The Future King

The Future King
Eps 149


__ADS_3

"Pangeran" Ucap para pelayan yang di lewati sampai di mana dia berhenti di area kamar Daniza.


"Dia sudah kembali?" Tanya Asnee pada pelayan yang kebetulan ada di sana. Pelayan itu menunduk dan menjawab dengan seadanya.


"Maaf Pangeran, nona Daniza belum kembali" Ucap nya. Ekspresi Asnee seketika muram, dia pun mengecek jam di pergelangan tangan nya.


Asnee pun mencoba menghubungi Daniza.


Tut


Tut


Tut


Telpon masih belum tersambung, Asnee kembali menghubungi nya.


"Halo" Ucap Daniza.


"Bisa-bisa nya kau melupakan ucapan saya. Daniza?!" Suara Asnee mulai menekan. Daniza yang berada di tempat pertemuan langsung meneguk ludah nya sendiri seraya menatap ngeri pada Simon juga Ahan yang berada tepat di depan nya.


Bersamaan kedua alis mereka terangkat seakan bertanya apa yang Asnee katakan.


"Uh, Uh itu hahaha iya sebentar lagi saya kembali. Pangeran! Oh ya apa ada makanan yang mau anda beli? Biar saya sekalian lewat nanti!" Seru Daniza.


Simon dan Ahan semakin tidak mengerti dengan ucapan random dari Daniza.


"Cepat kembali, langit mulai menggelap. Secepatnya!" Asnee kembali menekan setiap kata pada ucapan nya.


"Iya iya"


Begitu saja, Daniza menutup telpon dari Asnee.

__ADS_1


"Telpon dari Asnee?" Tanya Ahan.


"Iya, dia selalu begitu! Tadi sebelum sampai di sini dia mengatakan untuk aku harus sudah kembali saat dia pulang. Ya kan aku tak paham, kapan dia pulang nya, iya kan Simon? Apa aku salah?"


Mulai, Daniza selalu tidak canggung kalau bicara di depan Simon. Nyerocos tak ada titik koma. Ahan pun sampai menaikkan satu alisnya karena kembali melihat Daniza seperti ini, namum yang sekarang lebih terbuka sampai decakan dari bibir nya pun terdengar jelas.


"Tapi kau senang dia begitu, bukan?!" Seru Simon. "Niza, jika kau yakin dia yang terbaik untuk mu, aku akan senang!" Dengan tarikan nafas lepas, Simon begitu menjaga dan juga senang melihat Nona nya kembali ceria.


"Untuk itu bisakah kau tidak menyembunyikan sesuatu dari kesayangan mu ini, Simon?" Daniza semakin menegakkan duduk nya.


"Eum, aku setuju dengan mu. Niza!" Angguk Ahan sama sama menatap Simon.


...**...


"Yang benar saja. Kau yakin tidak mengingat wajah wanita itu?" Simon benar-benar tidak habis pikir dengan Ahan yang sangat lemah mengingat wajah seorang gadis. Padahal wajah musuh nya saja dia ingat, tapi untuk seorang gadis dia sering kali lupa.


"Ini" Simon menarik photo dari saku nya. "Dan dia bukan lagi seorang gadis!" Simon tetap mengoreksi panggilan Ahan, pasti saja Ahan masih menyebutnya seperti itu.


"Ini? Bukankah ini perempuan itu? Kenapa kau bisa memiliki fotonya?" Tentu saja, tentu saja Daniza mengenal wajah perempuan di dalam foto itu karena hubungan dengan Tuan nya waktu itu.


Ahan menoleh pada Daniza. Simon tentu bertanya-tanya dengan tatapan Daniza juga Ahan.


"Jangan bilang dia masalalu dari calon suami mu?" Tenggorokan nya seakan tersedak, dia mulai berpikir ada apa ini sebenarnya, kenapa dia merasa masalah ini tidak sesederhana yang dia kira.


Kafe yang mereka kunjungi semakin malam malah semakin ramai, Daniza tidak beranjak sebelum mendengar penjelasan dari Simon.


"Sebentar Simon, aku masih belum mengerti maksud dari perbincangan mu sedari tadi. Jadi ada apa ini sebenar nya?" Daniza semakin penasaran.


Ahan melirik Simon begitupun sebalik nya. "Singkat nya seperti ini. Perempuan itu adalah putri dari rekan kami, sepasang suami istri yang bekerja di bawah perintah Pangeran Endra dan Raja Keira langsung"


"Mereka di tugaskan di luar negeri dan berakhir di Swiss, kedutaan besar yang ada di sana" Ucap Simon.

__ADS_1


"Thailand? Sebentar—"


Daniza benar-benar belum mengerti, dia tidak paham. Seolah-olah dia beneran tidak tahu tentang hal-hal yang terjadi di kerajaan nya dulu.


"Begini, jadi perempuan itu putri dari rekan kalian yang berada di bawah Paman Endra dan Papa? Lalu kenapa dia bisa sampai Swiss? Bukankah seharus nya kalian menjaga nya? Ataukah kalian awal nya tidak tahu jika perempuan itu putri dari mereka?"


"Aku belum paham sampai ke sana! Dan Bibi Yu bukan kah satu-satu nya pelayan yang berasal dari Thailand? Kenapa sekarang ada yang lain?"


Daniza semakin tidak paham, pengetahuan nya seakan semakin menyempit tentang kerajaan nya.


"Bibi Yu yang kau banggakan itu adalah ibu dari perempuan itu. Daniza!"


Sambaran petir seakan mengenai tubuh nya. Daniza mematung dalam duduk nya. Ahan pun hanya diam, dia tidak tahu menahu soal kerajaan di banding dengan Simon apalagi mengenai istana Keira bagian dalam.


"Aaaa sebentar sebentar—"


Semakin Simon membuka mulut, semakin pula satu persatu kenyataan itu terkuak.


"Niza, kau hanya tahu Bibi Yu sebagai pelayan pribadi mu saja, tapi tidak dengan kebenaran nya! Bukankah saat hari itu dia tidak lagi berada di sisi mu, sekalipun kau bertanya keberadaan nya pada Papa-mu?"


Daniza mengingat-ingat, bibi Yu memang tidak menetap di samping nya, karena sesekali harus bertugas ke luar, tapi saat itu dia tidak kembali lagi sampai di mana pembantaian itu terjadi.


Jika di pikir-pikir aneh juga, seukuran pelayan bibi Yu sangat berbeda, seorang pelayan serba bisa seperti nya sangat langka. Ternyata dia memiliki rahasia yang begitu besar.


"Kenapa aku sama sekali tidak tahu. Simon?!" Seru Daniza.


"Memang nya apa saja yang kau lakukan saat di kerajaan dulu? Kenapa sepertinya tidak tahu apapun?" Selidik Ahan.


"Bagaimana bisa tahu, semua urusan kerajaan tidak dibiarkan kami menyentuh nya apalagi urusan rahasia seperti ini. Kami hanya di perintahkan untuk hidup sesuai keinginan kami dan di larang untuk ikut campur urusan kerajaan!" Tutur Daniza pelan dengan mimik wajah kecewa.


"Tapi Simon. Yang aku tahu Bibi Yu tidak memiliki suami, apalagi ini anak! Dan lagi jika punya anak tidak mungkin segila perempuan itu!" Daniza seakan tidak terima dengan kenyataan itu.

__ADS_1


"Ah sebentar—"


"Ssstttt dari tadi sebentar terus. Tarik nafas dulu!" Simon menyodorkan air minum pada Daniza dan Daniza pun meneguk nya.


__ADS_2