
Hanya dengan satu adegan, keadaan menekan Asnee, dia memang kaget tapi tidak bisa di pungkiri juga jika bukti itu memang sama persis.
Ternyata oh ternyata, saat dia masuk Gallery malam itu sudah ada CCTV yang sudah terpasang. Menggelikan sekali! Dia kalah teliti.
Orang-orang yang pandai melempar batu sembunyi tangan memang pantas di bantai. Asnee masih diam menatap kedua mata sang ayah, tanpa menjawab pertanyaan nya.
Sepertinya, jika dia di posisi Mafia tidak perlu menunggu di jatuhkan dulu, dia bisa langsung menebas leher musuh. Tapi sayang, dia berpijak di atas bumi yang bersistem dan bernaung di bawah aturan dan undang-undang kerajaan, membuat nya harus tetap tenang dan tidak terbawa emosi.
Jika saja dia mengeluarkan bukti lain saat ini, malah bukan bagus, tapi dia akan di anggap mengada-ngada.
"Di sini, saya tidak membutuhkan kepercayaan siapapun!" Asnee mengambil alih i-pad dari tangan ayah nya dan di serahkan kembali pada Jeno.
"Mengenai bukti itu paman harap bisa mendengar penjelasan dari mu, Asnee!" Aat mendekat, menepuk percaya pada pundak keponakan tercinta nya itu. Aat yakin, dari segi keberanian Asnee, dia yakin keponakan nya itu sudah menggenggam banyak bukti.
"Tidak perlu mendengarkan siapapun. Setelah kau mengeluarkan semua bukti maka kami akan mempertimbangkan siapa yang sebenarnya menjadi dalang dalam kasus ini"
Aat memang beda, dia dari dulu sangat menyayangi Asnee lebih dari anggota kerajaan yang lain. Bahkan kepada putri dan istrinya sendiri.
Sudut mata Aat mendilak tajam pada keberadaan Ayah dari Jeno. Memang tidak bisa di pungkiri juga jika Aat menaruh curiga pada mereka tapi sayang semakin dia menggali semakin pula tidak mendapatkan yang dia curigai.
"Kasus ini akan menjadi besar ! Kamu berhati-hatilah dalam menjelaskan. Pangeran!" Seru Aaron, dia pun terlihat masih menaruh rasa percaya pada putra nya. Perkataan nya barusan membuat Asnee menampilkan mimik terimakasih atas kepercayaan ayah nya
Mali, Jeno juga Betta, mereka saling lempar pandang dan kembali berdiri berdampingan.
"Untuk yang di dalam video itu memang lah benar adalah saya dan juga Karl!"
"Tapi jika tidak salah, seharus nya video itu terekam dua hari yang lalu. Tapi mengapa di dalam video yang anda berikan, malah ter set pada tanggal satu minggu setelah kebakaran ? Apakah ada pengeditan dalam tanggal nya?"
"Dan lagi, seharusnya video itu lengkap dan tentu saja jika lengkap anda pun akan tahu apa yang tengah saya lakukan"
"Dan satu lagi, kenapa hanya ada saya dan juga Karl ? Bukan kah seharusnya sebelum itu ada tiga pria di sana ?"
"Tch tch tch, sangat di sayangkan jika bukti itu nanti nya malah memberatkan dan membahayakan posisi anda dalam tatanan negara"
Entahlah! Kenapa setiap tutur kata Asnee seperti mengandung banyak ancaman. Jika yang peka dan mengerti seharusnya dia harus menyerah.
Asnee menatap lekat ketiga pria yang masih berlutut.
__ADS_1
"Karl buka kain di mulut mereka dan buka tali yang mengikat mereka"
Asnee berdiri tegap di depan tiga pria itu. Sorot mata nya sayu namun menakutkan. Karl pun mendekat
"Apa yang akan anda lakukan?" Tahan Betta-Ayah Jeno dengan sarkastik dan intonasi bernada tinggi.
"Saya mengizinkan dia melakukan apapun di aula saat ini !". Tajam Aaron menatap kilat orang-orang di dalam terutama Pak Betta.
Sunggingan salah satu sudut bibir Asnee terangkat licik dan geli. Memang nya dia siapa, berani mencampuri urusan yang sudah menjadi proyek nya.
"Maaf Raja, tapi menurut saya apa yang di lakukan pangeran terlalu memaksakan dan terlalu membenarkan argumen nya ! Di sini saya sudah mengantongi bukti yang sangat kuat dan saya yakin tidak ada bukti sekuat milik kami. Bukti-bukti ini cukup jika pengadilan istana meminta nya!".
Jika keluarga mafia yang mendengar ocehan seperti itu sepertinya bukan diam tapi akan tertawa terbahak, ocehan pak Betta seperti candaan anak kecil di keluarga mafia, tidak masuk akal dan terlalu picik membuat siapa saja yang berdarah mafia akan mentertawakan nya.
"Benar apa yang di katakan ayah saya. Raja !"
"Jika memang bukti ini dapat di pergunakan maka saya akan sangat berterimakasih, namun jika ini memberatkan maka penutupan kasus adalah jalan satu-satu nya saat ini!" Ujar Jeno. Mali pun mengangguk di belakang berdiri nya Aat.
Asnee yang mendengar hal itu tentu dia sudah bisa menyimpulkan. Ternyata tujuan Jeno saat ini adalah untuk menutup kasus kebakaran dan tidak lagi mengungkit apa yang terjadi.
Bolehkah sekarang dirinya tertawa ? Permainan mereka sangat menggelikan sekali, menggelitik sejengkal demi sejengkal kulit yang ada pada tubuh nya. Patut untuk di acungi jempol.
"Ssshh di tutup ? Apa anda pikir jika saya yang melakukan rencana itu maka Raja akan berdiam diri ?"
"Tentu tidak. Tuan!" Lanjut Asnee mendahului Aaron yang hendak berbicara atas ucapan dari Jeno.
"Sekarang biarkan pengadilan istana datang, siapa yang bersalah di sini maka akan di hukum saat itu juga !"
"Asnee" Kaget Aaron dan juga Aat.
Betta, Jeno dan Mali pun kaget tapi mereka perlahan tersenyum licik. "Silahkan !" Dengan tegas nya, Jeno menyahut.
"Asnee apa yang kau bicarakan? Jangan memutuskan hal yang seharusnya menjadi tanggung jawab Raja di sini!" Aaron dengan cepat turun dari kursi nya dan mendekati Asnee dengan rasa kaget.
"Asnee, paman—" Aat pun ikut mengehentikan.
"Kenapa ? Bukankah bagus jika mereka datang ? Istana ini mempekerjakan orang-orang kompeten dan kejujuran mereka tidak ada yang bisa menggoyahkan nya. Jadi lebih baik jika badan hukum pengadilan dan badan sensor datang menjadi saksi dan juga penilai handal di sini" Tutur Asnee sedikit menegaskan rahang nya.
__ADS_1
"Saya tidak terima! Sedari tadi, pangeran kita seakan menyalah kan Jeno- Putra saya yang seharusnya di hormati sebagai guru kerajaan, tapi mengapa setelah saya dengar dari tadi, dia seakan menjadi tertuduh tanpa bukti kuat?!"
Pak Betta benar-benar lancar berbicara, dia masih berani memutar balikkan fakta dan menyembunyikan kebenaran demi keberhasilan rencana putra nya.
"Saya pun setuju" Sahut Asnee dengan matang. "Karl amankan dahulu mereka di penjara bawah tanah ! Jangan biarkan siapapun menyentuh nya sejengkal pun termasuk orang-orang istana dan orang-orang mereka!".
Penekanan Asnee seakan telah di ubun-ubun menunjuk wajah Jeno dan Betta dengan tegas. Dia orang yang malas berbasa-basi dan bermain-main, tapi sepertinya sekarang ini dia harus bersabar mengikuti permainan pejabat-pejabat serakah seperti mereka.
Jabatan ayah nya memang tinggi, namun di samping itu kekuatan sang raja bisa saja turun karena mentri-mentri yang kontra akan sistem yang di terapkan oleh dirinya dan itu akan membuat posisi terguncang.
Walaupun sistem kerajaan adalah turun temurun, tapi itu tidak akan berdiri kokoh jika tidak memiliki pejabat penting di samping nya.
Keadaan kembali mereda, utusan kerajaan tengah mengundang mereka yang akan berperan penting dalam sebuah kasus, untuk itu Asnee hanya duduk menunggu, sedangkan yang lain tengah berbincang.
"Untuk beberapa jam ke depan, bukankah tidak ada wanita yang di izinkan ikut campur dalam pengadilan istana?"
Ah sudahlah ! Perkataan Asnee benar-benar menyindir Mali, karena di aula siapa lagi wanita di antara mereka, kecuali Mali.
Dengan tahu diri, Mali undur pamit walau dengan terpaksa dan mengumpat kesal.
Aaron dan Aat hanya melebarkan kelopak mata mereka dengan keberanian Asnee yang sedari siang tadi di perlihatkan.
"Kak, semoga berita ini tidak sampai pada mama nya!"
"Kau tahu, sejak tadi aku bukan khawatir tentang yang lain, tapi aku khawatir tiba-tiba Dokter Nara tiba-tiba muncul di sini"
"Hancur lah sudah!"
Aat membisik, dia bergidik ngeri. Di samping penasaran dan khawatir dengan kasus itu, ternyata di lain sisi dia masih mengingat bekingan yang di miliki keponakan nya.
"Dia tidak akan tahu, selama Asnee baik-baik saja".
Tepuk jidat, jika ada yang mendengar bisikan antara Raja dan adik nya itu maka siapapun akan merasa geli. Di saat situasi tengah dag-dig-dug mereka malah sangat mengkhawatirkan bekingan Pangeran Asnee.
Apakah harus tertawa, atau kasihan, yang pasti kebenaran nya tidak akan ada yang tahu.
...***...
__ADS_1