The Future King

The Future King
Eps 122


__ADS_3

...**...


Dalam istana gaduh, sepertinya mulut pelayan yang malam membersihkan kamar Ahan bergosip kesana-kemari sampai terdengar di telinga seluruh anggota keluarga istana.


"Putri, Raja memanggil anda. Beliau berada di tempat kediaman tuan Ahan!" Ucap ajudan Aaron.


Rayya nampak menikmati teh hangat yang tersaji di atas meja makan kediaman nya dengan tenang. Beranjak dari duduk dan kemudian berjalan ke luar melewati sang ajudan dari Raja Yodrak.


Asnee pun ternyata hendak menuju kediaman Ahan dengan langkah cepat dan gusar.


"Kak" Panggil Asnee. "Kak dia baik-baik saja kan?" Tanya Asnee. Rayya memperhatikan tingkah adik nya, biasanya dia begitu ketus pada Ahan, tapi kenapa pagi ini nampak berbeda?


"Kita ke sana dahulu, Papa dan semua nya ada di sana!" Seru Rayya. Asnee pun mengangguk paham.


Di dalam kediaman Ahan. Aaron, Aat, Ananada, Rataporn san nenek suri pun ada di sana. Ahan duduk tegap di atas kursi dengan masih memakai baju tidur nya.


Kening yang di perban dan memar di pipi masih saja membiru.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Perkataan pelayan sangat mengerikan saat malam tadi membersihkan kamar anda. Tuan?!" Aaron bertanya, duduk bersebrangan dengan Ahan. Semua anggota yang ada bersiap mendengarkan.


"Maaf Raja, saya tidak bermaksud menggemparkan seisi istana, tapi kebenarannya berita itu terlalu berlebihan! Saya tidak mengalami hal apapun dan mengenai darah yang di bersihkan itu karena tubuh saya ada tergores saja!" Tutur Ahan.


Pernyataan Ahan tentu tidak mereka percayai, masalah nya bukan tentang darah yang berceceran, tapi mereka penasaran apa yang membuat adik dan kakak itu hari kemarin ke luar dengan membawa banyak sekali pengawal yang berlatar belakang prajurit dan malam nya terdengar berita yang mengerikan.


Berita yang tidak ingin menjadi simpang siur membuat semua keluarga kerajaan mendatangi kediaman Ahan.


Ahan pasti tahu, untuk itu mereka berusaha untuk mengorek berita dari tangan kanan Rayya itu.


"Putri, Pangeran" Ucap Pelayan yang berada di area itu. Aaron serta yang lain nya pun menoleh akan kedatangan Asnee juga Rayya.


"Ini masalah di antara kami, Papa! Kalian tidak perlu khawatir dan kami tidak akan melibatkan anggota kerajaan!" Tutur Rayya menghampiri Aaron.


"Tapi Papa, kenapa tidak ada yang mengatakan jika di tempat kita ini ada transaksi yang mengerikan? Pasar gelap, mereka menyebutnya seperti itu dan tidak ada dari kalian yang memberitahu kami!" Giliran Asnee yang berbicara.


Aaron mengangkat tangan nya, mengkode agar semua pelayan yang ada ke luar. Ajudan Aaron pun memandu mereka untuk ke luar.


Rataporn pun memutuskan untuk ke luar bersama dengan nenek suri karena pembicaraan ini sudah di luar konteks nya.

__ADS_1


"Kalian ke sana? Dari mana kalian tahu keberadaan pasar itu?" Aaron pun bertanya sejenak melirik Aat yang nampak kaget juga.


"Kami tidak masuk, hanya di area luar nya saja! Tapi untuk Niza dan Ahan sepertinya mereka sudah masuk. Mereka sepertinya tahu!" Ucap Asnee melirik Ahan yang nampak hanya duduk tenang.


"Ini" Rayya mengeluarkan plakat asing, hanya Ahan yang bereaksi berbeda saat ini.


"Dari mana anda mendapatkan plakat ini?" Ahan langsung saja bertanya, membuat mereka berlima termasuk Ananada-Raja terdahulu memperhatikan.


"Dari salah satu keluarga, saya!" Seru Rayya sembari menatap lekat Ahan.


"Saya tidak membutuhkan plakat ini, jika kau memerlukan nya ambil lah!" Ujar Rayya. Ahan hanya diam saat Rayya menggeser plakat itu lebih dekat.


"Bukan saya yang sangat membutuhkan nya, tapi berikan ini pada Daniza. Dia sangat membutuhkan plakat ini!" Tutur Ahan. Asnee menatap selidik saat tatapan Ahan pindah pada nya.


"Anda bisa membantu nya. Mungkin dia tidak meminta nya, namun Niza pasti sangat membutuhkan seorang teman untuk menemani nya! Saya hanya bisa melindungi nya dari belakang setelah saat ini terjadi!"


Ucapan Ahan semakin susah di cerna apalagi oleh Rayya juga Asnee. Mereka tidak mengerti maksud Ahan saat ini.


Aaron Aat dan Ananada nampak berpikir keras, mereka tidak menduga jika anak-anak akan tahu sedalam ini tentang negara nya.


Aaron mengingatkan sebagai Ayah dan sebagai Raja.


"Benar apa yang Papa kalian bicarakan! Beberapa waktu lalu, apakah kalian ingat saat Paman tidak berada di rumah? Paman mencoba terlepas dari urusan pasar gelap yang mengikat Paman tanpa Paman sadari sendiri!"


"Orang-orang yang dekat dengan Paman dulu, termasuk mantan istri Paman ternyata anggota dari pasar gelap dan terkadang menjual nama Paman sebagai jaminan"


Aat pun ikut menjelaskan bahwa Pasar Gelap itu bukan lah urusan, mereka sudah legal dan itu tidak bisa di ganggu gugat.


"Banyak juga mafia bawah tanah yang terikat dengan mereka dan hal itu akan semakin membahayakan. Mereka akan merasa terancam jika kita mengganggunya, begitupun sebalik nya!."


Aat pun menceritakan pengalaman yang baru saja selesai dia luruskan sampai di mana dia pun terlepas dari jeratan itu.


"Jadi, itu berarti Paman Leo salah satu nya?" Seru Rayya, karena plakat itu di berikan oleh Paman Leo.


"Bisa jadi kak!" Timpal Asnee.


Mereka sejenak terdiam.

__ADS_1


"Jadi Daniza ada tujuan tertentu masuk ke sana?" Lanjut Asnee bertanya. "Dan sebentar—" Asnee sejenak menghentikan ucapan nya.


"Ada hubungan apa anda dengan Daniza?" Asnee menyelidik.


Terutama Rayya, dia yang paling ingin mendengar jawaban dari Ahan.


"Tidak ada! Maaf saya tidak dapat mengatakan nya." Jawaban Ahan bulat, tidak dapat di ganggu gugat.


Kediaman Ahan kembali sepi, semua anggota kerajaan ke luar dengan banyak pertanyaan.


Tapi tidak lama, Rayya kembali masuk dengan membawa sarapan di atas nampan.


"Anda sedang apa?" Selidik Ahan seraya berdiri karena dirinya tidak enak jika seorang putri kerajaan membawakan satu mangkuk bubur demi dirinya.


Wajah kecut, bibir mencebik kesal. Rayya lumayan kasar menaruh nampan itu. Ahan menaikkan satu alis nya karena heran.


"Mana panggilan Baby nya?" Rayya pun semakin mencebik kesal. "Tidak panggil baby lagi?" Rayya terus protes dengan sikap Ahan. Kadang lembut, kadang acuh seperti orang asing.


Nafas berhembus kasar, Ahan merasa geli dengan sikap Rayya saat ini. Ahan hendak berbicara namun Rayya memotong nya dengan cepat.


"Apa? Panggil baby dulu!" Rengek Rayya menghentakkan kaki nya seraya bola mata membulat penuh.


Wajah Ahan berseri mengulurkan tangan sesaat setelah dirinya kembali duduk. Rayya menggapai nya dan akhirnya duduk di pangkuan Ahan dan melingkarkan tangan di leher.


"Panggil Baby sekarang!" Rayya masih kekeh. Senyum Ahan semakin melebar, saking lebarnya kini terlihat kerutan di sudut bibir nya dan mata menyipit karena dorongan pelipis.


"Baby" Bisik Rayya. Ahan pun memeluk Rayya, menempelkan kepala nya dada.


"Sudah ah badan aku berat, nanti luka mu terbuka lagi!" Seru Rayya hendak beranjak dari pangkuan, tapi Ahan malah tidak membiarkan nya, alhasil Ahan makan sembari memeluk Rayya.


Entah hawa apa, tapi saat dirinya memeluk Rayya, rasa kantuk begitu cepat menyerang nya dan kini pun Ahan tertidur setelah selesai sarapan.


"Dasar, cepat sekali tidur nya!" Umpat Rayya namun sambil membenarkan selimut yang menutupi tubuh Ahan.


"Yang di luar" Rayya sedikit menaikkan nada suara nya. Pintu pun terbuka dan dua pelayan masuk.


"Tolong bersihkan itu!" Ucap Rayya dan pelayan itu segera merapihkan bekas sarapan di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2