
Tinggal di rumah sakit. Kini Daniza tengah berada di dalam mobil menuju rumah sakit yang di kendarai Edward, ada Ruby juga di sana.
"Sudah lama kerja dengan, Rayya?!" Tanya Ruby sekilas menoleh pada Daniza.
Daniza pun meluruskan tatapan nya." Belum lama nyonya" Jawab Daniza dengan senyum tipis di kedua sudut bibir nya.
"Oh begitu!"
"Belajar bahasa inggris dari mana?" Tanya Ruby kembali.
Daniza diam sejenak. "Dulu saya dan saudara saya belajar beberapa bahasa, nyonya!" Jawab Daniza kembali.
Seakan tidak puas dengan jawaban dari Daniza, Ruby melirik Edward, setelah kode dari mata Edward menyahuti, Ruby pun kembali menoleh ke belakang.
Sebenarnya, bukan untuk mencari kalung, tapi Ruby meminta Rayya untuk mengatakan itu pada Daniza. Tanpa bertanya alasan, Rayya segera menghampiri tadi.
"Saya lihat anda memakai lensa dari awal bertemu! anda tidak pernah melepasnya? Bukan kah itu berbahaya buat mata?"
Sekali lagi, Daniza terkaget dengan mereka. Kenapa semua keluarga itu begitu mudah melihat mata nya. Padahal Daniza memesan lensa yang khusus agar tidak mudah di kenali
"Tidak nyonya, setiap hendak tidur selalu di buka! Ini bukan masalah" Ujar nya menunduk.
"Minus berapa?" Giliran Edward yang bertanya. Daniza diam sejenak, dia tidak mengerti ukuran mata minus, jadi dia asal jawab saha.
"Minus dua" Sahut nya.
Sebenarnya dari awal bertemu, Ruby dan Edward sudah mencurigai Daniza karena dari semua kerumunan dia satu-satu nya gadis yang berbeda dari yang lain nya.
Di tambah dia orang baru di istana. Pihak Ruby dan Nara yang biasa nya serba tahu, kini tidak saat sosok Daniza masuk ke dalam istana.
"Asli orang Thailand atau pengungsi di sana? Wajah anda sepertinya bukan dari pribumi di sana!"
Ruby terus saja bertanya sampai di mana halaman Rumah Sakit sudah mereka injak. Sebelum ke luar dari mobil, Ruby menahan Daniza. "Sebentar" Tahan nya.
"Iya nyonya?" Sahut Daniza.
Ruby membuka handphone nya. "Ini! Apa anda kenal dengan bentuk kalung seperti ini?" Ruby menunjukkan gambar kalung milik Asnee.
Awal nya biasa saja, kedua mata Daniza membulat sempurna, dia sangat mengenal kalung di layar itu. Kalung milik ayah nya. Mereka memiliki kalung yang sana tapi milik ayah nya beda sedikit, beda nya hanya pada printilan yang terbuat dari batu Ruby.
"Saya tidak mengenal nya. Nyonya!" Seru Daniza, dia tidak mungkin juga mengatakan jika dia mengenal nya. "Ada banyak kalung seperti ini, tapi untuk bentuk yang ada di gambar ini saya tidak kenal.
"Begitu?! Baiklah!"
Daniza pun ke luar terlebih dahulu, jalan nya cepat tanpa menoleh ke belakang.
"Dia pandai menyembunyikan mimik wajah nya. Baby! Dia mengenali kalung itu, kita tidak salah lagi"
"Hubungi Lexi, perintahkan dia pulang dan untuk Andrew cari gadis yang satu nya lagi! Aku yakin di masih hidup" Tutur Edward.
Keyakinan mereka pasti benar.
__ADS_1
...**...
Di dalam ruang lain di rumah berbeda. Yaya duduk di atas kursi roda, Kenzie pun masih ada di sana.
"Tuan, nona Rayya datang!" Lapor seseorang dari luar. Kenzie pun mengkode agar memandu mereka masuk.
"Anda pasti akan senang dengan kedatangan mereka!" Seru Kenzie. Yaya tidak merespon, namun sebenarnya dia mencebik dan memutar bola mata nya tidak suka.
"Hai, kita bertemu lagi"
Lambaian tangan Rayya sepertinya sangat menakutkan di mata Yaya, sampai-sampai tubuh nya kembali bergetar. Dia mendongak, menatap dua orang di belakang Rayya.
"Kalian?" Seakan tidak ada oksigen, nafas Lukya sesak.
"Lukya?" Ibu Lukya langsung menyetarakan tinggi mereka.
"Kenapa bisa seperti ini. Nak?!" Walau bagaimapun, Ibu Lukya menyayangi nya, walau hati terluka tapi dia tahu sepak terjang gadis belia itu.
Tapi tidak menutup kemungkinan juga, jika hati mereka senang karena mungkin ini adalah waktu di mana Lukya harus nya sadar.
Lukya menepis tangan sang ibu angkat. "Aku tidak apa-apa".
"Sekarang kalian sudah bertemu! Kejahatan dari Lukya tidak dapat di tolerir. Dia akan di periksa dan untuk bukti kejahatan sudah kami kantongi! Jika kalian ingin mengajukan banding, akan di terima!"
"Tapi satu. Kami tidak akan memberikan kelonggaran sedikit pun!" Tekan Rayya.
Semua nya menatap hitam bola mata Rayya. "Untuk apa? Dia pantas mendapatkan nya!" Celetuk papa Lukya dengan penuh amarah.
"Ma sadar! Dia yang membunuh putri kita. Apa kau lupa? Aku tidak sudi menerima nya sebagai putri kita! Jangan terlalu baik atau nasib mu akan seperti putri kita. Ma!"
Amarah yang masih menggumpal kini bertebaran di mana-mana. Kepalan tangan Papa Lukya itu penuh, urat mata pun terlihat jelas, merah dan rentang.
"Hiks hiks.... "
Tangisan pun terjatuh, Ibu Lukya menangis di pelukan suaminya. Tadinya dia berharap jika Lukya akan berubah, dia memberi nya kasih sayang, sama seperti sayang nya pada putri kandung nya dulu, tapi ternyata jauh dari harapan.
Wajah dingin Lukya melekat utuh, dia memalingkan wajah nya dari semua orang. "Bawa dia!" Titah Rayya. Kenzie dan polisi yang ada di luar pun membawa serta Yaya dengan masih di borgol.
"Hiks hiks... "
"Sudah lah ma! Itu sudah menjadi ganjaran buat anak seperti dia! Ma, sampai kapan akan terus seperti ini? Dia tidak akan berubah walaupun kau sebaik apapun!"
Rayya masih berdiri di tengah mereka, memperhatikan. Dia pun tidak tahu pasti apa yang terjadi, dia pula tidak merasakan apa yang mereka alami sebenar nya.
"Tuan, Nyonya, sebenarnya apa yang terjadi?" Ungkit Rayya, membantu Ibu Lukya duduk di kursi dan menuangkan air ke dalam gelas bening.
Bukan Ibu Lukya yang bercerita, tapi suami nya. Dia mengatakan apa yang terjadi pada mereka dan alasan Lukyanova berani membunuh putri kandung mereka sendiri.
Drttt
Drtt
__ADS_1
Drttt
Handphone Asnee bergetar, di menoleh namun kening mengkerut. Handphone nya ada, tapi di mana kalung nya? Pikir Asnee.
Pesan masuk. "Apa ini?" Asnee menekan play dan reflek dia menjauhkan handphone nya. "Yaya?"
Asnee pun mengecek kontak yang mengirim video itu, namun saat dia hubungi sudah tidak aktif. Wajah Luke dan beberapa wajah pria terpampang jelas di beberapa video.
"Semakin ke sini semakin rahasia terbesar mu terbuka. Yaya!" Jantung Asnee bergetar, dia sakit hati. Belum masalah lain yang tiada henti, membuat semua nya meyakinkan jika gadis itu memang tidak cocok untuk nya. Seberapapun rusak nya perempuan, tapi di kala ada niat memanfaatkan, hal itu bukan lagi urusan nya.
Lutut Asnee lemas, dia kembali terduduk. Kenyataan yang pahit, hubungan yang terjalin belum lama, sudah di serang oleh kenyataan pahit. Dia sudah tidak mau berurusan dengan Lukya, keputusan yang bulat ini menyurutkan hati, dia tidak akan percaya lagi dengan kepolosan seorang gadis.
...**...
Sudah hampir lima jam lamanya para mafioso itu mencari kalung di tempat kecelakaan, di tempat dalam mobil juga sudah, tapi tidak menemukan kalung milik tuan kecil mereka.
"Ketemu belum?" Tanya ketua dari mereka.
"Belum kapten" Jawab mereka.
Sang kapten pun menghubungi atasan nya, melapor hasil dari pencarian mereka.
Mereka pun di perintahkan untuk kembali ke kediaman, yang lain pun sama.
tok
tok
tok
Nara masuk, setelah tidak ada sahutan dari dalam kamar yang di tempati Asnee. "Asnee?" Panggil Nara pelan. Seakan sudah menjadi kebiasaan, Asnee tertidur menelungkup. Nara kembali mengecek suhu tubuh Asnee.
"Panas" Gumam Nara. Sejatinya memang keadaan Asnee belum membaik, tapi dia tidak mau lagi di infus dan waktu istirahat pun tidak teratur.
Yang lain sibuk dengan urusan mereka. Si kembar masih belum kembali, mereka sibuk dengan keluarga bangsawan beda negara itu. Bisnis mereka benar-benar hancur, mereka kembali ke negara mereka, meninggalkan anak-anak yang sudah mendekam di penjara.
"Gila gila!" Ujar Shabila.
"Oh iya, itu kalung Asnee hilang. Sudah di cari termasuk rumah sakit!" Lanjut Shabila. "Sepertinya dia sudah sayang pada kalung nya! Jika di lihat, kalung itu memang ada sejarah nya" Ucap Shabila.
"Sepertinya begitu! Tapi kita harus cari ke mana?" Timpal Shane.
"Biarkan dulu! Masih ada urusan penting ketimbang kalung itu!" Ujar Sean, tapi jauh dengan ucapan nya. Kenyataan nya dia pun ikut membantu mencari, walau melalui anak buah nya yang ternyata selama ini dia tugaskan untuk mengawasi Asnee.
"Okey lah!"
"Oh itu, paman Kenzie sudah membawa Lukya ke kantor polisi, untuk sidang nya seminggu mendatang. Asnee harus ada di sana bersama dengan ke dua teman nya! Paman Lucky pun sudah mengamankan kedua supir itu, aparat polisi masih memeriksa mereka" Tutur Shane kembali.
"Percepat! Mereka harus segera di hukum!" Seru Sean.
...**...
__ADS_1