
Rayya pun mengangguk dan tidak terasa obrolan mereka memakan waktu yang panjang sehingga perut Rayya terasa lapar dan berbunyi.
"Sebentar, biar pelayan yang mengantarkan makanan ke sini" Rayya beranjak turun dari ranjang.
"Tidak perlu, sebentar lagi saya ke luar lagi dan harus mencari air itu lagi sebelum menemui Simon!" Tahan Ahan pada tangan Rayya.
"Secepat itu? Awas saja kalau Daniza kalian bawa-bawa. Cukup sampai di sini dia mencari kebenaran tentang orang tua nya, aku tidak mengizinkan dia terlibat lebih jauh!" Ucapan Rayya sedikit menekan, Ahan yang mendengar pun menautkan alis nya.
"Kami sudah melakukan nya dari awal dan untuk kejadian waktu lalu di luar dugaan kami!" Seru Ahan mengingat saat Daniza masuk ke dalam pasar gelap.
"Awas saja" Rayya pun ke luar. Ahan menarik nafas panjang karena apa yang terjadi beberapa jam lalu tidak terlalu dalam.
"Simon, sialan kau!" Hardik Ahan malah mengumpat Simon karena dirinya di suruh beli minuman itu untuk para penjahat yang ada di tahanan.
Rumah itu tidak mewah, namun nampak luas dengan no.rumah terpampang di sana.
Ahan masuk melenggang seperti seorang model yang tengah berjalan di atas catwalk.
"Sialan kau!" Ahan seraya melintas meraih bantal sofa dengan tangan kanan menjinjing paper bag isi air yang di pesan Simon.
"Dih datang-datang marah. Jangan marah nanti di benci mertua loh!" Simon menggeser tubuh nya saat bantal itu hendak mengenai wajah nya.
"Cih," Decih Ahan.
"Ya lagian kau ini kenapa? Datang-datang marah!" Seru Simon.
"Ah lupakan" Tepis Ahan dan meletakan paper bag itu di atas meja tepat depan Simon.
Simon meraih nya dan Ahan ke mini bar yang masih di ruangan itu.
"Kau jadi wali nikah, Niza kah nanti?" Satu tegukan masuk, Ahan pun bersuara.
__ADS_1
"Sedang dalam proses memastikan, apakah dia pantas untuk kesayangan ku atau tidak! Kalau tidak ya get out." Seru Simon.
"Aku rasa dia akan menjadi kesayangan mereka, terutama keluarga mafia itu" Ucap Ahan menyenderkan punggung nya di meja bar.
"Mereka ya!" Seru Simon mengangguk seakan tengah mengingat sesuatu. "Kau tahu siapa mereka?" Tanya Simon balik.
"Orang-orang itu asing tapi sepertinya bukan mafia sembarangan." Ujar Ahan.
"Irlandia ya?" Ucap Simon kembali. "Di sana banyak organisasi seperti mereka, tapi yang paling berpengaruh hanya satu. Banyak isu mengatakan jika mereka masih kuat sampai sekarang, hanya menyebutkan satu nama saja semua organisasi bawah tanah akan mundur sebelum perang"
"Red Phoenix" Ucap Ahan. "Ya benar, itu adalah mereka!" Seru Ahan kembali.
Simon berdiri menuju bar. "Pasti itu mereka" Timpal Simon.
"Huffhhh apa ada anak perawan di sana? Tuhan apa jodoh ku ada di sana?"
Ahan hanya menggelengkan kepala nya heran dengan mulut Simon yang terkadang ke meletus tanpa di duga-duga.
"Ya katanya keluarga itu cantik-cantik, rumor sih tapi penasaran aja!" Ujar Simon sesekali menyesap wine di tangan nya.
"Mereka memang cantik, untuk yang masih single kayanya tidak mungkin!"
Belum juga maju, Ahan malah memblok pergerakan Simon dan mundur sebelum maju.
"Ya ya ya kau memang paling ahli" Tepuk Simon pada pundak Ahan dan berlalu pergi.
"Kau yang membebaskan gadis itu?"
Simon terhenti saat Ahan kembali bertanya. "Dia bukan lagi gadis," Sahut Simon. Ahan mengerti.
"Ya ya ya, maksud nya anak itu sudah kau bebaskan?" Tanya Ahan kembali.
__ADS_1
"Sudah" Ucap Simon.
"Sekarang dia di mana? Dan bagaimana bisa kau membebaskan dia, secara dari riwayatnya mendapat beberapa pasal"
Simon kembali membalikkan badan nya. "Aku memasukkan nya ke ruang rehabilitasi dan dia di rawat oleh psikiater" Tutur Ahan.
"Sekarang dia di mana? Tidak mungkin kau meninggalkan nya di Swiss kan?!" Ahan masih penasaran.
"Kanada. Dia sudah sampai di sana dan di jaga ketat agar tidak berbuat seenaknya!"
Ahan hanya mengangguk, tadinya dia yang hendak mengeluarkan nya jikalau proses sidang nya usai, tapi ternyata Simon sudah lebih dulu bergerak.
...**...
"Pangeran" Karl menghadap, dia dengan wajah cemas dan kaget nya berdiri di hadapan Asnee.
"Kau sudah menemukan informasi?" Selidik Asnee seraya memeriksa jam di tangan nya.
"Ini?" Lanjut Asnee saat Karl menunjukkan potret di layar handphone nya.
"Benar Pangeran, ini di dapat dua hari yang lalu dari bawahan saya dan baru di cek tadi!" Seru Karl.
Asnee terus menajamkan penglihatan nya, dia takut salah dengan orang yang ada di layar itu.
"Ini tidak mungkin" Gumam Asnee.
"Karl lakukan tugas mu, cari sesuatu di ruangan nya diam-diam jangan sampai ketahuan!" Titah Asnee. Faktanya ruangan itu tidak pernah di injak oleh siapapun kecuali dirinya dan juga pelayan.
"Baik, Pangeran!"
Karl pun kembali ke luar dengan terburu-buru.
__ADS_1