The Future King

The Future King
Eps 151


__ADS_3

Di perjalanan, Daniza menyenderkan bahu dan kepala nya pada jendela mobil, hembusan nafas pun berulang kali ke luar dengan lelah nya. Memikirkan hubungan nya dengan Asnee membuat nya semakin merasa mengerikan, dia tidak pernah menduga akan ada di mana hal-hal rumit ini terjadi pada nya.


Setelah sampai di depan istana, Simon dan Ahan pun kembali melajukan mobil hendak kembali pada urusan mereka.


"Kau yakin tidak akan ada yang tahu jika air kuat itu kau selundupkan ke dalam penjara hanya untuk menyiksa mereka?" Tanya Ahan mengingat pesanan air kuat waktu lalu.


"Satra yang mengurus nya, untuk sekarang kita harus berusaha menjauhkan masalah dari Daniza juga Iswara! Kita biarkan mereka menjalani hidup tanpa terbebani oleh hal-hal yang sedari awal sudah menjadi tanggung jawab kita"


"Tuan kita tidak pernah membiarkan putri-putri nya menyentuh masalah yang berbau kerajaan dan lain nya. Untuk itu setelah mereka tidak ada pun, kita selesaikan sisa-sisa masalah ini tanpa mereka harus menyentuh apapun" Tutur Simon.


Ahan mengerti dan dia pun tadi sudah mengetahui nya dari ketidaktahuan Daniza masalah internal Kerajaan.


"Kau sudah berbicara dengan Asnee?" Tanya Ahan.


"Tentu saja sudah! Dia baik, tapi luka miliknya itu yang masih mengusik ku!" Seru Simon.


"Hufffhhh" Ahan hanya menghembuskan nafas berat saja.


...***...


Daniza masuk dengan diam-diam, takut nya Asnee ada di area tempat nya.


"Apa yang akan orang katakan terutama orang di istana jika calon istri dari Pangeran pulang malam dengan cara mengendap-endap seperti itu?"


Seketika Daniza menghentikan langkah kaki nya, berdiri tegap, meniup rambut di kening nya dan me-rileks kan mimik wajah serta membalikkan badan ke arah Asnee.


"Aku?" Tunjuk Niza pada dirinya sendiri sesekali menoleh ke setiap arah dengan tingkah nya.


Asnee melipat kedua tangan di depan, menatap selidik dengan pakaian masih sama dari terakhir kali di pakai.


"Ada calon istri Pangeran yang lain? Kalau ada tunjukkan sekarang. Jika ada pun, dia pasti gadis yang patuh!" Seru Asnee, wajah datar nya menatap intens pada Daniza.


"Cuacanya bagus" Cengir Daniza cepat mendekati Asnee dan sekarang tangan nya memegang tangan Asnee. Asnee tidak goyah, dia masih menatap Asnee.


"Jadi kalau saya tidak ada menghubungi anda, anda tidak akan pulang cepat? Owh bagus ya cuacanya!" Seru Asnee menaikkan satu alis nya, menegur namun seperti tengah menyindir nya. Sebutan Formal pun kembali terdengar.

__ADS_1


Daniza mundur selangkah, memperhatikan ekspresi Asnee lebih lekat. "Kau marah?" Seru Daniza. Asnee masih diam menatap. "Owh marah ternyata!" Ujar Daniza kembali merengut seraya menghentakkan salah satu kakinya pada lantai.


'Heuuhh'


Asnee melepas silangan tangan dan kini memasukkan nya ke dalam saku. "Sudahlah! Kembali ke kamar mu." Ucap Asnee keburu males, terlihat pula jika Daniza lelah untuk itu dia tidak ingin memperpanjang.


"Benarkah? Apa boleh?" Langsung Daniza nampak girang setelah mencebik kesal tadi.


"Eum" Angguk Asnee.


"Oke!"


Daniza memeluk singkat tubuh Asnee dan setelah itu berlalu pergi dengan berlari kecil. Asnee mematung, tubuh nya terkejut akan pelukan singkat dari Daniza.


Asnee pun pergi, dia masih menunggu kedatangan Paman nya yang sedari tadi tidak kembali.


"As—" Aaron menepuk pundak Asnee yang tengah mondar-mandir. Asnee pun berbalik dan mendapati ayah nya dengan mimik wajah memerah, rahang menegas begitupun dengan warna mata.


"Ayo kita bicara" Ucap Aaron. Asnee pun mengangguk mengikuti langkah papa nya.


"As, sebelum semua nya terlambat kita harus mencegahnya! Papa tidak yakin ini akan berhasil tapi setidak nya kita sudah berbicara dan berusaha menghentikan nya"


"Jika ini benar pemberontakan maka papa tidak akan tinggal diam!" Seru Aaron melanjutkan.


"Asnee akan mencoba bicara pada Paman!"Ucap Asnee.


"Tidak, Papa akan berbicara dengan kalian tapi besok. Untuk hari ini Paman mu tidak akan pulang karena langsung pergi ke luar kota!" Seru Aaron.


Pantas saja Asnee tidak melihat Paman nya kembali sedari tadi, ternyata dia tidak akan pulang.


Untuk rencana malam ini kembali gagal, permasalahan nya semakin membesar untuk itu dirinya harus menghentikan secepatnya.


...**...


Sedangkan di Irlandia, keluarga itu nampak tengah berkumpul dengan formasi lengkap dan siapa lagi jika bukan Keluarga Lucifer.

__ADS_1


"Tidak sangka dia ternyata ada rencana di balik semua ini!" Ujar Shabila.


"Kak Nara belum tahu, kalau dia tahu bisa bisa tubuh nya akan terlepas dari tempat nya masing-masing!" Lanjut Shabila.


Sean melepas tumpukan kaki nya. "Kita perhatikan sampai mana dia berusaha mewujudkan tujuan nya!"


"Kita belum tahu niat nya yang pasti, untuk saat ini dan kedepannya perlu waspada. Asnee tidak akan mudah berurusan dengan keluarga nya, untuk itu kita harus bersiap" Lanjut Sean.


"Nah ini, masalah kerajaan yang tidak aku suka! Tahta itu padahal kursi yang banyak beban, tapi mau saja jadi Raja. Aneh deh ah!" Shane mulai dengan cerocosan nya.


Tidak heran kalau keluarga mafia itu kurang suka dengan berbau-bau tahta, tapi takdir berkata lain, Tuhan mengirim Asnee ke tengah-tengah keluarga mereka.


"Asnee baik-baik saja dan informasi dari orang kita yang ada di sana mengatakan kalau pengunjuk rasa ke luar begitu sering dengan durasi lama" Ruby pun bersuara.


"Dia mungkin melakukan semua rencana dengan sangat rapat, tapi dia lupa siapa keluarga Asnee yang satu ini. Tch tch tch!" Lanjut Ruby.


Tidak ada perbincangan lagi, sampai di mana Edward menanyakan kabar Iswara.


"Hahahaha membayangkan nya saja aku ingin tertawa, Dad!" Shabila malah tertawa, entah kejadian apa yang terjadi sampai Shabila tertawa.


"Kalian tahu. Gadis itu seperti anak itik yang tidak bisa jauh dari induk nya hahaha" Shabila malah tertawa lagi.


"Eiji seperti pedofil karena Wara selalu menguntit nya kemanapun. Ke perusahaan pun dia ikut dan panggilan Paman tidak luput dari mulut nya!"


"Kalian tahu tidak, semua pegawai di perusahaan bergosip sampai jam kerja selesai"


"Lagipula aku baru melihat Eiji seserius dan sekalem ini. Dia sudah terkenal sebagai pria impoten di perusahaan, jadi saat Iswara membuntuti banyak sekali gosip yang beredar"


Shabila sambil tertawa mengatakan itu.


"Sepertinya dia tertarik dengan bocah itu" Seru Edward.


"Tentu, mata kita semua melihat itu. Honey!" Timpal Ruby melebarkan senyum.


Dan benar saja, setelah pengecekan harian selesai, Iswara membuntuti Eiji ke perusahaan dan lucu nya dia memegang jas Eiji seperti seorang anak pemalu.

__ADS_1


__ADS_2