
...**...
Brukk
Brughh
Duaaghh.
Tubuh kecil itu seperti kapas, di angkat dan di banting, terus seperti itu berkali-kali
"Arrghh hiks hiks hiks"
Jeritan dan suara dengan nafas singkat terus terdengar pengap. "Aarghhh hentikan" Jeritan dengan suara rendah, menandakan jika itu benar-benar sakit sampai dia tidak bisa menjerit dengan keras.
"Sakit, heum?"
"Cuiihh tapi ini belum seberapa atas sakit yang kau berikan pada putra saya!" Teriak Nara, penekanan nya sangat sarkas dan tajam.
Cengkraman di leher masih saja erat. Rambut panjang Lukyanova berantakan seperti orang gila akibat goncangan yang dia dapat dari Nara.
"Kau mencoba membunuh putra saya, gadis sialan!!" Teriak Nara. Marah, sakit hati bersatu padu, dia tidak terima putra nya di perlakukan seperti binatang yang mudah di jinakkan, di bunuh dan di manfaatkan.
"Siapa maksud anda?" Dengan sisa tenaga dan kesadaran, Yaya bertanya.
Tatapan tajam Nara semakin menusuk pandangan Yaya.
"Masih bertanya? Kau memang sinting, Lukyanova! Kau pikir sedang memanfaatkan siapa, hah? Kau pikir putra ku apa, hah? Dia mencintai mu tapi kau malah memanfaatkan nya demi tujuan busuk mu itu!"
"Jangan mengira saya tidak tahu apapun mengenai anda!"
"Tch tch tch! Tadinya saya tidak akan ikut campur akan apa yang sedang di lakukan oleh Asnee, tapi tidak jika tentang nyawa! Kau harus mati. Gadis sialan!"
Duaghh
Sekali lagi, Nara mendorong tubuh Yaya sampai menubruk dinding sampai-sampai debu berterbangan.
Ukhu
Ukhu
__ADS_1
Ukhu
Yaya terbatuk sampai keluar darah. Bekas luka belati di leher nya pun semakin terbuka.
"Psikopat"
Wajah yang seakan sudah tak berparas, darah segar dari segala sudut bercucuran. Yaya sudah berantakan, jika yang melihat akan meringis dan ketakutan dengan apa yang dilakukan oleh Nara.
"Arrghhh"
Jeritan semakin terdengar, Nara tidak segan menginjak dada Yaya dengan sepatu ket nya.
Lucky yang baru saja tiba setelah mengamankan dua supir kaget saat sampai di kediaman melihat mafioso yang berjaga hanya tunduk berjajar di depan pintu.
Brakk
Suara kayu patah memekik telinga. Lucky anpa hadangan pun langsung membuka pintu masuk.
Pranggg
prangg
Kursi patah, lemari kaca dan lampu duduk, semua nya hancur. Di atas lantai pun darah segar berceceran.
Semakin ke sudut, mata Lucky menangkap keberadaan seorang gadis meringkuk dengan wajah sudah tak berparas, rambut yang berantakan. Luka di sekujur tubuh nya pun masih terlihat baru dan menganga.
"Nara" Reflek Lukcy berlari ke arah Nara yang masih hendak menimpa Yaya dengan botol wine.
"Arghhhh paman lepas" Teriak Nara mengguncang tubuh Lucky yang mengunci tubuh nya. "Lepas, aku akan membunuh nya! Berani sekali dia menyakiti kesayangan ku!" Teriak Nara seperti orang kesetanan. Mata nya memerah dan tenaga nya seakan masih penuh.
"Nara hentikan!" Lucky masih menahan Nara.
Ringisan terdengar pilu, rintihan kecil pun menyayat hati. Sepertinya luka yang di berikan Nara begitu mengerikan, sampai Lucky pun menelan ludah.
"Tidak paman, aku tidak terima!" Nara masih kekeh. Lucky pun tidak melihat Leyka bersama dengan Nara, seharusnya ada karena mereka menjadi sukarelawan di Afrika, tapi kenapa hanya Nara, di mana Leyka? Seharusnya mereka pulang bersama.
Tempat tunggu pasien kembali gaduh, Kenzie masuk setelah mendapati informasi dari mafioso yang berjaga di rumah.
"Ruby gawat" Kenzie berteriak sampai nafas nya pun tersengal.
__ADS_1
"Ada apa, Ken?" Edward mendahului.
"Nara mengamuk! Gadis it—"
Belum juga selesai melapor, Ruby dan juga yang lain nya bergegas meninggalkan rumah sakit. Rayya yang baru saja kembali dari kamar kecil bertanya-tanya kenapa semua orang berlarian.
"Tuan putri, ini buah nya!" Ucap Daniza.
"Mereka mau ke mana?" Heran Rayya sembari membenarkan lengan baju nya. Daniza pun ikut melihat ke arah tatapan Rayya, tanpa menerima bingkisan buah itu.
Ahan berdiri di belakang. "Nara! Dia mengamuk. Itu yang di ucapkan paman tadi"
Rayya membalikkan badan nya, Ahan sedikit mundur agar Rayya tak menubruk nya. "Nara?" Ucap Rayya kembali. Ahan hanya menaikkan kedua alis nya.
"Astaga mama!"
"Han, Ayo antarkan saya ke sana!"
Rayya menarik tangan Ahan, pria dingin tak berekspresi itu nurut saja.
"Buah nya?" Ucap Daniza celingak-celinguk sampai kedua matanya tak mendapati punggung mereka.
Di tengah kebingungan nya di depan pintu ruang rawat.
"Nona" Tangan seseorang menyentuh bahu nya.
"Iya?" Sahut Niza.
Dua tiang infusan berdiri bersampingan, dua pria berbaju pasien ternyata pemilik tiang infusan itu.
"Benar ini ruangan Asnee?" Tanya Kevin. Daniza mengangguk sembari memeluk parsel buah di tangan nya.
"Benar tuan. Tapi maaf, Pangeran sedang istirahat! Di dalam pun ada Raja Aaron tengah menemani, Pangeran!" Tutur Daniza sopan.
Kevin juga Robert saling lempar tatap saat mendengar Raja mereka pun ada di dalam. "Begitu kah?"
Daniza mengangguk. "Eum kalau tuan putri sedang ke luar" Ucap Daniza.
"Kalau begitu kami akan kembali lagi nanti! Kami permisi" Ucap Kevin. Mereka berdua kembali mendorong tiang infus masing-masing.
__ADS_1
"Orang-orang aneh" Ujar Daniza memilih duduk di kursi tunggu.