The Future King

The Future King
Eps 41


__ADS_3

Kejadian semalam tak henti-henti nya menjadi perbincangan, penyusup yang masuk ke dalam tidak ada yang tertangkap satu pun karena Karl dan anak buah nya langsung menuju ke kamar Asnee.


"Asnee kemari lah!"


Ratu terdahulu yang sekarang biasa di panggil Ibu Suri itu merasa gelisah. Ayunan tangan nya memanggil sang cucu dengan langkah kaki tipis.


Asnee menatap kedua Ayah dan juga Paman nya bergantian terlebih dahulu, seperti bertanya ada apa dengan nenek nya.


"Mana coba lihat, apa kau terluka?" Jari jemari sang nenek menelisik setiap sudut wajah Asnee dengan baik. Pancaran mata khawatir nya pun tak henti terus menyelimuti.


"Aku baik-baik saja, nek! Kau tidak perlu khawatir" Ucap Asnee hangat seraya mendekap halus tubuh sang nenek.


"Nenek senggang hari ini? Rasanya sudah lama tidak tidak berbincang lama dengan,nenek!" Seru Asnee menyematkan senyum tipis nya.


Ya, hanya Asnee dan Rayya yang berani bertingkah seperti itu di hadapan sang Ibu Suri dan lagi sikap mereka tidak membuat ibu Suri protes.


Di istana Olaf, di mana di sana tempat sang Ibu Suri tinggal Asnee duduk menyandarkan punggung nya di kursi ditemani teh hangat khas kerajaan.


Ibu Suri pun duduk, di bantu oleh pelayan setia nya.


"Nenek tahu apa yang sedang kau pikirkan, As! Tapi masalah itu tidak boleh menjadi beban mu. Hanya saja, peninggalan kakek buyut mu sangat berarti untuk ku"


"Sebelum semua nya clear dan kembali baik, nenek mengharapkan kamu menyelesaikan nya! Maaf kalau menyusahkan mu"


"Nenek tidak mau menambah beban, tapi sepertinya hal itu hanya hal tabu bagi kita"


"Nenek tidak tahu siapa yang berani sedang bermain-main di istana ini, tapi sangat yakin seratus persen jika mereka mulai mengacau"


Ibu Suri duduk rapi, tongkat penopang nya dia gunakan untuk menopang dagunya sekarang, kedua mata menatap hamparan tanah luas dengan rumput pendek hijau yang terayun terkena hembusan angin.


"Kenapa nenek sangat yakin jika pelakunya orang istana?" Tanya Asnee menyipitkan mata nya.


"Berkaca dari masa lalu. Sudah bertahun-tahun setelah kejadian mengerikan itu, nenek sudah tidak percaya dengan orang-orang istana termasuk putra nenek sendiri ! Mungkin untuk kata itu terlalu sombong dan menyakitkan, tapi selama nenek hidup, waspada dan hati-hati harus tetap menjadi pagar diri"


"Sudah tua renta, tinggal menunggu Tuhan memanggil memang sangat nenek tunggu. Namun Asnee, bukankah sebelum itu, nenek harus menjadi manusia yang baik?!" Ujar sang nenek kembali.


Asnee mendengarkan, menyimpan semua perkataan dari mulut sang nenek dengan baik nya.


"Nek, bolehkah Asnee tahu siapa sebenarnya bibi Mali? Maaf jika pertanyaan ini sedikit privasi ataupun menyinggung, tapi Asnee hanya tahu jika paman Aat menikah karena di jodohkan?!"


Ibu Suri membenarkan duduk nya, menoleh pada Asnee dan membiarkan senyum renta itu terulas.

__ADS_1


"Keluarganya banyak berjasa untuk kerajaan terutama Kakek nya"


"Mereka bahkan tidak segan pasang badan untuk kita! Jika di sejajarkan kedudukan mereka sama dengan jendral tertinggi di istana dan hakim istana"


"Aaron sudah menikah, untuk itu putrinya kami nikahkan dengan Aat"


Tutur nya, pandangan sang nenek lurus ke depan seakan tengah kembali ke masa lalu. Ingatan nya masih tajam walau kulit nya telah berkeriput.


Asnee hanya mengangguk paham, dia tidak lagi banyak bertanya hanya saja kini otak nya tengah memikirkan semua kemungkinan yang ada bersama dengan bukti yang di dapat.


...**...


Asnee berbaring di atas kasur nya dengan kedua kaki bergelantung menapaki lantai, objek nya sekarang hanyalah atap putih namun seakan penuh dengan jawaban.


Dugaan nya sekarang adalah, Jeno kekasih Mali sebelum menikah dengan paman nya dan sepertinya tidak ada yang tahu hubungan di antara mereka termasuk Aat selaku teman dekat Jeno.


Dan untuk mengamankan posisi, mereka telah menyusun rencana ini dengan matang tapi sepertinya ada minus dari rencana mereka . Mereka juga melakukan penggelapan dana dari dua bisnis istana dengan sangat rapi, lalu untuk lukisan asli itu mereka bawa ke mana?.


Di ruang makan, Aaron dan juga yang lain nya sudah duduk di tempat masing-masing dan tidak lama terlihat Asnee datang.


Saat hendak duduk, Asnee kembali melihat Jeno sudah ikut bergabung di tempat makan.


"Uuh?" Respon nya reflek sedikit membenarkan lengan kemeja panjang nya.


Ternyata yang lain pun baru sadar akan luka di tangan Jeno. Mali menelan ludah nya pelan, sedikit keringat pun ke luar.


"Uuh tadi ini terbentur tuas pintu karena gelas yang di pegang licin"


Ada luka di pergelangan tangan Jeno, membekas coklat kemerah-merahan seperti luka itu masih baru. Mata Asnee sangat jeli.


Mali menyipit tajam, tatapan nya seakan hendak menerkam tubuh Asnee.


"Lain kali berhati-hatilah, Jen!" Tukas Aat, dia memulai suapan pertama di ikuti yang lain. Asnee menyunggingkan salah satu bibir nya dan mulai menyantap masakan di depan nya.


Setelah beberapa saat, mereka berkumpul di ruang keluarga khusus untuk anggota kerajaan. Asnee kembali melirik Mali.


"Bibi," Ucap Asnee. Mali pun menoleh begitupun yang lain nya.


"Ada apa Pangeran?" Tanya Mali dengan senyum ramah nya.


"Bibi bolehkah aku lihat anting bibi yang nenek berikan? Aku ingin membuat nya juga untuk hadiah Kak Rayya nanti! Aku janji hanya melihat rancangan nya saja" Ucap Asnee seperti anak kecil yang tengah meminta, tapi tentu saja itu adalah akting nya saja.

__ADS_1


"Benar juga,sayang! Aku sudah lama tidak melihatmu mengenakan anting pemberian, ibu!" Timpal Aat.


Mali tergagap, dia tidak menyangka Asnee akan berbicara seperti itu. Dia takut karena anting satunya lagi hilang entah ke mana, dia pun tidak tahu.


"Uuh haha, ada sayang!"


"Aneh saja, biasa nya kau selalu mengenakan anting itu, tapi sepertinya aku lihat kesukaan mu perlahan berubah. Sayang!" Seru Aat tanpa kecurigaan apapun. Sang ibu dan juga Aaron yang ada di sana pun menatap dengan rasa penasaran.


Asnee mengangguk tipis dengan sunggingan bibir yang juga tipis sehingga tidak akan ada yang bisa membedakan antara dia sedang tersenyum atau tersenyum smirk.


"Bibi bolehkah?" Asnee mengulangi permintaan nya.


Mali menatap Asnee juga Aat, senyum palsu nya terbit seketika.


"Tentu saja boleh, nanti bibi bawakan untuk mu! Tapi tidak dalam waktu dekat ini karena anting-anting cantik itu sedang di bersihkan dan di perbaiki dahulu! Ada lecet sedikit di bagian wadan berlian nya"


"Maaf ibu"


Tutur Mali merasa bersalah pada ibu mertua nya dan sesekali melirik Asnee juga Aat.


'Wah hebat' Batin Asnee menyeru dengan perkataan dari Mali.


"Tidak apa, sayang! Semua orang di sini tahu jika kamu sangat menjaga barang-barang mu" Ucap Rataporn.


"Asnee maaf ! Nanti jika sudah selesai, bibi akan membawakan nya pada mu. Bagaimana?!" Mali terus menjilat, lidah nya benar-benar bisa memutar balikkan fakta. Ternyata polos nya itu memang hanya dia kenakan sebagai topeng saja. Asnee benar-benar bisa menilai nya sekarang.


"Tidak apa bibi" Ucap Asnee tanpa membuat orang curiga.


"Kenapa kau tiba-tiba ingin memberi kakak mu hadiah? Perasaan hari lahir nya masih lama" Heran Aaron. Terutama Mali, dia sangat penasaran.


"Aku tidak memberi hadiah untuk kakak di hari lahir nya saja, papa! Haruskah saat hari lahir nya saja? Tch tch apa hanya aku yang menyayangi kak Raya"


Ucap Asnee di selingi godaan di akhir kalimat. Tentu saja, mereka semua hanya melebarkan kelopak mata mereka. Mana ada Asnee berbicara dengan nada menggoda, biasanya juga dingin dan cuek.


"Ah sudahlah! Aku istirahat lebih dulu! Salam" Asnee berdiri dan berpamitan dengan sopan.


Pasang mata di sana masih memperhatikan kepergian Asnee sampai di mana punggung sang pangeran tidak lagi terlihat.


"Ada apa dengan anak itu?" Heran Aaron.


"Aku tandai tanggal ini sebagai hari baik" Timpal Aat dengan gayanya karena sikap Asnee yang tidak seperti biasa nya. Mali menghembuskan nafas nya yang sesak dan dia kembali menghirup udara segara setelah kepergian Asnee, namun tanpa dia sadari kelegaan itu akan lenyap sebentar lagi.

__ADS_1


__ADS_2