
Bingung harus melakukan apa, Daniza masih memperhatikan kedua mata Asnee yang masih enggan terbuka. Dia pun berusaha untuk melepaskan tangan Asnee yang masih memegangnya.
"Pangeran?" Daniza mencoba menepuk pelan wajah Asnee dan kembali dia tarik. Reflek Daniza menelan ludah nya sendiri, entah takut ataukah canggung, dia merasa ambigu untuk tingkah nya sendiri saat ini.
Pegangan Asnee terasa semakin erat sampai Daniza semakin pula susah untuk lepas. "Sakit" Keluh Daniza sesekali mengedarkan pandangan nya ke seisi ruangan. "Pangeran tolong lepas! Tangan saya sakit" Bisik Daniza, mencondongkan badan nya menggapai telinga Asnee.
Suara hangat terdengar, Daniza mencoba mengelus wajah Asnee walau dengan gemetar. Dia sadar, di depan nya adalah sang Pangeran, adik dari majikan nya saat ini tapi harus bagaimana lagi, tangan nya sakit di tambah luka di lengan bawah yang masih belum kering.
Hangat sentuhan Daniza, merangsang semua saraf dalam tubuh Asnee. Dua bola mata bergerak perlahan ke kana dan ke kiri.
Kelopak mata mulai terbuka perlahan, menyelaraskan cahaya yang masuk ke dalam retina. Tangan Daniza masih menyentuh pipi Asnee.
Jari jemari mulai bergerak, Daniza reflek menoleh pada Asnee.
"Anda sadar?" Semburat senyum hangat dari kedua sudut bibir Daniza begitu menenangkan. Sorot mata dan kening yang sedikit mengkerut terlihat senang namun tercampur khawatir.
Pegangan tangan Asnee mulai terlepas, Daniza malah balik memegang tangan Asnee saking senang nya.
"Sebentar, saya panggil dokter dulu!"
Sayang, Asnee malah menahan nya. "Anda butuh sesuatu, pangeran?" Tanya Daniza sesekali memperhatikan tangan nya yang masih terpaut dengan Asnee.
Tatapan Asnee datar namun seperti orang yang tengah berpikir akan wajah asing di hadapan nya. Kepala nya sakit begitupun tangan nya yang terlilit perban.
Tombol di belakang brangkar menjadi tatapan Daniza, dia pun memilih menekan tombol itu untuk memanggil dokter karena tangan satu nya lagi masih di pegang Asnee, jika dia menarik nya, dia takut inpusan yang tertancap di punggung telapak Asnee terlepas.
Tet
Tet
Tet
__ADS_1
Di luar, Dokter dan perawat berlarian setelah mendengar tombol darurat dari kamar 302 tempat di mana Asnee di rawat.
Derap langkah semakin cepat dan sebagian berlari, terlihat dokter Mafia khusus untuk Asnee berlari mendahului dokter lain.
"Ada Apa?"
Tidak ada yang tidak kaget, Si kembar yang baru memasuki koridor ruang rawat Asnee kaget bukan main karena dokter Mafia terus berlari walau di tanya.
"Sean ada apa? Ruby dan Edward yang selesai berbincang di luar pun ikut berlari dengan jantung yang terus berdegup kencang.
"Asnee, mom! Ayo kita ke sana"
"Ayo cepat" Timpal Shane.
Banyak orang berlarian, ruang vvip yang seharusnya tenang malah menjadi gaduh hanya karena satu pasien.
Kenzie yang lain nya tidak lagi berjaga di depan ruangan atas perintah Edward tadi, jadi posisi sekarang tidak ada siapa-siapa.
Dokter mafia dan dokter lain masuk.
Jeppp
Ruangan hening seketika.
"Astaga siapa yang menekan tombol darurat?" Dokter Mafia berdecak pinggang, keringat nya bercucuran karena lelah berlari dan ketakutan.
Keadaan Asnee nampak baik, mata nya terbuka. Dengan polos nya Daniza mengacungkan tangan dengan sedikit bersalah.
"Saya pak dokter" Racau nya.
"Haisshhh! Awas menyingkirlah!" Tidak kasar, namun dokter mafia itu masih dalam suasana ketakutan menjadikan dia meninggikan suara pada Daniza.
__ADS_1
Asnee kembali di periksa ulang, dua dokter dan dua perawat ikut membantu.
"Syukur lah. keadaan nya sudah membaik!" Senyum terpatri seketika, jantung yang berdetak tidak karuan itu mulai normal kembali. Seperti nya dokter itu takut di penggal oleh petinggi mafia jika keadaan Asnee memburuk, untuk itu ketakutan dalam dirinya merajalela.
"Ada apa ini?"
Untung pintu ruang rawat itu sangat kokoh, jika tidak pasti pintu itu sudah copot dari tempat nya.
"Asnee sayang, kamu sadar nak?!" Pinggiran brangkar yang di tempati Asnee penuh oleh mereka berlima.
Di tambah Rayya dan juga Aaron. "Asnee?" Teriak Rayya gelisah karena semua orang sudah berkumpul di dalam ruangan. Langkah cepat ayah dan putrinya itu semakin cepat, raut wajah mereka gelisah.
"Huuuffhh" Asnee menghembuskan nafas nya kala mendengar teriakan demi teriakan dari keluarga nya. Kepala yang terluka semakin pusing, serasa berdenyut di antara dua alis.
"Kak" Keluh Asnee dengan suara nya yang serak.
"Kenapa? Mana yang sakit nya, eum?! Mau minum? Kaka ambilkan dulu!"
Asnee menahan lengan Rayya. Shabila sudah memegang gelas bening bersiap untuk di berikan pada Asnee.
"Sini, biar kakak yang bantu!" Shabila pun memberikan minum untuk Asnee di bantu oleh Aaron.
"Lady!" Ucap dokter mafia itu dari samping, Ruby dan Edward pun menoleh.
"Tuan kecil harus istirahat yang cukup! Kalau bisa jangan terlalu banyak orang di dalam ruangan" Tutur nya. Ruby mengangguk, dia paham karena kejadian seperti ini bukan hanya menimpa Asnee saja.
"Niza, coba kau cek apakah pria dingin itu sudah membeli buah-buahan atau belum! Jika belum kau bantu dia membelinya!" Seru Rayya. Daniza pun mengangguk sopan dan berlalu pergi.
"Papa temani Asnee di sini, ya!" Ucap Aaron. Asnee tidak menjawab, dia hanya menggerakkan kelopak mata nya.
Lampu terang sedikit demi sedikit menjadi temaram, Asnee meminta untuk tidak terlalu terang karena matanya terasa sakit.
__ADS_1
Mereka semua pun kembali ke luar dengan perasaan senang. Aaron di dalam, menemani putra kecil nya.
"Tidur lah! Papa akan temani Asnee di sini" Ucap Aaron membenarkan selimut. Wajah damai sang putra semakin menambah rasa bersalah nya. "Papa terlalu sibuk dengan urusan papa sampai mengabaikan tentang kamu, As! Maafkan papa" Ucap Aaron menatap dalam mata terpejam Asnee.