
Di dalam ruang pribadi Asnee, Daniza tengah membersihkan setiap sudut dengan telaten. Walaupun dia sudah tersemat sebagai calon istri dari sang Pangeran, namun dia tidak lupa dengan tugas nya sebagai pelayan istana.
Blukk
Daniza terperanjat kaget, sikut nya tidak sengaja menjatuhkan sesuatu di tepian rak yang tertata buku dengan sangat rapih.
Buku itu terbuka dan di sela kertas terdapat secarik kertas yang terlipat, dari kondisi kertas itu sepertinya masih baru. Lengan jenjang itu pun mengambil nya, menahan buku di antara tangan dan ketiak sedangkan secarik kertas yang terlipat itu dia buka.
"Bibi Yu? Ini alamat rumah Bibi Yu!" Gumam Daniza, dia semakin mengerutkan kening nya. Ada dua alamat di kertas itu dan satu lagi tempat yang asing di mata Daniza.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Suara Asnee menekan, derap langkah nya pun terdengar cepat. Daniza buru-buru kembali menyimpan buku itu ke tempatnya.
"Saya tengah membersihkan rak ini, Pangeran!" Daniza mencoba untuk tidak kaget dan tenang menjawab pertanyaan Asnee.
Tatapan Asnee masih meminta jawaban. Daniza menggeser tubuh nya dan menarik alat pembersih lantai dan kembali bekerja.
Asnee tidak beranjak, dia masih menatap Daniza dengan lekat tanpa membiarkan sedikitpun kedipan mata terlewat.
Setelah selesai, Daniza pun kembali ke luar dan menuju dapur merapihkan peralatan bersih-bersih nya di sana.
Keringat dan rambut yang nampak tidak rapih lagi masih menjadi perhatian seseorang. Ahan memperhatikan walau kini dirinya berdiri di belakang Rayya yang tengah duduk berbincang dengan salah satu teman nya dari kalangan bangsawan.
"Niza" Kedua tangan menggapai kedua pundak Daniza.
"Ning kau mengagetkan saja!"
Masih mengibaskan tangan nya di leher sesekali menarik-narik baju nya agar angin masuk ke dalam.
"Mau ikut engga? Aku dan kepala dapur mau belanja kebutuhan bulanan ke pasar!" Seru wanita itu mengajak Daniza seperti biasa.
Niza melirik wanita itu, menghentikan aktifitas nya saat mendengar ajakan. "Ikut ikut. Kapan?" Ujar Daniza.
"Sebentar lagi! Kau cepatlah ganti pakaian mu" Ucap nya menarik Daniza lalu mendorong tubuh nya agar lebih cepat mengganti pakaian.
Ahan pun dari jauh mengerutkan kening nya, penasaran apa yang akan dilakukan Daniza.
Sekitar tiga puluh menit, Daniza pun sudah mengganti pakaian nya, terlebih hari ini tugas nya sudah selesai jadi dia bebas.
Kepala dapur, Ning dan Daniza sudah melewati gerbang masuk istana, mobil pun sudah terparkir di sana.
__ADS_1
"Tunggu" Ahan dengan langkah cepat nya menahan Daniza.
"Eh tuan Ahan" Ning yang memang menyukai Ahan dari awal datang selalu saja centil. "Anda mau ikut juga? Ayo, kami akan senang jika anda ikut!" Ucap Ning memegang kedua pipinya sendiri dengan warna di permukaan memerah, saking suka nya pada Ahan.
"Ada apa?" Tanya Daniza.
"Kau mau kemana?" Tanya Ahan pelan. Daniza menoleh pada Ning juga Kepala Pelayan sejenak dan kemudian menoleh pada Ahan kembali.
"Aku mau ke pasar dulu. Aku ikut dengan mereka! Sekalian ada yang ingin aku beli" Jawaban Daniza memang benar, tapi tujuan utama nya bukan itu. Manik mata Ahan nampak masih mencari jawaban yang benar.
"Beli apa?"
Belum Daniza menjawab, Ning sudah lebih dulu memotong pembicaraan. "Tuan Ahan kalau mau ikut, ayo! Kami akan senang jika kau ikut" Suara centil Ning masih tersemat. Kepala Dapur yang mendengarnya pun hanya menggelengkan kepala dan segera masuk ke dalam mobil.
"Ayo" Dari dalam, Kepala Dapur menarik tangan Ning.
"Bye bye" Seru Ning.
"Sebentar" Ahan mencekal tangan Daniza.
"Apa lagi?" Daniza mulai kesal dengan Ahan.
Mobil yang ditumpangi Daniza pun berangkat, Ahan kembali ke dalam menghampiri Rayya masih terlihat berbincang ria dengan teman nya.
"Tuan maaf, anda melihat nona Daniza di sekitar sini tidak?" Karl menghampiri, dia mendekati Ahan dan bertanya.
"Tadi saya melihat dia ke luar bersama dengan kepala dapur hendak belanja untuk keperluan" Sahut Ahan seadanya.
"Baik, terimakasih!" Karl kembali pergi setelah mendapat informasi dari Ahan.
Di pasar, Daniza, Ning serta kepala dapur pun mulai memilah milih berbagai bumbu masak. Saat tengah memilah-milih, Daniza pamit pada mereka sebentar.
"Kita ketemu di tempat parkir saja, Ya! Aku da Kepala Dapur nunggu di sana" Ucap Ning melambaikan tangan nya mengkode Daniza. Daniza pun mengangguk.
Bola mara mengedar, manik mata melihat-lihat area sekitar.
"Di depan tempat tinggal bibi Yu, aku harus ke arah mana mencari alamat selanjut nya!" Batin Daniza terus menggumam.
Kembali Daniza membuka kertas yang ternyata tidak dia selipkan kembali pada buku itu.
__ADS_1
Lama dia berjalan, ternyata dia sudah menjauh dari pasar itu. "Di mana ini?" Gumam Daniza, tapi tanah yang dia pijak pun sangat ramai seperti pasar juga, namun ada salah satu pintu seperti gerbang masuk ke dalam.
Daniza ikut bersama dengan kerumunan itu dengan berdesakan.
"Ayo cepat, akan ada banyak barang bagus yang di jual di pasar itu"
Banyak orang bersemangat masuk ke sana, entah barang apa yang di jual di pasar dalam itu.
"Argh" Daniza mendesis, kaki nya terinjak pria bertubuh besar.
Tidak ada perkataan maaf, mereka malah semakin menginjak kaki Daniza dan berusaha masuk ke dalam karena suara pintu terdengar hendak tertutup.
"Tidak tidak, aku harus masuk ke dalam" Gumam Daniza. Dia berdiri dengan benar, menyeret kaki nya yang memar menuju pintu yang semakin tertutup.
Permukaan wajah nya sudah kotor, keringat pun keluar dari setiap sudut tubuh nya. Daniza membenarkan ikat rambut nya dan akhirnya sampai di dalam dan pintu pun tertutup rapat.
Berjalan sendiri, mengedarkan tatapan nya. Tempat asing yang dia pun tidak percaya jika ada suatu tempat seperti itu di dekat kerajaan Yodrak.
"Mari merapat, ayo lihat-lihat barang kami" Teriakan demi teriakan seorang penjual menawarkan barang mereka. Banyak orang dan suasana pun pengap.
Daniza terus menyeret kaki nya memar sampai di mana dia berdiri di depan bangunan tua namun nampak bersih dan terurus. Lampu di setiap jendela nampak pula masih menyala, padahal hari sudah siang.
Beberapa orang masuk, menunjukkan sebuah kartu kepada dua penjaga di depan pintu. Terlihat dari pakaian yang dikenakan pun Daniza sudah bisa menebak mereka berasal dari kalangan atas.
"Tunjukkan kartu tanda pengenal anda serta marga anda" Tahan penjaga itu dengan tingkat hitam kecil di tangan.
Daniza diam, dia tidak bawa apa-apa kecuali uang dan kertas. Handphone yang di kasih Asnee pun dia tinggal di kamar, dia tidak terbiasa dengan handphone karen sebelum nya saat bersama orang tua pun dia terlalu mementingkan itu.
"Jika tidak punya, silahkan pergi dari sini!" Usir penjaga itu. Daniza pun kembali menuruni anak tangga.
Masih mengelilingi bangunan itu, Niza penasaran dengan yang ada di dalam sampai akhirnya dia menemukan pintu usang dan sudah di gerayangi tumbuhan berakar kecil di setiap sudut bangunan.
Ukhuu
Ukhuu
Ukhuu
Debu berterbangan, memekakkan hidung sampai Daniza bersin berkali-kali. Perlahan dia melangkah karena keadaan ruangan yang gelap, jaring laba-laba, lumut dan juga debu sangat tebal, sepertinya sudah tidak terurus tidak seperti yang ada di depan tadi.
__ADS_1