
Bukan lagi dengan keadaan Rayya sekarang, dia tengah berada bersama dengan Aaron juga Ananada serta Ibu Suri Rataporn.
"Pa, sebenarnya sejak kapan Paman Aat berubah? Sikap nya sangat aneh akhir-akhir ini. Paman pun jarang pulang waktu itu dan sekarang sikap nya sangat-sangat berubah!"
"Papa, Rayya tidak mengenali Paman Aat yang sekarang" Lanjut Rayya, menggandeng tangan Aaron yang tengah terduduk.
Perkataan Rayya memang benar, terutama Aaron yang sekarang tidak terlalu dekat dengan adik nya itu, jadi dirinya pun tidak terlalu tahu dengan urusan adik nya itu.
tok
tok
tok
Ketukan pintu terdengar dan perlahan terbuka. Bian- ajudan dari Aaron pun masuk.
"Maaf Raja, ada keluarga tuan Sean ingin bertemu dengan Putri Rayya" Lapor nya. Atensi mereka seketika langsung berdiri saat mendengar nama itu kecuali Rayya yang memang dari awal sudah tahu karena di beritahu lebih awal.
"Sean?"
"Mereka ada di sini?"
Aaron melongo, pasti saja mereka akan turun tangan dengan situasi yang sudah tidak bisa dirinya sendiri kendalikan.
Rayya pun pamit meninggalkan keluarga nya di ruangan itu.
"Mari" Ucap Bian mendapat kode dari Aaron untuk tetap berada di samping nya. Bian pun mengikuti Putri Rayya sampai di mana punggung seseorang dengan pakaian pelayan berdiri membelakangi.
"Permisi?" Sapa Rayya seraya bertanya-tanya karena penasaran.
Ryu, ya dia adalah Ryu.
Dengan senyum ramah dan sopan sedikit membungkukkan setengah tubuh nya. "Salam, Nona kecil" Sapa Ryu.
"Perkenalkan, saya Ryu. Saya di sini atas perintah Tuan Sean!" Tutur nya memperkenalkan diri.
"Baik, terimakasih sudah bersedia masuk ke istana dalam keadaan genting seperti ini" Rayya berterimakasih sebelum dia mengajak nya ke istana tempat tinggal nya.
"Saya sungguh terhormat bisa mendapat tugas ini!" Seru Ryu begitu terlihat sangat senang, dari pancaran mata pun sungguh terlihat dan Rayya melihat itu.
Bian pergi atas perintah Rayya untuk memanggil Asnee ke istana nya. Sedangkan Rayya memandu Ryu untuk mengikuti nya.
"Silahkan!" Rayya dengan senang hati menuangkan air putih untuk Ryu.
"Tadi sebelum menuju ke sini, sepertinya ada yang tengah memata-matai Tuan Kecil, padahal di sini masih lingkungan istana—"
Ryu sesaat mengingat-ingat.
"Katanya tangan kanannya, tapi sepertinya saya tahu dia di bawah perintah siapa!" Seru Ryu mengangguk-anggukkan kepala nya sendiri.
Rayya menebak. "Paman Aat?" Seru Rayya.
"Pasti beliau" Sahut Ryu
"Tapi Paman tidak memiliki tangan kanan, yang ada asisten nya di kantor" Ucap Rayya.
"Benarkah? Tapi pria itu mengatakan jika dirinya tangan kanan tuan nya!" Kekeh Ryu karena pria tadi mengatakan itu seraya menghina dirinya karena hanya seorang pelayan.
Pintu terdengar di ketuk. Asnee pun masuk dengan Karl mengikuti dari belakang.
"As dia orang kak Sean" Ucap Rayya tapi Asnee tak mengindahkan ucapan kakak nya dan malah cepat menghampiri Ryu.
"Asnee—" Tegur Rayya saat Asnee membalikkan badan Ryu dan memeriksa sesuatu.
"Tuan kecil" Ucap salam dari Ryu saat Asnee sepertinya sudah melihat apa yang dia cari.
"Kak jangan percaya sembarang orang, berhati-hatilah!" Seru Asnee memperingati kakak nya untuk tetap siaga, karena untuk situasi saat ini siapapun bisa menyamar untuk bisa masuk ke dalam istana.
__ADS_1
"Apa yang di katakan Tuan kecil benar, nona! Sebelum nya anda bisa melihat tanda dari organisasi dan Orang di bawah perintah tuan Sean akan memiliki tanda di belakang telinga dengan kepala singa tergambar di sana" Tutur Ryu.
"Bagaimana jika ada yang sama?" Tanya Rayya. Tapi memang benar, yang memiliki tanda seperti itu pasti banyak.
"Anda bisa membedakan nya dari warna yang tersulam dengan warna merah dan warna gold tua di mata singa nya" Ryu memperlihatkan gambar di belakang telinga nya.
"Oke oke" Seru Rayya paham.
"Oh iya As, tadi Ryu mengatakan ada yang mengintai istana mu dan dia mengatakan jika dia tangan kanan dari atasan nya. Kalaupun itu Paman Aat aku rasa tidak mungkin, karena dia sama sekali tidak memiliki tangan kanan selain asisten di perusahaan." Tutur Rayya karena masih merasa aneh.
Asnee pun duduk, kemudian yang lain pun duduk sedangkan Karl berdiri di sudut pintu.
"Sejak kapan juga Paman Aat suka minum wine. Tadi aku melihat Paman menghabiskan beberapa botol Wine dan semua nya tersimpan di atas meja"
Asnee pun merasa aneh karena hal itu, di tambah kini ucapan Rayya yang semakin membuat nya heran.
"Kenapa jadi seperti ini?" Gumam Rayya. Banyak sekali keanehan dari Paman nya dan sangat berbanding terbalik dengan sikap Paman nya yang selama ini dia kenal.
"Bisa juga Paman Aat yang sekarang bukan lah Paman Aat yang sebenarnya!" Celetuk Ryu membuat Asnee juga Rayya serempak menatap nya.
Ryu pun bergantian menatap mata Asnee juga Rayya.
"Saya hanya menduga saja, tapi manusia makhluk kompleks , dia bisa berubah seiring berjalan nya waktu!" Seru Ryu.
Sedangkan sekarang si kembar yang sudah sampai di rumah singgah milik Lexi tengah menunggu hasil pemeriksaan yang di lakukan pada Daniza.
"Tidak ada luka yang serius pada Nona Daniza, tapi dia harus beristirahat selama satu minggu ke depan sampai keadaan nya pulih lebih cepat" Tutur dokter itu memberitahu kondisi Daniza saat ini.
"Baik dok, terimakasih sebelum nya dan maaf sudah merepotkan anda" Ucap Shane mengantar dokter itu sampai di teras rumah dan setelah di depan mafioso dari beberapa divisi mengantar dokter itu kembali ke rumah sakit tempat nya bekerja.
"Kau sudah aman, Niza! Lihatlah, Kak Shabila ada di sini" Ucap Shabila menggenggam tangan Daniza.
"Saya mau telpon Simon, dia pasti khawatir" Air mata Daniza menggenang di pelupuk. Shabila menoleh pada Sean yang tengah berdiri di sudut dinding dengan kedua tangan menyilang.
Bukan kah seharus nya, Daniza ingin menghubungi Asnee? Tapi kenapa malah ingin menghubungi Simon.
"Simon sedang kami beri tugas untuk ke suatu tempat bersama dengan Ahan. Apa kakak harus menghubungi Asnee saja?" Ucap Shabila pelan.
Perkataan Daniza sangat memilukan, membuat mata Shabila memerah karena haru. "Asnee sangat mengkhawatirkan mu, biar kami memberitahu dia agar tidak semakin khawatir!" Tutur Shabila.
Daniza tidak tahu situasi istana dan si kembar menjaga agar Daniza tidak tahu, takut nya akan semakin membuat nya terasa dalam bahaya.
"Terimakasih" Genggaman tangan Daniza semakin mengerat, Shabila pun tersenyum
"Jika kau tidak nyaman dengan lensa matanya boleh di buka dahulu" Ucap Shabila.
"Eum" Angguk Daniza pelan dalam baring nya.
Shane pun masuk. "Kak" Panggilnya seraya mengkode untuk ke luar sebentar.
"Kau istirahatlah, kami akan ke luar sebentar!" Ucap Shabila membenarkan selimut yang di pakai Daniza.
Pintu Shabila tutup perlahan. "Ada apa?" Shabila melangkah cepat ke arah Shane dan Sean sudah duduk.
"Ryu mengaktifkan earphone dan dia mengatakan ada yang aneh dengan Paman Aat. Asnee dan Rayya yang mengatakan itu!"
Shabila dan Sean belum merespon, mereka tengah berpikir. Shabila kembali mengenakan earphone yang tadi dia buka begitupun dengan Sean.
"Sesuai dugaan kita, kah?" Sean menatap lurus pada Shane juga Shabila bergantian.
Sepertinya ada hal seperti itu dalam masalah ini. "Sha, hubungi Collen. Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Pasti kak Nara mempertanggungjawabkan pencarian bukti pada dia!" Seru Sean.
Shabila mengangguk dan segera menghubungi Collen.
"Kontak nya tidak tersambung" Ucap Shabila.
Tuuuttt
__ADS_1
Tuuttt
Kembali Shabila menghubungi Collen tapi tetap tidak tersambung. "Sedang di mana dia?" Gumam Shabila.
Sedangkan orang yang kini sedang di hubungi tengah sibuk dengan mainan baru nya.
Ckrek
Ckrek
Ckrek
Collen memainkan api pada kotek dengan tangan kiri menggoyang-goyang gelas berukuran sedang berisikan bensin.
Tiga orang pada awal nya tapi sekarang terlihat bertambah jadi enam orang dan keadaan mereka sudah tidak baik-baik saja. Sudah ada yang tergeletak dengan darah mengalir ke lantai, sudah ada yang menutup mata nya karena perih dan keadaan yang lain nya bisa di katakan sangat mengenaskan.
"Katakan yang sebenarnya jika tidak kau akan merasakan mulut terbakar seperti rekan mu itu!" Seru Collen dengan senyum smirk nya.
"Tu-tuan ampuni kami! Kami sungguh tidak tahu apapun" Mereka terus memohon sesekali melihat mereka yang sudah tergeletak tak berdaya.
"Cukup katakan yang sebenarnya" Tekan Collen.
Dia terdiam dengan penekanan yang di berikan Collen.
"Mentri Keuangan. Hanya itu saja yang bisa saya katakan! Mohon ampuni nyawa kami, tuan!" Berlutut, terus berlutut. Tubuh bergetar begitupun bibir bergetar karena takut.
"Mentri Keuangan?" Ucap Collen mengulang dan mengangguk perlahan.
"Tolong, tolong ampuni kami" Terus memohon agar Collen tidak memasukkan bensin ke dalam mulut mereka seperti rekan nya yang sudah tergeletak.
Collen berdiri membanting bensin ke sudut lain dan kembali memasukkan pemantik itu ke dalam saku nya.
Collen mengaktifkan handphone nya dan ternyata ada pesan masuk.
"Shabila?" Gumam Collen mengerutkan asli. Dia pun menelpon balik.
Si kembar masih duduk di sofa. Handphone Shabila pun bergetar.
"Collen?" Seru Shabila. Sean juga Shane menatap Shabila.
Collen mengatakan satu kata dan Shabila lumayan paham dengan apa yang di ucapkan Collen.
"Apa yang dia katakan?" Tanya Shane.
"Mentri Keuangan" Ucap Shabila.
Sean mengingat orang itu. "Bukan kah dia keluarga dari Jeno? Orang yang terlibat masalah dengan keluarga kerajaan waktu lalu?"
Shane pun terperanjat, begitu pun dengan Shabila.
"Kita melupakan mereka" Seru Shabila.
"Ayo kita ke sana" Sean pun berdiri dengan segala dugaan nya.
Sebelum berangkat, rumah singgah itu di perintahkan untuk di jaga ketat selama mereka pergi.
"Kita mau ke mana, Sean?" Tanya Shane juga Shabila bersamaan.
"Rumah mentri keuangan" Jawab Sean dengan sangat yakin dan pasti.
Sedangkan di istana. Aat tengah mengamuk karena laporan dari tangan kanan nya yang sudah dalam keadaan bengkak di sudut bibir nya.
"Sialan. Berani sekali dia masuk? Bagaimana bisa penjaga gerbang bisa lalai?" Teriak Aat membanting botol wine kosong ke sembarang arah.
Aat pun menghubungi orang-orang nya yang menyekap Daniza, tapi sudah ke sekian kalinya tidak tersambung.
"Kemana dia?" Aat hendak membanting handphone nya tapi dia urungkan dan menggeram semakin kesal.
__ADS_1
"Keluar" Teriak Aat pada tangan kanan nya. Pengawal dan pelayan yang ada di luar pun kembali kaget. Pangeran yang mereka kenal sebelum nya tidak seperti ini.
"Sialaan" Aat kembali berteriak.