
...***...
"Menurut laporan, saat bertugas mereka mendapati puluhan orang di perdagangkan dan di paksa untuk bekerja di kapal nelayan"
"Laporan yang baru pun kami terima saat satgas sampai di pelabuhan! Kami memeriksa keamanan nelayan pada awal nya, namun di saat yang bersamaan ada sesuatu yang mencurigakan di sana"
"Korban perdagangan yang kami amankan mengatakan jika teman-teman mereka di bunuh saat hendak melarikan diri dan mayat nya di buang langsung ke laut"
"Dan baru-baru ini laporan dari unit satuan mendapati kapal yang berlabuh tanpa izin di laut barat, namun kami belum menemukan bukti nyata tentang apa yang mereka lakukan"
"Penyelidikan masih berlanjut"
Komandan tinggi pertahanan melapor. Setiap pejabat menyampaikan masing-masing laporan nya. Asnee yang berada di sana mendengar dan memperhatikan setiap laporan yang keluar dari mereka.
Keputusan nya sudah sangat tepat, masalah kerajaan masih belum selesai dan kini beban negara yang harus dia pikul. Untuk ke depan nya, dia akan membantu mengatasi permasalah dari semua aspek agar papanya tidak terlalu terbebani.
Asnee menatap Aaron dan menampilkan mimik wajah yang seakan mengatakan 'Pah tenang, ada aku!'. Aaron pun sekilas menatap putra nya dengan tatapan terimakasih seakan dia mengerti arti dari tatapan putra nya.
...**...
"Pangeran" Ucap Karl. Asnee yang tengah berada di balkon pun menoleh.
Karl mengulurkan tangan nya sopan dan dia memberikan benda pipih berwarna hitam pada Asnee
"Saya telah menyalin semua berkas dan beberapa rekaman prihal hubungan Nyonya Mali dan tuan Jeno" Ucap Karl detail.
"Kerja bagus, Karl!" Asnee menatap benda itu dengan tatapan sadis, sunggingan bibir pun begitu tajam. Karl sudah biasa dengan sikap itu sehingga dia bisa menahan aura dari Tuan nya.
Angin berhembus menerpa gorden kamar, istana timur memang terkenal kesejukan nya, tidak ada yang tidak mau berkunjung ke sana. Tidak hanya di lengkapi dengan hiasan beberapa tanaman tapi juga bangunan nya sangat berbeda, sehingga menonjolkan ketegasan tersendiri.
Derapan langkah saling sambung menyambung tidak ada habis nya. Malam sudah sangat larut membuat sang pemilik mata telah terpejam.
Telinga Asnee terganggu, mata pun kembali terbuka namun badan tidak bergerak dari tempat tidur. Suara samar-samar membuat nya penasaran, untuk itu dia terdiam sebentar, namun semakin lama derapan langkah semakin terdengar.
Asnee beranjak turun dari ranjang nya, membenarkan tali kimono yang mengikat pinggang nya dan membenarkan tempat tidur nya agar terlihat kembali rapi.
Kedua mata itu menggerayangi setiap sudut ruang dari atas balkon. Tentu saja ada beberapa bayangan seseorang masuk melalui taman samping.
"Sial" Umpat Asnee.
Asnee dengan cepat menghubungi keamanan terutama Karl dengan pesan singkat. Jarak kediaman Asnee dan juga para pengawal nya lumayan menghabiskan waktu lima menitan, namun sayang jarak dekat itu tidak berguna saat ujung belati runcing telah menekan leher Asnee.
Asnee tidak fokus, sampai kedatangan penyusup pun tidak dia sadari, padahal pencahayaan tidak begitu terang sehingga dari arah depan pun bayang penjahat itu akan jelas terlihat.
"Patuh!" Penyusup itu semakin menekan ujung belati nya pada leher Asnee, percikan darah pun mulai ke luar perlahan.
Asnee masih tenang, dia benar-benar patuh tanpa protes. Kedua tangan pun masih terjulur ke bawah seraya kedua sudut mata menatap sang penyusup.
__ADS_1
Srakk
Sraakk
Dugh
Sudut mata dan kedua lengan saling bekerja sama. Asnee membalikkan keadaan, dia memelintir tangan penyusup itu dan mendorong nya ke dinding.
"Cihhh, hanya belati tumpul ini yang kau gunakan untuk menyerang ku?" Tekan Asnee sombong.
Trang
trang
Asnee membanting belati itu sehingga terlempar ke lantai dan entah di mana keberadaan belati itu.
Penyusup itu memberontak, terus memberontak agar bisa lepas dari kekang an Asnee.
Bugh
Bugh
Bughh
Duaghh
Penyusup itu berhasil lepas dan tidak tahu malu langsung menyerang Asnee berkali-kali.
"Sentuh wajah ku jika kau berani" Tantang Asnee. Nada suara nya menyegarkan jantung sang penyusup sehingga darah pun ikut segar namun perlahan panas dan mendidih karena kesantaian Asnee.
Di luar sudah ramai, itu berarti Karl sudah datang.
Wusshhh
Seuuttt
duagh
duaghh
bughh
Asnee dan penyusup bermasker itu kini saling serang. Seakan luka di leher bukan apa-apa, Asnee terus menyerang penyusup itu. Pertahanan tubuh nya sangat bagus dan sepertinya dia pernah melawan seseorang dengan teknik yang sama sebelum nya, tapi di mana? Pikir nya.
Brukkk
Tubuh penyusup itu menubruk nakas kecil yang sangat kokoh sehingga terdengar retak dan bahkan itu sepertinya bukan dari nakas milik Asnee tapi dari tulang punggung sang penyusup.
__ADS_1
"Arghhh sial" Umpat penyusup itu berusaha berdiri. Salah satu sudut bibir nya tersungging tajam.
"Yaaaaakk" Dia kembali menyerang.
Buaghh
Buaghh
Brakk
Giliran asnee yang tersungkur sekarang, dia terbatuk dan nafas pun terasa berat, tapi bukan berarti dia kalah. Badan nya yang tidak fit membuat stamina nya sedikit kacau dan itu berpengaruh terhadap kesehatan nya
"Hahaha sok hebat dan sok pintar juga tidak baik, nak!" Penyusup itu menepuk pipi Asnee berulang.
"Lebih baik kau serahkan flashdisk itu! Jika tidak, aku tidak akan berbaik hati lagi setelah kau melakukan hal-hal yang membuat ku marah!" Ujar nya mengancam, tapi Asnee masih tetap santai dan hanya menaikkan satu alis nya
Srakk
Penyusup itu reflek mundur cepat saat tangan kekar Asnee hendak melepas masker nya, rasa kaget nya terlihat jelas oleh Asnee sehingga dia semakin suka dan semakin semangat.
"Sial" Umpat nya kembali, marah dan kakinya dengan tidak sopan hendak menendang kepala Asnee.
Brashhh
Seketika kaki penyusup itu tertahan dengan cepat.
Brughhh
Asnee menahan dan akhirnya mendorong penyusup itu sehingga kembali terbentur nakas yang satu nya lagi.
Asnee pun kini berdiri dan saat dia hendak melangkah, pintu kamar nya terbuka keras
Brakkk
Karl berada di ambang pintu, penyusup itu dengan cepat bangun dan berlari cepat ke arah balkon dengan tangga menuju ke bawah.
Karl mengejar nya namun Asnee menahan nya.
"Biarkan dia pergi, Karl!" Ucap Asnee. Karl pun langsung berbalik.
"Ta—"
"Tidak ada tapi-tapian, Karl! Urus sisanya dan kau selidiki kembali Guru istana itu besok"
"Dia terluka di bagian punggung nya, pastikan dia datang besok! Jika dia tidak datang maka tidak diragukan lagi jika dia adalah orangnya" Tutur Asnee masih santai.
Karl mengerti, dia pun kembali ke luar.
__ADS_1
Asnee tidak lagi berbaring di atas kasur nya, dia duduk di sofa dan memeriksa setiap rekaman yang ada di laptop nya.
"Mari selesaikan permainan ini, Guru Istana!"