The Future King

The Future King
Eps 21


__ADS_3

...***...


"Aku sama sekali tidak peduli jika lawan mu terluka Anne ! Sudah aku katakan pada mu yang aku tidak suka,"


"Ini, garpu ini bagaimana jika melukai jari mu ? Apa kau akan mempertanggung jawabkan nya ? Tidak bukan ?! Jangan jadikan peringatan ku main-main Anne, jika tidak, aku tidak segan memotong jari mu dengan tangan ku sendiri."


Aarav mengambil alih garpu itu.


"Dan kau Ezra, hal itu juga berlaku untuk mu"


Tatap nya penuh peringatan. Lagi dan lagi anggota keluarga harus meneguk air ludah mereka dengan paksa. Keadaan sangat menyeramkan sekarang.


Begitulah Aarav, sekali bersuara membuat keadaan sangat menyeramkan.


"Huaaaaa mommy, daddy, Aarav nakal"


Annelis jongkok, dia menangis. Menggosok-gosok mata nya yang mengeluarkan air.


Ezra yang melihat Annelis ikut memerah, dia tidak suka Annelis menangis. Hidung, pipi dan mata memerah menahan tangis.


"Hiks—hiks—hiks Huaaaaa Aarav jahat"


Masih tidak ada yang mendekati, keluarga mafia itu ingin melihat apa yang akan terjadi selanjut nya dan hal itu sangat di nantikan.


"Jangan nangis"


Ezra memeluk Annelis, kedua anak kecil itu saling berpelukan dan akhirnya Ezra pun menangis.


"Aarav"


Tegur Sean yang baru saja datang. Aarav menoleh tanpa ekspresi.


"Sini"


Aarav meraih tangan Annelis dan reflek Annelis berdiri kembali.


"Anne, jika kau ingin melindungi seseorang maka buatlah dirimu tidak terluka ! Kalau suatu hari nanti apa yang aku katakan menjadi kenyataan maka aku akan membunuh mereka walaupun itu hal tidak di sengaja"


"Jangan menangis, aku tidak suka kau menangis"


Tinggi mereka sama, kedua anak kecil itu masih berpelukan satu sama lain. Adegan ini yang selalu di nantikan oleh keluarga.


Drama tiga anak mafia yang saling menyayangi satu sama lain.


Sean melebarkan senyum pada Annelis karena kebetulan wajah nya berhadapan dengan Sean. Dia mengacungkan jempol di belakang punggung Aarav tanda akting nya berhasil, sedangkan Ezra masih sesenggukan namun itu pun sepertinya hanya akting nya.


Karena bagaimanapun kelemahan Aarav adalah air mata kedua saudaranya.


"Boy"


Xavera mendekat, dia mengusap lembut pucuk kepala Aarav.

__ADS_1


"Aaaa kenapa kau semakin menggemaskan ? Oh ayolah, bermain seperti anak kecil saja. Itu sangat menyenangkan dari pada menyusun kerangka senjata dan bangunan"


Xavera merasa harus beruntung atau tidak, tapi kadang dia merasa putra nya sangat menakutkan. Dirinya jadi menyesal akan kehidupan nya yang dulu di mana dia suka berkelahi dan balapan motor, jadi sekarang yang di tonton oleh putra nya itu berbau motor.


...**...


Brum...


Brum..


Satu mobil melintasi kawasan mansion Lucifer dengan penuh pengamatan. Pria itu nampak tidak asing, menyelidik dan memperhatikan sekitar mansion.


"Benar ini mansion nya"


"Haha tidak menyangka keluarga angkat nya sekaya ini"


Ucap nya penuh ambisi.


"Jangan gegabah, kita tidak tahu persis dan detail tentang keluarga ini ! Cerita dari wanita itu tidak terlalu lengkap, kita harus cari cara membunuh pangeran tanpa ada yang tahu"


Ucap rekan nya meneropong dengan alat ke arah mansion dengan laju mobil di perlambat.


Tut..


Earphone terhubung satu sama lain, penjaga bayangan di sekitar mansion menemukan kejanggalan akan mobil di sebrang.


"Awasi mobil hitam itu"


Ucap kepala penjaga.


Adik kaka itu saling lempar pandang.


"Ada apa ?." Ucap Sean


"Mobil dengan plat xxxxx berisi dua orang pria baru saja melintas dan menyelidik ke arah mansion, tapi mereka sudah pergi lagi sekarang"


Lapor dari seberang sana.


"Terus awasi dan berjaga dengan ketat" Timpal Shane.


"Baik tuan" Ucap serempak dari para penjaga bayangan.


"Ada apa little boy ?." Shabila mendekat.


"Biasa, sepertinya sedang ada yang mengintai di luar tapi sepertinya mereka bukan musuh kita !"


"Cihh cari celah di saat seperti ini ! Tch tch benar-benar menggelikan !" Delik nya sesekali menyesap jus anggur.


...**...


Asnee terlihat membuka pintu dengan keadaan wajah sudah fresh dan baju sudah di ganti.

__ADS_1


Turun ke bawah untuk bergabung dengan keluarga nya karena malam natal akan segera tiba.


"Asnee"


Teriak Finola dan ternyata Rayya pun sudah bergabung dengan semua nya.


"Hei bro ! Kenyang tidur nya ?." Goda Kevin merangkul Asnee.


"Ya kenyang lah, satu dua tiga. Ya ampun tiga jam dia tidur ! Sssh kau tidak sedang sakit kan, As?!."


Robert buru-buru menyentuh kening Asnee.


"Yak yak jangan sembarangan !" Tepis Asnee kesal.


"Ya lagian ngga biasanya kau tidur sepulas itu, benar kan Vin ?!."


"Benar juga apa kata kau, Bert!."


Bukan lagi keheranan, Asnee semakin tidak mereka mengerti sekarang.


Jerit tawa anak-anak di bawah langit malam semakin menyejukkan.


"Hahahaha Hentikan, geli Annelis"


"No Ezra, kau tidak akan lepas sekarang hahahaha"


"Aaaa Aarav tolong aku ! Kak Zevan tolong Ezra"


Ezra terus berteriak kala Annelis menggelitik nya. Zevan pun ikut bermain dengan mereka sedangkan kalau Aarav ikut bermain maka tidak akan seru lagi.


"Caahh ayo kita makan,, ta—daaa"


Para wanita di sana sibuk menyajikan dan merapihkan hasil masakan mereka dan daging bakar hasil dari Sean dan juga Revan.


"Waaah ma, ini pasti lezat sekali"


Rayya langsung duduk, mereka semua mengambil kursi masing-masing di meja yang panjang dan sebagian duduk di alas bawah.


"Tentu dong, ayo makan kau pasti lapar" Ucap Nara sekilas mengusap sayang pucuk kepala Rayya.


"Kak tolong potong ini untuk ku" Pinta Zevan menggeser piring putih dengan di atas nya berisi daging bakar manis.


"Tentu ! Kau duduk yang manis di sini"


Rayya menarik piring dan menyuruh Zevan duduk di samping nya. Adegan itu masih menjadi perhatian Robert dan juga Kevin, mereka sampai kembali lempar pandang.


"Kenapa ? Aneh kan !." Seru Asnee.


"Kalian memang penuh kejutan" Robert dan Kevin serempak menggelengkan kepala mereka.


"Masih ngobrol apa sih ? Ayo ikut gabung dan makan sebelum dingin" Tegur Mommy Ruby.

__ADS_1


"Tentu mom" Ucap Asnee.


"Dasar nakal" Acak kasar di kepala Asnee.


__ADS_2