dia duduk di kursi yang tadi di tempati Asnee, menyanggah dagunya dengan kedua telapak tangan.
"Astaga sangat membosankan sekali!" Keluh nya, merutuk sepanjang hentakan kaki di bawah meja.
__ADS_1
Di sela kebosanan nya, dua orang pria menarik kuda sepertinya habis di bersihkan.
"Tuan, kalian hendak membawa kuda ini ke mana?" Tanya Daniza, turun dari gazebo.
"Memasukkan mereka ke kandang, tapi sepertinya di sana tempatnya masih di bersihkan juga, jadi mungkin akan kami biarkan dulu di sini!" Tutur salah satu dari pria itu.
"Boleh saya ikut? Sepertinya akan menyenangkan!" Seru Daniza dengan keantusiasan nya, tapi jika dia tahu sedari tadi tatapan Asnee tidak lepas mungkin saja akan masih diam. Daniza tidak sadar jika Asnee terus memperhatikan.
"Baik nona, mari!" Ajak mereka.
"Ayo!" Sahut Daniza, senyum nya merekah serta binar mata nya tidak bisa di sembunyikan. Jaket Asnee kebesaran ti tubuh Daniza namun terlihat lucu saat dia memakai nya, panjang lengan dan panjang lengan jaket tidak sesuai ukuran sampai tangan nya tertelan.
"Di sini area nya sangat luas, berarti kuda nya banyak.Kan?!" Bayangan Daniza tidak tertahan, dia sangat senang walau awalnya terpaksa ikut.
Celotehan Daniza tak luput membuat pekerja yang mendengar di sana tertawa dan merasa berwarna saat keantusiasannya bergemuruh.
"Kalian sangat bekerja keras! Nanti jika saya berkunjung kembali ke sini akan saya bawakan makanan yang banyak" Ucap Daniza.
"Buat kuda?" Celetuk pria itu.
"Buat kalian. Untuk apa saya membawa makanan kuda?" Cebik nya.
"Hahahha saya bercanda nona!"
Sekali lagi, tawa dari para pekerja terdengar, orang-orang yang tidak jauh dari tempat pekerja itu pun menoleh dan penasaran.
Seorang gadis kuncir kuda yang baru sampai pun ikut penasaran, dia datang karena mendengar informasi jika pangeran Asnee berkumpul dengan kakak sepupunya.
"Siapa dia?" Tanya nya pada pelayan yang sedari tadi berada di area pacuan kuda.
"Gadis itu datang bersama dengan Pangeran Asnee, nona!" Jawab nya.
"Arrghhhh" Jerit Daniza, tubuh nya basah tak tersisa.
"Berisik sekali! Kerja yang benar, jangan banyak bicara!"
Suara menjadi senyap, para pekerja itu pun seketika membungkam.
"Kau ini siapa? Tempat ini bukan taman safari yang bisa seenak nya kau kunjungi!" Suara melengking merusak telinga. topi bundar nya menandakan jika dia memakai kostum penunggang kuda.
"Tidak sopan! Siapa anda berani menyiram saya dengan air. Hah?!"
Tidak kenal takut, Daniza pun mengambil ember bekas membersihkan tempat kuda dengan warna yang sudah menguning.
Byurr
Sarkas nya langsung menyiram gadis itu tanpa aba.
"Arrghhhhh" Jeritan gadis itu sangat ngilu, dia tidak terima. Asnee, Robert dan Kevin yang hendak menunggangi kuda ke dua kali nya berhenti seketika.
"Kau tidak tahu siapa dia?" Pelayan-pelayan itu mendukung nya karena gadis itu masih keluarga dekat dari tuan mereka
"Saya tidak peduli siapa dia dan saya tidak peduli berasal dari mana dia! Gila apa, main siram orang saja. Tidak sopan!"
Ikat rambut Daniza lepas begitupun dengan Jaket milik Asnee yang masih dia pakai.
"Hentikan! Jangan melepas jaket mu, Daniza!" Suara berat Asnee terdengar.
Dari arah berlawanan, Asnee dan kedua teman nya datang. Mata Asnee memicing kala Daniza hendak melepas jaket nya, dia ingat jika kaos putih yang di pakai Daniza pasti nerawang.
"Kak Asnee" Teriak gadis itu dengan manja nya.
__ADS_1
"Jane?" Kevin ikut melangkah cepat. "Ada apa ini?" Dia menatap sepupu dan Daniza bergantian.
Daniza tidak peduli dengan kedatangan mereka, rambut panjang nya basah dan memilih membalikkan badan nya. Jaket yang dia pakai masih membalut tubuh nya, Asnee mendekat dan merapatkan resleting jaket yang hampir terlepas.
"Aw—" Ringisan Daniza membuat Asnee menatap wajah nya, dagu nya terdorong punggung telapak tangan Asnee saat membenarkan resleting.
"Kak Asnee—"
Asnee membalikkan badan nya, menutupi badan Daniza.
"Siapa yang akan menjelaskan kejadian ini?!" Ucap Asnee nyalang.
"Dia yang duluan kak, tanya saja pada mereka!" Jane malah memfitnah. Kevin menarik Jane ke samping nya sedangkan Robert hanya memperhatikan.
"Benar, tuan!" Para pelayan di sana malah mengangguk membenarkan.
"Mana mungkin aku membuat masalah seperti ini. Norak sekali! Tidak ada gunanya juga, bukan kak?!" Mulut nya manis sekali, lidah nya pandai bersilat ternyata.
"Nona, anda baik-baik saja!" Kevin malah peduli pada Daniza yang terhalang badan Asnee. Sedikit menggeser badan nya, Daniza mengangguk dengan tatapan dingin dan tidak peduli nya.
"Kak, kau malah bertanya kepada nya? Memang nya siapa dia sampai kau begitu khawatir! Menyebalkan!" Gerut nya tidak terima. Jane manyun dan marah layak nya anak kecil.
"Jane hentikan!" Tutur Kevin melembutkan intonasi nya.
"Bert, bawa dia!" Pinta Kevin.
"Tidak ada yang boleh pergi selangkah pun setelah aku tahu akar dari kejadian ini!" Tekan Asnee nyalang, dia tidak terima. Tatapan nya dingin sampai Robert dan Kevin begidik ngeri, mereka paham dengan tatapan itu.
"As, kita bisa bicarakan dengan baik-baik! Kasihan mereka kalau ikut terlibat dengan masalah yang mungkin bisa selesai dengan mudah nya!" Tutur Kevin, dia tidak mau kediaman Robert menjadi ramai hanya karena masalah spele.
"Aku baik-baik saja" Ucap Daniza pelan dari belakang, dia kedinginan sampai bibir pun bergetar.
"Tuh, dia bilang baik-baik saja. Kak! Lah emang dia nya aja yang begitu! Siapa memang dia, tidak tahu sopan santun sekali?! Kalau di beritahu itu jangan ngeyel, tahu orang itu ada batasan nya. Segini aku baik pada mu!"
Terus saja nyerocos, Jane mentang-mentang Daniza diam, dia berkata seenak nya seolah-olah Daniza bersalah.
Sret..
Tangan Daniza menggeser tubuh Asnee sehingga dia berdiri berdampingan.
"Bocah!" Suara ledekan yang sangat menyakiti hati Jane. Satu kata dengan intonasi kesal ke luar dari mulut Daniza membuat Kevin dan Robert seketika terpesona.
"Yaaakk" Teriak Jane, namun Daniza sudah berjalan menjauh dari area kandang.
"Kak.." Rengek Jane pada Asnee.
"Dia orang ku, kau termasuk semua orang pun harus menghargai nya!" Amarah Asnee masih belum tersulut, dia malah marah karena kepergian Daniza tanpa menunggunya.
"As, kau mau ke mana?" Tanya Robert sedikit berteriak.
Jane menghentakkan kaki nya berulang kali, dia kesal karena tidak biasanya Asnee mengabaikan dirinya seperti ini.
"Jane, kau sudah besar kenapa selalu saja membuat masalah?" Ucap Kevin.
"Bukan aku yang membuat masalah, tapi dia!" Jane masih bersikeras tidak bersalah.
"Asnee bukan orang bodoh, Jane! Dan lagi Asnee yang sekarang bukan Asnee yang dulu. Kau harus bisa membedakan itu, mengerti dan paham karena tidak selamanya sikapnya akan sama!" Tutur Kevin masih dengan suara rendah nya, karena bicara dengan Jane jika menggunakan nada tinggi maka dia akan semakin keras kepala.
"Tidak dengar!" Acuh Jane malah pergi begitu saja.
"Sabar_ " Ucap Robert menepuk pundak Kevin namun ingin sekali dia tertawa.
__ADS_1