The Future King

The Future King
Eps 160


__ADS_3

Di tempat lain, nampak rumah megah dan besar yang kemungkinan bisa di tempati oleh banyak orang menjadi daya tarik si kembar. Tiga orang asing masuk lewat gerbang depan dengan lantang nya seakan tengah menantang pemilik rumah.


"Ohoo besar sekali ini rumah!" Seru Shane mengedarkan pandangan nya seraya tangan menyilang dan menyandar di bahu mobil.


"Little boy kau boleh loh menghancurkan rumah ini, kakak yang tanggung!" Seru Shabila menepuk pundak Shane seraya menaik turunkan kedua alis nya.


"Aslian ini? Okey siap hahaha!"


Sean seperti biasa, membuang nafas pasrah nya saat tingkah kedua adik kembar nya mulai nakal.


Seorang Satpam terlihat membuka gerbang kecil di bagian sisi dekat pos jaga dengan seragam hitam membalut tubuh nya.


"Maaf tuan, nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya satpam itu ramah namum Shabila kini berada di belakang satpam itu dengan sapu tangan yang sudah di baluri dengan obat bius.


Sang satpam terkulai pingsan dan rekan nya yang lain nampak belum sadar dengan apa yang terjadi dengan teman nya.


Sean berjalan lebih dulu, melewati gerbang kecil yang ada di depan. "Tuan permisi, saya ada keperluan dengan yang punya rumah. Apakah mereka ada?" Sean sedikit membungkukkan tubuh nya dengan kepala miring menggapai wajah satpam yang berada di dalam pos jaga.


Tentu saja satpam itu mengerutkan kening nya dan segera ke luar. Kedua matanya mencari keberadaan rekan nya yang tadi ke luar.


"Tuan?" Tanya Sean kembali bertanya.


Satpam itu menoleh kasar dan menatap Sean selidik. "Aisshhh" Umpat satpam itu segera mengeluarkan Handy Talky (HT).


"Penyusup" Satu kata dari satpam itu membuat keamanan di area rumah itu gaduh dan bersiap.


"Siapa kau? Di mana rekan saya?"


Sean di bekuk sampai berlutut di tanah, namun hal itu semakin aneh kala Sean tidak memberikan perlawanan.


"Ah mereka sepertinya sudah masuk" Ucap Sean tersenyum miring dan sang Satpam seketika mengedarkan tatapan nya.


"Bergerak cepat" Teriak nya pada HT.


Brukk


Secepat kilat, Sean yang berlutut kini berdiri sedangkan Sang Satpam kini berlutut.


"Kurang ajar" Teriak seseorang dari arah lain dengan derap langkah semakin cepat dan kini terdengar berlari.


Sean menoleh sesekali melirik satpam yang berlutut dan,


Brughh


Satpam itu pingsan. Sean kembali mengalihkan tatapan nya pada seseorang yang ternyata tidak hanya satu melainkan ada tiga orang mendekat.


"Tangkap orang itu" Teriak salah satu dari mereka. Sean hanya berdiri tegap, memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku.


Syutt


Slass


Duagh


Baghh


Mereka menyerang tentu saja di layani oleh Sean. Wajah Sean semakin menyebalkan, karena tidak terlihat ekspresi apapun dari sana membuat emosi mereka semakin tersulut.


"Lemah" Hardik Sean.


"Sialan" Umpat mereka.


Jiwa bertarung orang-orang itu masih segar dan usia mereka nampak masih muda.


"Mari bermain" Ucap Sean. Perkelahian semakin menjadi, Sean dan tiga orang itu nampak terus bergelut dengan tangan dan kaki.


Brughh


Kaki Sean memukul dada salah satu dari mereka sampai tergeletak dan tersusut lumayan jauh.


"Yaaakkk" Teriak dua rekan nya memberikan pukulan dan juga tendangan ke arah Sean.


Sedangkan di dalam, anggota keluarga itu tengah gencar dengan baju tidur membalut mereka.


Ternyata satu rumah berisi dua tiga kepala keluarga dan itu masih keturunan dari pak mentri.


"Ada apa ini?" Teriak tuan besar yang tidak lain pak Mentri-ayah dari Jeno.


"Tuan, ada penyusup masuk!" Lapor keamanan.

__ADS_1


"Paman bagaimana ini?" Ketakutan mulai mengisi ruangan itu termasuk orang yang kini turun dengan gelas kosong di tangan nya.


"Apa yang terjadi? Siapa yang datang? Dan kenapa kalian masih berada di dalam. Cepat amankan mereka!" Dengan menggeram kesal, Jeno menunjuk pada keamanan untuk segera ke luar dan langkah turun nya semakin cepat.


"Mereka siapa?"


Keresahan mulai menguasai, pak Mentri pun mondar-mandir di sana.


"Bagaimana dia? Kau sudah memberikan obat?" Tanya Pak Mentri. Jeno mengangkat gelas dan mengangguk dengan jahat nya.


"Tidak akan aku biarkan dia mengingat apapun selain kita. Dia bisa di kendalikan suatu saat nanti dan menggunakan dia untuk membalas rasa malu kita pada orang-orang istana!"


"Kita hampir kehilangan semua nya dan penderitaan ini harus sepadan!" Lanjut nya menyenderkan salah satu bahu ke dinding seraya menatap gelas bening itu.


Seperti tidak akan terjadi sesuatu yang besar, keluarga itu masih berkumpul di ruang keluarga dengan menunggu hasil yang akan memuaskan mereka, terutama Jeno yang kini ternyata sudah kembali berada di tengah-tengah keluarga.


Perbincangan keluarga menjijikan itu terasa mengundang rasa penasaran. Shane dan Shabila berdiri di balik dinding lantai dua yang pastinya suara dari bawah akan terdengar.


"Owh, ternyata dugaan kita benar!" Seru Shabila, melebarkan kedua sudut bibir nya seraya menaikkan dua alis. Shane yang berada di depan nya mengulas smirk tajam serta salah satu alis nya terangkat.


"Ssshh sepertinya ruangan itu" Tunjuk Shane dengan sudut mata nya.Shabila menoleh.


"Ayo"


Dengan derap langkah senyap, mereka berdua menuju pintu di ujung ruangan dengan jendela tinggi di samping pintu.


"Siapa kalian?"


Tidak jadi membuka knop pintu, si kembar membalikkan badan nya dan menatap orang di belakang nya.


"Penyusup" Teriak wanita berkepala empat itu. Membalikkan badan nya menuju arah tangga. "Tuan, Penyusup!" Teriakan menggema sampai ke lantai bawah.


Orang-orang di bawah pun segera berlarian. Nampak si kembar santai-santai dengan teriakan itu dan malah kembali memutar knop pintu.


Ceklek.


Ternyata pintu itu tidak di kunci membuat si kembar mudah masuk.


'Penyusup'


'Penyusup'


"Di sana" Tunjuk nya ke arah pintu di sudut ruangan.


Jeno dan pak Mentri saling tatap, detik kemudian langsung berlari ke pintu yang di tunjuk oleh pelayan itu. Tidak hanya Jeno dan ayah nya, keluarga yang lain pun berlari membuntuti.


Brak


Pintu terbuka lebar, wajah orang-orang di ambang pintu begitu serius dan takut, nafas mereka pun tersengal-sengal.


Shane dan Shabila menoleh bersamaan sesaat setelah menatap seorang pria yang tengah terbaring pucat di atas kasur.


Lengan menyilang, Shane dan Shabila menatap dingin ke arah orang-orang yang baru saja datang.


"Siapa kalian?" Tunjuk Jeno dengan sarkas nya.


Klekk


Slap


Lampu kembali menyala, tatapan Shane san Shabila nyalang dengan lurus nya.


"Kenapa, apa kau lupa dengan wajah kami?" Seru Shabila.


Keluarga itu mematung dengan rasa takut juga kecemasan namun kesombongan dan balas dendam yang sudah membuncah pada jiwa raga telah menguasai, membuat mereka lupa kapan terakhir kali melihat ke beringas-an keluarga angkat Asnee.


"Kejahatan macan apa ini? menyandra salah satu keluarga kerajaan dan menggantikan nya dengan yang palsu, apakah ini bisa di katakan sebagai pemberontakan?" Tutur Shabila sesekali melirik Aat yang tengah terbaring lemah.


Ya, pria yang tengah terbaring itu adalah Aat Yodrak, Paman dari Asnee juga Rayya.


"Dan tidak segan memberikan obat yang memiliki dosis tinggi. Kalian berusaha menghilangkan ingatan nya kah? Sshh sepertinya begitu!" Seru Shane.


"Diam, diam kalian! Saya tidak mengenal kalian. Jangan coba-coba ikut campur."


"Penjaga" Teriak salah satu saudara dari Jeno.


Penjaga yang tersisa berlarian menghampiri.


"Tangkap mereka dan jangan biarkan lolos!" Titah nya.

__ADS_1


Serangan mulai terjadi, Shane dan Shabila pun dengan lantang menghadapi mereka.


Plak,,, grepp


Shane mencekal lengan penjaga yang hendak membawa Aat pergi.


Jeno dan keluarga yang lain menghindar mentok ke ambang pintu.


"Kalian mau kemana?" Dengan serentak Jeno juga yang lain nya membalikkan badan.


"Aissh sial" Umpat Jeno. Dia sangat tahu orang di depan nya.


"Hahahaha hanya kalian saja tidak akan bisa ke luar hidup-hidup. Tunggu saja ajal kalian!" Tawa menggelegar, Jeno seakan sudah gila.


Selain Jeno tidak ada yang mengenal dengan dekat siapa orang-orang yang kini datang tanpa di udang itu, sampai Pak Mentri menatap tanya pada anak nya.


Brak


Duagh


Krek


"Arghh" Erangan terdengar menyakitkan. Tembok ruangan itu hancur. Tulang punggung patah seketika.


'Aaaaa'.


Para wanita di sana menjerit dengan perkelahian di dalam rumah.


'hiks'.


',Hiks'


Dua wanita itu berjongkok di sudut dengan menutup telinga mereka. Menjerit dan menangis karena suara pukulan nyaris menerus menggema di gendang telinga.


"Yaaakk"


Jeno pun menyerang Sean dengan amarah membumbung.


Baghh


"Argh"


Kembali ringisan terdengar. Shane dan Shabila terlihat senang dengan mainan baru mereka.


Crasshhh


Brakk


Tendangan dari Shane sangat keras sampai tidak sedikit dari musuh menubruk jendela kaca dan terjatuh sampai bawah.


"Shan bawa dia" Dorong Shabila pada bahu Shane dan mengambil alih musuh dengan penuh.


"Tidak semudah itu"


Kini giliran Pak Mentri yang mencegah.


Krakk


Dengan mudah, Shane memelintir tangan Pak mentri dengan satu tangan.


"Aarrghhh" Teriak mengaduh dan meringis. Tangan nya di putar dan suara tulang bergeser pun terdengar.


'Hoshh... Hoshh'


"Mereka datang" Teriak keamanan dari bawah dengan lantang.


Shane, Shabila yang berada di kamar mendengar itu sesaat setelah membereskan tendangan terakhir.


"Hahaha aaarghhh, kalian tidak akan bisa ke luar hidup-hidup!" Tawa dari Pak Mentri semakin membuat Shane memelintir dengan keras.


Dua mobil sampai, masuk ke pekarangan rumah Pak Mentri.


Sedangkan Sean, kini membekuk Jeno dan menyeretnya masuk ke dalam kamar.


"Ikat mereka" Ucap Sean. Shane dan Shabila pun mengikuti arahan Sean, begitupun dengan dua wanita itu, ikut di ikat dengan yang lain nya.


Langkah gusar dan cepat, orang-orang itu masuk.


"Pak" Seru salah satu dari orang-orang yang baru saja tiba itu, namun langkah nya terhenti kala tatapan tajam dari tiga orang di sana begitu tajam.

__ADS_1


"Tangkap mereka" Ucap salah satu dari mereka dengan tiba-tiba.


__ADS_2