
Entah permainan apa yang akan di mainkan oleh Jane, namun Daniza sudah tahu jika dia tengah berpura-pura baik pada nya. Otak nya menebak itu karena tidak mungkin orang yang terlihat membencinya akan berubah baik dalam hitungan detik saja, itu hal yang tidak mungkin.
Asnee dan Kevin masih sibuk berlomba, mereka kalau sudah berlomba sangat serius. Robert malah menguntit Jane seperti anak ayam.
Dari dulu Robert menyukai Jane, dia sangat menyukai nya sampai-sampai akan mengalah untuk semua hal.
"Siapkan kuda satu lagi, kita akan jalan-jalan di sekitar kebun pinus di depan!" Ucap Jane pada pengurus kuda.
Tidak lama, satu kuda berwarna putih susu datang. Jane sudah naik ke atas kuda dengan Robert memegang pedal.
Niza pun naik ke punggung kuda di bantu oleh pelayan itu dan Pelayan itu pun bertanggung jawab memegang pedal kuda agar tidak terlepas.
"Ayo" Ucap Robert menuntun kuda itu dengan Jane berada di punggung kuda.
"Ih engga perlu. Aku bisa sendiri!" Rengut Jane mengguncang kaki nya agar Robert melepas pedal itu.
"Ok. Aku berjalan di belakang saja!" Ucap Robert hanya mengawasi mereka.
Dua kuda berjalan di antara pohon pinus yang sangat rapih, matahari pas menyorot dari arah timur, segar dan sejuk.
Klotak
Klotak
Klotak
Klotak
Pijakan kuda terdengar berirama, masih aman sentosa dan Jane pun masih berceloteh sedangkan Daniza hanya mendengarkan saja, dia tidak terlalu menyahuti kepura-puraan Jane.
"Niza, kau baru pertama kali menunggangi kuda atau pernah? Dulu aku di ajarkan kak Asnee di sini, kadang di istana juga kalau kami berkunjung!" Ucap Jane masih mencoba untuk mencari tahu dengan segala senyum palsu nya.
"Dan aku dapat mendali kejuaraan menunggangi kuda di sekolah. Iya kan Kak?!" Seru Jane menoleh pada Robert, Robert hanya mengangguk membenarkan.
"Wah selamat ya! Kau pasti sudah sangat ahli menunggangi kuda, saya jadi iri mendengar nya!" Sahut Daniza seraya memberi selamat.
"Kalau kau mau, aku bisa mengajarkan mu. Bagaiman?!" Jane menawarkan diri.
"Tidak, nona! Saya tidak terlalu pandai! Hanya seorang pelayan tidak pantas untuk bersanding dengan nona!" Daniza merendah.
"Pelayan ? Kau pelayan? Tapi tidak terlihat!" Sanjung Jane namun dengan ekspresi meledek dan keantusiasan nya semakin tinggi.
"Tidak masalah. Tidak ada bedanya juga kok!" Seru Jane terlihat bersungguh-sungguh namun kenyataan nya penuh kepalsuan. Daniza melukis senyum nya tipis tapi tercampur smirk miring di bibir, dia tahu ke arah mana tujuan Jane.
"Baik lah!" Setuju Daniza.
"Benarkah? Ayo kita jalan lebih cepat, di depan ada jalan lurus, nyaman kalau untuk berkuda!" Saran nya. Jane mulai menunggang dengan sedikit cepat.
"Jangan cepat-cepat" Teriak Robert, dia akhirnya mengeluh lelah karena kaki nya tidak sanggup mengikuti langkah kuda.
Dari belakang, Robert memperhatikan mereka. Daniza masih baik-baik saja karena pedal kuda masih di pegang pelayan itu namun nampak kaki pelayan itu melemah.
__ADS_1
Srakk
Ringkikan dan lengkingan kuda menyakiti telinga, kuda yang di tunggangi Daniza melompat sejadi jadinya.
"Arrghhh" Jerit Daniza.
Pelayan itu terkesiap, dia kaget saat tiba-tiba kuda nya mengamuk. Telapak tangan nya berdarah karena tarikan kuat dari kuda itu.
"Niza" Jane ikut berteriak, namun smirk dari salah satu sudut bibir nya terus berseringai.
"Jane apa yang kau lakukan?" Teriak Robert, dia berlari lebih cepat. Jane menoleh sejenak namun cepat mengabaikan Robert dan bersiap merubah ekspresi nya.
"Memang nya apa yang aku lakukan?" Tanya Jane, ekspresi bodoh nya sangat dapat sekali.
"Ka—u!" Tunjuk Robert kesal seraya menarik tubuh kecil itu dengan cepat dan dia pun beralih menunggangi kuda.
Haeuutt
Teriak Robert agar kuda nya cepat berlari.
"Apa kau lihat-lihat?" Sarkas Jane pada pelayan itu, namun dia langsung menunduk.
Jane berjalan ke arah berlawanan hendak mencari Asnee untuk mendapat simpati.
Kedua bola mata nya mencari-cari tapi hanya Kevin yang di lihat.
"Tadi Robert bersama mu, sekarang mana dia?" Tanya Kevin kembali membelai kepala kuda itu.
"It—u kak, dia sedang mengejar Kuda yang di tumpangi Daniza!" Jane menunduk merasa bersalah.
"Hiks.. Hiks.. Hikss.. itu salah aku kak! Aku yang mengajak Niza menunggangi kuda tadi—"
"Tapi kuda nya ngamuk, Niza masih di atas kuda itu!" Lanjut nya malah menangis.
Kedua bola mata itu menajam pekat, kelopak mata membulat penuh. "Astaga Jane! Di area mana mereka?"
Wajah khawatir Kevin semakin terlihat, Jane malah semakin menangis.
"Jane, di mana mereka?" Suara Kevin semakin tinggi.
"Mereka?"
Kedatangan Asnee menjadikan tubuh mereka membatu, Jane menengadah dan langsung berhamburan memeluk Asnee.
"Hikhss.. Hiks.. Hiks.. ini salah aku kak!" Jane terus terisak.
"Mereka siapa?" Asnee lekas melepas pelukan Jane dan menatap nyalang. Masalah nya Karl memberitahu jika Jane membawa Daniza menunggangi kuda.
Kevin masih membisu, Jane pun malah membungkam.
"Sial!" Umpat Asnee. Tanpa mengulur waktu dia langsung menunggangi kuda ke arah yang tadi di beritahu oleh Karl.
__ADS_1
Yang dia ingat, di area itu akhir dari lahan milik Robert dan setelah nya adalah jurang pemisah. Dia berharap Robert bisa menjaganya karena dia pemilik lahan ini, untuk itu dia pasti tahu medan di sini.
"Kak" Jane masih menangis, Kevin pun tidak tega melihat nya.
"Semoga dia baik-baik saja" Ucap Kevin berlalu pergi, melangkah ke arah gazebo dekat dengan area yang tadi di pake Jane juga Daniza.
Posisi Robert masih mengejar Daniza yang semakin berlari cepat, dengking an suara kuda masih terdengar jelas.
"Niza" Teriak Robert. Daniza tidak bersuara malah suara kuda yang semakin memekik.
Ekor kuda yang di tunggangi Daniza sudah tidak terlihat, kecepatan nya semakin tidak terkejar.
"Bagaimana ini?" Sesal nya, sorot mata Robert pun nampak khawatir.
Namun di lain sisi, Daniza malah keasyikan menunggangi kuda.
"Dasar bocah. Kau pikir bisa mengelabuhi aku dengan permainan mu itu?!" Seru Daniza.
Haittt.
Daniza semakin menguasai amarah kuda itu sampai tidak lagi adanya amukan.
"Indah" Ucap Daniza kagum. Area sekitar terlihat seperti di dalam dongeng-dongen sangat menakjubkan. tebing tinggi dengan pohon lebat di sekitar nya.
"Sepertinya itu jurang?" Dari jauh, mata Daniza sudah terkesiap.
Lengkingan kuda pun ke luar dan berhenti tidak jauh dari jurang itu. Suara burung silih bersahutan, suasana nya sejuk, semilir angin pun terasa menyerap pada pori-pori kulit.
"Huffhhhh"
Daniza menikmati suasana nya tanpa turun dari punggung kuda. "Apa aku di sini dulu, ya?" Racau nya.
Asnee, masih mencari-cari. Setelah berpapasan dengan Robert dia semakin gelap mata, tanpa menjawab ucapan Robert dia pun kembali memacu kuda nya.
"Pergi kemana kuda itu?" Gumam Asnee. Suara tapal kuda terdengar keras Asnee takut jika kuda itu masuk ke jurang, untuk itu dia langsung menuju ke arah sana.
Tanpa banyak tanya, Asnee begitu fokus. Keringat bercucuran mengalir, punggung pun sudah penuh dengan keringat.
Semilir angin mulai terasa, Asnee sudah tahu jika di depan nya jurang karena suasana nya berbeda.
"Kuda?" Asnee semakin menajamkan penglihatan nya di atas punggung kuda. "Di mana gadis itu?" Tapi Asnee tidak melihat Daniza di atas nya.
Haeyttt
Asnee semakin cepat memacu kuda itu.
Brughh
Tubuh nya turun dengan cekatan dari punggung kuda dan sebelum itu melilit pedal di badan pohon.
"Daniza!" Teriak Asnee, dia mencari di sekeliling tapi tak mendapati Daniza sama sekali.
__ADS_1
"Daniza?" Panggil nya lagi. Di area jurang pun tidak ada, Asnee semakin Khawatir jika Daniza jatuh tanpa kuda dan itu bisa saja terjadi.
"Sial. Dimana gadis itu?!" Sorot mata Asnee tentu saja khawatir, dia merasa tidak berguna jadi majikan.