
"Sayang nya Papa. Kenapa pulang kuliah cemberut kaya gitu?" Sang papa yang tengah membaca sebuah berita terundang untuk bertanya karena Jane duduk dengan menjatuhkan tubuh nya di sofa.
"Cih! Aishh aku kesal, Pa. Sejak kapan kak Asnee punya calon coba? Dia baru selesai belajar di Swedia dan tidak mungkin langsung memiliki calon kan?" Gerut nya. Jane memcebik kesal saat ini, manja dan tidak bisa kalau keinginan nya tidak terpenuhi.
Sang Mama mencolek suaminya dari belakang dan baru saja menghampiri.
"Kenapa?" Tanya nya dengan hanya gerakan mulut seraya sorot mata mengarah pada Jane. Papa Anon membalas pertanyaan sang istri dengan sorot mata mengikuti.
"Patah hati sepertinya, Ma!" Seru Papa Anon peka dan mengerti ke arah mana perkataan dari putri nya-Jane.
"Adududduu jangan cemberut kaya begitu dong, nanti Pangeran Asnee malah jadi kabur loh, sayang!" Peluk Mama Aom pada putrinya itu.
Papa Anon dan Mama Aom tidak terlalu menanggapi serius keinginan putrinya, mereka itu keluarga bebas dan tidak terlalu memaksakan kehendak, mereka tahu posisi dan sudah bahagia dengan apa yang mereka miliki saat ini.
"Ma, Pa, jodohkan aku ya, ya! Please!" Pinta nya mengatupkan kedua tangan, pipi merah dan mata sedikit nanar karena kesal tadi.
Mata Mama Aom dan Papa Anon saling lempar tatap.
"Astaga Kenapa kau tidak mengatakan ada rapat dadakan hari ini?" Mendadak, Papa Anon menatap tajam asisten nya yang baru saja datang menghampiri, membuat mimik wajah nya nampak kebingungan dengan perkataan sang majikan.
Mata Papa Anon terus mengkode dan untung nya sang asisten mengerti. "Jam tiga sore klien akan sampai di hotel x, mari!" Ucap sang Asisten sambil mengecek jam di tangan nya.
"Hahahaha, Sayang nya papa, cinta nya papa, papa berangkat dulu ya!" Beringsut Papa Anon pergi dari area ruang keluarga.
Mama Aom sudah tidak bisa diam kala suami nya telah pergi.
"Ma" Jane masih merengek.
"Halo iya?" Dari belakang, Mama Aom menarik handphone nya langsung ke daun telinga.
"Astaga saya lupa, tunggu di sana jangan kemana-mana!" Ujar nya lalu berdiri. Jane menggapai ekspresi wajah ibu nya, menengadah lurus ke atas.
"Apa?" Sambut Jane dengan wajah sinis. Mama Aom tersenyum manis namun terkesan canggung.
"Sayang, Mama juga sudah ada janji sama klien! Kalau begitu mama ke luar dulu, ya! Istirahat saja dulu, nanti kalau bosan telpon saja kakak sepupumu" Ucap Mama Aom langsung pergi juga.
"Ishh, selalu saja!" Umpat nya ketus.
"Non, bibi masakin cumi tumis kesukaan nona! Silahkan!" Ucap seorang ART di sana.
"Tidak nafsu" Seru Jane menghentakkan kaki nya lalu berdiri dan pergi ke kamarnya.
"Eehh?" Seru mereka dengan kelakuan putri dari majikan nya itu.
...**...
"Ibu Suri" Salam Asnee pada sang nenek saat Karl memberitahu jika Nenek Rataporn memanggil nya saat dirinya tiba di istana.
"Sini, duduklah!" Tepuk nya pada sofa tepat di samping dia duduki.
"Ada apa, ibu suri?" Tanya Asnee duduk dengan jarak yang lumayan dengan sang nenek. Melihat itu, pelipis Rataporn sedikit pucat dan semburat senyum getir terpaut di dalam nya.
"Bagaimana hari pertama mu masuk di Universitas? Nenek hanya ingin tahu dan bercerita dengan mu. Pangeran!" Tutur Ibu Suri. Bukan rahasia lagi di dalam istana, hubungan nenek dan cucu itu kurang dekat satu sama lain, tidak ada komunikasi yang lancar juga di antara mereka.
"Sangat lancar, ibu suri!" Jawab Asnee seadanya, karena memang dia tidak pandai bicara masalah keseharian nya apalagi kini yang bertanya adalah Ibu Suri kerajaan.
"Panggil nenek saja kalau tengah berbincang dan gunakan panggilan Ibu Suri di situasi tertentu. Apa boleh?" Ucap nya.
Asnee mengangguk tanda setuju. "Baik, Ib— nenek" Sahut Asnee.
"Asnee boleh nenek tahu sesuatu?"
Asnee pun mengangguk tapi dia mulai tidak nyaman berada di sana. "Boleh, Nek!" Jawab nya.
"Sebentar lagi kau akan di limpahi sebuah tanggung jawab besar dan dengan posisi itu sebaiknya kau sudah memiliki seseorang untuk mendampingi mu!"
__ADS_1
"Kau bisa berbagi suka duka dengan nya"
Tutur sang nenek meraih tangan Asnee dan mengusap nya lembut. Nenek Rataporn tidak pernah sehangat ini sebelum nya membuat sedikit rasa heran tumbuh di benak Asnee.
"Apakah begitu, nek?" Seru Asnee. Dia tidak ingin berbicara panjang lebar masalah hal ini, untuk itu dia memilih mendengarkan dahulu.
Rataporn mengangguk. "Nenek tidak akan mengatakan hal ini jika tidak mengalami! Dulu kakek mu juga seperti itu" Ucap Rataporn.
"Istri dan keluarga akan berbeda. Istri mu akan mendampingi mu setiap waktu dan kau bisa mencurahkan semua kepadanya! Untuk itu istri yang berwawasan luas akan sangat cocok untuk mendampingi mu.As!" Lanjut nya.
Asnee menarik lengang dari genggaman sang nenek.
"Nenek, kau tidak sedang menjodohkan Asnee. Bukan?!" Mata Asnee memicing, dia tidak suka jika ada yang ikut campur urusan pribadi nya.
Rataporn menatap lekat. "Hahaha dari mana pikiran mu itu datang. heum?" Tawa nya menggetarkan hati. "Soal istri ataupun pendamping adalah urusan mu, As. Nenek hanya memberi saran saja!" Tutur nya kembali menepuk lengan berotot Asnee. Asnee terdiam sejenak melirik lengan sang ibu suri yang masih menepuk lengan nya.
"Maaf, Nek!" Ucap Asnee memegang tangan sang nenek.
"Kami percaya padamu" Ucap Rataporn tersenyum lebar.
"Eum" Angguk Asnee membalas senyuman sang nenek.
...**...
Dua sejoli duduk berhadapan, yang salah satu dari mereka mengeluarkan aura menyeramkan saat ini dan untuk pelaku hanya terlihat santai menopang kaki nya.
"Saya menolak semua nya! Sangat tidak masuk akal dan saya tidak menginginkan sebuah pangkat yang sejak dulu tidak pernah saya harapkan!" Daniza dengan tegas menolak klaim an Asnee yang memaksa dirinya agar menjadi calon istri dengan begitu mudah nya.
"Masih banyak wanita bangsawan di luar, anda bisa memilih mereka sebagai calon istri mu! Wawasan mereka luas di bandingkan saya dan mereka lebih pantas menjadi seorang istri dari Raja Yodrak?"
Daniza terus berbicara, dia tidak terima dengan keputusan yang di ambil secara sepihak itu. Asnee tidak melepas tatapan nya dari Daniza, wajah pucat namum terlihat lembut itu sangat nyaman di pandang.
"Yaak jangan menatap saya seperti itu!" Di sela cerocosan nya, Daniza malah menyentak Asnee.
Brughh
"Maafkan saya, Pangeran! Maafkan saya" Daniza seketika berlutut di hadapan Asnee, dia yakin kalau sepertinya kepala yang masih tersambung akan terputus sebentar lagi. Dia tidak terima keputusan sepihak itu.
"Kau berani menolak saya?" Asnee pun merasa harga dirinya ternodai dengan penolakan Daniza. Tapi hal itu sudah ada dalam pikiran Asnee, dia tahu jika Daniza pasti akan menolak nya habis-habisan.
"Sa—sa—ya tidak berani, Pangeran! Tap—"
"Tapi apa? Seperti yang saya katakan sebelum nya. Kau boleh meminta sesuatu sebagai imbalan nya, akan saya penuhi walau harus mempertaruhkan nyawa" Ucap Asnee, dia benar-benar dengan ucapan nya.
Entah kenapa Daniza terasa berbeda dengan gadis lain. Asnee penasaran apa tujuan hidup gadis didepan nya itu, apa keinginan nya dan apa cita-cita nya, karena yang dia lihat setiap hari hanya sosok yang senantiasa profesional dalam kerja.
"Anda tidak sedang menawari saya sebuah tong kosong bukan. Pangeran?"
Asnee mencondongkan tubuh nya dalam posisi duduk.
Daniza menatap lekat sorot mata tajam itu dan kemudian berekspresi tengil.
"Baiklah kalau begitu! Bersiap-siaplah. Saya akan banyak permintaan kepada Anda, Pangeran!" Daniza beringsut berdiri. Asnee yang melihat nya merasa aneh dan di permainkan.
"Kau mempermainkan, saya? Berani sekali!" Seperti Semut yang sudah berlari kesana kemari namun tetap saja tertangkap.
"Ohooo, saya tidak mempermainkan anda!"
"Pangeran anda harus tahu satu hal. Orang seperti saya akan menjadi bangkai jika sudah tidak di pakai, tapi anda? Anda tidak akan menjadi bangkai karena anda adalah pemangsa. Jadi saya harus lebih mahir!" Ujar Daniza namun sesekali melirik kalung yang menggantung di leher Asnee.
"Pemangsa?" Ucap Asnee kembali. Daniza mengangguk semangat.
"Jadi kau bersedia menikah dengan saya?"
"Tentu saja!" Jawaban Daniza begitu yakin. Asnee bukan pria bodoh, dia pun sedari tadi memperhatikan Daniza. Logika berjalan, Asnee semakin yakin perempuan di depan nya ini terlalu rapat menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
"Yakin kah?"
Daniza kembali mengangguk.
"Okey. Kalau begitu cium saya di sini!" Asnee berdiri, melangkah mendekat pada Daniza dan mencondongkan kepala nya tepat di depan wajah Daniza.
"A—pa yang anda lakukan?" Tentu saja kaget. Daniza melangkah mundur dan hampir tersandung, wajah nya memerah apalagi pipi.
"Kenapa? Anggap saja ini stempel perjanjian kita!" Ucap Asnee mengetuk-ngetuk pipi kanan nya. Aroma dari tubuh terutama rambut Asnee tercium sangat maskulin.
Daniza tidak bergeming, dia semakin menjauhkan wajah nya dari Asnee.
"Tidak mau?"
Daniza pun menggeleng akan ucapan Asnee.
"Okey, saya anggap perjanjian batal!"
"Aaaa tidak tidak, apaan!" Daniza menarik kembali rahang Asnee dengan kedua tangan nya reflek saat Asnee hendak menjauhkan kepala yang condong.
Smirk tipis tersungging nyata, dugaan nya benar. Daniza memang ada niat dan menjadikan tawaran dirinya kesempatan emas, tapi dirinya pun merasa aneh kenapa akhir-akhir ini sangat suka mengerjai Daniza.
"Cium" Ucap Asnee.
"Ish" Desis Daniza pelan.
"Tutup mata anda!"
Tidak perlu di paksa, Asnee pun memejamkan mata nya. Saat nafas Daniza mulai terasa di pipi, Asnee malah memalingkan wajah nya dan alhasil ciuman antar bibir pun terjadi.
Daniza tersentak kaget, mata terbuka lebar namun Asnee masih tetao terpejam. Daniza hendak melepas sentuhan itu namu rangkulan dari tangan Asnee pada pinggang nya menggagalkan rencananya.
"Eumpphh"
Daniza terus berusaha lepas tapi Asnee malah semakin mencoba membuka mulut Daniza dan kesempatan pun dapat, mulut Daniza terbuka.
Asnee semakin lihai ******* bibir Daniza dan memanjakan nya dengan kelembutan.
Lama kelamaan, Daniza yang tadinya meronta minta lepas pun malah mengikuti permainan.
"Hosshhh hoshh"
Asnee melepas pangutan nya, membiarkan Daniza menghirup udara segar di dalam ruangan.
Dukk
Asnee mengangkat pinggang Daniza dan akhirnya dia duduk di atas meja.
"Bagaimana? Apa stempel ini saha?"
Asnee benar-benar suka sekali mengerjai Daniza, dia pikir Daniza gadis unik di mata nya.
"Jangan bertanya!" Punggung lengan Daniza menepis wajah Asnee yang sedari tadi terus memandang nya.
"Begitukah? Eum atau kau mau lagi? Enak kan?!" Mimik wajah Asnee serius tapi dia sedang dalam mode bercanda dan mengerjai Daniza.
"Engga" Tolak Daniza seketika turun dari meja dan mendorong dada Asnee. "Harus ada kompensasi atas apa yang anda lakukan!" Ucap Daniza tidak terima, tapi di sisi lain dia pun menikmatinya.
"Silahkan, nona! Apapun untuk mu" Seru Asnee dengan tawa jahil nya.
"Awas saja!" Daniza pun ke luar dengan emosi yang membumbung.
"Cantik" Ucap Asnee seraya mengusap lembut ujung bibir nya sendiri.
...**...
__ADS_1