The Future King

The Future King
Eps 80


__ADS_3

"*** bebas terjadi di antara mereka dan ternyata bukan hanya satu atau dua kali" Bagian pihak kesiswaan yang bersuara.


"Luke adalah siswa pindahan! Kami tidak bisa mempertahan kan murid seperti putra-putra anda! Kami dengan berat hati dan banyak maat memberhentikan mereka dari sekolah ini"


Tutur Pak Direktur Final.


"Tidak! Kami menolak"


"Itu semua kami serahkan pada kalian semua! Pihak korban pasti akan menuntut atas percobaan pembunuhan putra mereka dan kami tidak ingin terlibat!" Pak Direktur sudah berbicara baik-baik dari awal sampai akhir. Tidak ada mencela atau menjatuhkan.


Luke juga teman-teman nya terduduk lemas.


"Tidak akan! Kami bisa mengurus nya! Kami bisa membeli hukum dan kami mampu menyelesaikan nya dengan rapi! Sekolah tidak akan ikut terlibat, kami akan memastikan hal itu!"


Sepertinya di antara orang tua yang ada di sana, hanya orang tua Luke yang berani up speak, sepertinya nama baik lebih penting di atas apapun.


Pihak sekolah saling lempar tatap, mereka pun sebenarnya bingung bercampur takut mengingat siapa orang-orang yang ada di sekitar Asnee.


"Kami tidak ada urusan itu lagi, kami tidak ingin terlibat! Untuk berkas-berkas menyangkut putra-putra anda sudah kami urus, sisa nya kami kembalikan pada anda semua"


Pak Ferdinan pun sigap memberikan berkas-berkas bermap coklat.


"Tidak, kami menolak nya! Anda tidak bisa sembarang memutuskan seolah-olah putra kami sepenuh nya bersalah"

__ADS_1


"Lalu siapa yang bersalah? Adik kami kah?" Pintu terbuka. Sean menahan pintu dan Shabila masuk di ikuti oleh Shane di belakang.


Mata semua orang tertuju pada mereka dan hanya Ferdinan yang menyapa dan mempersilahkan duduk.


"Hai boy. Kita bertemu lagi!" Sapa Shabila melambaikan tangan nya pada Luke. Senyum sinis nya masih terbalut dengan mimik wajah penuh topeng.


"Adik kami hampir mati dan itu rencana yang putra-putra anda susun!" Sean duduk di hadapan mereka. Aura nya mendominasi setiap sudut ruangan sampai Shane juga Shabila hanya bisa terdiam jika kakak kembar mereka sudah dalam mode serius.


"Siapa di sini yang harus bertanggung jawab? Tentu putra kalian! Oh iya, bukan hanya putra kalian, tapi juga Lukyanova. Wanita pemuas nafsu putra anda tuan Mattew!"


Tatapan tajam elang seakan mengintai mangsa, tentu di rasakan sekarang. Sean tidak menurunkan pandangan nya, membekukan suasana.


"Tidak mungkin! Putra saya tidak mungkin melakukan itu" Sangkal mama Luke menahan tangis nya.


"Kami menuntut kalian atas percobaan pembunuhan! Walau usia mereka masih di bawah perlindungan anak tapi apa yang tidak bisa untuk kami?"


Ucapan Sean bukan hanya membelalakkan mata mereka semua tapi juga membuat jantung mereka bergetar hebat. Shane dan Shabila semakin memperlihatkan jika mereka bisa melakukan apapun demi adik mereka.


Perkataan Sean seakan terdengar konyol di telinga para bangsawan itu, sampai-sampai terdengar cekikikan.


Mata tajam Sean tentu tahu siapa yang tertawa. "Tidak percaya? Bahkan kami bisa membeli sekolah ini beserta isinya!"


"Hahaha memang nya anda ini siapa? Jangan terlalu menghayal tinggi, nanti jatuh nya sakit!" Ledek mereka semua. Hanya mereka, tapi tidak dengan pihak sekolah, mereka hanya bisa meneguk kembali salivan mereka sediri.

__ADS_1


"Tidak perlu tahu siapa kami! Kalian hanya salah satu orang yang tidak pantas mengetahui identitas kami!" Ujar Sean.


"Sangat konyol!" Desis Shabila.


"Masuk lah!" Perintah Shabila terdengar, semua orang bingung kenapa wanita di depan mereka mengatakan itu.


Tidak lama, pintu kembali terbuka dan sekali lagi, bola mata mereka menegang. Luke yang awal nya berada di depan langsung bergeser ke belakang mama nya.


"Selamat sore pak" Empat polisi berpangkat tinggi mendatangi sekolah. Mereka menanggalkan topi polisi mereka dan menyapa Sean juga Shane serta Shabila.


Salah satu polisi itu mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap tersangka. "Kami menangkap kalian atas percobaan pembunuhan terhadap teman kalian! Kalian di bisa membela diri di sidang yang akan datang!" Selembar kertas di tunjukkan di hadapan mereka.


"Tahan mereka" Besi borgol ke luar dari saku mereka. Luke dan teman-teman nya menolak. Kegaduhan terjadi sekarang. Semua orang tidak terima.


Bersamaan dengan itu, handphone ayah mereka berbunyi.


"Apa?" Teriak mereka bersamaan. Si kembar saling lempar tatap, mereka bertiga tahu apa yang terjadi saat ini.


Perusahaan mereka hampir gulung tikar, tapi si kembar ingin melihat dahulu seberapa panik kah mereka semua.


"Papa?!" Para istri dan anak mereka menahan beban tubuh sang papa. "Papa ada apa?"


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa perusahaan kita tiba-tiba anjlok?"

__ADS_1


Mereka pun tidak mengerti, namun pak Ferdinan melirik Si kembar dan mendapati jika mereka bertiga tengah tersenyum sinis sesekali menyunggingkan senyum nya.


"Ngeri" Batin Ferdinana


__ADS_2