
Daniza terdiam, dia seakan tidak asing dengan nama itu. Kedua bola mata Daniza bergantian menatap Direktur rumah sakit itu dengan seorang pria tinggi dengan brewok tipis di sepanjang rahang sampai dagu.
"Tuan Vans, anda masih berada di sini?" Mulut Tuan Nan reflek menyeru.
Daniza membulatkan kelopak matanya, dia ingat dengan dua nama itu sekarang. Tidak hanya Daniza, rahang Ahan pun seketika menegas kala mendengar nama itu. Vans Rayzada, nama itu sudah berada di dalam daftar pencarian utama kepala Ahan.
"Oh ternyata dia" Gumam Ahan dalam hati. "Simon dia kah salah satu dari mereka?" Kembali Ahan bergumam dalam hati nya.
"Ada apa ini?" Tuan Vans menghampiri Tuan Esan, mereka pun memberi salam jabat tangan.
"Kami sedang melakukan operasi sergap bisnis ilegal" Ucap Tuan Esan.
"Ada bukti transaksinya?"
"Maaf pak, kami bukan nya ingin mempersulit kerja anda tapi ini menyangkut banyak pihak! Jadi, kita selesaikan baik-baik" Lanjut tutur Tuan Vans.
Asnee dan Kevin menutupi tubuh Daniza, saat hendak beranjak dari tempat, Tuan Vans melirik sekilas namun reflek kedua kaki nya berhenti.
"Mata itu—" Gumam Tuan Vans menjadi selidik menatap Daniza, perlahan salah satu sudut bibir nya tersenyum licik.
Rumah sakit itu masih di jaga ketat. Pihak terkait kembali masuk ke ruang Direktur.
Sedangkan Ahan dan juga Satra masih berada di ruang laboratorium dengan beberapa organ manusia di amankan di dalam kotak yang bersih agar tidak terjadi pembusukan.
"Han, di sini—!" Panggil Satra. Ahan pun menghampiri.
"Dasar cerdik!" Ulas Ahan mengulas senyum licik nya pada Satra. "Di sini pasti ada tempat lain" Lanjut Ahan mengatakan hal yang tentu nya dia yakini.
"Kita taruhan. Kalau ada ruangan lain, kau traktir aku makan. Bagaimana?"
Satra selalu saja tentang traktiran di kepala nya, sampai Ahan ataupun Simon bisa menebak nya dan tahu makanan dan cemilan apa yang dia suka. Menang atau tidak, Satra pasti minta di traktir dan itu sudah biasa di antara mereka.
"Saya sangat menghargai anda sebagai Pangeran dari kerajaan negara ini, namun apa yang membuat anda tersinggung dengan bisnis ini?"
Tuan Vans benar-benar pandai berkata-kata. "Bahkan Market yang kami masuki sudah Legal" Lanjut nya.
"Pasar Gelap, Kan?!" Timpal Daniza.
"Benar. Anda tahu mengenai pasar itu?" Seru Tuan Vans.
"Saya tahu dan saya sepertinya mengenal anda. Tuan!" Timpal Daniza kembali.
Mereka yang ada masih mendengarkan percakapan, sampai di mana Asnee berbicara.
__ADS_1
"Pasar itu memang sudah legal tapi barang yang anda jual ataupun yang andai lelang bukan lah barang legal. Anda mencurinya dengan paksa. Bukankah sudah termasuk pembunuhan?!" Ucap Asnee.
'Hahahah'
"Mencuri? Maaf, saya tidak merasa mencuri bahkan anda menyimpulkan jika saya membunuh? Maaf sebelum nya Pangeran, tapi kedua nya itu tidak lah benar! Saya hanya seorang pebisnis, bukan seorang pembunuh."
Tuan Vans sering tertawa di sela ucapan nya, entah apa yang lucu tapi sepertinya karakter dia memang seperti itu. Baik itu benar atau salah, dia menanggapinya dengan santai.
Tuan Esan melirik Asnee dan Asnee pun melirik Daniza.
"Lalu saya tanya, dari mana anda mendapatkan mata itu? Tidak mungkin jika hanya Tuan Nan yang memilikinya, anda-anda semua ikut andil dalam pemasaran nya!"
Tidak habis pikir, Daniza ternyata pintar berbicara.
"Tuan Nan dan Tuan Vans, dua orang yang berada di pelelangan dan salah satu barang yang anda simpan di sini terjual dengan harga 35.000 dollar. Apakah saya salah?"
"Oh ya, dan saya kebetulan ada di sana saat itu! Bukan kah saya pun berhak bertanya-tanya dari mana asal barang itu. Tuan?!"
Daniza menumpu kedua tangan nya.
"Hahaha, mata anda sangat indah sekali—!" Bahkan Tuan Vans terang-terangan memuji mata Daniza membuat semua orang terutama pihak Asnee semakin curiga.
"Baiklah jika benar, maka carilah barang itu di sini! Kami tidak melarang nya, tapi sebelum nya saya tegaskan sekali lagi jika kami seorang pebisnis—"
"Keira, Mata kalian memang sangat indah_" Kembali tawa terdengar.
Asnee sedikit menarik tangan Daniza. "Tolong jaga sikap di depan calon istri saya" Tekan Asnee.
"Saya menyesal. Tolong maafkan sikap tidak sopan saya!" Dengan mudah nya, Tuan Van berdiri dan meminta maaf.
"Seharus nya pembahasan ini cukup di sini, tidak ada bukti yang kuat juga untuk memperpanjang!" Seru Tuan Vans begitu tenang dan percaya diri.
Perbincangan yang tidak berbobot, bahakan Tuan Vans malah menguasai perbincangan itu.
"Berhenti!" Suara berat tuan Esan menggema.
"Setidaknya beri kami muka dalam perbincangan ini. Saya bisa mengeluarkan surat penangkapan sekarang juga jika di perlukan!" Ancam Tuan Esan.
"Silahkan, dengan senang hati" Dia menerima tantangan nya, karena yakin orang-orang di hadapan nya tidak akan menemukan apapun.
Daniza menggenggam tangan Asnee, Asnee merasa telapak tangan Daniza berkeringat.
"Pembunuh" Gumam Daniza namun sedikit keras sampai tuan Vans yang hendak pergi melewati dirinya mendengar.
__ADS_1
"Hahaha jika anda yang mengucapkan nya, dengan senang hati saya terima" Seru nya hampir mengusap wajah Daniza.
"Jaga sikap anda tuan"
Asnee yang hendak menepis di urungkan karena sekarang Daniza berdiri dan mendorong tubuh tuan Vans.
"Lelaki tua. Jangan harap anda bisa menyentuh saya!" Sentak Daniza.
Kevin dan juga Tuan Esan telah mengeluarkan senjata api dan menodongkan nya kepada mereka.
'Aaaaaaa'
Asnee pun ikut naik darah, dia mencekal kasar tangan Tuan Vans.
'Kreukk'
Suara tulang lengan remuk, meringis sakit. Tuan Nan menjauh dari mereka. Rekan nya pun yang lain seketika menjauh.
Pintu terbuka, Ahan dan Satra muncul dari luar dan berdiri di ambang pintu.
"Saya tidak akan membiarkan pria selain saya menyentuh dia, apalagi hendak menyakiti nya!" Peringatan dari Asnee tidak main-main.
"Sepertinya anda harus kecewa dengan kepercayaan diri anda itu. Tuan Vans!" Seru Ahan.
"Tadinya untuk menangkap anda saya butuh Plakat itu, tapi ternyata Tuhan menyertai, jadi saya tidak perlu repot-repot menyia-nyiakan tenaga ini!" Lanjut nya.
"Tuan Nan, bersiaplah!" Ahan pun melirik Pak Direktur.
"An—anda—?" Tuan Nan kembali tergagap.
"Anda butuh bukti, bukan? Mari ikut saya dan oh satu lagi pembeli di pelelangan mencari anda untuk mempersiapkan mata itu untuk di donorkan pada putra nya!" Seru Ahan.
"Sat, Bawa mereka—"
Titah Ahan yang di mana Satria pun ternyata berada di luar pintu. dengan seorang pemuda duduk di kursi roda.
"Sial" Umpat tuan Vans, Tuan Nan juga tidak luput dari banyak mata di sana.
Ahan membawa Daniza juga Asnee ke tempat isolasi yang tadi mereka kunjungi.
"Tolong tetap di samping nya" Ucapan Ahan meneguhkan hati Asnee.
Sampai di ruang laboratorium. Semua pasang mata membulat sempurna.
__ADS_1
"Pah, Mah,Paman" Jantung berdebar, semua persendian seketika lemas saat melihat tiga pasang milik keluarga nya.