
Di sebuah kasino pusat kota Irlandia, di mana salah satu pemilik dari kasino itu adalah keluarga Abraham yang tidak lain adalah Eiji Abraham yang juga salah satu keluarga dari mafia.
"Siapa wanita itu?" Tanya Eiji pada teman-teman nya. Jika di ada Eiji maka di situ ada Julian.
Seorang gadis dengan tampilan pelayan, tengah memegang nampan dengan botol bir di atas nya dan menuju pada meja orang-orang yang tengah bermain. Suara musik, suara tawa dan suara orang yang tengah berbincang sudah tidak aneh lagi di tempat itu.
Wajah nya teduh, pasang mata mereka berdua menilik wajah yang nampak tidak asing. Perangai perempuan itu berkarisma, seperti ada sesuati yang tersimpan di dalam nya tidak cocok jika untuk seukuran perempuan santai. Usia nya pun seperti masih muda, tidak jauh jika di bandingkan dengan Finola.
Pelayan ataupun pekerja di Kasino itu tidak semuanya aman, terkadang mereka akan menjadi korban para hidung belang dan akan di bayar dengan harga tertinggi.
prangg
Nampan terjatuh, terdengar kecil namun orang yang berada di dekatnya akan sangat mendegar. Pria usia matang mencekal tangan perempuan itu dengan penuh hasrat.
"Pria itu lagi!" Seru teman yang berkumpul dengan Eiji juga Julian.
"Lagi? Maksud kalian apa?" Selidik Julian. Eiji pun sama.
"Dia katanya pelayan baru di sini. Orang nya tidak banyak bicara tapi sekalinya ada yang mengganggu, habis lah!"
"Habislan gimana maksud mu?"
Ucapan yang seperti itu tentu saja membuat Eiji dan Julian penasaran. Setelah beberapa bulan tidak berkumpul di kasino dengan beberapa teman yang juga memiliki saham di sana, membuatnya tidak sadar banyak yang kembali di atur ulang.
"Gavin mempertahankan gadis itu karena dia bermafaat di sini. Kalau tidak berguna mungkin dia sudah di pecat karena sering melukai klien dan pendatang yang menginginkannya!"
"Berguna nya di sebelah mana?" Pungkas Julian.
"Dia pandai negosiasi, skill bahas nya pun tidak main-main. Orang-orang asing yang silih berdatangan meningkat setelah kedatangan gadis itu!" Tunjuk teman Eiji.
"Jadi tenang saja, kalian tidak perlu membantunya. Sebentar lagi Gavin akan menyediakan ambulance di depan pintu masuk Kasino dan mengirim nya ke rumah sakit dengan berbagai ganti rugi yang sudah di siapkan!" Lanjut nya saat Eiji hendak membantu gadis itu.
Dan benar saja, tidak lama mendengar ucapan teman nya, nampan yang tergeletak kini menmepel pada pipi pria matang itu.
Bltak
__ADS_1
Trang
Suara pukulan berkali-kali mengilukan, telinga pun terasa mendenging hanya mendengar saja, apalagi yang mendapat pukulan langsung.
"Kan!" Mereka malah tertawa asyik dengan tontonan itu, membuat Eiji serta Julian seperti shock dan suara ambulance pun tidak lama terdengar.
"Ji, ini lihatlah!" Julian penasaran. Dia pun segera mengecek handphone nya dan alangkah terkejutnya gadis yang ada di layar handphone mirip dengan wanita yang ada di depan mereka.
Eiji juga Jullian lansung pergi ke ruana Tuan Gavin.
"Kalian mau kemana, hey?" Teriak teman-teman mereka berdua,namun Eiji juga Julian tidak ada yang menoleh.
Di ruangan, Eiji, Julian serta Gavin pemilik saham terbesar di kasino itu tengah duduk dan berbincang.
Tok
Tok
Tok
Pintu pun terbuka dengan lebar. "Tuan, Iswara tengah mengganti baju dahulu karena jam kerja nya telah usai, di tambah baju kerja nya bas-"
Gavin mengangkat tangan nya, menghentikan ucapan dari manajer kasino yang bertanggung jawab atas karyawan.
"Kau boleh pergi!" Gavin bukan mengusirnya tapi dia sudah tahu karena setiap Iswara di panggil akan seperti itu dulu.
Manajer itu pun kembali menutup pintu.
"Huffhhh gadis yang sangat menjengkelkan!" Cibir Gavin.
"Anda ini lucu, tuan Gavin! Tidak biasanya anda memberi keringanan kepada karyawan." Kekeh Eiji yang nampak sangat mengenal tuan Gavin.
Segala cerita dari awal Iswara masuk sampai sekarang Gavin memberitahu Eiji juga Julian dan perkataan itu membuat mereka berdua yakin jika gadis itu adalah orang yang semua keluarga nya cari.
tok
__ADS_1
Tok
Tok
Suara ketukan pintu terdengar kembali. "Masuk" Sahut Gavin.
Ya, dia adalah Iswara. Adik sepupu Daniza itu ternyata bekerja di sebuah Kasino sebagai pengantar minuman dan sebagai pelayan yang menemani pengunjung untuk berpesta.
Iswara melihat ke arah Eiji juga Julian bergantian karena memang asing di matanya.
"Ada yang bisa saya bantu, pak?!" Tanya Iswara berdiri sopan dan langsung menunduk tak berani menatap siapapun seperti biasa.
"Tidak!" Sahut tuan Gavin membuat Iswara kembali menatap nya namun sekilas.
"Lalu? Apakah anda memanggil saya karena kejadian tadi?" Seru Iswara pelan.
"Tidak. Untuk apa!" Ujar tuan Gavin. Iswara tidak mengerti sama sekali. "Mereka berdua yang ingin bertemu dengan mu! Baiklah kalian berbincang saja, saya ada urusan denga klien di luar!" Tutur Gavin beranjak berdiri dan pergi begitu saja.
"Iswara Qeiza. Betul?" Ucap Eiji. Sontak membuat jantung Iswara berdetak tidak karuan, lutut nya lemas, tubuh nya bergetar sampai kaki nya hampir lunglai.
Hampir setengah jam, namun Iswara menolak untuk ikut dengan mereka. Dia tidak tahu orang di depan nya musuh atau teman sampai-sampai dirinya harus terus waspada.
Eiji ataupun Julian tidak bisa memaksa Iswara, jika terus berusaha malah akan mebuat Iswara tidak nyaman.
"Baiklah kami tidak bisa memaksa mu untuk ikut, tapi apa yang kami sampaikan adalah benar!" Tutur Julian.
Jam menunjukkan pukul empat sore bagian Irlandia. Tidak lepas, ternyata Eiji dan juga Julian mengikuti arah langkah Iswara.
"Stop, Li!" Titah Eiji. Kedua mata mereka melihat segerobolan laki-laki mendekai Iswara.
Jerit Iswara terdengar pilu, terlihat salah satu dari laki-laki itu mengambil dompet di totebag milik nya.
"Jangan kau sentuh barang-barang ku!" Iswara marah bercampur tidak terima. Rombongan laki-laki itu nampak akrab dengan Iswara dan Iswara seakan sudah terbiasa.
"Di sudut bibir nya ada luka yang nampak belum sembuh total, tapi dia masih semangat kerja!" Puji Eiji. Julian pun mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Sepertinya bukan hanya di sudut bibir.Ji!" Julian semakin curiga banyak luka memar di tubuh Iswara.