
Berjalan menuju perpustakaan besar di dalam mansion, Asnee meraih buku yang akan dia baca. Jendela bulat di lapisi tralis menjadi tempat dirinya berhenti.
Asnee menarik kursi dan di hadapkan pada arah pemandangan di luar dan tentu langit begitu cerah namun semilir angin tak membuat surya begitu panas terasa.
"Daddy memang paling bisa menempatkan jendela" Kekeh nya tipis-tipis memuji Edward, karena dia yang merancang bangunan perpustakaan agar tidak membosankan.
Setiap bacaan dia resapi, mata nya tidak lelah terus saja menelanjangi setiap kata yang berentetan di dalam buku itu sesekali dia menatap pemandangan di depan nya.
Huffhh
Tarikan nafas terdengar dalam, Asnee melirik jam dinding di samping nya dan alangkah heran nya dia kenapa juga daddy nya memajang jam yang sudah tak berdetak.
klatak
klatak
klatak
Derap langkah berirama, Asnee menoleh, menggeser kursi ke belakang agar dia bisa berdiri dengan sempurna.
"Anak nakal ! Apa kau sama sekali tidak ingin melihat Papa mu, eum ?!"
Rayya berjalan mendekat, sudah rapih dan wangi, cantik seperti biasa.
Asnee menaikkan satu alis nya, dia tidak mengerti apa yang sedang kakak nya itu katakan.
"Memang nya kau ingin sekali bertemu dengan nya ? No no, itu mustahil" Celetuk nya menggoda.
Asnee meletakkan buku nya ke rak semula dan pada barisan yang sama.
Raya menyipitkan kelopak matanya dengan tangan kecak pinggang.
Kedua alis nya naik seakan mengatakan Asnee harus mengulang kembali perkataan nya barusan.
"Hehehe lidah ku terpeleset kak !" Cengir nya kembali membalikkan badan dan berjalan cepat ke arah pintu.
"Yaaak bocah sialan, kemari kau ! Aku sedang berbicara dengan mu"
Rayya berteriak sesekali menunjuk seakan-akan sedang menggapai baju Asnee.
Langkah Asnee semakin cepat, dia tidak ingin mendengar ocehan kakak nya, karena bagaimanapun sekarang kakak nya itu jadi cerewet.
Huffhh
Rayya meniup helaian rambut yang menghalangi pemandangan nya.
...**...
Langkah Asnee terhenti di ujung tangga atas saat dirinya hendak turun.
__ADS_1
Di bawah sudah ramai entah mau ke mana mereka, terlihat pula Robert dan Kevin tengah menjaga anak-anak.
"Papa dan Paman akan datang ke sini, Mama Nara yang mengatakan nya tadi".
Asnee kasar membalikkan badan nya ke arah Rayya yang tengah melipat kedua tangan nya di depan perut.
"Kenapa mendadak ? Biasa nya juga mereka akan memberitahuku, kak. Kenapa sekarang tidak ?!" Ujar nya menyelidik sesekali melirik orang-orang di bawah.
"Pasti ada alasan nya kenapa tidak ada info yang sampai pada kita dan bukankah itu bukan masalah ? Seperti nya akan sia-sia juga jika kau tahu !"
Seru Rayya sesekali menggoda Asnee.
Wajah Asnee sedikit memerah, seperti gadis yang tengah malu dan seperti gadis yang tengah menahan amarah.
"Hahahaha kakak becanda, tampan!"
Rayya malah tertawa dan mengacak rambut Asnee dengan berjinjit.
"Oh iya kak, masalah pengolahan anggur dan lukisan ibu suri apa sudah ada informasi lebih lanjut ? Sepertinya kasus ini tidak begitu mudah"
Asnee meraih tangan Rayya agar tak lagi mengacak rambut nya, sekarang dia malah memainkan jari jemari Rayya namun tatapan nya serius.
"Kakak pun belum ada info ! Tapi masalah ini lebih baik kita sendiri yang turun tangan"
"Masalah nya posisi kita sedang berada jauh dari istana dan jika hanya mengandalkan kaki tangan, kita tidak akan tahu lebih dalam"
Tutur Rayya menyenderkan tubuh nya, sesekali mata nya seakan ikut berpikir.
"Papa dan Paman apa benar-benar tidak tahu soal ini ? Aku pikir ini tidak mungkin kak !"
"Keadaan istana memang sedang tentram tapi itu hanya terlihat nya saja di luar ! Aku yakin Papa dan Paman sedang menangani ini"
"Sshh tapi kenapa tidak pernah ada kabar ?" Lanjut nya di akhiri dengan rasa heran, soalnya dari beberapa tahun terakhir ini mereka menangani apapun dengan lembut dan santai, seakan bukan gaya dari Papa dan Paman nya.
Adik Kakak itu masih berbincang sampai tidak sadar jika Mama Nara sudah berada di sekitar mereka.
Nara melipat kedua tangan nya, berdiri tegap sesekali melirik bergantian putra putri nya yang begitu serius.
"Ekheemm"
Deheman Nara sangat keras sehingga kedua nya kaget.
"Astagaa, Mam!"
Teriak Asnee kesal. Rayya mengelus dada nya dan berdiri tegap namun perangai nya masih belum fokus.
"Ma" Rengek Rayya dengan nafas seperti orang yang baru saja ke-gap.
"Hahaha salah kalian, kenapa begitu serius sih !"
__ADS_1
Tawa Nara terbahak, begitu geli dengan wajah kedua anak nya sampai air mata pun ke luar tanpa permisi.
"Apaan si, Ma!" Kesal Asnee berjongkok lucu.
"Astaga Asnee, gitu doang kok kaget. Kau ini lucu sekali"
Nara pum ikut berjongkok dan mencubit kedua pipi Asnee gemas. " Bersiap-siaplah, kita jemput Papa mu di perusahaan Shane"
Ucap Nara membantu Asnee berdiri.
"Kenapa di sana, Ma ? Lagian biarkan saja mereka, toh sudah tau mansion ini juga, kan !" Ujar nya lalu berkilah seakan tidak peduli dan sangat malas.
Nara melirik Rayya, mereka berdua sudah tahu betapa gengsi nya Asnee kalau merajuk pada Papa Aaron.
"Oh ayolah pangeran, kau ini kenapa ?" Ledek Rayya.
"Kakak" Tukas Asnee jengkel.
"Hahaha" Rayya dan Nara malah tertawa geli karena respon Asne masih sama dengan sewaktu masih kecil.
...**...
Satu Helikopter mendarat di atas perusahaan yang sekarang di pimpin oleh Shane, Lu'an Company yang masih berdiri kokoh dan berkembang pesat dari tahun ke tahun.
Terlihat Aaron mengenakan Jas berwarna hitam diikuti turun oleh Aat mengenakan jas Abu tua melekat pada tubuh gagah mereka.
Potongan rambut yang terkini membuat kesan mereka masih terasa muda dan fresh, di tambah kacamata hitam pun bertengger di atas hidung mereka.
Sebelum kembali terbang, para pengawal memberi hormat pada mereka berdua dan tidak ada seorang pun pengawal yang tinggal, karena setelah Aaron dan Aat menginjakkan kaki mereka di tanah yang di kuasai oleh Red Phoenix maka keamanan mereka benar-benar terjamin.
"Selamat datang kembali, Tuan Aaron" Ucap Shane sedikit membungkukkan badan nya.
"Apa yang kau lakukan ? Apa sekarang aku begitu menakutkan sampai-sampai adik dari nona Nara membungkuk ?!" Seru Aaron tertawa ringan sesekali menepuk punggung Shane.
Aat pun ikut tertawa ramah.
"Ssshh aneh! Mana tatapan tajam yang biasa kita dapatkan itu" Goda Aat.
"Hehehe bukan aku kalau seperti itu ! Itu tatapan Sean. Aku lain lagi, aku itu anak baik, tidak pernah menatap tajam !" Ujar Shane bernostalgia.
"Sama saja hahaha" Giliran Aat yang menepuk punggung Shane.
Mereka bertiga di tambah pengawal khusus dari mafioso Red Phoenix berjalan ke arah pintu untuk turun.
"Dia tidak di sini ?" Ucap Aaron. Shanee mengerti ke arah mana pertanyaan nya.
Lift pun mereka masuki dan nomor lantai paling dasar Shane tekan.
"Tadi belum ada, tapi entahlah ! Dia jadi lelet kalau sudah berada di mansion Mommy" Ujar Shane mangut-mangut sesekali menghembuskan nafas nya.
__ADS_1
"Betapa manis nya jika dia manja kepada ku" Ucap nya pelan seakan hal itu tidak mungkin, terdengar pula tawa sedih dari bibir nya.
Aat dan Shane menoleh pada Aaron, mereka tidak ada yang merespon atau sekedar menenangkan. Sifat Asnee siapa yang tidak tahu, dia terlalu kentara memperlihatkan semua nya, namun untuk akhir-akhir ini dia semakin tidak ke tebak.