The Future King

The Future King
Eps 107


__ADS_3

Hal tidak terduga memang kadang mengagetkan, suatu hal yang perlu di cerna dalam alur hidup adalah suatu hal yang kadang tabu.


"Pangeran gila"


Dalam kediaman nya, Daniza masih merasa tidak terima namun sesaat merasakan hal berbeda. Dia yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun sebelum nya, kini kalah hanya oleh seorang calon Raja yang tidak dia kenali sama sekali.


"Wara, aku merindukan mu! Kau di mana sekarang?" Daniza meletakan selembar kertas kosong namun sekarang terlukis sebuah kalung keluarga nya.


"Wara, kalung yang aku jual ternyata aku kembali melihat nya. Wara kau tahu siapa pemilik nya saat ini? haha aku juga tidak menyangka kalau kalung aku berada di leher seorang Pangeran Yodrak!"


"Wara, aku akan menemukan mu! Aku tidak peduli dengan kebahagiaanku. Aku hanya ingin menemukan mu dan kembali melindungi mu dari orang-orang jahat di luar sana!"


"Wara tunggu aku datang, tunggu sebentar lagi!"


Air mata menggenang di pelupuk, manik mata terus menatap lukisan kalung keluarga nya sesekali meremas kertas itu.


Entah, entah penderitaan nya lebih besar dari orang lain, entah penderitaan nya tidak seberapa tapi Daniza begitu menderita. Peristiwa itu terjadi sangat singkat namun merenggut seluruh keluarga nya, rakyat nya dan migran yang tengah mengungsi.


Peristiwa yang selalu datang dalam mimpi, masuk tanpa permisi membuat Daniza harus menjalani hidup pilu, namun harus tegar demi adik sepupunya, keluarga satu-satunya yang dia miliki.


"Ma, Pa, Paman, Bibi. Do'a kan Niza!" Daniza memejamkan matanya, mengatupkan kedua tangan menghadap lukisan kalung yang begitu unik.


...**...


Dua minggu berlalu, tidak hanya di kerajaan, Universitas, seluruh rakyat Yodrak tahu jika pangeran Asnee telah memiliki calon istri.


Tidak sedikit yang patah hati dan tidak setuju dengan perempuan pilihan Asnee, banyak pertentangan di dalam nya, apalagi background Daniza yang hanya sebagai pekerja di istana.


Ramai orang mengatakan jika Daniza lebih pantas menjadi selir dari pada Ratu. Bahkan di Universitas begitu gencar berita yang masih sama selama beberapa hari ke belakang.


"Kau tidak sakit hati dengan berita-berita itu. Niza? Sepertinya kau terlihat biasa-biasa saja!" Goda Ahan menyenderkan sebelah bahu nya di pagar balkon.


Daniza tidak menoleh, hanya menatap lurus menerjang angin dan udara di depan nya.


"Jika aku menanggapinya apakah akan efek. Tidak juga bukan? Sakit hati juga untuk apa? Perkataan mereka semua benar, tidak ada yang salah dengan semua itu"


"Sebelum mengambil keputusan itu aku sudah tahu risiko nya, aku sudah memprediksi apa yang akan terjadi, tapi satu—"


Daniza menghela nafas, Ahan masih memperhatikan.


"Apa?

__ADS_1


Daniza menoleh saat Ahan seperti penasaran.


"Satu saja. Selama Pangeran mau dan memperjuangkan aku sebagai calon istri nya, maka tidak akan ada berita-berita itu masuk ke dalam otak, jantung dan hati ku."


"Selama Pangeran memegang kendali hubungan ini, maka aku tidak akan memperhatikan cacian san cercaan orang-orang!"


"Kak, aku bukan sekedar menyerahkan sebagian hidup saja, tapi seluruh apa yang ada pada diriku sudah aku serahkan sepenuh nya"


Ucapan Daniza menggetarkan hati Ahan, dia tidak menyangka jika gadis di depan nya itu tumbuh dewasa setiap menit. Hal yang terjadi akan dia jadikan pedoman hidup dan Ahan menyaksikan nya.


"Lalu bagaimana jika Pangeran menyakiti mu. Niza? Apakah kau akan menganggap jika dia masih menginginkan mu?"


"Hati manusia tidak ada yang tahu, ucapan nya pun tidak dapat di pegang. Manusia kadang ingkar dengan janjinya, entah sekarang, besok atau hari-hari yang akan datang! Apakah kau akan mempertahan kan nya?"


Sedikit tekanan Ahan berikan, dia ingin tahu bagaimana reaksi Daniza. Dia ingin tahu Daniza akan merespon seperti apa.


Hembusan nafas Daniza terdengar, dia pun tersenyum namun wajah pucat masih menguasai.


"Aku akan meninggalkan nya" Ucap nya.


"Kenapa?" Tanga Ahan.


"Aku akan memberikan yang terbaik dari awal sampai akhir, karena aku masih ingat kalimat orang yang pergi dengan senyum tidak akan pernah kembali lagi dan aku mengerti dan paham kalimat itu. Ka!"


Tutur Daniza dengan dewasa nya.


"Jadi Pangeran yang akan menyerah, bukan kamu. Begitukah?!" Ujar Ahan.


"Eum" Angguk Niza.


"Baiklah. Itu berarti aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan mu, Niza!" Ahan menepuk pucuk kepala Niza dengan senyum bangga.


"Dih!" Tepis Daniza.


Tanpa mereka sadari, dua orang di sebrang kolam mengeluarkan aura membunuh, melipat kedua tangan erat.


"Eheemm".


Deham Karl menyadarkan kedua orang yang masih berbincang asyik.


"Tuan, anda sudah sampai?" Seru Daniza. Ahan menepuk berulang tangan Daniza yang masih memegang tangga.

__ADS_1


Daniza heran kenapa Ahan langsung berdiri tegap dan merasa kaget. "Itu kesana" Ahan mengarahkan wajah Daniza dengan paksa ke arah Asnee juga Rayya dengan kedua tangan nya.


"Eeh?" Kaget Daniza kala melihat sorot mata adik kaka itu seperti singa yang siap menyerang.


...**...


Irlandia.


"Dev, kau sudah bertemu dengan ibu itu? Undang dia dan anak-anak nya, kita akan mengadakan makan malam nanti!" Ucap Ruby sambil mengkalis adonan tepung di dalam wadah.


Cruluk...


Devi menuangkan air dari teko ke dalam gelas tinggi. "Sebentar lagi ke sana, Sweety" Sahut nya di akhir setelah meneguk air.


Derap langkah cepat, ketawa riang milik san cucu memenuhi ruangan dan siapa lagi jika bukan suara Annelis dan juga Ezra.


"Tuh, apa kau tidak mau menjadi seorang kakek. Dev?" Pertanyaan dari Ruby David pun tahu jika dia tengah menyindir nya.


"Yak yak yak, Anne, Ezra, Aarav juga cucu ku" David tidak terima.


"Lah hahahaha, aku kan cuman bertanya aja" Sambil sibuk membentuk kue itu, Ruby terus menggoda David.


"Dih, aku tahu ya wajah-wajah seperti kau. Sweety!" Tunjuk David.


"Hahaha apaan coba?" Ruby masih menggoda nya karena dirinya tahu betul jika kedua anak dari David belum berumah tangga, entah apa alasan nya.


"Mommy, jangan menyerang papa Ava dong. Kasihan dia!" Seru Ava tapi dengan mimik wajah canda nya.


Ruby dan David menoleh.


"Eh ada Ava" Seru Ruby nyengir.


"Ah kalian sama saja" David malah ngedumel dan pergi dari area dapur.


"Hahahaha marah dia" Ruby dan Ava terbahak dengan sikap David. Sudah tua tapi tetap saja masih seperti anak kecil.


"Tapi mom, coba kau lihat Ava" Ava menghampiri Ruby, membalikkan badan agar melihat tubuh nya.


"Bagaimana menurut mommy? Masa tidak ada pria yang tertarik pada ku, coba!" Ava membuat pose seperti model di hadapan Ruby dan sebenarnya Ava cantik, berkarisma, bentuk tubuh nya pun bagus.


"Kau yakin tidak ada yang mendekati mu. Ava?" Sambil sibuk membuat kue, Ruby pun menanggapi keluhan Ava.

__ADS_1


__ADS_2