The Future King

The Future King
Eps 31


__ADS_3

Pekarangan penuh dengan mafioso yang berbaris di depan, mereka terlihat biasa saja, namun siapa sangka dari atas sampai bawah ada senjata tersembunyi.


Mansion itu bisa di katakan aman, namun manusia tidak selama nya peka, apalagi terhadap lingkungan.


"Selamat datang kembali Aaron !!" Sapa Ruby dengan seruan nya.


Edward pun berada di sana menyambut mereka.


"Lama tidak jumpa. Senang kembali bertemu dengan anda nyonya !!"


Ungkap Aaron menjabat tangan Ruby yang terulur.


"Pa" Rayya mendekati Aaron dan melingkarkan tangan nya di lengan sang papa.


Aaron tersenyum saat wajah berseri Rayya begitu tentram.


"Putri papa" Usap nya pada pucuk kepala Rayya.


"Dia bisa jalan sendiri kali kak, tidak perlu di papah seperti itu" Ketus Asnee begitu saja melewati mereka dengan tatapan sinis nya pada Aaron.


Sikap Asnee sangat menggemaskan, dia seperti tengah merajuk sekarang. Tidak ada yang tidak memperhatikan padanya termasuk Kevin dan juga Robert.


"Dasar bocah tengik" Umpat Rayya namun dengan senyum di kedua sudut bibir nya.


Aaron menoleh. "Apa dia begitu membenci papa, sayang ?" Ucap nga mengenaskan.


"Sssttt ah, jangan ambil hati. Kau seperti tidak mengenal anak mu saja ! Ayo masuk lah!" Tukas Ruby mendahului sahutan Rayya.


Dengan langkah berat, Aaron pun masuk dengan Rayya berada di samping nya.


Kevin dan Robert terpaku di samping pintu, mata mereka tak berkedip sedikit pun sekarang. Lutut mereka benar-benar bergetar hebat seakan tidak bisa lagi menopang berat badan mereka masing-masing.


Lirikan Aaron membuat kaki nya berhenti seketikan.


"Kalian ?" Tunjuk Aaron bertanya.


"Uuhh ?" Gugup Kevin dan Robert.


"Pa, mereka teman-teman Asnee. Putra dari pak mentri pertahanan dan jendral kita di Thailand" Ucap Rayya. Aaron mengangguk paham.


"Salam Raja" Ucap Robert dan Kevin bersamaan, kedua telapak tangan mengatup begitupun pandangan lurus ke bawah.


"Punya teman juga dia !" Ujar Aaron menarik dan menghembuskan nafas nya lega.


"Baiklah mari kita ke dalam" Lanjut Aaron menepuk pundak mereka bergantian.


Bukan nya masuk, Robert dan Kevin malah semakin terpaku. Di saat semuanya sudah masuk, mereka berdua malah semakin saling pandang tak menyangka akan mendapat tepukan lembut dari sang Raja Yodrak.


"Aaaaaa gila, pokok nya baju ini tidak akan aku cuci" Ujar Robert begitu senang menggila.


"Aku akan lamitangin dan di pajang di dinding, pakai figura agar lebih indah" Kevin sama saja gila nya, seakan keberkahan dan keberuntungan tengah menaungi mereka.


...............


Tidak ada kasta, tidak ada perbedaan, keluarga mafia dan keluarga kerajaan tengah berbincang hangat sekarang. Kunjungan keluarga kerajaan benar-benar di terima dengan baik.


"Asnee sebentar lagi akan lulus sekolah dan akan melanjutkan di sekolah tinggi"

__ADS_1


"Papa tidak memaksa tapi kau harus ingat jika kau adalah penerus Papa, jadi bukankah sudah seharus nya fokus di kerajaan ?"


"Papa mu ini sudah tua, tidak bisa lagi menggenggam kerajaan sendirian. Jadi—"


Ungkap Aaron yang sepertinya masih khawatir jika Asnee tidak ingin kembali ke Thailand apalagi menjadi Raja di sana.


"Papa ini kenapa ?" Ujar Asnee santai.


Ruby, Nara dan Edward yang ada di sana saling lempar pandamg akan respon dari Asnee. Mereka paham akan ekspresi Asnee, karena kesayangan mereka bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab.


Aat seketika memebersihkan bibir nya dari potongan kue yang mengotori dengan tisu.


"Papa—"


"Heumm apa aku terlihat seperti pria tidak bertanggung jawab. Papa ?!"


Aaron membenarkan duduk nya begitupun dengan Aat, sedangkan Ruby, Edward juga Nara tengah menikmati makanan di tangan mereka, begitu santai.


"Sudah jangan berpikir berat seperti itu, nanti kerutan mu semakin banyak loh Pa!!" Rentetan gigi rapih nya terekspos, respon Asnee benar-benar di luar dugaan Aaron juga Aat.


"As—"


"Anak sama bapak sama aja" Timpal Nara membuat Aaron kembali merapatkan bibir nya.


Dari dulu ayah dan anak itu memang tidak pernah akur, hal sepele pun bisa jadi adu jotos, bahkan tidak ada yang bisa memisahkan pertengkaran ayah dan anak itu kecuali satu, hanya Rayya yang bisa setelah Nara.


Didikan yang di berikan pada Asnee tentu bukan main-main, untuk mengerti dan paham membuat Aaron lebih keras terhadapnya, untuk itu nilai pada Aaron semakin berkurang karena tanggapan berbeda dari Asnee. Kejam dan tidak peduli, kadang dia merasa ayah seperti itu dan bahkan dia merasa ayah nya lebih menyayangi Rayya di banding dirinya.


Tapi pikiran itu tidak dibiarkan berlarut-larut bahkan Rayya pun selalu menenangkan nya dan memberi penjelasan yang masuk di akal.


Asnee pun mengerti seiring berjalan nya waktu, hanya saja sifat gengsi nya lebih pekat melekat pada dirinya sehingga jarang berbincang dengan sang Ayah.


...**...


Asnee juga yang lain nya harus segera kembali ke asrama karena hari libur sudah habis.


"Biar Papa yang mengantarmu ke sana, apakah boleh ?"


Aaron duduk di pundak sofa tunggal seraya memperhatikan putra sulungnya tengah berkemas beberapa barang yang di dapat dari uncle dan juga kakak-kakak nya.


"Tentu boleh,,,,"


Raya masuk begitu saja ke dalam kamar dan terus melangkah ke dekati Asnee.


"Terserah saja" Seru Asnee sesekali menoleh pada Rayya juga Aaron-sang ayah.


"Ulululu Pangeran tampan kita masih saja ketus ya !" Goda Rayya ikut duduk di sofa mendekati Aaron.


"Ssshh bagaimana bisa papa yang ganteng ini terus di abaikan ? Wahh hanya dia saja yang berani!" Ujar nya ikut menggoda namun sorot mata menatap lurus pada Rayya.


"Cihh ganteng dari mana ? So so an segala!" Decih Asnee melirik tajam dan sibuk mondar-mandir merapihkan buku pemberian kakak nya.


Kedua sudut bibir Rayya juga Aaron melebar, mereka benar-benar gemas akan tingkah Asnee saat ini.


"Terus kau lahir dengan wajah tampan seperti itu dari mana heum ? Ya pasti gen dari papa lah, masa dari pak Jendral, kan tidak mungkin. Iya kan, sayang ?!" Seru Aaron terus menggoda, kedua alis dan juga kelopak mata nya terus bermain-main.


"Betul!" Dukung Rayya dengan kedua ibu jari tangan nya.

__ADS_1


"Dih !"


Saling goda di sana belum kelar-kelar, sedangkan di ruang keluarga tengah sibuk memepersiapkan keberangkatan Asnee juga yang lain nya.


...**...


Perjalanan Daniza masih belum tahu akan di bawa ke mana. Yang dia tahu sekarang tengah berada di dalam kapal yang tengah terapung entah ke mana.


"Wara jaga dirimu baik-baik" Ucap Daniza di dalam hati. Matanya menggerayangi setiap wanita yang ikut.


Dari banyak nya tahanan, sekarang dia di tempatkan bersama dengan tujuh wanita yang sama sekali tidak dia kenal. Berbagai usia sepertinya ada bersama nya sekarang.


Percikan air terdengar pekat, ombak kecil yang di terjang pun sangat terdengar jelas di telinga Daniza. Dia tidak bisa melihat ke luar karena sekarang tengah berada di bagian kapal paling bawah yang atas nya di tutup pintu besi.


"Kita akan di bawa ke mana lagi ?" Suara serak terdengar mengerikan. Lelah tercampur dengan sedih itu lah yang terdengar oleh Daniza.


Kedua mata indah itu menoleh pada asal suara, kaki Daniza melangkah mendekat.


"Badan mu panas" Ucap Daniza sesaat setelah meletakan punggung telapak tangan nya pada kening wanita itu.


Pasang mata yang lain terundang untuk menoleh.


Tidak ada yang diam, mereka semua ribut mencari kain yang bisa di gunakan untuk menurunkan suhu tubuh wanita itu.


Air di dalam wadah kecil di bawa oleh salah satu dari mereka.


"Ini air nya" Ucap nya meletakan di dekat lutut Daniza.


Ternyata semua nya saling peduli, entah takdir atau apa mereka semua tidak diam diri.


Daniza terus mengkompres kening wanita itu dengan telaten, sesekali membersihkan kotoran di beberapa bagian badan wanita itu.


"Siapa namamu ?" Tanya salah satu dari mereka pada Daniza.


Daniza menoleh, tatapan nya memang sedikit dingin tapi tak membuat orang yang melihat ilfil ataupun takut.


"Daniza. Kalian boleh panggil Niza saja!" Jawab nya full senyum.


Mereka semua berkenalan kecuali wanita yang tengah demam itu. Mereka berbincang hangat sesama tahanan, senyum getir kadang terpatri dari bibir mereka.


"Untuk saat ini kita sabar dulu. Arah kita belum tentu sebelum melihat keadaan langit di luar sana ! Bisa jadi akan ada kebaikan setelah ini"


Tutur Daniza lembut, begitu kuat dan sabar.


"Tapi kami tidak sama seperti dirimu, Niza!" Ucap salah satu dari mereka menimpali.


"Memang ! Apakah sedari tadi aku ada mengatakan kita semua sama ? Tidak, Alda !"


"Memang kita sama-sama tahanan, kita hidup juga di bawah langit yang sama dan di atas bumi yang sama tapi Alda, bukankah takdir dari Tuhan berbeda?"


"Bisa saja di masa depan kau akan jauh lebih baik dari sekarang"


"Makanya kita harus kuat menjadi seorang perempuan, saling menguatkan adalah tugas kita di sini"


"Arah yang belum tentu, tidak akan membuat kita semua gentar"


"Setelah ini apapun yang terjadi, kita akan saling berjanji untuk bertahan hidup ! Bukan demi siapapun, tapi demi diri kita sendiri dan orang yang kita cintai"

__ADS_1


Daniza terus mengeluarkan rangkaian kata yang reflek tidak ada dalam otak nya, semua nya keluar begitu saja dari mulut. Tangan nya menggenggam tangan Alda seraya menguatkan


"Wara bertahanlah!" Batin nya berucap.


__ADS_2