The Future King

The Future King
Eps 154


__ADS_3

"Kakak tadi melihat jadwal pekerjaan nya, tapi tidak untuk tempat nya. Karl hubungi supir yang membawa Daniza, sekarang. Cepat!"


Situasi mereka semakin resah, Rayya pun menghubungi Ahan.


"Han, Daniza dalam bahaya! Ak—"


Sudah yang ke sekian kali nya, Rayya yang belum selesai bicara terpangkas namun kali ini Ahan tidak bicara apapun dia langsung mematikan telpon nya begitu saja.


"Kak bagaimana ini?" Asnee khawatir, dia harus mencari nya ke luar. Sekilas berpikir, apakah pengunjuk rasa yang ada di depan istana untuk mengalihkan ini?.


Rayya dan juga Asnee pun ke luar bersamaan, mereka menuju ke gerbang istana.


"As, jangan kemana-mana! Kalian mau ke mana?" Ibu Suri Rataporn berlari kecil saat kedua cucu nya hendak menembus penjagaan.


"Nek, kami ada urusan! Niza dalam bahaya." Ucap Asnee. Ibu Suri pun kaget dengan apa yang di ucapkan oleh Asnee.


"Apa? Jangan main-main Asnee!" Raut dari Ibu Suri terpatri khawatir, kaget tercampur gelisah.


"Kami tidak main-main, nek! Nek jangan beri tahu siapapun kami ke luar. Usahakan istana kami tidak ada yang masuk apalagi Paman Aat"


"Di waktu yang genting ini pasti ada orang yang akan mengincar kami juga! Nek, Asnee bisa percayakan ini pada Nenek bukan?!"


Asnee menggenggam tangan sang nenek dengan tatapan penuh harapan.


"Nenek akan melakukan nya. As, bawa cucu menantu nenek kembali!" Ibu Suri pun membalas genggaman tangan Asnee.


"As" Rayya mengkode dengan sudut mata. Dari arah kanan jauh dari tempat berdiri ada Aat tengah menatap lurus mereka.


Asnee pun ikut melirik, namun kembali menoleh pada Ibu Suri. "Nek, ayo Asnee antar ke istana nenek." Ucap Asnee.


"Lewat gerbang istana sudah tidak mungkin bukan? Nenek akan membantu kalian ke luar tanpa ketahuan. Ayo!" Seru Ibu Suri Rataporn. Asnee juga Rayya pun mengikuti ibu suri agar tidak terlihat mencurigakan.


Sampai mereka di kamar pribadi Ibu Suri yang biasa nya di tempati saat dulu dirinya menjadi seorang Ratu kerajaan.


"Pintu ini terhubung ke luar istana. Nanti akan ada penjaga di sana tapi katakan jika kalian di bawah tugas nona Rataporn. Mereka akan langsung membantu kalian ke luar tanpa pertanyaan apapun"


Tutur Ibu Suri. Asnee dan Rayya tidak percaya jika Nenek nya bisa melakukan hal ini.


Banyak sekali pertanyaan yang ingin mereka tanyakan, tapi waktunya tidak mendukung.


"Sudah, berangkatlah! Setelah sampai, jangan kaget jika mereka tidak mengenali kalian. Perlu di ingat, mereka prajurit yang tidak pernah ikut campur urusan istana, jadi kalian jangan Khawatir".


Asnee dan Rayya pun masuk ke dalam pintu yang ada di bawah tempat istirahat Ibu Suri, sampai di mana Ibu Suri pun kembali ke luar seperti tidak terjadi apapun.


"Salam" Di depan, ternyata Karl berdiri dan Ibu Suri lupa jika sekarang mereka berdua di tugaskan untuk mengamankan istana selama Asnee ke luar.


...**...


Ssssrrtttt


Mobil yang di tumpangi Daniza begitu saja berhenti, pak supir menginjak pedal rem dengan sangat kuat.


Dugh


Kening Daniza pun terpentok ke kursi mobil lumayan keras.


"Ada apa ini Pak?" Tanya Daniza karena rem mendadak pak supir.


"Siapa mereka pak?" Daniza pun melihat satu mobil menghadang di depan dengan pedal rem masih terdengar. Beberapa orang berbaju hitam pun ke luar dengan cepat.


Pak supir mengunci semua pintu dan tidak membiarkan jendela mobil terbuka. "Pak siapa mereka?" Daniza mulai tidak bisa diam.


Tok


Tok


Tok


Pria di luar mengetuk pintu mobil berulang dan semakin keras.


"Keluar" Teriak mereka dengan berusaha membobol jendela.


Jalan di balik gunung dengan pantai membentang setiap jalannya jarang di lewati oleh para pengemudi, menjadikan tempat itu salah satu jalan yang seringkali terjadi kejahatan lalu lintas.


"Pak, injak gas cepat!." Daniza menepuk-nepuk pundak sang supir.


"Tapi non, mereka—"


Di depan mobil pun ada dua orang yang mencegat mereka.


"Injak. Pak! Mereka akan menyingkir jika kita gertak." Seru Daniza, dia yakin dengan ucapan nya.


"Baik Non" Angguk nya. Orang-orang itu terus mengetuk kaca mobil, semakin lama semakin kuat dan


Pcchhh


Brukk


Kaca jendela pintu bagian belakang di bobol. Daniza menjerit kaget. "Pak cepat" Teriak Daniza menepuk cepat pundak supir.


Suara pedal gas pun terdengar di mainkan, pak supir itu pun terlepas. Dua orang di depan pun menyingkir menjadikan mobil yang di tumpangi Daniza bisa melewati mereka..


"Pak, mereka mengikuti kita."


Pak supir tentu tahu karena dirinya pun melihat.


"Nona, pegangan yang kuat!" Seru Pak Supir.


Di sepanjang jalan, dua mobil itu saling kejar-kejaran. Daniza hendak menghubungi Asnee tapi handphone nya habis baterai dan dia lupa tidak mengisinya tadi malam.


Ssrrrttttt


Dughh


Mobil Daniza di tubruk dari belakang, padahal pak supir sudah melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tapi musuh bisa menyusul nya.


"Oiy nona, ayolah jangan bermain-main terus!" Seru Musuh dari jendela.


"Pak cepat" Tekan Daniza.


Duaghhhh

__ADS_1


Duaghh


"Aarrghhh"


Daniza dan pak supir teriak-teriak karena mobil mereka terus di dorong sampai mobil bagian samping penyok.


'hahahaha'


'Hahahaha'


Musuh tertawa begitu keras akan kondisi Daniza saat ini.


Srrttt.


Mobil Daniza pun berhenti di depan lumayan jauh dari mobil musuh karena dorongan yang sangat kuat.


Pembatas jalan dan pesisir pantai pun tinggi dan sangat terlihat jelas ke bawah, tapi jika Mobil terperosok ke sana pastinya tidak akan ada nyawa yang selamat, di tambah cuaca sedang tidak baik.


"Nona jangan" Cegah sang supir pada Daniza yang kini hendak ke luar. Keadaan Pak Supir pun sudah tidak baik-baik saja dan darah mengalir dari kening.


"Tidak apa pak!" Seru Daniza kini membuka pintu mobil.


Daniza berjalan ke arah mobil musuh seakan terlihat seperti seorang wanita yang tengah menantang para pria untuk berduel.


"Owh hahaha berani juga gadis ini!" Seru salah satu dari mereka.


"Ke luar kalian semua" Tantang Daniza. Perangai dan juga baju nya tidak menunjukkan jika gadis itu pandai dalam pertahanan diri walau belum sempurna.


"Ow hahahaah"


Mereka pun ke luar dengan tawa,


"Siapa kalian sebenarnya? Saya tidak ada mengganggu atau pun menyinggung kalian!" Tunjuk Daniza dengan menakan telunjuk nya.


"Hahahaha memang tidak ada!" Mata-mata pria liar dan hidung belang, melihat Daniza seperti sarapan lezat untuk mereka.


"Tangkap dia"


Brughh


Duahhh


Takk


Niza menahan mereka agar tidak menyentuh nya, menangkis dan juga menendang musuh dengan tangan juga kaki nya.


Duagh


Kepalan tangan Daniza memang tidak mempan, namun tangkisan nya membuat mereka tersungkur.


"Sialan. Tangkap dia"


Musuh mulai serius, keringat melumuri tubuh Daniza, memar di wajah terutama kening semakin terlihat jelas.


Tidak bisa di pungkiri jika stamina dari musuh begitu kuat, membuat Daniza tak bisa menahan nya.


"Sial" Umpat Daniza, membuang ludah yang sudar berwarna merah.


Pak supir tidak bergerak, mata nya terpejam. Kesadaran nya sudan tidak terdeteksi lagi. Mungkin karena benturan di kepalanya tadi.


"Lepas" Teriak Daniza. Dua pria mengunci pergerakan tangan nya.


"Buang mobil itu ke laut" Perintah salah satu dari musuh itu, sepertinya ketua dari komplotan yang sekarang menghadang Daniza.


"Jangan, apa yang kalian lakukan?" Teriak Daniza saat mobil dan pak supir di arahkan ke laut dengan mobil musuh terus mendorong-dorong agar terlihat seperti kecelakaan yang menabrak pembatas jalan.


Semua barang Daniza pun berada di dalam mobil. Air mata menggenang di pelupuk mata dengan kulit mata sudah memerah.


"Stop. Apa yang kalian lakukan?!" Daniza mengguncang, kuncian pada tubuh nya benar-benar kuat sehingga dia yang tengah memberontak sama sekali tidak bisa lepas.


Dan pada akhirnya, kemampuan nya pun masih belum begitu kuat saat ini.


Byurrrrr


"Tidak jangan—" Teriak Daniza. Pak Supir pun tercebur ke dalam air laut begitupun dengan mobil dan juga barang-barang nya.


"Bawa dia" Ucap pria itu.


Keadaan Daniza sangat mengenaskan, wajah nya lelah dan juga memar. Kini kepala pun di tutupi kain begitupun dengan mulut nya.


Entah kemana dia akan di bawa.


Sedangkan Asnee dan juga Rayya, mereka masih berjalan di lorong yang begitu berdebu, tidak sampai dan tidak menemukan ujung jalan. Sangat panjang dan juga gelap, cahaya pun seadanya dari handphone Rayya.


"Kak" Tunjuk Asnee.Secercah cahaya terlihat walaupun kecil.


"Ayo As!" Rayya pun menarik tangan Asnee agar lebih cepat berjalan.


Cahaya semakin membesar dan akhirnya mereka sampai di ujung lorong. "Ada tempat seperti ini di sekitar kerajaan?" Seru Rayya juga Asnee mengedarkan pandangan nya.


Area itu sangat luas dan nampak tak terbatas, di sekitar pun terbentang tinggi tebing yang membatasi kerajaan dan juga wilayah luar.


"Ayo" Asnee pun menuju gerbang yang tinggi nya tak seperti tebih, hanya setinggi 2 meter saja dari tinggi Asnee.


Sesuai dengan ucapan nenek, ada beberapa penjaga dengan memakai seragam berbeda dengan prajurit penjaga gerbang biasa nya.


"Siapa di sana?"


Asnee dan Rayya pun di hampiri dua orang dari sudut gerbang bagian dalam.


"Ibu Suri Rataporn!"


"Tolong buka gerbang untuk kami" Timpal Asnee.


Tentu saja setelah mendengar nama itu, mereka menyapa dengan sopan, menundukkan kepala mereka memberi salam.


"Silahkan! Hati-hati"


Ucap mereka sesaat setelah membuka pintu itu. Asnee dan Rayya pun ke luar dengan langkah panjang dan cepat, perlahan berlari menyusuri kebun pinus yang menjulang tinggi.


Arah jalan di sana teratur seperti telah di tandai dengan baik. "Kak, hubungi Ahan lagi! Kita tidak bisa mencari Daniza jika tidak ada kendaraan." Ucap Asnee karena tidak mungkin bisa sampai ke jalan besar.

__ADS_1


Suara gesekan ban mobil pada aspal, pedal rem pun terdengar silih bergesek. Suara itu terdengar bukan hanya satu atau dua mobil, melainkan lebih.


Asnee dan juga Rayya semakin berjalan ke arah suara mobil dengan berlari.


"Kak hati-hati" Cegah Asnee saat Rayya hendak melambaikan tangan menghentikan mobil.


"Kita belum tahu ini jalan arah ke mana. Jalan yang di lewati Daniza sepertinya sebelah barat jalan ini!"


Rayya mengedarkan pandangan nya, beberapa mobil menuju ke arah nya saat ini dengan kecepatan tinggi.


"Awaasss" Rayya menarik Asnee semakin ke tepi jalan. Mobil itu tiba-tiba sudah dekat dengan tubuh mereka.


ssrkkkk


Mobil berhenti seketika. Asnee melindungi Rayya di belakang tubuh nya.


"Kau lupa kakak mu ini belajar beladiri?" Bisik Rayya.


Grusukan orang-orang yang ke luar dari mobil, berlari ke arah Asnee dan juga Rayya.


Asnee sudah siaga, tatapan nya sudah awas. Bersiap takut nya yang sekarang menyerang mereka adalah musuh yang pastinya suruhan dari Paman nya.


"Jangan macam-macam!" Rayya menggeser berdirinya sehingga kini berada di samping Asnee. Adik kakak itu bersiap dengan posisi tubuh seakan bersiap untuk menyerang.


"Tuan Kecil, Nona kecil—" Sapa salah satu dari mereka memanggil.


Asnee juga Rayya membenarkan berdiri mereka dan tidak lagi dalam posisi siaga.


"Kalian—?" Tunjuk Rayya.


"Nona kecil, kami dari tim intel yang di tugaskan di area ini dan perintah kami terima untuk menyusuri jalan ini dari tuan ketua kami..."


Tiga perempuan dan lima laki-laki turun dari mobil itu dan kini tiga dari mereka tengah menghampiri Asnee juga Rayya.


"Pantas saja, orang mereka masih kecil!" Seru seorang wanita dengan permen lolipop di mulut nya, nongol dari jendela. Poni dan kunciran kuda menjadi gaya dari wanita itu.


"Hey hey bocah, ingat umur! Kaya yang bukan anak kecil saja!" Seru Pria di samping nya. Kaos polos berwarna army mencetak lekukan tubuh nya seperti seorang prajurit..


"Eh tua, ya di situ udah tua makanya lihat aku kaya masih kecil!" Cerocos nya. Mereka yang ada di sana hanya geleng kepala saja dengan adu mulut dua makhluk yang tidak pernah ada habis nya itu.


Asnee dan juga Rayya pun ikut ke dalam mobil.


"Tuan, Nona!" Sapa mereka dengan begitu sopan nya.


"Kita menuju jalan sebelah barat, mereka mengincar calon istri saya." Sambil memasang sabuk pengaman, Asnee mengatakan itu dan orang-orang yang ada di dalam menatap Asnee lekat, kecuali Rayya karena dia sudah tahu.


Sedangkan di Istana, Aaron semakin sibuk dengan berita-berita itu. Dia tegas dalam segala hal, tapi untuk masalah ini begitu terasa berlebihan., di tambah Pangeran Aat yang ternyata memiliki niat jahat pada putra nya.


"Kau ini Raja tapi masih saja lembek, pantas saja mereka meragukan mu dan anak mu. Kak."


Tanpa mengetuk pintu, Aat datang dengan perkataan yang sangat tidak terduga.


Aaron tidak menanggapi, hanya menatap sejenak dan kemudian kembali sibuk dengan pekerjaan nya.


Merasa di abaikan, Aat mengepalkan kedua tangan nyan dan tatapan malas sangat terpatri dari mata nya.


"Silahkan buktikan jika aku memiliki riwayat kejahatan agar apa yang aku inginkan tidak tergapai. Sangat mudah sekali!" Nada bicara nya penuh dengan menantang.


"Kau harus sadar Aat, kalau saja dulu mereka yang mengkudeta Raja sebelumya tercapai, maka tidak akan ada aku di sini, apalagi kau! Jadi bersikap baiklah!" Seru Aaron tidak terlalu ingin menghadapi Aat. Pekerjaan nya saja sudah banyak, dirinya tidak ingin memikirkan hal-hal yang muncul karena keserakahan adik nya itu.


"Hahaha tch tch tch, padahal yang kau hadapi hanya satu adik mu. Aaron! Apalagi kalau bertambah, bukankah kau tidak boleh menjadi Raja lagi?" Dengan sunggingan di salah satu bibir nya menandakan jika Aat kini tengah bermain-main dan meremehkan Aaron.


"Terserah kau. Silahkan untuk kembali ke luar karena Saya sedang sibuk! Kau tahu di mana pintu ke luar nya."


Aat tanpa menolak, dia melenggang pergi sampai di mana dia tidak terlihat lagi dan kini Aaron menatap lurus ke arah pintu.


"Kau akan pasti di beri hukuman. Aat!" Tajam nya mata Aaron sangat mirip sekali dengan Asnee. "Dan aku akan mengasingkan dirimu ke daerah yang tidak tersentuh oleh siapapun!" Batin Aaron bergemuruh. Dirinya akan mengambil jalur yang memang akan memberatkan Aat di kemudian hari tanpa bisa untuk di tebus oleh apapun


Sedangkan posisi Asnee juga Rayya kini sudah seperempatnya melewati jalan yang bersampingan dengan pesisir pantai.


"Mereka pasti melewati jalan ini" Ucap Asnee. Semua mobil pun ikut mengedarkan tatapan mereka untuk memeriksa area sekitar.


Ssrrrkkk


Mobil di depan menginjak rem mendadak, hampir terjadi saling tubruk dari mobil yang ada di belakang.


"Ada apa? Kalian menemukan sesuatu?" Asnee juga Rayya turun dan cepat menghampiri mereka yang menggunakan mobil di depan.


"Tuan kecil, sepertinya ini bekas dari perkelahian! Lihatlah ada bekas gesekan dari ban. Jika di perhatikan belokan ke arah depan sangat jauh jadi tidak mungkin jalan lurus begini pengemudi menginjak pedal rem sekuat ini"


Bekas gesekan ban dengan aspal terlihat jelas, hitam pekat dan itu semakin membuat mereka curiga.


"Telusuri daerah ini" Ucapan Asnee seakan menjadi perintah, membuat mereka pun turun mencari bukti.


Rayya menelusuri jalan dan pembatas jalan begitupun dengan Asnee. Bekas gesekan ban dan aspal itu masih berbekas walau tidak setajam sebelum nya.


Sampai di belokan di mana pembatas jalan pun bobol. Rayya melambaikan kedua tangan nya mengkode agar mereka menghampiri.


"Asnee_" Teriak Rayya sesekali menutup kedua samping mulut nya agar suara teriakan dirinya terdengar kencang.


"Kak kau mendapatkan sesuatu?" Tanya Asnee seraya dirinya pun melihat sekitar. "Ini?"


Mereka semua pun kini saling lempar tatap karena pembatas jalan itu rusak, tidak hanya belah tapi patah dan tersisa sedikit dan juga di unung nya pun terlihat bekas berwarna hitam.


Tidak menunggu lama. Mereka pun turun menuju tepi pantai yang begitu tinggi dari pembatas jalan.


"Tuan, saya menemukan ini" Teriak seorang gadis berponi seraya menunjukkan sebuah kalung di angkat di udara oleh tangan nya.


Rayya lebih dulu mengambil nya dan memperhatikan kalung nya. "Sepertinya saya kenal dengan kalung ini" Tutur Rayya mengingat-ingat.


Sadar, Asnee pun mengambil alih kalung itu dari sang kakak. "Daniza. Ini milik Niza, kak!" Gagap Asnee, dia sesekali mengedarkan tatapan nya ke laut dan menatap tebing menengadah ke atas, di mana tebing itu ada jalan besar yang bisa di lewati.


"Panggil tim Basarnas sekarang juga"


Harus terlihat kuat dan tegas, dia yakin kalau Daniza baik-baik saja.


Basarnas pun mereka hubungi untuk membantu menyelidiki dugaan orang-orang di sana.


"As, kakak yakin Daniza baik-baik saja. Tenanglah! Kita harus tenang!" Niza menepuk pundak Asnee yang begitu gelisah.


Orang-orang yang ada bersama Asnee juga Rayya sekarang tidak diam, mereka masih melanjutkan pencarian

__ADS_1


__ADS_2