
Mobil yang hendak di tumpangi oleh Asnee juga Daniza ke tempat landasan Jet Pribadi telah siap di depan istana.
Beberapa pelayan menyiapkan keperluan untuk mereka.
"Kalian hati-hati" Ucap Rayya. Di samping nya ada Ahan dan juga Paman Aat.
"As, bawa ini!" Aaron melangkah cepat seraya mengulurkan tangan nya hendak memberikan sesuatu. "Bawa ini untuk alat komunikas. Mommy mu bilang di sana jarang sekali ada sinyal! Walaupun beberapa orang dari mereka ikut kesana, tapi ini untuk jaga-jaga saja!"
Sebuah alat komunikasi di berikan pada Asnee. Segala kebutuhan dari yang besar sampai yang kecil benar-benar di perhatikan.
"Kami berangkat"
Pamit Asnee juga Daniza. Setelah pamit lebih awal pada nenek suri, ibu suri dan juga sang kakek, Asnee pun pergi menemui keluarga yang lain tadi pagi.
Mobil pun melaju dengan kecepatan normal sampai tertelan oleh belokan di depan gerbang istana.
"Heuum tinggal satu lagi yang belum" Sudut mata Aat melirik Rayya yang masih berada di samping nya masih dengan kursi roda dia duduki.
Aaron pun ikut menoleh akan ucapan Aat.
"Kalian kapan?"
Aaron tidak berbasa-basi, dirinya tahu bagaimana kedekatan Rayya dan juga Ahan dari awal Pengawal pengganti itu masuk ke istana.
"Pa" Seru Rayya sesaat setelah melirik Ahan dan mendapati jika pria nya sedikit kebas otak.
"Papa tahu!" Balas Aaron menepuk pelan lengan Rayya dan membantu Aat pergi dari halaman.
Ahan pun memberi hormat pada mereka sampai hanya punggung Raja dan Pangeran yang terlihat.
"Mereka tidak keberatan dengan saya? Tidak ada pertanyaan? Tidak ada interogasi? Apa semudah ini mengambil sang putri menjadi seorang istri dari laki-laki seperti saya?"
Rayya bukan fokus pada setiap pertanyaan yang ke luar dari mulut Ahan, melainkan fokus pada pertanyaan yang begitu banyak dan hal itu sangat langka.
"Aaaa sayang nya aku lucu sekali!"
Ahan kaget, jari jemari Rayya mencubit kedua pipi nya dan menguyel-nguyel berkali-kali.
"Apa?" Seketika kening Ahan mengkerut karena memang tidak mengerti dengan sikap Rayya sekarang.
"Lucu" Cengir Rayya.
__ADS_1
"Saya sedang tidak bercanda, sayang!" Sedikit merengut, suara Ahan malah semakin membuat Rayya gemas.
"Ya siapa yang sedang bercanda? Tidak tuh!" Seru Rayya.
"Terserah!" Ahan membalikkan badan nya, hendak pergi namun lengan Rayya lebih dulu melingkar di lengan nya.
"Kita bicarakan di dalam saja. Aku akan menjelaskan akan sikap keluarga istana saat ini!" Tutur Rayya menarik tangan Ahan.
...**...
Asnee dan Daniza pun sudah sampai, tampaknya Jet Pribadi itu terparkir di bandara internasional.
"Niza"
Simon datang diikuti oleh Lukya di belakang. Niza dan Asnee pun menoleh ke asal suara.
Teug
Walaupun rasa itu sudah hilang, namun wajah Lukya mengingatkan setiap moment yang begitu campur aduk. Asnee terdiam, namun selangkah lebih maju memeluk pinggang Daniza dari samping.
Niza melirik Asnee, dia paham situasi karena dirinya pun tahu siapa gadis yang kini tengah bersama dengan Simon itu.
"Simon"
Lukya pun canggung, dia bingung harus melakukan apa sebenarnya, tapi dirinya ada sesuatu yang ingin di sampaikan pada Asnee.
"Dia—"
Dengan kode mata, Niza menunjuk Lukya. Simon mengerti dan langsung menarik Lukya agar sejajar dengan nya.
"Dia bilang ada yang ingin di sampaikan pada suami mu—" Ucap Simon lalu menoleh pada Lukya.
"Cepat katakan!" Lanjut nya mendorong punggung Lukya sedikit lembut.
Lukya semakin salah tingkah, dia tidak berani menatap dua orang di depan nya. Kata-kata yang dia susun sejak kemarin serasa buyar saat ini.
Daniza hanya memperhatikan, menunggu Lukya berbicara. Namun di sela itu, pegangan tangan Asnee serasa mengencang di pinggang nya untuk itu dia langsung bertanya karena paham jika Asnee sepertinya tidak nyaman dengan kehadiran Lukya.
"Kau bisa mengatakan nya sekarang. Nona!" Seru Daniza.
"Tap—"
__ADS_1
"Cepat" Simon sedikit tidak sabaran, dia pun menepuk kecil punggung Lukya.
Lukya yang sedikit terhentak pun akhirnya buka suara.
"Asnee maafkan aku"
Suasana langsung senyap. Niza juga Simon pun merubah arah tatapan mereka pada Asnee.
Asnee membalas tatapan mata Lukya.
"Maaf untuk semua nya! Kesalahan saya begitu banyak, tidak dapat di ucapkan satu persatu."
"Saya benar-benar minta maaf untuk segalanya"
Kepala Lukya pun kini menunduk penuh penyesalan, suara nya ikut bergetar dan akhirnya tergagap. Isak kecil dari hidung pun sedikit terdengar.
"Masalalu tidak perlu di ingat. Kau cukup jalani hidup mu dan saya dengan hidup saya! Anggap kita tidak pernah mengenal satu sama lain!"
Perkataan singkat namun menusuk. Daniza juga Simon pun enggan untuk ikut campur.
"Kau memaafkan saya?" Lukya memastikan.
"Tergantung sikap mu!" Dengan semakin singkat Asnee membalas pertanyaan ataupun ucapan dari Asnee.
Keadaan masih canggung, tidak ada yang bersuara sampai di mana Asnee kembali angkat bicara.
"Penerbangan sebentar lagi. Kami harus masuk sekarang!" Seru Asnee semakin mengencangkan pegangan nya di pinggang Niza.
"Simon, kami pamit!" Seru Niza melambaikan tangan nya sedikit lebih rendah dari biasa nya. Simon mengangguk-angguk seraya ikut melambai.
Sedikit lega, Simon melihat ekspresi wajah Lukya tidak lagi tegang dari awal datang.
"Mereka baik bukan?"
Entah sindiran atau apa, tapi kalimat yang ke luar dari mulu Simon terasa pedas terdengar oleh Lukya.
"Menurutmu—?"
Sekarang Lukya malah bisa bicara ketus pada Simon. Kedua bola mata Simon menatap punggung Lukya yang sudah pergi mendahului nya.
"Malary, putri mu menjengkelkan!" Gumam Simon seraya menggelengkan kepala dan melangkah mengikuti Lukya.
__ADS_1
...**...