The Future King

The Future King
Eps 159


__ADS_3

"Ryu, tolong awasi tempat ini. Saya akan pergi ke luar!"


Rayya hendak berdiri namun Asnee mencegah nya. "Kakak tetap di sini dan awasi semua pergerakan mereka. Aku yakin akan ada orang-orang penting datang dan ingat, mereka semua pastinya tidak lagi berada di pihak kita!" Ucap Asnee bukan lagi menebak, tapi memprediksi hari yang akan terasa sangat panjang.


"Kakak akan pergi ke ruangan Papa dan kau jangan lupa terus hubungi kakak!." Rayya pun berdiri, tekad nya sangat yakin.


Ryu menatap adik kakak itu bergantian dalam duduk nya. "Lumayan" Gumam nya dalam hati, seolah tengah menilai sikap dari Rayya juga Asnee yang pastinya sikap itu turun sedikit dari atasan nya di mafia.


Perlu di utamakan, Aaron harus baik-baik saja saat ini, jika tidak masalah akan semakin menyudutkan pihak kerajaan. Raja selanjutnya harus segera di isi jika terjadi sesuatu pada Aaron dan itu yang kini tengah di jaga.


"Di mana Asnee?" Aaron beranjak berdiri dengan cepat saat Rayya kembali ke ruangan nya.


"Dia ada urusan di luar, untuk di kerajaan akan menjadi tanggung jawab Rayya. Papa, bersikaplah biasa saja, jangan terpancing, buatlah seolah-olah Papa tidak tahu lebih dalam tentang masalah ini! Kita akan menjaga kerajaan dan kedamaian di dalam nya!" Rayya menggenggam tangan Aaron dengan penuh keyakinan. Tatapan pada papa nya pun terpancar rasa keberanian yang tinggi.


"Papa tahu apa yang harus Papa lakukan!." Seru Aaron.


"Nanti malam pasti akan pihak lembaga yang tidak di undang, mereka akan berbicara seolah mengkhawatirkan kedamaian dan kemakmuran kerajaan dan hal itu akan mereka buat seyakin mungkin!"


"Mari kita lihat!" Seru Aaron berdiri, melepas genggaman tangan putri nya dan menghadap pada jendela yang di lapisi tralis.


Sebagai Raja, banyak sekali yang harus dia pertimbangkan dalam setiap keputusan, membuat nya seolah tidak bisa apa-apa dan seolah tidak peduli dengan masalah yang tengah gencar itu.


"Papa hanya perlu percaya pada kita, istirahatlah dahulu! Tamu yang tidak di undang akan kami jamu dan kami layani dengan sebaik mungkin." Seru Rayya mengelus lembut lengan berotot sang papa.


Aaron melirik putri nya dan mengulas senyum. "Papa percaya pada kalian" Ucap Aaron.


Sedangkan di lain tempat, Asnee dan Karl masuk ke dalam penjara di mana Jeno berada.


"Pangeran" Salam para penjaga penjara istana.


Asnee pun membalas salam mereka dengan hanya menunduk seraya berjalan melanjutkan langkah nya ke salam tahanan.


Kaki terhenti di depan jeruji besi. Mata Asnee menyipit kala seseorang tengah berbaring dengan menekuk tubuh nya.


"Buka pintu"

__ADS_1


Titah Asnee langsung di patuhi, gembok pun terbuka.


Orang itu terbangun dengan hentakan tubuh seakan terkejut.


Kelopak mata Asnee membulat sempurna saat dia menangkap keberadaan orang yang sepertinya asing. Dia mirip namun kenapa lebih berbeda, pikir Asnee seraya terus menyelidik.


"Pangeran" Sapa orang itu berlutut di depan Asnee dan hampir menimpa jemari Asnee saat ini. Asnee pun sontak mundur dua langkah menghindari lutut pria itu.


"Seseorang datang dengan mengaduh jika dia memerlukan bantuan dan menerima apapun yang di inginkan penolong nya" Ucap Asnee seraya menatap tajam pria itu dan melanjutkan perkataan nya.


"Dan kau bersedia melakukannya! Bukan kah begitu?" Seru Asnee.


Karl tidak mengerti maksud dari tuan nya, kenapa dia tiba-tiba mengucapkan kalimat seperti itu.


"Dan kau bukan Jeno!" Asnee berlutut, menarik rambut pria itu ke belakang sehingga wajah mereka kini berada lurus satu sama lain.


"Maksud anda?" Orang itu ketakutan saat tatapan tajam dari mata Asnee masuk ke dalam retina nya. Bahkan untuk saat ini, sikap orang itu semakin menunjukkan jika dia bukan lah Jeno.


Jika benar dia Jeno, tidak akan ada acara berlutut dengan kaki gemetar dan sangat mengkhawatirkan dari tatapan nya.


Asnee malah kesal dengan dirinya sekarang, dia pun ke luar dan menemui kepala sipir.


Brakkk


Pintu ruangan itu Asnee dobrak dengan paksa, Karl sampai mundur dengan segala keanehan nya.


"Pangeran" Cegah Karl namun Asnee sudah lebih dulu masuk ke dalam. Orang yang sedang duduk di dalam pun terperanjat kaget.


"Pa-ngeran?" Kepala sipir berdiri, menyeka air yang belepotan ke area sisi mulut nya.


"Berani sekali kau bermain-main dengan saya!" Amarah Asnee semakin tersulut, dia menekan kedua pipi sipir itu begitu saja tanpa terlihat pergerakan nya.


"Pengkhianat kerajaan tidak akan di ampuni dan sayang nya, kau salah satu dari mereka!"


Brakk

__ADS_1


Tubuh sipir itu terdorong menubruk meja kerja nya. Aura Asnee masih menekan dan itu membuat bulu kuduk merinding.


"Ternyata kerajaan ini di kelilingi orang-orang licik seperti kalian yang dengan lantang nya menjilat dan menggonggong hanya demi sebuah kasta? Hahahaha menjijikan!"


"Menjadikan kalian abu sangat mudah untuk saya. Ini peringatan awal dan akhir, setelah ini ucapkan selamat tinggal pada reputasi kalian!"


Asnee berbalik dengan segala aura kemarahan nya.


"Tidak cukup hanya keputusan yang anda lantangkan ini mengguncang kami, kerajaan tidak hidup hanya oleh seorang raja dan anggota kerajaan saja. Untuk itu ancaman yang anda buat tidak akan mempengaruhi apapun!"


Dengan ringan nya ucapan itu ke luar dari mulut sang sipir. Perangai nya sangat menyebalkan dengan segala gelagat dan juga tingkah nya, seakan memiliki orang hebat di belakang nya.


Asnee membalikkan badan nya, harga dirinya merasa di injak-injak, apakah selama ini kerajaan terutama dirinya terlalu baik memperlakukan mereka?


Smirk jahat terpatri jelas dari sudut bibir Asnee.


"Kau lihat ini?" Asnee memperlihatkan seujung kuku nya pada sipir itu.


"Kau lebih kecil dari ujung kuku ini, bahkan lebih menjijikan dari kotoran! Dengar, nyawa untuk orang-orang seperti kalian tidak lebih berharga dari nyawa seekor anjing. Kau berani bermain dengan saya, untuk itu tunggu akhir dari cerita nya!"


Tentu saja, tentu saja perkataan itu sangat tidak bagus di ucapkan oleh seorang pangeran, untuk itu sekarang ini Asnee tidak terlihat seperti seorang Pangeran melainkan seperti seorang pembunuh yang tengah mengancam dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


"Kau mau bukti? Silahkan di tunggu!" Smirk itu semakin tajam dan mengerikan.


Jantung serta seluruh badan Sang Sipir tertegun, di tambah dirinya baru beberapa kali bertemu dan itupun dari kejauhan, ternyata Pangeran itu tidak sama dengan Raja sekarang.


Lama terdiam, sang Sipir teringat sesuatu dan langsung menuju penjara.


"Di mana dia?" Dengan kesal kepala Sipir menunjuk penjara yang di mana ternyata tidak ada siapapun di dalam nya.


Wakil Sipir menunduk ketakutan, dengan tipo menutupi wajah nya.


"Ka—" Kepala Sipir hendak memukul wakil nya itu tapi terhenti kala wajah wakil nya itu telah babak belur dengan mata bengkak dan darah membeku di sudut bibir.


"Sialan" Umpat nya dan segera mengeluarkan handphone dari saku, hendak menghubungi seseorang.

__ADS_1


...***...


__ADS_2